
Sepanjang perjalanan dari asrama menuju ke Fairy garden, Fairy hanya diam saja tanpa bicara apapun.
"Sayang, bagaimana seminarnya? Berjalan dengan lancar?" tanya Arnold.
Fairy diam.
"Kuliahnya bagaimana?" tanya Arnold lagi. Ia ingin mencairkan kebisuan diantara mereka.
Fairy masih diam. Ia kini menatap ke luar jendela. Angin di musim gugur mulai meniupkan dedaunan yang kering.
"Fai...!" Arnold mencoba menyentuh tangan Fairy namun perempuan itu menepiskannya dengan pelan.
"Kamu sudah makan?" Arnold tak putus asa. Ia ingin Fairy menjawab namun istrinya itu bagaikan patung hidup yang hanya bernapas saja tanpa ada ekspresi apapun. Sebenarnya sikap Fairy cukup membuat Arnold kesal namun ia berusaha menekan gejolak emosi yang mulai ada di hatinya. Ia tahu kalau sebuah kesalahan terlanjur tercipta diantara mereka. Arnold menyesali tindakannya itu.
Saat mobil sudah berhenti, Fairy lebih dulu turun tanpa menunggu Arnold membukakan pintu untuknya. Ia menekan tombol digital dengan 8 angka yang sudah dihafalnya kemarin lalu masuk lebih dulu diikuti oleh Arnold.
"Sayang, kita makan yuk! Aku yang memasak" kata Arnold sambil menahan tangan Fairy. Ia menunjuk ke arah meja makan yang sudah siap.
"Aku masih kenyang. Tadi setelah seminar, aku dan Thomas makan bersama." kata Fairy sambil menarik tangannya dari genggaman Arnold namun lelaki itu justru menahannya dengan kuat.
"Kamu makan dengan Thomas?" Arnold mendengus kesal. " Apakah kamu tahu sejak siang aku menunggumu untuk makan bersama? Aku menahan lapar demi menyiapkan makan malam untuk kita?"
Fairy kembali menarik tangannya dari genggaman Arnold. Kali ini Arnold melepaskannya karena tak ingin menyakiti Fairy.
"Siapa yang menyuruhmu untuk menahan lapar dan menyiapkan makan malam untuk kita?"
Perkataan Fairy membuat Arnold tak suka. Ia menatap Fairy dengan tatapan tak percaya kalau kata-kata itu akan keluar dari bibir istrinya.
Fairy membuang pandangannya ke sembarang tempat saat menerima tatapan Arnold itu. Sungguh hatinya ikutan merasa sakit.
"Aku tahu kalau aku salah, Fai. Makanya aku ingin minta maaf dengan menyiapkan ini semua bagimu. Namun kalau kau anggap semua yang kusiapkan ini sia-sia, baiklah. Aku akan membuangnya!" Arnold melangkah menuju ke meja makan.
__ADS_1
"Hei, jangan mentang-mentang kamu orang kaya, banyak uang lalu seenaknya saja mau membuang makanan!" Fairy tanpa di duga melangkah mendahului Arnold dan merentangkan tangannya untuk menghalau suaminya melaksanakan niatnya.
"Lalu siapa yang akan memakan makanan sebanyak ini?"
Fairy mendekati meja makan, lalu ia duduk di sana, mengambil makanan dan memindahkan ke piring yang sudah tersedia di sana, setelah itu ia makan dengan tenang.
Arnold yang melihatnya langsung tersenyum. Ia pun segera duduk di depan Fairy dan melakukan hal yang sama.
Fairy merasa kalau makanan yang disiapkan oleh Arnold sangat enak. Namun ia menyimpan rasa kagumnya itu. Ia terus menikmati makanan itu dengan nikmat karena sebenarnya perutnya sudah lapar. Karena ia menolak ajakan Thomas untuk makan setelah acara seminar karena perasaannya sangat galau.
Setelah acara makan malam yang bisu itu, Fairy yang lebih dulu menghabiskan makanannya segera mencuci peralatan makanannya dan meninggalkan dapur untuk menuju ke kamar. Sesampai di kamar, Fairy segera masuk kamar mandi lalu membersihkan dirinya dan mengganti bajunya dengan baju rumahan yang tertutup. Saat ia keluar dari kamar mandi, diihatnya Arnold baru saja masuk ke kamar. Fairy pun membuka tasnya, mengeluarkan beberapa buah buku lalu menuju ke meja yang memang sudah disiapkan Arnold baginya supaya Fairy bisa belajar di dalam kamar.
Setelah menyelahkan lampu meja belajarnya, Fairy pun duduk dan mulai membaca salah satu buku dan sesekali mencatat apa yang hendak dicarinya melalui buku itu.
Melihat Fairy yang sedang belajar, Arnold pun memilih masuk ke dalam walk in closet dan setelah ia keluar, ia sudah mengenakan celana pendek dan kaos rumahan.
