
"Bos, dokter bilang kalau bos harus banyak istirahat. Tapi semenjak pulang dari rumah sakit, bos kelihatan sangat gelisah. Ada apa?" Tanya Susan saat menutup tirai jendela karena hari beranjak malam.
"Aku merindukan istriku."
Susan tersenyum. "Nona kan sudah janji untuk datang besok."
"Tetap saja rindu." Kata Arnold sambil memandang layar hp nya. Sebenarnya bukan hanya rindu yang membuat Arnold gelisah tapi karena apa yang akan dilakukan Fairy sore ini. Haruskah jalan itu ditempu? Entahlah, Arnold begitu bingung dengan semua ini. Mereka berdua belum siap. Arnold memikirkan Fairy yang masih sangat kecil untuk bisa hamil.
Susan pun meninggalkan kamar dengan harapan Arnold akan tidur. Namun Arnold menelepon Fairy. Ia akan mencoba bicara dengan istrinya itu.
"Hallo Arnold."
"Cassie? Mengapa hp Fairy ada padamu?"
"Karena saat ini Fairy belum bisa menerima teleponmu. Kami ada di klinik."
"Apakah benar Fairy melakukannya?"
"Ya. Dia masih ada didalam. Aku menunggu di luar."
"Baiklah. Nanti kalau Fairy sudah bisa menerima telepon tolong hubungi aku, ya?"
"Baiklah."
Arnold mengahiri panggilannya. Ada sesuatu yang secara tajam menusuk hatinya. Arnold tak mengerti rasa apa itu. Ia sungguh merasa sangat sakit, seperti sebuah rasa kehilangan yang dalam..
**********
"Sudah selesai?" Tanya Cassie saat melihat Willy dan temannya sudah keluar dari ruangan tempat Fairy masuk tadi.
"Ya." Jawab Willy berat seperti ada sesuatu yang menganggunya.
"Semuanya berjalan dengan lancarkan? Maksudku, Fairy baik-baik saja, kan?"
"Dia baik-baik saja."
"Boleh aku masuk?"
Willy mengangguk. Cassie pun langsung masuk tanpa menunggu lama. Ia melihat sahabatnya itu masih berbaring namun dengan punggung yang membelangkanginya.
"Fai....!" Panggil Cassie mendekat.
Fairy perlahan bangun dan duduk di atas tempat tidur. Wajahnya terlihat pucat.
"Jangan duduk kalau masih sakit. Apakah kau butuh sesuatu?" tanya Cassie dengan penuh rasa sayang.
Fairy menggeleng. "Hanya perlu pelukan."
Cassie mendekat, lalu duduk di samping sahabatnya itu dan memeluknya.
Tangis Fairy perlahan terdengar. Dari pelan sampai akhirnya menjadi sangat kuat. Bahunya sampai terguncang dengan kuat. ia menangis dibahu Cassie. Menumpahkan segala rasa yang saat ini membuat hatinya sakit. Ia sangat terluka.
"Menangislah kalau itu akan membuatmu tenang." bisik Cassie.
"Aku berdosa."
"Aku tahu Tuhan Maha pengampun."
"Ah...Tuhan.....aku takut....aku sungguh takut. Aku benci kenapa ini semua terjadi. Aku membenci diriku sendiri dengan semua keadaan ini."
Cassie tak bicara. Ia hanya bisa menepuk punggung sahabatnya dengan lembut. Membiarkan Fairy menumpahkan tangis dan kesedihannya.
Beberapa saat kemudian, ketika tangis Fairy sudah agak redah, Willy masuk sambil membawakan segelas susu.
__ADS_1
"Minumlah!" Katanya lembut. Fairy menerimanya dan langsung menghabiskan susu itu dalam satu tegukan.
"Ayo kita pulang!" Ajak Willy.
"Aku mau pulang ke asrama." ujar Fairy saat mereka sudah berada di dalam mobil.
"Fai, Arnold memintamu untuk menghubunginya." Cassie menyerahkan hp Fairy yang ada di dalam tasnya.
Dengan cepat Fairy menyambar hp itu. Ia mengetik sebuah pesan, lalu menonaktifkan hp nya saat pesan itu sudah terkirim.
"Ayo, kita ke asrama."
