SONG IN MY LIFE

SONG IN MY LIFE
Tak Bisa Menolak


__ADS_3

Acara pembukaan Yayasan Holly Love dilaksanakan secara sederhana di dalam ruangan kantor Yayasan. Ada sekitar 100 tamu yang hadir yang hampir semuanya adalah para donatur.


Ezekiel datang bersama Joe dan Arnold. Mereka menjadi pusat perhatian karena dikenal sebagai pria-pria tampan yang tajir. Namun Ezekiel yang memang jarang tersenyum dengan orang lain, hanya memasang wajah datar pada setiap perempuan yang memandangnya. Begitu juga dengan Joe yang tak jauh berbeda dengan Ezekiel. Sejak menikah dan memiliki anak, kedua pria ini memang tak lagi tertarik dengan perempuan cantik manapun kecuali istri mereka. Berbeda dengan Arnold yang selalu menebar senyum manis. Walaupun dari semua gadis yang dilihatnya, Arnold hanya tertarik pada ketua yayasan yang berpenampilan cantik dan elegan hari ini.


Dari semua tamu yang hadir, ada satu yang menarik perhatian Arnold. Dialah Thomas, dosen Fairy yang selalu membuat Arnold cemburu karena kedekatan Fairy dengannya. Thomas juga terlihat akrab dengan Belinda. Jujur, Arnold merasa cemburu.


"Arnold...., apa kabar?"


Arnold menoleh dengan kaget. "Cassie? Willy? Apa yang kalian lakukan di sini?"


"Willy menjadi salah satu dokter yang bekerja di yayasan ini. Kebetulan pangeran Robert adalah pemilik rumah sakit tempat Willy bekerja. Kami diundang untuk datang ke sini." Jawab Cassie.


Arnold memperhatikan tubuh Cassie "Kau hamil?"


Cassie mengangguk dengan wajah gembira. "Iya. Kami menikah setahun yang lalu."


"Selamat ya.." Arnold memeluk Cassie dan Willy secara bergantian. Tak lama kemudian acara dimulai. Saat putri Belinda naik ke atas podium, Cassie terpana.


"Putri Belinda mirip Fairy!" Kata Cassie membuat Arnold menoleh ke arahnya.


"Kau juga merasakannya?"


Cassie mengangguk. "Hanya saja putri Belinda lebih tinggi dan badannya lebih padat berisi.Rambutnya juga berbeda dengan Fairy. Tapi tatapan matanya, mengingatkan aku pada Fairy. Mata coklatnya itu. Ah, mengapa aku jadi cengeng ya?" Cassie tak bisa menahan air matanya mengingat sahabat baiknya itu. Willy yang berdiri disampingnya menepuk bahu istrinya.


"Fairy sudah bahagia, sayang. Dia sudah tenang dialam sana." kata Willy membuat Arnold mengangguk.


"Maaf, Arnold. 5 tahun boleh berlalu dengan cepat namun aku belum bisa melupakan sahabat baikku itu. Entah bagaimana kabar nenek Anna di Jakarta." Wajah Cassie kembali sedih mengingat nenek Anna yang sangat Fairy sayangi.


"Setahun setelah kematian Fairy, aku sempat ke Jakarta menemui nenek Anna. Beliau baik-baik saja. Namun salah satu anak buahku yang sering kuminta untuk mengantarkan kebutuhan nenek Anna mengatakan bahwa setelah itu, saudara nenek Anna dari Bali datang menjemputnya dan tinggal di Bali. Rumah itu sudah dijual . Aku mencoba mencari keberadaan nenek Anna di Bali namun tak pernah ada hasilnya. Aku juga tak tahu apakah beliau masih hidup ataukah sudah meninggal." Arnold berkata dengan wajah semakin sedih.


"Ternyata semua tentang Fairy tak akan mudah dilupakan. Dia seakan abadi dalam hati kita." Cassie menatap putri Belinda. Ia membayangkan kalau putri itu adalah temannya, rasanya sesuatu yang mustahil. Gaya Fairy yang agak tomboy dan sedikit sembrono, sangat jauh berbeda dengan Putri yang kalem dan sangat elegan.


Acara pembukaan dilanjutkan dengan acara makan siang. Arnold melihat kalau Belinda meninggalkan ruangan acara. Arnold membisikan sesuatu di telinga Ezekiel membuat Ezekiel segera mendekati Robert. Arnoldpun mengikuti langkah Belinda yang ternyata sedang menuju ke ruangannya.


Saat Belinda masuk ke ruangannya, Arnold dengan cepat mendorong pintunya sebelum ditutup kembali.


"Arnold, apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Belinda dengan sangat kaget.


"Aku merindukanmu." Arnold menutup pintu dibelakangnya dan segera memeluk Belinda.


"Arnold lepaskan! Robert bisa saja datang ke sini."


"Dia sedang asyik berbicara dengan para donatur. Dia tak akan datang ke sini!" Arnold mendorong tubuh Belinda sampai akhirnya punggung gadis itu membentur dinding.


"Arnold, ini gila!" Kata Belinda saat Arnold sudah mengurung dirinya dengan kedua tangan Arnold.

__ADS_1


"Aku tahu. Namun aku akan semakin gila jika tidak memelukmu dan menciummu." Arnold langsung menunduk dan menciumi Belinda dengan lembutnya. Mulai dari dahi, turun ke matanya, turun ke pipinya sampai akhirnya Arnold menciumi bibirnya.


Belinda memberontak. Namun ciuman itu begitu indah untuk dia tolak. Belinda tak bisa mendorong Arnold walaupun dia ingin. Tangannya perlahan melingkar dileher Arnold dan ia membalas ciuman itu dengan hasrat yang sama.


