
Tawa Mike terdengar memenuhi seisi ruang tamu Arnold saat Arnold menceritakan sebuah kisah lucu padanya.
"Uncle lucu....!"
Noah dan Susan yang melihat betapa dekatnya Arnold dengan anak itu menjadi senang. Sudah lama mereka tak melihat Arnold tertawa sesenang itu.
Linda yang duduk di depan menatap Mike."Sayang, kita pulang ya? Kasihan uncle Arnold harus istirahat supaya cepat pulih."
"Ya...mommy. Kenapa juga harus pulang sekarang. Kan Mike belum berenang." wajah tampan itu langsung cemberut.
"Mike...!"
"Nyonya Linda, biarkan saja Mike berenang." Arnold menatap Noah dan Susan.
"Temani Mike berenang ya?"
Mike langsung melompat kegirangan.
"Sayang, mommy tak bawa baju ganti." Kata Linda berusaha membujuk anaknya agar tidak berenang.
"Susan, kau belikan baju ganti untuk Mike di mall dekat sini." Arnold menatap Linda. "Kolam renangku ada air hangatnya. Jadi Mike akan aman. Biarkan dia berenang ya..."
Linda pun akhirnya mengijinkan juga.
Setelah mereka tinggal berdua, Arnold pun bermaksud mengorek keterangan tentang Linda.
"Eh, aku harus panggil apa ya? Nyonya Linda atau..."
"Linda saja, tuan Arnold."
"Seharusnya saya memanggil anda dengan nama belakang suami anda, kan?"
"Aku belum pernah menikah."
"Oh...jadi Mike?"
"Ya...tahulah. Pergaulan yang agak bebas...." Linda sengaja menggantung kalimatnya.
"Oh...., jadi karena itu Mike bilang daddynya sudah meninggal?"
Linda mengangguk. "Dari pada dia bertanya terus."
"Papanya Mike bule ya? Soalnya wajah Mike lebih mirip bule dibandingkan anda yang berwajah Asia."
"Ya. Papa Mike orang Perancis."
Arnold ingin bertanya lagi. Namun dlihatnya Linda agak kurang nyaman dengan pertanyaan Arnold sehingga akhirnya ia memutuskan untuk berhenti bertanya.
"Aku suka Mike. Suaranya merdu dan sangat tahu vokal menyanyi walaupun usianya masih kecil," Kata Arnold sambil menatap Mike yang sedang main kejar-kwjaran dengan Noah di dalam kecil.
"Ia sangat mirip dengan papanya. Papa Mike suaranya merdu."
Arnold menoleh dengan kaget. "Papa Mike seorang penyanyi?"
"Eh, bukan.Tapi suaranya merdu seperti Mike kalau menyanyi."
Arnold hanya tersenyum. Ia menatap Linda secara diam-diam. Mencari sesuatu yang mengingatkannya tentang Fairy. Ya, walaupun wajahnya agak mirip dengan Fairy, entah mengapa hati Arnold lebih bergetar jika menatap wajah Belinda. Apakah ini berarti Arnold sudah melupakan Fairy dan membuka hatinya untuk gadis lain?
Selesai berenang di kolam, Mike segera ganti baju dan menikmati makanan yang sudah disiapkan oleh Susan dengan segelas susu hangat. Selesai makan, Linda pergi ke toilet. Mike pun menyanyi sebuah lagu berbahasa Korea.
Arnold tersenyum melihat Mike asyik bergoyang. Namun yang membuatnya bergetar adalah lagu itu sering dinyanyikan oleh Fairy. Lagu dari salah satu girlband Spice yang sangat terkenal 5 tahun yang lalu. Girlband yang pernah ditonton Fairy bersama Alex dan membuat Arnold sangat cemburu.
__ADS_1
"Mike, itu kan lagu berbahasa Korea?"
"Ya."
"Kamu tahu?"
"Mommyku sangat suka mendengarkan lagu Korea. Di mobil, di rumah, bahkan dalam pesawatpun yang didengarkan mommy adalah lagu Korea."