Fairy yang sedang membaca memilih mengabaikan Arnold yang ia tahu sedang menatapnya sambil duduk di atas sofa yang mememang berhadapan dan meja belajar. Tak kama kemudian, Arnold mengambil hp nya dan berusaha untuk membuka games kesayangannya dan memainkannya untuk mengurangi rasa bosannya.
Hampir 2 jam berlalu dan Fairy menutup buku dihadapannya dengan mata yang sudah mengantuk. Ia segera berdiri dan mematikan lampu yang ada di meja belajarnya lalu melangkah hendak naik ke atas tempat tidur, saat panggilan Arnold menghentikan langkahnya.
Arnold meletakan hp nya di atas meja lalu mendekati Fairy. "Kita harus bicara!"
"Aku mengantuk." kata Fairy dingin dan segera melangkah namun Arnold menahan tangannya.
"Aku tak mau kau menyimpan rasa marah lebih dari sehari. Itu tidak baik dalam hubungan kita. Aku memang salah. Tapi tidak dapatkah kau memaafkanku atas tindakan cerobohku yang sebenarnya hanya ingin menahanmu untuk tetap ada di sisiku?"tanya Arnold dengan nada suara yang memohon.
Hati Fairy luluh. Ia menatap Arnold dengan tatapan mata yang tidak sedingin tadi namun masih tetap mengisyaratkan bahwa rasa marahnya masih ada.
"Aku sudah tak marah padamu. Sekarang aku ingin tidur karena besok aku tak ingin terlambat lagi ke kuliah" ujar Fairy sambil menarik tangannya dari genggaman Arnold. Namun suaminya itu tak mau melepaskan Fairy. Ia menarik perempuannya untuk masuk dalam pelukannya dan mencium kepala Fairy dengan penuh kasih.
"Jangan diamkan aku lagi seperti ini ya? Aku bisa gila jika kau mengacuhkan aku. Lagi pula, kita kan baru menikah. Seharusnya masa ini kita sedang mesra-mesranya memadu kasih" mohon Arnold.
__ADS_1
Fairy menikmati hangatnya dekapan Arnold dengan hati yang mulai mencair. "Aku juga mohon padamu, jangan sembarangan menghapus pesan untukku ya?" Fairy mengangkat kepalanya, menatap Arnold dengan wajah yang kembali tersenyum.
"Baiklah, sayang. Aku janji. Sekarang, aku boleh menciummu kan? Aku kangen..!" rengek Arnold.
"Baru juga malam ini. Manjanya sudah segede pohon cemara yang ada di depan sana. Apalagi kalau..." kalimat Fairy terhenti karena Arnold sudah mengulum bibirnya dengan cepat dan penuh hasrat. Fairy pasrah ketika tangan Arnold sudah melingkar di punggungnya dan salah satu tangannya bergerak ke atas memegang tengkuknya dan mendorong kepalanya untuk memperdalam ciuman mereka.
"Sayang, ayo kita bercinta!" ajak Arnold saat ciumannya sudah berpindah ke leher Fairy.
"Ar..., a...ku, ada kuliah besok pagi!" kata Fairy sambil berusaha menolak tubuh Arnold. Namun bibirnya justru mengeluarkan desahan manis saat satu tanda merah ditinggalkan Arnold di lehernya.
"Aku janji hanya satu kali saja!" kata Arnold lalu mengangkat tubuh Fairy dan meletakannya di atas kasur. Ia segera memerangkap tubuh Fairy dengan menempatkan dirinya di atas tubu Fairy.
Keduanya kembali bercumbu sambil tangan Arnold sudah menarik baju yang dikenakan Fairy.
"Benarkan hanya sekali?" tanya Fairy diantara diantara desahannya menikmati sentuhan itu.
Arnold menghentikan kegiatan bibirnya didada Fairy. Ia mengangkat kepalanya dan dengan senyum manis ia berada.
"Mungkin dua..!" ujar Arnold sedikit tertawa dan kembali melanjutkan kegiatannya itu.
***********
Suara ponsel Fairy membangunkan Arnold dari tidurnya. Ia menatap jam dinding yang menunjukan pukul 2 tengah malam.
Siapa yang menghubungi Fairy di jam seperti ini??
Arnold menggeser tombol pembuka hp Fairy. Sebuah pesan masuk dari Alex.
Hallo Fairy, maaf ya menganggu tidurmu malam ini. Aku hanya ingin tanya, apakah besok kau bersedia menemani aku untuk pertemuan dengan wakil dari perusahaan di Korea?
Darah Arnold terasa mendidi membaca pesan itu.
__ADS_1
Ada rasa cemburu membayangkan Fairy akan pergi dengan bosnya itu.
Bagaimana kisah inj berlanjut. Jangan lupa like, komen dan vote ya