
Fairy memandang Willy yang kini duduk berhadapan dengannya. "Willy, aku harus bagaimana? Apakah harus suntik lagi? Arnold minggu depan akan pulang. Pastilah kami akan berhubungan lagi. Mungkin yang semalam itu nggak jadikan?"
Willy menatap wajah polos Fairy yang sepertinya sangat khawatir. "Kalau di hitung dari masa suburmu, minggu depan itu sudah lewat. Jadi kita tunggu saja. Kalau dua minggu dari sekarang dan kau tidak mendapatkan tamu bulananmu, berarti kau hamil." Kata Willy dan langsung membuat Fairy bertambah lemas. Willy memang sedang menyelesaikan spesialisnya untuk obstreti dan ginekologi sehingga penjelasannya masuk akal.
"Tenang dulu, Fay. Kan belum tentu jadi. Aku juga pernah lupa meminum pil anti hamilku, tapi aku tetap dapat pas tanggalnya. Seperti yang kau bilang tadi, kan. Belum tentu jadi." Ujar Cassie berusaha menenangkan Fairy. ΔΊ
Fairy menarik napas panjang. Berusaha melepaskan sesak di dadanya. Ia sangat berharap, benih yang semalam di tanamkan Arnold di rahimnya belum akan tumbuh.
Semoga......
**********
2 minggu kemudian...
Alphonso langsung berlari saat melihat Arnold turun dari mobil. Anjing berbulu lebat itu seakan tahu kalau Arnold akan pulang sehingga sudah berdiri di depan pintu sejak tadi.
"Hallo, buddy!" Arnold langsung berjongkok dan memeluk anjingnya itu. Alphonso langsung menjilati tangan Arnold.
"Sudah ya...aku mau menemui kekasih hatiku dulu." Arnold segera berdiri, mengabaskan bulu-bulu anjingnya yang menempel di celanannya lalu segera masuk.
"Tuan Arnold!" Bibi Lun tersenyum sambil menunduk hormat pada Arnold.
"Di mana istriku, bi?"
"Nona Fairy belum pulang, tuan."
Arnold mengerutkan dahinya. Belum pulang? Bukankah hari ini Fairy tidak masuk kerja? Jam kuliahnya juga berakhir pukul 1 siang? Dan sekarang sudah jam 5 sore. Fairy bahkan sudah tahu kalau pesawat Arnold akan tiba jam 4 tadi.
Arnold menaiki tangga menuju ke kamarnya sambil menelepon istrinya. Namun ponsel Fairy tidak aktif. Ia lalu menelepon Rio.
"Tuan, selesai kuliah tadi, nona mengatakan ingin membawa sendiri mobilnya. Jadi sekarang aku sudah berada di mansion."
Arnold meletakan hp nya di atas meja dengan kesal. Di mana Fairy? Dua minggu berpisah semenjak malam valentine itu, Arnold sungguh rindu dengan istrinya. Jadwal promosi albumnya memang menyita waktunya selama 2 minggu karena ia harus terbang ke Amerika dan Spanyol untuk menerima penghargaan atas suksesnya lagu FOREVER yang menjadi kolaborasinya dengan dua musisi ternama. Arnold berharap saat tiba di rumah Fairy akan menyambutnya dengan senyuman dan pelukan hangat, namun ia tak menemukannya.
Kemana Fairy pergi? Ah Cassie...
"Hallo Arnold....!" terdengar suara Cassie dari seberang.
"Apakah Fairy sedang bersamamu?" tanya Arnold.
"Tidak. Aku sedang bersama Willy sekarang di asrama. Tadi selesai kuliah, Fairy bilang akan pulang karena kamu akan tiba sore ini."
"Lalu, kemana ia pergi? Ponselnya juga tidak aktif."
"Mungkin di perpustakaan. Atau di restoran tempatnya bekerja dulu. Dia bilang kangen dengan Giani."
