
Siap, Pak!" Aku tersenyum semringah.
"Mas ganti baju dulu. Udahnya temenin Mas makan, ya?"
"Iya, Mas. Aku juga laper, kok."
"Kamu belum makan?" Raut wajah Ridho terlihat khawatir.
Aku tersenyum malu. "Tadi udah makan pecel lele di jalan, tapi masih laper."
"Pecel lele? Bukannya kamu ga suka?"
Aku tertegun sejenak. Baru sadar kalau selama ini aku tak terlalu menyukai makanan itu. "Ga tau juga, Mas. Lihat gambar iklannya, tertarik pengen makan."
"Oh gitu," sahut Ridho sambil mengambil baju ganti.
Aku duduk di tepi ranjang menunggu Ridho berpakaian. Setelahnya, aku menyiapkan peralatan makan untuk kami. Ridho membantu mengisi air minum ke gelas.
Kami pun makan siang bersama. Sambal terasi dan ayam goreng yang aku masak tadi pagi juga menjadi santapan siang. Aku makan dengan semangat sampai keringat bercucuran.
"Kamu kok kayak kelaparan gitu makannya?" tanya Ridho sambil menatap heran.
"Hah?" Aku menatap Ridho sekilas. "Biasa aja kok, Mas."
Ridho menatapku lebih seksama. "Sampe keringatan gitu."
Aku meraba kening yang memang basah. Bibirku melengkungkan senyuman. "Mungkin cuacanya panas."
Ridho menatap keluar jendela. "Iya, sih. Memang panas banget."
Setelah makan dan beristirahat sejenak, aku memutuskan untuk membersihkan diri di kamar mandi. Sebentar lagi masuk waktu Ashar. Rasanya ingin berlama-lama di mengguyur air kalau tidak memikirkan Ridho yang juga ingin mandi.
Aku bergegas keluar karena Ridho sudah mengetuk pintu. Tersenyum manja saat dia menatap heran padaku. Entah kenapa, moodku bagus beberapa hari ini.
"Lama banget, Non?" tanyanya saat kami berpapasan.
"Gerah, Tuan," sahutku nyengir kuda.
Ridho pun masuk ke kamar mandi. Setelah berpakain rapi, dia pamit ke masjid. Aku pun segera bersiap untuk shalat Ashar. Usai shalat, kubaca beberapa halaman ayat Allah. Perasaanku semakin membaik.
Kutatap jendela samping kamar yang tak jauh dari rumah tetangga. Terlihat pohon rambutan dengan putiknya yang berwarna hijau. Sepertinya kami perlu menambahkan tanaman itu di belakang rumah.
Tiba-tiba saja bayangan buah rambutan yang merah dan manis melintas di pikiranku. Rasanya pasti menyegarkan saat panas terik begini. Seketika air liurku terbit.
Minta Mas Ridho beli di luar kali, ya. Semoga aja ada yang jual dekat sini.
Tak lama kemudian terdengar salam dari Ridho. Aku menjawabnya dari dalam kamar. Bergegas keluar kamar, lalu menghampirinya.
__ADS_1
"Mas ... lihat deh, tetangga sebelah punya pohon rambutan."
"Iya. Mas juga pernah lihat. Kenapa? Kamu juga mau beli bibitnya?"
Aku mengangguk pelan. "Tapi ... sekarang aku pengen makan buahnya."
Aku menggigit bibir menahan rasa sungkan. Ridho belum lama pulang dari kantor. Pasti rasa lelahnya belum hilang. Namun, buah rambutan yang merah tak mau hilang dari pikiranku.
"Masih hijau itu, Sayang ... memang belum musim rambutan sekarang."
Aku menatapnya dengan pandangan sedih. "Jadi, aku ga bisa makan buah rambutan sekarang?"
"Duh ... kok jadi ngebet gitu?" Ridho tersenyum lembut. "Besok, deh, Mas cari di toko buah. Kali aja ada yang jual."
Aku kembali menatapnya dengan pandangan menyesal. "Maksudku ... sore ini belinya."
Ridho mengernyitkan dahi. "Tumben?"
"Apanya?" Aku balik bertanya.
"Biasanya ga pernah maksa gitu kalau mau sesuatu. Malah seringnya ga mau ngerepotin."
Aku nyengir kuda. "Sesekali, Mas. Mas ga papa keluar lagi, 'kan?"
Ridho membelai pipiku. "Ngga papa, Sayang ... mas cuma heran aja."
"Ya udah. Aku tunggu di rumah, ya," sahutku dengan semangat.
