SONG IN MY LIFE

SONG IN MY LIFE
Tak Bisa Jauh


__ADS_3

"Sayang, ada apa? Siapa yang menelepon?" tanya Arnold melihat Fairy langsung duduk dengan lesuh selesai menerima telepon. Ia pun duduk di samping Fairy sambil melingkarkan tangannya dibahu gadis itu.


"Nenek Anna menelepon."


"Nenekmu?"


Fairy menggangguk. Ia membuka layar hp nya dan menunjukan foto neneknya yang tersimpan di galeri hpnya.


"Nenekmu bukan orang Indonesia?" sedikit terkejut Arnold bertanya


"Iya. Dia bule, seperti kamu. Dia dan kakek jatuh cinta pada pandangan pertama juga. Nenek meninggalkan negaranya dan ikut dengan kakek ke Jakarta."


"Kau sangat menyayanginya?"


"Ya. Dia adalah segalanya bagiku. Aku akan menikah dan aku tak bisa memberitahukannya" wajah Fairy terlihat sedih.


"Sayang, pesawat pribadiku dapat ke Jakarta sekarang ini dan menjemput nenekmu tanpa diketahui oleh siapapun"


Fairy menggelengkan kepalanya. "Aku sudah janji padanya untuk pulang dari London dengan membawa ijasah keberhasilanku. Bukannya membawa suami"


Arnold mencium kepala Fairy dengan lembut "Kau akan membawa ijasah keberhasilanmu dan sekalian membawa suami. Jika saat itu tiba, aku sendiri yang akan pulang bersamamu. Aku bersedia mendengar kemarahan nenek Anna atau juga menerima pukulannya. Aku akan bilang ke nenek mengapa harus menikahi Fairy tanpa menungguhnya selesai kuliah karena aku begitu mencintainya dan takut dia diambil cowok lain"


Fairy tersenyum mendengar perkataan Arnold. Perasaan sedihnya berganti dengan rasa bahagia lagi. Mungkin ini yang orang bilang bahwa jatuh cinta itu sangat indah. Fairy menemukan keindahan itu dalam pandangan mata Arnold yang selalu bersinar saat menatapnya.


"Ar, berjanjilah bahwa kau tidak akan pernah menyakitiku. Karena sesungguhnya kau adalah cinta pertamaku dan aku tak ingin terluka"


Tangan Arnold dilepaskannya dari bahu Fairy, ia menggenggam kedua tangan Fairy, lalu berlutut di depan gadis itu untuk mengsejajarkan tinggi mereka.


"Aku janji padamu sayang, aku akan menjadi cinta pertama dan terakhir bagimu. Kau akan menjadi satu-satunya wanita yang akan menyandang namaku. Nyonya Manola. Tuhan akan menghukumku jika aku mengingkari janjiku ini" kata Arnold lalu mencium punggung tangan Fairy dengan sangat lembut.


Fairy tak dapat menahan air matanya. Hatinya semakin bergetar menerima semua cinta Arnold.


Arnold menghapus air mata Fairy dengan kedua ibu jarinya, lalu mencium pipi gadis itu secara bergantian kiri dan kanan, setelah itu ia menempelkan dahi mereka, tangannya melingkar dibahu gadis itu, dan perlahan menyentuh bibir manis Fairy, ********** perlahan sampai keduanya tenggelam dalam ciuman yang panjang.


Fairy melingkarkan tangannya di leher pria itu dan merasakan kehangatan penyatuan bibir mereka. Penuh rasa cinta dan rasa saling memiliki.


********


Jam 10 malam, Arnold mengantar Fairy ke asramanya.


"Besok sore kita ketemukan?" tanya Arnold sebelum Fairy turun.


"Ok. Di mana?"


"Di apartemenku. Kita akan makan malam di sana"


"Aku harus pergi sendiri?"


"Tidak. Noah dan Susan yang akan menjemputmu" Arnold mencium bibir Fairy membuat gadis itu sedikit terkejut karena sepanjang perjalanan mereka dari Fairy garden sampai ke tempat ini, mobil Arnold sudah beberapa kali berhenti karena Arnold selalu menciumnya.