"Baiklah. Makasi ya" Arnold meletakan hp nya kembali. Ia langsung ke kamar mandi untuk mandi karena badannya terasa panas.
Selesai mandi dan ganti pakaian, ponsel Arnold berdering. Ada panggilan dari Ezekiel sepupunya.
"Hallo Eze, ada apa?"
__ADS_1
"Mommy...., dia meninggal..." terdengar suara tangis Ezekiel.
"Aku ke sana sekarang." Arnold bergegas meninggalkan kamarnya. Mamanya Ezekiel adalah adik dari mamanya. Ia sangat baik dan menyayangi Arnold seperti menyayangi Ezekiel dan Rachel.
***********
Di salah satu rumah sakit, Fairy terlihat sangat gugup berdiri di depan ruang UGD. Ia tadi menemui Giani karena sangat kangen dengan temannya itu. Naas baginya, saat akan kembali ke rumah, ia justru menabrak seorang pejalan kaki, gadis berusia 9 tahun yang menyeberang jalan tanpa melihat ke arah mobilnya.
Pintu UGD terbuka. Ibu gadis itu yang bersama anaknya saat kejadian itu terjadi menatap ke arah Fairy sambil tersenyum.
"Nona, tenanglah. Anakku hanya luka lecet saja. Untung saja kamu membawa kendaraannya dalam kecepatan sedang. Coba tadi kalau kamu cepat, tubuh putriku pasti sudah terpental jauh. Maaf ya, dia menyeberang tanpa melihat-lihat."
"Syukurlah. Aku senang mendengarnya."
Wanita berusia sekitar 40 an itu memegang tangan Fairy. Pandangannya tertuju pada perut Fairy.
"Apakah kamu sudah menikah?"
Fairy terkejut. Bagaimana perempuan ini bisa tahu? Cincin pernikahannya saja tersimpan sebagai bandul didalam baju yang dipakainya.
"Ya." Fairy akhirnya menjawab.
Wanita itu menyentuh perut Fairy. "Kau hamil?"
Lagi-lagi Fairy dibuatnya terkejut. "Hamil?"
"Aku seorang peramal. Maaf, tiba-tiba saja aku merasa ada sesuatu yang sedang tumbuh di sini."
"Nona, ramalan saya biasanya tidak salah. Dan bolehkah aku memegang tanganmu sebentar saja? Oh ya nama saya Dorothi. Saya dari Mexico. Tim sirkus kami sedang ada pertunjukan di sini selama 1 minggu."
Agak takut namun karena penasaran, Fairy mengulurkan tangan kanannya. Dorothi memegang tangan kanan Fairy dengan kedua tangannya. Perlahan ia memejamkan matanya, namun beberapa saat kemudian ia membukanya dengan wajah pucat.
"Aku melihat kematian, sesuatu yang gelap."
"Kematianku?" Tanya Fairy lalu menarik tangannya.
"Entahlah. Ada sesuatu yang tidak dapat aku terawang. Masih tertutup. Kalau kamu mau, boleh datang di tempat sirkus kami mengadakan pertunjukan. Tendaku yang berwarna merah. Di sana aku bisa lebih leluasa melihat apa yang akan terjadi pada dirimu." Dorothi mengeluarkan sebuah kartu. "Di sini ada alamat sirkus kami. Datanglah, Fairy."
Fairy menelan salivanya. Ia tidak memperkenalkan namanya namun Dorothi tahu namanya.
"Status yang disembunyikan bersama penyanyi tampan itu akan menjadi masalah dalam hidupmu."
Fairy menarik napas panjang. "Aku pulang dulu ya. Eh , biaya rumah sakitnya sudah aku bayar."
"Nak, datanglah ke tempatku. Jangan lupa."
Fairy hanya tersenyum. Ia kemudian berlari meninggalkan rumah sakit itu. Namun saat ia melewati apotik, ia berhenti dan membeli test kehamilan. Lalu segera ke tempat parkir.