**********


Napas keduanya saling memburu saat puncak kenikmatan itu diraih bersama. Dalam posisi berdiri, dengan punggung Belinda yang masih bersandar di dinding, keduanya menyatu dalam keintiman yang dalam.


"Kau gila!" Kata Belinda sambil mendorong tubuh Arnold. Ia memperbaiki kembali rok dan kemejanya yang berantakan. Lalu melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Arnold tersenyum manis. Dia tak pernah bercinta dalam posisi seperti ini bahkan dengan Fairy sekalipun. Arnold benar-benar tak bisa melepaskan diri dari rasa ingin memiliki tubuh Belinda. Ada sesuatu yang selalu menariknya untuk selalu dekat dengan Belinda. Sebuah rasa yang pernah ia miliki untuk Fairy.


Saat Belinda keluar dari kamar mandi, ia terkejut melihat Arnold masih berdiri di tempatnya semula.


"Apa yang masih kau tunggu? Pergilah! Bukankah kau sudah mendapatkan apa yang kau mau?" Tanya Belinda dengan nada ketus.


"Bel..!" Arnold menahan tangannya.


"Apa?"


"Menikalah denganku!" Ucap Arnold dengan wajah penuh permohonan.


"Kau sudah lupa ingatan atau pura-pura lupa ingatan?" Belinda mengangkat tangan kirinya, memperlihatkan sebuah cincin berlian yang melingkar indah di jari manisnya. "Aku sudah terikat dengan orang lain."


"Aku mencintai, Robert."


"Sayangnya aku tak percaya itu. Tatapan matamu, hasratmu, tubuhmu, justru mengatakan kalau kau menginginkan aku sebesar aku menginginkan kamu. Ini bukan tentang napsu tapi tentang hati."


"Aku mohon Arnold, jangan dekati aku lagi. Kau akan membuat hidupku dalam masalah yang besar." Kata Belinda sambil menarik tangannya. Kali ini Arnold melepaskan tangannya.


"Aku percaya akan mendapatkanmu, Belinda. Karena aku melihat cinta dipandangan matamu."


"Jangan bermimpi, Arnold!" Belinda langsung meninggalkan ruangannya. Arnold menunggu sebentar lalu ia pun keluar dari sana.


Saat dia kembali ke ruang pertemuan, nampak Ezekiel dan Joe masih berbincang dengan Robert sedangkan Belinda sedang bercakap-cakap dengan beberapa ibu-ibu muda.


Ezekiel langsung mendekati Arnold.


"Apa yang kamu lakukan didalam sana, dude? Hampir 30 menit. Aku bahkan kehabisan bahan pembicaraan dengan si Robert itu." Tanya Ezekiel dengan suara yang sangat pelan.


"Aku melamarnya."


"Dapat ku tebak, kalau dia menolakmu."


"Ya. Dia menolakku justru disaat kami baru selesai bercinta."

__ADS_1


"Apa? Kau masih sempat-sempatnya disaat seperti ini?"


"Aku tak tahu, Eze. Dirinya seperti magnet yang selalu menarikku untuk dekat dengannya. Aku bahkan sangat yakin kalau dia menginginkanku juga."


Ezekiel tersenyum. "Aku akan membantumu untuk mendapatkannya."


"Benarkah?"


"Kalau datanya sudah lengkap, akan kutunjukan padamu."


"Data apa?"


"Kebusukan tunangannya tuan putrimu itu."


Arnold akan bertanya lagi, namun dilihatnya Belinda agak menjauh dari keramaian. Ia menerima telepon dari seseorang. Wajahnya terlihat pucat. Ia bahkan hampir menangis. Arnold sangat penasaran. Ia mau mendekati Belinda namun langkahnya terhenti melihat Robert sudah mendekatinya sambil memeluknya erat. Lalu keduanya segera meninggalkan acara dan seorang staf menggantikan Belinda untuk menutup acara serta permohonan maaf karena putri Belinda tak bisa menutup acara karena ada keperluan penting yang membuatnya harus meninggalkan acara.


Arnold dan Ezekiel bersama Joe segera meninggalkan ruangan kantor yayasan. Arnold pulang bersama Rio.


Dalam perjalanan, ponsel Arnold berbunyi. Itu panggilan dari Linda. Arnold sempat terkejut Linda meneleponnya pada hal semenjak peristiwa Linda membawa Mike pulang secara mendadak dari rumahnya, ponsel Linda tak bisa dihubungi.


"Hallo tuan Manola, maaf aku menganggumu."


"Ada apa nyonya Linda?"


"Anakku Mike kabur dari apartemen. Aku sudah mencarinya namun dia tak ada."


"Bagaimana bisa anak sekecil itu kabur dari sana?"


"Dia ingin bertemu denganmu, namun aku tak mengijinkannya. Tadi saat aku mandi, dia pergi." Terdengar suara Linda yang sangat ketakutan dan tangisnya yang semakin dalam.


"Baiklah. Aku akan mencoba mencarinya. Nanti kita saling berhubungan lagi." Arnold mematikan sambungan telepon.


"Rio, kita ke apartemenku dulu. Mike kabur dari rumah. Mungkin dia ke apartemenku. Aku akan mengirimkan foto Mike dan kau minta bantuan pada kepala keamanan keluarga Thomson untuk mencari Mike saat ini juga."


"Baik, tuan."


Arnold merasakan pikirannya kacau. Entah mengapa Mike dan Belinda sangat mengusik hatinya. Ia seperti terikat dengan mereka.


KEMANA PERGINYA MIKE?


DAN APA YANG AKAN TERJADI PADANYA???


Nantikan episode berikutnya ya...


Jangan lupa like, komen dan vote ya

__ADS_1


__ADS_2