"Ar.....!" Fairy langsung menutup mulut Arnold dengan kedua tangannya saat ciuman mereka terlepas dan beberapa detik kemudian Arnold ingin menciumnya lagi.


"Aku tak akan pernah puas menciummu!" kata Arnold dengan tatapan penuh kasih lalu menyapu bibir Fairy yang masih basah karena bekas ciumannya tadi dengan ibu jarinya.


"Sampai jumpa besok ya?" kata Fairy lalu turun. Ia melambaikan tangannya ke arah Arnold lalu melangkah masuk ke dalam asrama. Suasana asrama yang ramai langsung menyambut Fairy. Besok adalah hari pertama kuliah jadi mereka semua sudah kembali ke asrama.


Fairy membuka pintu kamarnya dengan kunci yang dibawanya. Dan ia menemukan Cassie yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Hai...si nona manis yang sudah bertunangan dengan Arnold Manola, akhirnya datang juga" sambut Cassie sambil mengerlingkan matanya " Bagaimana rasanya sudah tidak perawan lagi?"


Mata Fairy langsung membesar mendengar pertanyaan sahabatnya itu. Ia segera mengambil bantalnya dan melemparkannya ke arah Cassie.


"Hei.....aku masih perawan!" seru Fairy kurang suka.


Gantian Cassie yang terkejut "Dia tidak melakukannya denganmu?"


"Ya. Aku tidur di kamar tamu."


"Waw...jadi dia akan menungguhmu sampai malam pengantin kalian? Aku salut dengannya. Tak menyangkah kalau pria tampan yang kelihatan macho itu mampu mengontrol dirinya dengan baik"


Fairy tersenyum mengangguk "Ya. Dia memang pria yang baik walaupun hampir setiap setengah jam ia mencium bibirku"


Cassie tertawa "Aku tahu itu. Dia kelihatan sebagai seorang pencium yang hebat. Aku yakin satu kampus ini akan berteriak histeris saat tahu kalau kamu adalah tunangannya Arnold Manola"


Fairy duduk di atas kasurnya, membuka sepatu yang dikenakannya lalu membuka juga pakaiannya untuk digantinya dengan baju tidurnya.


"Aku rasa kalau aku ini kurang waras karena menerima lamarannya" kata Fairy lalu membaringkan tubuhnya.

__ADS_1


"Dia sangat mencintaimu, dia bahkan mencari tahu lagu kesukaanmu"


Fairy menatap sahabatnya yang masih berdiri di dekat ranjangnya "Dan kamu menghianatiku dengan memberitahukan padanya"


"Lagu itu membuatmu menerima lamarannya kan?"


Fairy mengangguk "Siapa yang mau menolak lamaran seindah itu?"


Kedua sahabat itu tertawa bersama. Mereka saling berbagi kebahagiaan bersama. Setelah itu Cassie pun segera menuju ke ranjangnya untuk istirahat.


"Hp mu berbunyi!" Cassie yang sudah hampir tertidur berseru memanggil Fairy yang sepertinya hampir juga terlelap.


"Hallo...!" Fairy langsung menjawabnya tanpa melihat siapa yang meneleponnya.


"Hai....sayang, kamu sudah tidur?"


"Arnold?" Fairy terkejut.


"Maaf ya aku menganggu kamu yang sudah tidur. Masalahnya aku tak bisa tidur. "


"Kenapa? Apakah kamu sedang tidak enak badan?"


"Tidak. Aku hanya merindukanmu!"


Mata Fairy yang sedang tertutup, langsung terbuka lebar saat mendengar apa yang Arnold ucapkan.


"Ar, kita kan baru saja berpisah 1 jam yang lalu?"


Terdengar suara kekehan Arnold dari seberang. "Aku tahu. Tetapi tetap saja aku sudah merindukanmu."


"Sabar ya..., besok kita ketemu kan?"


"Rasanya tak sabar menunggu besok. Bagaimana kalau kita menikah saja besok supaya kamu nggak akan pulang ke asramamu?"


"Arnold.....!"


"Ya sudahlah. Kamu tidur saja. Besok kegiatan kamu padatkan? Sampai jumpa besok ya..."


"Sampai jumpa besok, Ar. Bye...!" Fairy meletakan kembali hp nya. Saat ia memejamkan matanya, ia langsung tersenyum membayangkan raut wajah Arnold yang tampan itu.