***********
Arnold bangun di pagi ini dengan tubuh yang terasa agak segar. Sakit di kepalanya sudah berkurang. Ia duduk di atas tempat tidur dan menatap jam dinding yang sudah menunjuk angka 7 pagi. Rupanya semalam karena terlalu lama menunggu telepon dari Fairy, Arnold tertidur nyenyak karena obat yang diminumnya. Ia segera meraih hp nya dari atas nakas dan memeriksanya. Ada sebuah pesan dari Fairy.
Ar, aku tinggal di asrama dulu ya? Mungkin besok aku belum bisa menjengukmu karena aku masih lemah. Hp ku juga dinonaktifkan karena aku ingin sendiri dulu. Jangan marah ya? Love you...
Ada sesuatu yang kembali menyakitkan hati Arnold saat membaca pesan itu. Mengapa Fairy harus mematikan hp nya? Mengapa Fairy sepertinya menghindarinya? Apa yang salah?
Pintu kamar dibuka dari luar. Noah dan Susan masuk sambil membawakan sarapan dan obat yang harus Arnold minum.
"Selamat pagi, bos." Sapa Noah dan susan secara bersama.
"Selamat pagi."
Susan meletakan nampan yang berisi makanan di atas meja . "Bos mau sarapan di tempat tidur atau di meja?"
"Aku sarapan di meja saja." Arnold turun dari atas ranjang. Wajahnya kelihatan sedih.
"Something wrong?" Tanya Noah.
Arnold menggeleng. Ia tak mungkin bercerita dengan kedua asistennya itu mengenai Fairy yang hamil namun akhirnya digugurkan.
"Bos, ada apa?" tanya Noah melihat Arnold hanya diam saja.
Arnold menggeleng. Ia mencoba menikmati sarapannya walaupun sebenarnya ia tak merasa lapar.
**********
"Fai, bagaimana dengan judul penelitiannya? Fairy...! Fairy.....!" Thomas menggerakan tangannya di depan wajah Fairy.
"Eh, aku...maaf." Fairy menggelengkan kepalanya.
"Badanmu ada di sini, namun pikiranmu entah kemana. Kau punya masalah yang besar ya?" tanya Thomas.
"Tidak." jawab Fairy cepat.
"Matamu mengatakan ya. Kau tahu, mata adalah jendela hati kan?"
Fairy memaksakan sebuah senyum. Ia menatap Arnold. "Pancaran mata bisa saja berbohongkan?"
"Namun tidak dengan matamu."
Fairy membuang muka. Pertahanannya hampir saja bobol. Sejak tadi pagi ia memang ingin menangis saja. Namun dia ingat, hari ini adalah jadwal konsultasinya dengan Thomas selalu pembimbing tugas akhirnya.
"Kau punya masalah dengan Arnold?"
Deg!
Mata Fairy mengerjab tak percaya. Thomas tahu tentang Arnold?
"Arnold? Arnold siapa?" Faity pura-pura kaget.
__ADS_1
"Arnold Manola. Penyanyi itu. Dia pacarmu kan?"
Ternyata Thomas tahu tentang hubungannya dengan Arnold. Walaupun yang Thomas tahu Arnold adalah pacarnya dan bukan suaminya.
"Suatu malam, aku ingin ke asramamu dan mengajakmu makan malam. Aku melihatmu turun dari mobil. Tak lama kemudian Arnold juga turun. Aku melihat kalian berciuman." Ujar Thomas sambil menahan sakit di hatinya. Jujur saja, ia sudah jatuh cinta dengan Fairy sejak melihat gadis itu ada di kelasnya. Ia begitu menjaga perasaannya pada Fairy karena mengingat gadis itu masih sangat muda. Namun harapannya pupus karena Arnold Manola, si penyanyi terkenal itu ternyata sudah berhasil merebut hati Fairy.
"Hubungan yang disembunyikan dari orang banyak seringkali menimbulkan persoalan. Kau dengan mimpimu dan Arnold dengan mimpinya. Dua dunia yang sangat berbeda. Kecuali kamu mengalah dan hidup menurut gaya dan cara Arnold maka semuanya akan baik-baik saja. Namun, dengan bakat dan talenta yang kau miliki sungguh disayangkan jika kau harus mengubur semua mimpimu untuk menemani Arnold dan mimpinya."