Perkataan Mike membuat Arnold semakin penasaran untuk menyelidiki tentang Linda.
"Paman juga suka lagu Korea?" Tanya Mike.
"Iya."
"Wah, sama dong kayak mommy." Imbuh Mike sambil kembali menggoyangkan badannya dan bernyanyi lagi lagu Korea.
Setelah Linda keluar dari kamar mandi, mereka pun pergi. Arnold segera meminta pengawal pribadinya untuk mengikuti kemana Linda dan Mike pulang.
************
Selama 5 hari Arnold beristirat di apartemennya. Ia juga sudah puluhan kali mengirim pesan pada Belinda namun tak satupun yang dibalas oleh perempua itu. Arnold jadi semakin penasaran dengannya. Jujur saja, Arnold rindu. Makanya hari ini ia bermaksud datang ke yayasan untuk bertemu dengan Belinda.
"Ada apa lagi ke sini?" Tanya Belinda saat melihat Arnold memasuki ruangannya.
"Mengapa sambutanmu sejudes itu? Seharusnya kan bertanya, Arnold bagaimana kesehatanmu?" ujar Arnold dan tanpa diduga ia langsung duduk di depan Belinda sambil menatap gadis itu dengan seksama.
"Aku merindukanmu!" Kata Arnold sedikit berbisik dengan gaya sensual.
"Tuan Manola, sudah kukatakan kalau aku sudah punya tunangan."
"Ok. Aku tahu. Baru bertunangan dan bukan menikah. Jadi aku masih punya kesempatan untuk memenangkan hatimu kan?"
Belinda berusaha melepaskan diri dari Arnold namun tangan Arnold sudah memegang tengkuknya, mendorongnya untuk semakin dekat ke tubuh Arnold. Sekuat apapun Belinda menolak, pada akhirnya tubuhnya menyerah dalam kehangatan ciuman itu. Belinda kembali tergoda, menikmati permainan bibir Arnold yang sudah sangat lihai menggoda dan membuainya.
"Apakah tunanganku ada di dalam?" Terdengar suara Robert dari luar ruangan. Belinda dengan cepat mendorong tubuh Arnold lalu ia kembali ke meja kerjanya. Arnold tersenyum senang. Ia duduk di depan Belinda.
"Kenapa buru-buru pergi? Pada hal aku mau menjemput tunanganku untuk makan siang. Kenapa tidak bersama saja?" Tanya Robert.
"Aku masih ada urusan. Selamat siang!" Arnold segera meninggalkan ruangan Belinda.
"Mau makan siang bersama?" Tanya Robert setelah Arnold pergi.
"Tumbem mau mengajakku makan siang.Di suruh oleh mamamu?" Tanya Belinda.
"Come on, baby. Apakah kau masih marah padaku?" Robert memdekat dan duduk di pinggiran meja di depan Belinda. " Aku minta maaf. Ok?"
"Maaf? Selalu kau katakan kau minta maaf. Kau menyesal, kau tak akan mengulanginya lagi. Namun mana buktinya? Kau selalu saja jatuh dalam rayuan mantanmu itu."
"Aku juga laki-laki normal yang butuh kehangatan dari wanita. Sementara kamu sendiri belum mau ku sentuh. Makanya, kita percepat saja tanggal pernikahannya." Robert meraih tangan Belinda.
"Biarlah semua berjalan seperti yang sudah diatur oleh orang tua kita. Tinggal 4 bulan lagi dan kita akan resmi menjadi suami dan istri."
Robert menarik tangan Belinda dan membawa gadis itu ke dalam pelukannya. "Aku mencintaimu, sayang. Aku sudah tak sabar menjadikanmu sebagai ibu dari anak-anakku."
Belinda hanya diam. Kepalanya justru dipenuhi dengan wajah Arnold yang tersenyum. Dirinya masih merasakan sensasi ciuman Arnold dibibirnya. Apakah mungkin aku harus mempercepat pernikahanku dengan Robert?