***********


Hari ini, Sebagian mahasiswa mengikuti kuliah umum yang dilaksanakan di auditorium kampus.


"Fairy....!" panggil Thomas ketika kuliah umum selesai.


" Eh...pak Thomas...!" sapa Fairy. Mereka memang sudah sepakat kalau di kampus harus memanggil Thomas dengan sebutan 'pak'.


"Masih ada jam kuliah?" tanya Thomas lalu melangkah sejajar dengan Fairy.


"Tidak. Ada apa?"


"Sudah lupa ya kalau hari ini kamu diminta menghadap pihak perusahaan untuk tawaran kerja paruh waktu?"


"Astaga, mengapa aku bisa melupakannya, ya? Jam berapa aku harus ke sana?"


"Terserah padamu. Mereka buka sampai jam 5 sore."


"Kalau begitu aku akan pergi jam 3 saja. Soalnya aku mau ke perpustakaan dulu"


"Mau makan siang bersama?"


"Boleh. Tapi pak Thomas yang traktir ya?"


"Tentu saja. Aku kan laki-laki!"


Fairy tertawa senang membuat Thomas sedikit terpana dengan kecantikan gadis itu.


Keduanya pun melangkah bersama menuju ke cafe kampus. Semua yang ada di sana mengarahkan pandangan mereka ke arah Thomas dan Fairy. Ya, siapapun akan merasa iri melihat dosen tampan yang terkenal sangat dingin pada setiap mahasiswa, nampak begitu akrab bercakap-cakap dengan salah satu mahasiwa terbaik di kampus ini.


"Cincinmu bagus!" Kata Thomas saat keduanya sementara menikmati makan siang.


Deg...! Fairy terlihat sedikit salah tingkah namun ia langsung tersenyum. "Ini cincin pemberian nenekku. Waktu kita ke New York saat itu, aku sengaja tak memakainya."


Thomas tanpa di duga meraih tangan Fairy dan memperhatikan cincin itu dengan seksama.


"Waw...ini batu permata yang cukup langkah dan sangat mahal harganya. Apakah nenekmu seorang pengoleksi batu permata?" Tanya Thomas menunjukan ketertarikannya pada cincin itu.

__ADS_1


"A...ku kurang tahu. Ini sudah lama disimpan oleh nenekku." Fairy menarik tangannya untuk menyembunyikan rasa gugupnya.


"Itu seperti cincin lamaran."


"Maksudnya?" Fairy pura-pura terkejut pada hal kakinya kini sangat gemetar.


"Ya, bentuknya seperti cincin yang dipakai untuk melamar seorang gadis. Kamu kan pernah bertanya padaku waktu di New York, bagaimana seandainya jika kamu akan menikah di usiamu ini. Aku pikir kamu sudah dilamar oleh cowok yang membuatmu menangis di New York itu."


Fairy pura-pura tertawa membuat beberapa pasang mata menatap ke arah mereka dengan penuh tanda tanya.


"Aku dan dia sudah tak ada hubungan apa-apa lagi karena memang kami belum pacaran."


"Jadi sekarang kamu nggak punya pacar?" Tanya Thomas nampak senang dengan pengakuan Fairy.


"Sebenarnya aku belum pernah pacaran. Karena fokus utamaku dalam hidup ini adalah belajar."


Thomas mengangguk setuju. Kekagumannya terhadap mahasiwanya ini semakin bertambah.


***********


Penerima tamu itu menatap Fairy dari atas kepala sampai ujung kaki dan membuat Fairy sedikit grogi. Ia sudah berusaha mengenakan pakaian yang sedikit formal. Rok hitam selutut dan kemeja putih lengan panjang, sepatu berhak rendah dan rambut panjangnya yang dibiarkan tergerai rapih.


Gadis penerima tamu itu membuka surat pengantar yang dibawa Fairy. Ekspresi wajahnya sedikit kaget karena mengetahui bahwa pengantar itu datangnya dari kantor pusat di New York.


"Sebentar..." Katanya lalu menghubungi seseorang melalui layanan telepon.