Perkataan Thomas seperti pisau yang merobek hati Fairy. Ya, mimpinya kita seakan tersendat karena status mereka.
"Aku....aku...!" Fairy tak bisa menahan gejolak di hatinya. Air matanya jatuh lagi. Ia sudah tersesat dalam hubungan ini. Dan ia tak tahu kemana akan melangkah. Mengejar mimpinya ataukah membuang mimpinya karena cintanya pada Arnold.
Thomas berdiri dari tempat duduknya. Ia mendekati Fairy. Di tepuknya pundak Fairy dengan lembut. "Kalau kau ingin mewujudkan mimpimu, maka harus ada yang dikorbankan. Namun jika hatimu lebih memilih bersama Arnold, maka kau harus rela membuang mimpimu."
Fairy memeluk Thomas yang berdiri di sampingnya. Ia kembali merasa peri di hatinya.
*********
Mobil yang membawa Fairy, berhenti di depan lobby rumah Arnold. Rio segera turun dan membukakan pintu mobil bagi Fairy.
"Masuklah nona. Hari ini semua pelayan di liburkan. Hanya ada petugas keamanan yang berjaga di depan pagar dan kepala pelayan yang sudah lama bekerja di sini."
Fairy mengangguk. Sudah 3 hari sejak Arnold keluar dari rumah sakit dan Fairy akhirnya datang setelah Arnold mengancam akan pergi ke kampus tanpa ada penyamaran.
Susan yang membukakan pintu.
"Selamat datang, nona."
Fairy hanya tersenyum. " Di mana Arnold?"
"Tuan ada di kamarnya. Dia menunggu Nona di sana."
"Baiklah. Aku akan ke sana."
Fairy masuk ke lift untuk menuju ke kamar Arnold. Di depan pintu kamar, Fairy menarik napas panjang sebelum akhirnya mengetuk pintu.
Pintu terbuka. Terlihat wajah tampan Arnold yang menatapnya dengan penuh kerinduan.
"Sayang.....!" Arnold langsung memeluk Fairy dan menarik tubuh mungil itu untuk masuk ke dalam kamar. Arnold menggunakan kakinya untuk menutup pintu.
Tubuh mereka yang saling menempel, membagikan rasa hangat dan kerinduan yang mendalam.
Saat Arnold melonggarkan pelukannya sedikit, ia dengan cepat menyatukan bibirnya dengan bibir Fairy, menyesapnya dengan lembut, seolah sedang menikmati sesuatu yang manis. Tangan Arnold sudah ada dibelakang leher Fairy, mendorong kepala Fairy agar ciuman itu semakin dalam. Dari sesuatu yang lembut, berubah menjadi gairah yang mendalam. Fairy hampir terlena, namun ia merasa belum siap. Ia tahu kalau Arnold juga masih sakit. Makanya, ia menorong dada Arnold perlahan dan melepaskan bibirnya dari ciuman Arnold.
"Ar, kamu masih sakit. Aku juga belum boleh.."
"Maaf. Aku terlalu merindukanmu sampai melupakan keadaan kita berdua. Ayo duduk!" Arnold mengajak Fairy duduk di atas sofa. Ia menggengam kedua tangan Fairy dan menciumnya secara bergantian.
"Bagaimana keadaanmu? Apakah kau mengalami sakit saat..."
"Jangan!" Fairy menutup mulut Arnold dengan sebelah tangannya. "Jangan tanyakan hal itu lagi. Aku tak mau membicarakannya. Aku ingin melupakannya. Aku tak sanggup untuk mengingatnya."
Arnold meraih tangan Fairy yang menutup mulutnya. Ia kemudian memeluk Fairy dengan erat. Membiarkan kepala gadis itu bersandar di dadanya.
"Kalau begitu apa yang ingin kau ceritakan padaku? Berceritalah karena aku begitu rindu mendengar suaramu." Arnold membelai rambut panjang istrinya.
"Ar, bolehkah sementara waktu aku tinggal di asrama?"
"Apa?" Arnold terkejut. Ia merasa bahwa permintaan Fairy tidak masuk diakal.
SO...BAGAIMANA KELANJUTANNYA?
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE
__ADS_1