"Hah?" Aku agak terperanjat mendengar kata-kata Ridho.
Benarkah?
Tanganku spontan menyentuh perut yang datar. Sedikit berharap kalau itu memang kenyataan. Namun, aku tak berani berharap lebih. Apalagi tak ada tanda-tanda yang menunjukkan kalau aku sedang hamil seperti dulu.
"Kayaknya ngga deh, Mas. Aku sedang pengen aja. Ga ada mual-mual atau pusing kayak dulu."
Ridho terlihat berpikir. "Iya, sih. Tapi ... siapa tau memang kamu sedang hamil walau ga mual. Aku beli testpack juga, ya?"
Aku menatap sendu pada Ridho. Sepertinya dia sangat berharap kalau aku memang hamil. Bagaimana kalau aku membuatnya kecewa?
"Kalau nanti aku ga hamil gimana, Mas?" Aku memberanikan diri untuk bertanya.
Ridho merubah raut semringah di wajahnya. "Ngga papa, Sayang ... kamu jangan terlalu mikirin, ya."
Aku hanya mengangguk. "Aku takut ngecewain, Mas."
"Hush!" Ridho meraihku dalam pelukan. "Jangan ngomong gitu ... mas mau beli testpack untuk memastikan aja. Supaya kita lebih waspada kalau memang ada calon bayi dalam perut kamu."
__ADS_1
Aku mengerjap. Tanpa sadar air mataku menetes. "Iya, Mas. Beli aja. Besok aku pake alatnya."
Ridho mencium keningku. "Ya udah. Mas pergi dulu. Kamu jangan mikir yang aneh-aneh, ya. Mas cuma mau kita lebih hati-hati aja."
"Ok," sahutku singkat.
Jujur, aku tak sanggup berkata-kata lagi. Perasaanku campur aduk. Antara sedih dan juga sedikit penasaran. Mungkinkah memang ada calon bayi dalam perutku?
Hampir satu jam kemudian, Ridho kembali dengan dua bungkusan di tangannya. Aku yang sedang menyiram bunga segera mematikan kran dan meletakkan selang ke tempatnya. Ridho berjalan mendekatiku.
"Buah rambutannya ada, Mas?"
"Ada donk! Jauh mas belinya, ini. Kira-kira dapat hadiah apa, ya?"
Ridho tertawa. "Ya ampun! Beneran ngidam kayaknya istri mas. Pulang-pulang langsung nanyain buah."
"Mas jangan ngomong gitu, ah!" Aku sedikit meringis dibuatnya.
"Hadiah apaan?" tanyaku sambil meraih bungkusan di tangannya.
Ridho mengedipkan mata. "Hm ... hm!"
Aku mencebikkan bibir. "Dasar!"
Lelakiku terbahak. "Becanda, Sayang ... hadiahnya cukup jaga kesehatan. Apalagi kalau hasilnya positif."
Gerakanku sempat terhenti. "Mas ... jangan sedih kalau hasilnya negatif, ya?"
Aku berusaha menenangkan perasaan Ridho, walau hatiku tak kalah gelisah. Ridho tersenyum, lalu mengajakku masuk. Setelah di dalam rumah, dia menutup pintu.
"Mas sadar, kok ... kalau anak adalah titipan dari Yang Kuasa. Kita tak bisa memaksa pada siapa Allah ingin menitipkan karunia itu pada siapa," ucapnya, lalu mencium tanganku.
Aku membelai pipinya dengan penuh kasih. "Iya, Mas. Maaf, aku sudah meragukan ketawakalan mas."
"No problem. Ayo dimakan rambutannya!"
Aku membuka bungkusan dengan semangat. "Wah, merah banget warnanya."
"Iya. Kamu seneng?"
Aku menjawab dengan anggukan. "Makasih ya, Mas ... manis rambutannya."
"Sama-sama, Sayang."
Beberapa saat aku sibuk dengan buah yang sangat meoggoda warnanya. Ridho hanya menatapku dengan semringah. Dia menolak saat kutawari ikut mencicipi buah manis itu.
"Oh iya. Kamu kapan mau coba testpacknya?"
__ADS_1
Tubuhku mendadak kaku. "Ng ... nanti malam aja, Mas." Aku berusaha menghindar dari bahasan tentang hamil. "Atau besok aja, deh. Hasilnya lebih akurat pas subuh dari artikel yang pernah aku baca."
Ridho mengacak rambutku, lalu tersenyum. "Baiklah, Nyonya Ridho."