SONG IN MY LIFE

SONG IN MY LIFE
Kedekatan yang menggetarkan


__ADS_3

"Kau suka dengan kunang-kunang?" tanya Arnold saat Belinda sudah duduk lagi di dekatnya.


"Ya. kenapa?"


"Kau mengingatkanku dengan mendiang istriku. Dia juga suka dengan kunang-kunang."


"Oh ya?"


Arnold tersenyum. Ia menatap Belinda yang sedang menikmati secangkir kopi ditangannya. Gadis itu masih memandang ke depan.


"Ayo kita ke suatu tempat!" Arnold mengambil gelas yang ada ditangan Belinda lalu mensrik tangan gadis itu.


"Ar, mau kemana lagi?"


"Ikut saja.!" Arnold terus menarik tangan Belinda ke sisi lain taman itu. Tepatnya di rumah pondok tempat ia menaruh semua kenangan tentang Fairy di sana.


Belinda terkesiap memandang isi dari pondok itu. Semuanya tentang Fairy.


"Ar, ini tempat apa?"


"Istriku meninggal tanpa ada jasadnya. Aku tak punya tempat untuk berziarah. Makanya aku membuat tempat ini sebagai tempatku menumpahkan semua rasa cinta dan kerinduanku padanya."


Belinda memandang foto-foto yang ada di sana , barang-barang pribadi seperti tas, sepatu, sebuah kaos couple. Semuanya tersimpan dalam kotak kaca . Dan yang menarik dari semuanya adalah sebuah buku biru.


"Ini buku apa, Ar?"


Arnold mendekat. "Itu buku puisi istriku. Dia suka sekali menulis puisi. Lagu forever itu, kuambil dari puisi yang dia tulis."


"Kau sangat mencintainya?"


"Ya. Dia adalah separuh napasku. Aku hampir bunuh diri saat tahu kalau dia sudah meninggal. Aku berusaha menerima kenyataan kalau ini memang sungguh terjadi. Namun semua bukti menunjukan bahwa Fairy memang berada di pesawat naas itu. Dan setelah 5 tahun berlalu, aku akhirnya bisa mengikhlaskan kepergiannya." Kata Arnold sambil menatap foto Fairy yang sedang tersenyum itu. "Aku yakin kalau mendiang istriku ingin agar aku bahagia. Karena itu aku membawamu ke pondok ini, untuk meminta ijin padanya agar bisa mendekatimu."


Belinda yang berdiri di samping Arnold menatap cowok itu dengan kaget. "Kamu sudah gila, Ar. Aku punya tunangan." Gadis itu langsung melangkah keluar dari pondok kayu itu. Arnold mengejarnya dan menahan tangan gadis itu.


"Aku merasa bahwa kau juga mengingjnkan aku, Bel. Aku dapat merasakan respon tubuhmu setiap kali kita berciuman."


Belinda menarik tangannya. "Aku akui kau memang tampan, Arnold. Aku hanya terpesona saja karena dicium oleh penyanyi terkenal yang digilai oleh gadis-gadis seantero dunia. Namun aku mencintai Robert. Kami akan menikah 4 bulan lagi. Jadi berhentilah untuk memaksakan dirimu agar mendapatkan diriku." Belinda bdrbalik dan segera melangkah meninggalkan Arnold. Namun baru beberapa langkah, Arnold tiba-tiba memeluknya dari belakang.


"Aku merasa damai saat memelukmu!" Bisik Arnold di telinga Belinda.


"Ar, lepaskan!"


Arnold semakin erat memeluk Belinda.


Hujan pun tiba-tiba turun membuat Arnold melepaskan pelukannya dan langsung menarik tangan Belinda menuju ke rumah untuk berteduh. Keduanya sampai di teras rumah dengan napas yang terengah-engah karena sedikit berlari tadi.


"Dingin?" Tanya Arnold melihat Belinda bersandar di dinding sambil memeluk dirinya sendiri. Angin bertiup dengan kencang membuat baju mereka yanh sudah agak basah menempel ditubuh dan menyebabkan rasa dingin.


Arnold membuka pintu rumah. "Ayo masuk!" Ajaknya.

__ADS_1


Belinda pun menurut karena memang ia merasa dingin.


Begitu keduanya masuk, Arnold menyalakan lampu dan terus menarik tangan Belinda menaiki tangga menuju ke kamarnya.


