Suami Romantis (Jodoh Pasti Bertemu) Oleh Meisy T

Suami Romantis (Jodoh Pasti Bertemu) Oleh Meisy T
Kecelakaan


__ADS_3

Terlambat. Tanganku agak gemetar saat berusaha menghindari motor tersebut.


Braaak!


Motorku beradu dengan aspal.


"Woy! Brenti!" teriak Silvi pada pengendara motor yang tetap melaju tanpa memperdulikanku.


Silvi menghentikan motor, lalu menghampiriku.


"Kamu gimana?" Silvi membantuku berdiri.


Aku hanya menggeleng lemah. Tubuhku masih gemetar mengingat kejadian tadi. Kulirik lengan baju yang sobek pada bagian siku.


"Dasar ga punya hati!" Silvi mencibir ke arah motor yang sudah menjauh.


"Udah, Sil ... aku juga salah, kurang konsen jalannya."


"Tetap aja. Setidaknya dia nanyain kondisi kamu," omelnya sambil meminggirkan motorku.


Aku mencoba tersenyum untuk menenangkan wanita cerewet itu. "Aku ga papa, kok."


Beberapa orang berhenti menanyai kondisiku dan menawarkan ke rumah sakit. Aku hanya tersenyum dan mengucapkan terimakasih.


Silvi menuntunku menuju sebuah warung yang tak jauh dari tempat kami berdiri. Wanita mungil itu membeli sebotol minum dan menyerahkannya padaku.


"Makasih ya, Sil."


"Apaan, sih! Mana HP kamu?"


"Buat apa?"


"Buat telpon Ridho. Biar dia jemput, aku belum berani bonceng orang."


"Ga usah. Aku cuma lecet gini."


"Ish! Kekeh banget, sih. Siniin HP-nya!"


"Aku ga punya nomernya." Akhirnya kuakui belum menyimpan nomor Ridho.


"Astaga! Parah! Telpon Bapak aja kalau gitu, biar dia minta Ridho jemput."


"Yah ... nanti pada khawatir, Sil. Aku ga papa pulang sendiri."


Silvi menghela napas. "Ya udah, aku temenin sampai rumah."


Baru akan beranjak pulang, gawaiku berdering tanda panggilan masuk. Aku mengeluarkan benda pipih itu dari tas. Dahiku berkerut membaca tulisan 'My Husband' tertera di layar.


Ridho?


"Siapa?" tanya Silvi.


Aku menggeleng pelan. Kuangkat panggilan lalu mengucapkan salam.


"Kamu jam berapa pulangnya?" tanyanya setelah menjawab salamku.


Ternyata memang Ridho yang menghubungiku. Seingatku kami belum pernah bertukar nomor. Mungkinkah dia menyimpan nomorku saat sendiri di kamar?


"Bentar lagi," jawabku.


"Kok berisik? Lagi dimana?"


Silvi tiba-tiba mendekat. "Ridho! Reva kecelakaan. Kamu jemput ke sini, ya!"


Astaga! Cewe bawel ini diam-diam memperhatikan dan tahu Ridho yang menghubungiku.


"Kenapa ga bilang dari tadi? Kamu sekarang dimana?" Suara Ridho terdengar panik.


Aku mendelik pada Silvi sebelum menjawab pertanyaan Ridho. Wanita itu tersenyum dan memasang wajah sok imut.


"Daerah Tebeng, deket Masjid gede di pinggir jalan."


"Tunggu di sana, bentar lagi aku jemput."


"Iya."


Aku memutuskan panggilan, lalu menatap galak pada Silvi. "Kamu, sih! Ngapain teriak-teriak gitu. Bikin dia cemas aja."


"Biarinlah! Cie ... yang mau dijemput suami. Katanya ga nyimpan nomornya." Silvi menggodaku.


"Beneran. Aku belum simpan nomor Ridho."


"Berarti dia suami siaga. Untung dia inisiatif simpan nomor kamu."


Walau masih kesal, aku mengakui kata-kata Silvi.


Sepuluh menit berlalu, kulihat Ridho mengedarkan pandangan mencari keberadaan kami. Silvi melambaikan tangan padanya.


"Kamu ga papa?" tanya lelaki yang berstatus suamiku itu, setelah mendekati kami.