*********
Keluarga Thomson berduka karena Kiela Thomson meninggal dunia setelah menderita sakit sejak kematian suaminya 2 tahun yang lalu.
__ADS_1
Arnold sedih melihat Ezekiel dan Rachel sangat terpukul karena kini mereka menjadi yatim piatu. Kesedihan itu pernah Arnold alami juga saat harus kehilangan papa dan mamanya.
Ponsel Arnold yang ada di saku celananya berbunyi. Ia terkejut saat melihat ada sms banking yang masuk. Kartu yang diberikannya pada Fairy digunakan untuk pembayaran di rumah sakit.
Sedang apa istriku di rumah sakit? Apakah sesuatu terjadi padanya?
Arnold mencoba menghubungi Fairy. Namun ponsel istrinya itu belum aktif juga. Arnold jadi sedikit frustasi.
"Rio, coba kamu cari apakah Fairy ada di rumah sakit. Aku akan sms alamatnya." Kata Arnold saat menghubungi sopir yang biasa mengantar istrinya itu.
Arnold kembali mendekati Rachel saat melihat sepupunya itu menangis lagi. Ia berusaha menghiburnya walaupun hatinya sendiri sedang resah karena tak bisa menghubungi istrinya.
**********
Waktu sudah menunjukan pukul 8 malam saat Fairy tiba di rumah. Bibi Lun langsung menyampaikan bahwa Arnold sudah berulang kali meneleponnya.
"Astaga..., aku lupa kalau hp ku kehabisan daya. Di mana Arnold?" Fairy jadi panik.
"Tuan pergi ke kediaman Thomson. Nyonya Kiela meninggal."
"Meninggal?" Fairy mengingat apa yang dikatakan oleh Dorothy. Apakah ini yang dimaksud olehnya? Akan ada kematian?
"Nona, pakai saja telepon rumah untuk menghubungi tuan. Takutnya tuan khawatir." Kata bibi Lun sambl menyerahkan gagang telepon tanpa kabel itu.
"Baik, bi." Fairy langsung menghubungi nomor Arnols saat gagang itu sudah pindah ke tangannya.
Bibi Lun langsung menuju ke dapur membiarkan Fairy sendiri.
"Hallo...!" terdengar suara Arnold.
"Ar...!"
"Sayang, kamu dari mana saja? Kenapa ponselmu tidak aktif? Lalu apa yang kamu lakukan di rumah sakit?"
Ah, Fairy lupa kalau setiap kali ia melakukan transaksi dengan kartu itu, Arnold akan menerima pemberitahuannya.
"Ceritanya panjang. Nanti saja aku ceritakan jika kamu sudah pulang ke rumah. Hpku kehabisan daya makanya tak bisa menghubungi. Pasti mereka semua sedih ya?"
"Iya. Apalagi Rachel. Karena itu aku mungkin pulangnya agak larut. Sebenarnya kangen sekali denganmu. Tapi aku tak mungkin meninggalkan mereka sekarang."
"Aku mengerti. Sekarang aku mau mandi dulu ya. Bye.." Fairy mengembalikan gagang telepon itu ke tempatnya dan langsung menuju ke kamarnya.
Ia membuka tasnya dan mengambil tes kehamilan yang di belinya tadi. Ia memang membelinya beberapa. Makanya, sekalipun disarankan untuk melakukan tes di pagi hari, Fairy sudah tak tahan untuk mencobanya sekarang.
Dengan jantung yang berdebar, Fairy menuju ke kamar mandi dan melakukan tes sebagaimana petunjuk
Tangannya bergetar saat memandang hasil yang ada. Dua garis muncul.
Ya Tuhan, aku beneran hamil. Apa yang harus aku lakukan? Mungkin aku salah. Nanti tes lagi besok pagi.
So di sinilah konfliknya di mulai...
__ADS_1
jangan lupa like komen dan vote ye