"Gantilah bajumu supaya kau tidak sakit." Kata Arnold.


"Tidak perlu, Ar. Aku mau pulang."


"Aku tidak akan mengijinkan kau pulang."


"Nanti tunanganku mencari aku, Ar."


"Kita pikirkan nanti alasannya apa."


Arnold berjalan ke walk in closet. Ia mengambil baju Fairy untuk diberikan pada Belida namun menyadari kalau tubuh mungil Fairy sangat berbeda dengan tubuh Belinda yang lebih tinggi dan padat berisi. Makanya Arnold mengambil kaosnya sendiri.


"Pakailah dulu kaosku untuk mengganti kemejamu yang basah." Arnold menyerahkan kaosnya.


" Di mana kamar mandinya?" Tanya Belinda.


"Di sana...!"


Belinda pergi ke kamar mandi sementara Arnold kembali ke walk in closet untuk mengambil baju ganti baginya. Setelah selesai, ia turun ke bawa dan menyiapkan 2 gelas coklat hangat. Saat ia kembali, dilihatnya Belinda sedang duduk di sofa sambil memainkan ponselnya.


"Ini minumlah!"


Belinda menerimanya namun meletakan kembali gelas itu di atas meja.


"Suka. Tapi masih terlalu panas. Nanti gigiku cepat rusak." Kata Belinda sambil terus sibuk dengan ponselnya.


"Oh...gitu ya..."Kalau Fairy pasti langsung diminum. Ia suka sekali minum sesuatu yang panas, batin Arnold.


Arnold duduk di samping Belinda. Hujan masih turun dengan derasnya di luar.


Saat Belinda sudah selesai dengan ponselnya, ia mengambil gelas yang berisi coklat panas itu, meniupnya sedikit lalu langsung meminumnya sampai habis.


Sangat berbeda dengan Fairy. Istriku jika minum sesuatu akan menyesapnya secara perlahan. Ia akan meminumnya sedikit demi sedikit agar bisa dinikmati secara benar, katanya. Ah, mengapa juga aku berharap kalau putri Belinda adalah Fairy ya?


"Ada apa menatapku seperti itu?" Tanya Belinda dengan dahi berkerut.


"Kau menghabiskan minumanmu secara cepat. Sepertinya kau kurang menikmatinya."


"Oh...aku menikmatinya. Tapi aju juga tak mau minum sesuatu yang sudah agak dingin. Makanya langsung kuteguk sekaligus." Kata Belinda sedikit terkekeh. Senyum dibibirnya itu membuat Arnold gemes melihatnya.


"Ada sisa coklat di sini!" Ibu jari Arnold mengusap sudut bibir Belinda yang ada sisa coklatnya.


Gadis itu sedikit terkejut. Wajahnya bahkan merona karena ada desiran yang dirasakannya atas sentuhan jari Arnold di sudut bibirnya.


"Eh, apakah ada mesin pencuci baju? Aku ingin mengeringkan kemejaku. Setelah itu aku harus pulang. Ini sudah hampir jam 10 malam." Belinda berdiri namun Arnold justru menarik tangannya sehingga gadis itu jatuh ke pangkuan Arnold. Saat Belinda akan berdiri, tangan Arnold dengan cepat melingkar diperutnya.

__ADS_1


"Jangan pergi! Please....!" Bisik Arnold di telinga Belinda.


"Ar, kita tak boleh seperti ini. Aku sudah bertunangan." Tolak Belinda berusaha sekali lagi untuk berdiri namun tangan Arnold semakin erat melingkar di perutnya. "Aku ingin merasa sangat dekat denganmu." Arnold mencium leher Belinda.


"Arnold, aku ehm....!" Kalimat Belinda terhenti karena Arnold sudah membungkam mulutnya dengan ciuman. Belinda berusaha melepaskan ciuman itu, tapi sekali lagi ia tak mampu menolak pesona Arnold yang sangat lihai menggoda bibirnya untuk menyambut ciuman itu. Seluruh akal sehat Belinda yang ingin menyudahi ciuman itu justru berbanding terbalik dengan keinginan tubuhnya yang sudah terbakar hasrat penuh gairah saat tangan Arnold sudah menyusup masuk ke dalam kaos longgar yang dikenakannya.


Satu desahan keluar dari bibir Belinda saat ciuman Arnold sudah berpindah ke leher jenjangnya.