"Cuma lecet dikit," jawabku.


"Lecet apaan! Luka gitu. Bandel anaknya. Tadi nekad mau pulang sendiri," Silvi menyela.

__ADS_1


Ridho menatapku tajam. Aku menatap galak pada Silvi.


Nih anak, kenapa jadi kompor gini, sih?


"Makasih ya, Sil," ucap Ridho.


"No problem. Aku duluan ya. Titip Reva."


"Tenang aja. Teman kamu aman sama aku," sahut Ridho.


Silvi terkekeh pelan. "Percaya, kok!"


Wanita berkulit terang itu melangkah menuju motornya. Kulambaikan tangan saat dia melaju ke jalan raya.


"Tunggu di sini bentar, aku titip motornya ke bengkel teman ga jauh dari sini."


"Iya."


Setelah membawa motorku ke bengkel, Ridho kembali lagi menuntunku menuju motornya. Rasa gugup menerpa saat tangannya meraih jemariku.


"Kita ke klinik dulu ya?" tawarnya.


"Ga usah, kasi obat luka aja di rumah."


Ridho menghela napas kasar. Aku mengalihkan pandangan ke arah lain.


Selama di motor, kami tak banyak bicara.


"Pegangan!"


"Hah?"


Ridho meraih tanganku untuk diletakkan dipinggangnya. Aku menurut saja, walau debar di dada semakin terasa.


Setibanya di rumah, laki-laki itu meraih pinggangku, lalu melangkah perlahan.


"Assalamualaikum!" ucap Ridho.


"Waalaikumsalam," jawab Ibu, lalu membuka pintu.


"Ridho? Kamu kenapa, Nak?" Ibu bergantian memandang kami.


Aku hanya meringis bingung menjawab pertanyaan Ibu.


"Reva jatuh dari motor, Bu. Tadi temennya ngasi tau," jawab Ridho.


"Ya Allah ... parah lukanya?" tanya Ibu sambil menelisik tubuhku.


"Ya udah, Ibu ambil obat luka dulu."


Ibu kembali dengan membawa kotak yang berisi obat-obatan.


"Nak Ridho tolong bersihin luka Reva ya."


"Baik, Bu."


Ridho membawaku ke kamar, lalu memintaku duduk di kursi. Dia berjongkok untuk membersihkan lukaku dengan kain kasa yang telah diberi cairan alkohol. Dioleskannya Betadin pada luka yang telah bersih.


"Kamu ga kerja?" tanyaku.


"Ga usah mikirin orang lain, lagi luka gini!"


Aku menghela napas pelan. Orang nanya baik-baik dijawab ketus.


"Kamu kenapa ga telpon aku tadi?"


"Aku ga mau bikin orang-orang khawatir."


"Ga boleh gitu lagi. Kalau terjadi apa-apa, tolong hubungi aku ya ...."


Ah ... hatiku terasa hangat mendengar ucapan Ridho. Aku pun menganggukkan kepala sebagai jawaban.


"Kamu ga papa nanti ikut ke rumah?"


"Ga papa, kok."


"Ya udah, sekarang kamu istirahat dulu, aku masih ada kerjaan di kantor."


"Iya, kamu jangan bolos kerja."


"Mas!"


Ups! Aku belum terbiasa dengan panggilan itu. Lidahku terasa kaku saat berusaha mengucapkannya.


"Iya, M-Mas," ucapku.


Ridho tersenyum senang mendengarnya. Diciumnya keningku sebelum keluar dari kamar.


***


Hampir jam dua siang aku terbangun. Aku menepuk keningku saat ingat belum shalat Zuhur.


Perlahan kulangkahkan kaki ke kamar mandi. Sepertinya kakiku keseleo. Tadi tak terlalu sakit, mungkin karena selalu dibantu saat berjalan.

__ADS_1


Setelah shalat Zuhur, aku kembali merebahkan badan ke ranjang. Perutku berbunyi karena belum sempat diisi. Kuangkat kembali tubuhku yang terasa lemah.


"Kamu mau kemana?"


Tiba-tiba Ridho sudah mendorong pintu kamar.


"Mau makan."


"Di sini aja. Biar aku ambilin."


