
Ridho melepas tanganku saat aku mengalihkan pandangan. "Ya udah. Kamu hati-hati jalannya."
Aku tak menggubris kata-kata Ridho, lalu berbalik membelakanginya. Perlahan melangkah meninggalkan ruangan Bunda. Hatiku bertambah sakit karena tak terdengar langkah Ridho tak menyusulku.
Tiba di parkiran, air mataku benar-benar tak bisa kutahan lagi. Aku menghapus air mata yang mengalir di pipi dengan kasar.
Rasanya ingin kujambak rambut laki-laki itu. Di sisi lain malah berharap berada dalam pelukannya saat ini juga.
Huaah! Pikiranku jadi kacau.
Perlahan kulajukan motor setelah membayar uang parkir.
Ridho nyebelin!
Setibanya di rumah, aku langsung melangkah ke kamar setelah menyapa Ibu yang sedang menonton TV.
"Ga makan dulu, Nak?" tanya Ibu sebelum aku menutup pintu.
"Nanti aja, Bu. Belum lapar."
Kuhempaskan tubuh ke ranjang. Terbayang raut ibu mertua saat bertemu dengan Nisa. Sepertinya mereka lumayan dekat.
Huhh! Biarkan saja. Aku tak perduli.
Kutarik napas panjang untuk mengurangi sesak di dada. Rasa iri dan cemburu membuatku sedikit emosi. Mengapa begitu susah mengontrol amarah?
Baru kuingat sedang kedatangan tamu bulanan. Momen yang sangat tepat. Kepalaku mendadak sakit. Lebih baik aku tidur, semoga saat bangun pikiranku lebih tenang.
***
Suara adzan Ashar membangunku. Tubuhku basah oleh keringat.
Astaga! Hampir tiga jam aku tertidur.
Perlahan aku turun dari ranjang dan keluar kamar. Rumah sepi. Ibu mungkin sedang shalat. Perutku yang berbunyi menuntunku ke dapur.
Kubasuh muka di wastafel, mengambil piring, lalu mengisinya dengan nasi dan lauk. Sepiring nasi tandas tak bersisa. Selera makanku malah bagus saat marah.
Setelah mengangkat pakaian dan melipatnya, aku kembali ke kamar. Kuraih handuk, lalu masuk ke kamar mandi.
Sejuknya air membuat perasaanku lebih tenang. Kusisir rambut, memoles lipstik berwarna pink ke bibir, lalu menabur bedak ke pipi.
Wajahku terlihat lebih baik dari siang tadi. Kukeluarkan gawai dari tas. Berselancar di dunia maya untuk mengusir jenuh.
Sedang asik membaca status teman-teman, Ridho membuka pintu kamar. Aku menoleh sekilas, lalu kembali menatap layar gawai. Laki-laki itu meraih handuk sebelum masuk ke kamar mandi.
Hm ... yang habis bertemu mantan, lupa sama istri.
Dengan kesal kuletakkan gawai di ranjang, lalu keluar dari kamar. Ibu sedang membaca koran di ruang tamu.
"Bapak belum pulang, Bu?"
"Belum. Perginya agak siang tadi, belum sehat betul."
__ADS_1
"Bapak dulu punya mantan ga, Bu?"
"Ngapain nanya gitu?"
"Ga papa. Kepo aja."
"Ada. Waktu di desa mereka udah tunagan, tapi wanita itu nikah duluan sama orang lain."
"Ya Allah." Aku menutup mulut dengan tangan. "Pasti Bapak sedih."
"Iya. Kakekmu lalu menjodohkan Bapak dengan Ibu. Waktu itu, Ibu belum lama lulus SMA."
"Ibu nikah muda juga?"
"Iya. Bapak orangnya sabar, telaten menghadapi Ibu yang masih sering bersikap seperti anak-anak."
Aku tersenyum mendengar kisah Ibu dan Bapak. Seketika ingat hubungan kami. Apa aku masih seperti anak-anak?
Tak lama duduk, Bapak pulang. Aku memutuskan kembali ke kamar. Ridho sudah berganti pakain, bersiap ke masjid.
Aku melewatinya tanpa kata, lalu berbaring membelakanginya. Laki-laki berkoko putih itu beranjak keluar.
***
Setelah makan malam kami masih saling diam. Aku menghabiskan waktu di depan TV. Jam delapan, aku yang penasaran memutuskan kembali ke kamar.
Ridho sedang berbaring di ranjang. Dengan ragu, aku mendekat. Wajahnya terlihat lelah dengan mata terpejam.