**********
Agenda hari ini sudah selesai. Para pegawai yang bekerjapun sudah pulang. Belinda menggerakan badannya sebentar dan segera meninggalkan ruangan kerjanya.
Ia senang. Sudah seminggu ini Arnold tak lagi menganggunya dengan telepon ataupun pesan-pesannya. Mungkin cowok itu sudah mengerti kalau Belinda sudah punya tunangan. Walaupun sesungguhnya, Belinda kangen membaca pesan-pesan konyol yang dikirim oleh pria tampan itu.
__ADS_1
Saat ia melangkah ke tempat parkir, ia terkejut melihat Arnold sedang bersandar di pintu mobilnya.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" Tanya Belinda sambil menunjukan wajah judesnya. Ia berusaha menutupi debaran jantungnya yang berdetak cepat saat melihat Arnold. Ingin rasanya ia memeluk Arnold karena rasa senangnya.
"Ingin melihat kamu saja. Sudah seminggu aku mencoba tak menghubungimu namun rasanya tak bisa. Hatiku benar-benar dicuri olehmu."
"Gombal !" Belinda mencibir namun ia sungguh senang mendengar pengakuan itu.
"Ayo makan malam denganku!" ajak Arnold sambil mengulurkan tangan kanannya sementara tangan kirinya dimasukan ke dalam saku celananya.
Sial..! Mengapa dia terlihat sangat ganteng dengan gayanya ini? Aku harus menolaknya, batin Belinda.
"Aku..."
"Please....!" Mohon Arnold dengan tangan yang masih terulur pada Belinda.
Belinda bimbang. Hatinya ingin pergi namun akal sehatnya melarang dia.
Melihat Belinda hanya diam saja, Arnold langsung menarik tangan Belinda dan melangkah menjauhi mobilnya.
"Hei, mobilku!"
"Mobilmu tak akan hilang. Kita naik mobilku saja." Arnold langsung membuka pintu mobilnya dan sedikit mendorong Belinda untuk masuk. Lalu ia segera duduk di belakang kemudi dan segera menjalankan mobilnya.
"Tempat apa ini?" Tanya Belinda saat mereka sudah tiba di sebuah taman.
"Fairy garden."
"Ayo turun!" Arnold kembali mengulurkan tangannya. Belinda tak menyambut tangan Arnold. Ia langsung melangkah sambil menatap sekelilingnya. "Sedangkan malam seindah ini, apalagi kalau siang hari. Pasti tempat ini akan semakin indah." Kagum Belinda.
"Makanya, kau harus tidur di sini agar bisa melihat tempat ini pada siang hari." Kata Arnold membuat Belinda menoleh padanya dengan tajam.
"Kau pikir aku mau tidur di sini?" Tanya Belinda sambil tersenyum mengejek. "In your dream, sir."
Arnold hanya terkekeh. Ia lalu mengajak Belinda le sebuah meja yang sudah disiapkan disana dengan makanan yang sudah tersediah.
"Ayo duduk!" Arnold menarik kursi untuk Belinda.
"Terima kasih."
"Enak?" Tanya Arnold saat Belinda mulai memasukan makanan itu ke dalam mulutnya.
"Ya. Enak."
"Aku yang memasaknya"
"Jangan bercanda. Memangnya penyanyi sepertimu bisa memasak."
"Makanya, tidurlah di sini agar kau bisa tahu kalau aku pintar memasak."
Belinda hanya menggeleng. Tiba-tiba gadis itu berdiri dan meletakan pisau dan garpu yang ada di tangannya.
"Ada apa?" Tanya Arnold bingung.
"Itu kunang-kunang kan?" Belinda langsung melangkah ke arah kunang-kunang.
Arnold terpana. Ia ingat saat pertama mengajak Fairy ke taman ini. Bukankah gadis itu juga mengejar kunang-kunang? Arnold bagaikan mengalami dejavu.
Nah....ayo....apa yang akan terjadi kemudian?
Jangan lupa Like, komen dan vote ya....
__ADS_1