Aku memilih menurut dan duduk di tepi ranjang. Ridho meletakkan tasnya di meja, lalu keluar dari kamar. Selang beberapa menit, dia kembali membawa sepiring nasi beserta lauk dan segelas air.


Laki-laki dengan mata setajam elang itu menyuapi nasi ke mulutku.


"Ga usah. Aku bisa sendiri." Aku merasa tak nyaman dengan perhatiannya.


"Udah. Nurut aja, kenapa?"


Aku tak membantah lagi. Ridho dengan telaten menyuapiku sampai piring bersih.


Duh ... ini makanannya enak apa karena disuapi suami?


"Kamu ikut rombongan Bapak aja perginya. Aku duluan. Nanti aku jelasin ke Ayah Bunda kondisi kamu."


"Iya."


Setelah berbaring sejenak, Ridho pun bersiap-siap untuk pergi. Aku ingin mengantarnya ke depan, tapi dia melarang.


***


"Gimana keadaan kamu, Nak?"


"Udah mendingan, Bu. Tapi kakiku agak keseleo kayaknya. Sakit dibawa jalan."


"Ibu panggil tukang urut dulu. Biar nanti agak enakan ke rumah Ridho."


"Makasih ya, Bu."


"Iya, Sayang." Ibu mengelus puncak kepalaku sebelum berlalu.


***


Setelah dipijit tetanggaku yang berprofesi sebagai tukang urut, kakiku agak mendingan. Namun, dia menyarankan untuk satu atau dua kali urut lagi agar tak sakit lagi.


Selesai melaksanakan shalat Magrib, kami mulai bersiap untuk ke rumah Ridho. Beberapa tetangga dan saudara Bapak ikut serta. Sebenarnya kami perantau di kota ini. Saudara kandung Bapak dan Ibu berada di provinsi lain.


"Ayo, Bu!" kata Bapak yang sudah duduk di teras.


"Iya, Pak."


Bergegas kuselesaikan dandanan, lalu merapikan kebaya berwarna keemasan dengan jilbab senada yang kupakai. Kami pun berangkat ke rumah Ridho dengan rombongan yang memenuhi dua mobil.


Setibanya di sana, kami di sambut ramah oleh keluarga Ridho. Laki-laki jangkung itu terlihat tampan dengan celana bahan dan batik berwarna merah. Acara pun berlangsung dengan khidmat. Hanya dua keluarga dan beberapa tetangga yang ikut hadir.


Acara berakhir dengan doa untuk kedua mempelai, lalu makan malam. Aku pun mengantar kepergian Ibu dan Bapak dengan berat hati.


"Baik-baik di sini ya, Nak," ucap Bapak.


"Ingat pesan Ibu," tambah Ibu.


Aku hanya menganggukkan kepala. Tak terasa air mata menetes di pipiku. Padahal kata Ridho hanya menginap beberapa hari, tapi tetap saja aku sedih.


***


Setelah shalat Subuh, aku bergegas ke dapur ingin membantu ibu mertua.


"Masak apa, Bun?"


"Mau bikin asam pedas. Kamu bersihkan dulu ikannya."


"Iya, Bun."


Aku pun membantu mertua menyiapkan sarapan, lalu mencuci peralatan masak yang kotor.


Setelah sarapan bersama keluarga Ridho, aku kembali ke kamar untuk mengambil pakaian kotor.


Saat akan memasuki pintu dapur, sayup-sayup kudengar percakapan Ridho dan ibunya.


"Istrimu kayaknya ga bisa masak. Cuci piring juga ada yang masih berminyak."


"Ga gitu kok, Bun. Mungkin dia kecapean, jadi kurang fokus."


"Halah! Kelihatan gitu kok, kurang gesit kerjanya."


Deg!


Hatiku sedikit nyeri mendengar perkataan ibu mertua. Bergegas kulangkahkan kaki ke kamar, tak ingin mendengar lanjutan pembicaraan mereka.


Ibu ... aku mau pulang....


Jangan lupa vote, like dan komen..😘😘


Vote itu pake point yaa, ambil aja point online kita. Tulisan point ada di sudut kanan atas. Nanti pas buka cerita ini, pilih vote. Tinggal kasih point yang kamu punya.☺☺

__ADS_1


__ADS_2