Perlahan Arnold berdiri sambil mengangkat tubuh Belinda tanpa melepaskan ciuman di leher gadis itu. Ia melangkah ke arah ranjang. Melepaskan tubuh Belinda perlahan di atas tempat tidur dan kembali membelai, mengusap dan menciumi Belinda dengan lembut sampai gadis itu benar-benar menunjukan bahwa ia juga mendambakan, menginginkan dan mengharapkan agar Arnold menyentuhnya lebih dalam.


Arnold benar-benar tak mau melepaskan Belinda malam ini. 5 tahun ia tak pernah menyentuh wanita sejak kematian Fairy dan malam ini Arnold ingin melampiaskan semua yang seakan hilang sejak Fairy pergi.


Saat tubuh mereka menyatu, saat Belinda mendesah dalam balutan gairah, Arnold seperti merasakan kehadiran Fairy. Arnold merasa seperti memeluk, mencium dan merasakan kenikmatan yang sama seperti saat ia dan Fairy menyatu. Arnold benar-benar dibuat gila semua yang dirasakannya malam ini. Bahkan ketika keduanya mencapai puncak kenikmatan bersama, Belinda menyebutkan sesuatu yang mengingatkan Arnold pada Fairy.


"Ah...sayang, ini sungguh indah!" desah Belinda sambil memeluk Arnold dengan erat.


Arnold menatap mata Belinda yang terpejam. Napas gadis itu masih belum teratur. "Who are you?" Tanya Arnold sambil menggesekan hidungnya di hidung Belinda.


"Aku sudah membuat kesalahan, Ar." Kata Belinda sambil mendorong tubuh Arnold.


Arnold menggulingkan tubuhnya dan tidur terlentang di samping Belinda.


Belinda tidur membelakangi Arnold setelah menarik selimut untuk menutup tubuh polosnya.


"Belinda...!" Panggil Arnold sambil memeluk gadis itu dari balik selimut yang menutup tubuhnya.


"Kita tidak boleh seperti ini, Ar. Aku akan mencoreng nama baik kerajaan."


"Kita sama-sama menginnginkannya. Aku tahu kau juga merasakan apa yang kurasakan. Ada sesuatu yang menarik kita berdua untuk ada dalam ikatan ini." Arnold mencium kepala Belinda.


Untuk beberapa menit keduanya saling diam. Sampai akhirnya Belinda bangun dan mengenakan kembali rok dan kaos Arnold.


"Ar, aku harus pulang sekarang!" Kata Belinda dengan wajah yang sedikit khawatir. Apalagi saat ponselnya berbunyi. Ia semakin pucat melihat siapa yang memanggilnya.


"Iya sayang. Sebentar lagi pulang. Maaf ya...." Kata Belinda membuat Arnold memalingkan wajahnya dengan perasaan cemburu yang begitu besar.


"Ayo kita pulang!" Kata Arnold walaupun ia sendiri tak begitu ingin Belinda meninggalkannya setelah keintiman yang terjadi diantara mereka.


Sepanjang jalan menuju ke apartemen Belinda, keduanya saling diam. Tak ada yang bicara. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing.


"Ar, aku mohon, jangan cari aku lagi. Aku tak mau melakukan apa yang kita lakukan tadi. Aku akan menikah." Pinta Belinda sebelum turun.


"Aku tak bisa menjanjikan itu, Bel. Aku akan mencarimu kalau aku rindu."


"Aku mohon! Kita tak mungkin membangun suatu hubungan. Aku harus menikah dengan Robert." Belinda membuka sabuk pengamannya lalu segera turun.


Arnold memandang Belinda sampai gadis itu menghilang dari balik pintu lobby apartemen. Dengan perasaan galau, Arnold menjalankan lagi mobilnya. Namun baru beberapa meter ia berjalan, Arnold menginjak rem mobilnya mendadak. Ia mengambil hp nya dan membaca pesan yang dikirimkan Rio padanya saat ia meminta Rio untuk mengikuti Linda dan Mike untuk mengetahui alamat tempat tinggal mereka.


Mata Arnold membulat dengan jantung yang berdetak cepat. Mengapa alamat apartemen Belinda sama dengan alamat apartemen Linda?

__ADS_1


Nah...kok bisa sama?


Jangan lupa Like, komen dan Vote ya


__ADS_2