"Silahkan nona naik lift yang ada di ujung sana, langsung ke lantai 10. Ada sekretaris Clara yang sedang menunggu anda"


"Terima kasih!" Kata Fairy. Ia mengambil kembali surat pengantar yang dibawahnya tadi lalu kemudian ia segera pergi ke lift yang letaknya agak beda dengan lift yang lain. Fairy berasumsi kalau lift ini adalah lift khusus menuju ke ruangan pimpinan perusahaan.


Saat Fairy sampai di lantai 10, ia langsung terpana melihat ruangan tamu yang nampak elegan dan mewah. Seorang perempuan nampak duduk di depan meja yang menghadap langsung ke arah lift.


"Nona Fairy Ayudisa?" Tanya Perempuan cantik itu.


"Iya.!" Jawab Fairy sambil sedikit membungkukan badannya memberi hormat.


"Saya Clara, sekretaris tuan Alex Barlen, pimpinan perusahaan ini!" Clara mengulurkan tangannya dan di sambut oleh Fairy dengan ramah.


"Tuan Alex menunggu anda di ruangannya" Kata Clara sambil mengajak Fairy menuju ke ruangan presiden direktur.


"Saya langsung berhadapan dengan presdir? Wah suatu kehormatan!" Fairy tak menyangka kalau ia akan langsung berhadapan dengan pimpinan perusahaan ini.


"Iya. Presdir sendiri yang mengatakan kepada saya tadi."


Clara langsung mengetuk pintu lalu membuka pintu itu setelah mendengar sebuah sahutan dari dalam yang mempersilahkan masuk.


"Selamat sore pak. Nona Fairy sudah ada di sini!" ujar Clara.


Seorang pria mengangkat wajahnya dari layar laptop. Membuat Fairy sedikit terkesima karena ia tak menyangkah pemimpin perusahaan ini masih begitu muda.


Pria itu menatap Fairy sambil memiringkan kepalanya sedikit. Membuat Fairy sedikit salah tingkah.


"Berapa usiamu?" Tanya Alex


"18 tahun." Jawab Fairy pelan.


"Waw...! Papaku memberikan rekomendasi dengan nilai A+ kepadamu. Aku tahu, kamu pasti sangat istimewa dalam pandangannya." Kata Alex sambil berdiri. Dengan gerakan tangannya, ia meminta Fairy untuk duduk disebuah sofa berwarna coklat yang tersedia di ruangan itu.


"Clara, minta OB membuatkan kami minuman yang fresh." Kata Alex saat ia dan Fairy sudah duduk berhadapan.


Clara segera keluar dari ruangan.


Alex menatap Fairy. "usiamu masih sangat muda untuk menjadi mahasiswa mangang di perusahaan kami. Namun aku ingin menguji kemampuanmu. Di atas meja ini ada sebuah analisa tentang perusahaan. Aku ingin melihat bagaimana tanggapanmu mengenai perusahaan itu dan kau juga harus menjawab beberapa pertanyaan yang ada di bagian belakang dokumen itu. Aku memberikan kamu waktu selama 3 jam. Tak mengapa kalau aku terlambat pulang hari ini."


Fairy mengangguk. Ia menatap arlojinya yang menunjukan jam setengah empat sore. Ia sebenarnya punya janji dengan Arnold akan bertemu pukul 6 sore. Fairy akan berusaha menyelesaikan tes ini sebelum jam 6 sore.


"Baiklah!" kata Fairy. Ia segera mengambil dokumen yang cukup tebal itu lalu segera membacanya.


Alex kembali ke meja kerjanya. Matanya dengan awas memperhatikan Fairy yang sedang membaca dokumen itu. Dalam hati Alex mengagumi gadis muda yang sangat menarik perhatiannya itu.


Clara, cari informasi mengenal gadis ini. Aku ingin tahu tentang kehidupan pribadinya. Cari tahu juga apakah dia sudah punya pacar atau belum.


Alex mengirimkan pesannya ke nomor sekretarisnya itu. Sekali lagi matanya menatap Fairy. Entah mengapa menatap wajah imut Fairy membuat hati Alex bergetar.


Si tampan Thomas, dosennya Fairy


__ADS_1


GIMANA TANGGAPANNYA MENGENAI KISAH INI?


JANGAN LUPA LIKE, KOMENT DAN VOTE YA


__ADS_2