Ah, apa aku terlalu kekanakan? Kurang mengerti kondisi suamiku?
"Cape?" tanyaku, lalu membalas senyumnya.
Ridho menggelengkan kepala. "Hilang setelah lihat wajah manis kamu."
Laki-laki ini! Sempat-sempatnya membuatku tersipu di saat hati tak karuan rasanya.
"Jangan marah lagi, ya?" rayunya.
Tiba-tiba aku ingat seragam wanita cantik itu. "Kamu tiap hari ketemu dia?" Aku mengerucutkan bibir karena rasa kesal yang kembali datang.
Ridho berdehem sebelum menjawab, "Ga tiap hari, kok. Dia cuma guru di sekolah."
"Tetap aja, sering."
Ridho beranjak duduk di hadapanku. "Aku ga ada perasaan apa-apa sama dia."
Aku mendelik sebal. "Tapi dia ada perasaan sama kamu!"
Sebenarnya aku asal menebak. Namun, raut Ridho yang berubah menjawab semuanya. Laki-laki itu terdiam cukup lama.
"Tuh, kan...." Mataku mulai basah.
Ridho meraihku dalam pelukan. "Ga ngaruh. Aku cuma cinta sama kamu."
__ADS_1
"Ta-pi-"
Ridho menempelkan bibir kami dengan cepat. Aku luluh, lalu membalas ciumannya. Ingat kondisi ibu mertua, aku melepaskan diri.
"Mas ga ke rumah sakit?"
"Bentar lagi, mau mesra-mesraan sama istri."
"Ga ingat aku lagi mens?"
Ridho mengerjap mendengar kata-kataku. "Lupa." Laki-laki berambut hitam itu turun dari ranjang. "Gagal deh!"
Aku terkekeh mendengar ucapannya. "Minggu depan!" ucapku usil.
Ridho pura-pura cemberut. "Ya udah, jangan dekat-dekat dulu."
Gemas! Rasanya ingin kugigit pipi atau bibirnya. Seketika lupa dengan rasa marahku.
"Ya udah ... sana!" Aku mengangkat tangan pura-pura mengusirnya. "Buruan ke rumah sakit! Udah malem."
Ridho tersenyum, lalu membelai rambutku." Ok, Sayang. Besok insya Allah Bunda dibolehkan pulang. Kita nginap di rumah Ayah satu minggu ini ya."
Aku berpikir sejenak. Satu minggu? Lama sekali. Tak terbayangkan harus tinggal serumah dengan Bunda lagi. Apalagi ingat kejadian di rumah sakit kemarin. Bunda tak pernah seramah itu bersikap padaku.
Ingin rasanya menolak menginap selama itu, tapi sungkan pada Ridho. Nanti saja, aku minta di kurangi harinya, kalau Bunda udah baikan.
Aku tak terlalu semangat lagi bicara saat dia pamit ke rumah sakit. Mencoba tersenyum walau hatiku sedikit resah.
"Kamu jangan banyak pikiran, ya. Jangan mikir yang aneh-aneh. Jaga kesehatan biar fit ngurus ujian skripsi nanti."
"Iya. Hati-hati di jalan, Mas."
Ridho mengecup keningku sebelum keluar kamar. Aku menutup pintu dengan perasaan tak menentu.
Tuhan ... mengapa pernikahanku yang baru seumur jagung sudah diberi ujian seperti ini?
***
Sepulang kerja Ridho menjemputku di rumah. Aku sudah memasukkan pakaian kami ke dalam tas. Kami pun pamit pada Ibu untuk ke rumah sakit.
"Maaf ya, Ibu ga bisa bantu kalian beres-beres di rumah sakit. Badan Ibu kurang sehat setelah beberapa hari bantu Bapak di toko."
Mata Ibu sedikit memerah dengan hidung yang terdengar tersumbat. Beberapa kali Ibu bersin sebelum keluar kamar.
"Ngga papa, Bu. Ibu istirahat aja di rumah. Bunda juga udah sehat, kok," sahut Ridho.
Kami mencium tangan Ibu dan mengucapkan salam, sebelum berlalu menuju motor Ridho.
Hatiku sedikit berat meninggalkan Ibu sendiri di rumah. Namun, aku tak enak hati untuk membatalkan niat kami menginap di rumah mertua. Ridho pasti sudah bicara pada ayahnya.
Semoga Ibu lekas sembuh ....
Hai pembaca Ridho-Reva....☺
__ADS_1
Jangan lupa like dan vote yaa ❤