Suami Romantis (Jodoh Pasti Bertemu) Oleh Meisy T

Suami Romantis (Jodoh Pasti Bertemu) Oleh Meisy T
Jalan-Jalan


__ADS_3

Aku terhanyut dengan sentuhan Ridho. Setelah melepaskan bibirnya, laki-laki itu mengangkat tubuhku ke ranjang. Napas Ridho terasa hangat di wajahku.


Tatapan kami bertemu beberapa saat. Debar jantung kami bersahut-sahutan lebih cepat dari biasanya. Ridho nembelai pipiku dengan lembut. Walau ini bukan yang pertama, tetap saja rasa gugup menerpaku.


Perlahan Ridho membuka kancing piyama tidurku. Tangannya bergerak menyentuh bagian tubuhku yang sensitif. Rasa gugup berganti perasaan nyaman. Kami pun saling menyampaikan kasih sampai tubuh bergetar hebat.


Usai mendapatkan haknya, Ridho tersenyum, lalu mencium keningku. Tanpa bicara lagi dia memelukku erat sampai kami jatuh tertidur dalam selimut yang sama.


***


Setelah mandi dan menunaikan shalat subuh, aku bergegas ke dapur untuk membantu Bunda.


"Udah sehat, Bun?"


"Udah mendingan," jawabnya singkat.


Apakah hatinya masih membeku untukku? Aku tak banyak bicara. Mengerjakan pekerjaan rumah dalam diam. Hanya sesekali menganggukkan kepala saat wanita itu bertitah.


Selesai sarapan dan membereskan meja makan, aku kembali ke kamar. Tak lama duduk di tepi ranjang, Ridho menyusulku.


"Kenapa?" tanyanya, setelah duduk di sampingku.


"Ga papa."


"Kamu ga enak badan?" Tangannya bergerak ingin menyentuh keningku.


Aku menggeleng pelan. "Jam berapa kita pulang?"


"Sore aja ga papa?"


"Tapi ...." Aku mengalihkan pandangan ke arah jendela kaca yang terbuka. Semilir angin masuk membelai rambutku.


"Kita jalan dulu, pulangnya baru pamit." Ridho menatapku lembut.


Ah, ini suami memang mengerti suasana hatiku atau kebetulan saja?


"Ga papa pergi saat Ayah Bunda di rumah?" Rasa ragu menerpa, tapi hati tak ingin tinggal.


"Ga papa. Kita 'kan, belum pernah jalan. Mau pergi sekarang?"


Aku menimbang sejenak, lalu menganggukkan kepala. Ridho tersenyum dan mengelus puncak kepalaku.


Nyaman.


"Ya udah, siap-siap, gih!"


Laki-laki berpostur tegap itu keluar kamar. Langkahnya menuju dapur, mungkin akan berpamitan pada Bunda.


Kukenakan rok batik bercorak biru dan kemeja polos berwarna putih. Setelah memoles lipstik dan menyapu bedak ke wajah, kututup rambut dengan jilbab berwarna biru. Saat memasukkan gawai ke dalam tas, Ridho masuk.


"Udah siap?" tanyanya.


"Iya."


Kami pun pamit pada ayah dan ibu mertua.


"Jangan kesorean pulangnya," pesan ibu mertua.

__ADS_1


Aku tak terlalu mengambil hati ucapannya. Walau ada rasa tak nyaman mendengar nada suaranya. Aku ingin menikmati sore ini dengan tenang bersama Ridho.


Ridho mengajakku menonton Film di bioskop. Setengah jalan, rasa kantuk mulai menyerang, aku memang tak terlalu hobi menonton. Ridho merebahkan kepalaku di bahunya saat ada adegan romantis.


Hampir saja aku tertidur kalau tak ada background musik menghentak saat film hampir usai. Ridho terkekeh pelan melihatku tersentak kaget.


"Diajak nonton malah molor!" bisiknya dengan nada usil.


"Biarin!" Aku berusaha menekan rasa malu.


Film pun usai dengan adegan ciuman pasangan pemeran utama. Aku menundukkan kepala. Walau pernah menonton adegan tersebut bersama teman, rasanya sedikit aneh saat bersama suami.


"Ayo!" Ridho memeluk pinggangku saat keluar dari bioskop.


Aku sedikit menjaga jarak. Sebenarnya perlakuan Ridho termasuk romantis, mungkin aku belum terbiasa saja.


Setelah shalat Zuhur dan makan siang, Ridho menemaniku berkeliling melihat barang yang kusukai. Dia membelikanku dua gamis, jilbab dan sepasang sepatu.


Hatiku terasa riang. Ridho tersenyum puas melihatku bahagia.


Begini ya, rasanya dibelanjakan suami? Para jomblo jangan iri ya. Aku doakan semoga cepat ketemu jodoh.


Selama ini taunya minta Ibu Bapak saja. Pacar tak punya, keluarga lain juga jauh.


Jangan norak, Reva! Sudut hatiku bicara.


Nikmati saja, Non! tanggap sudut yang lain.


Ini hati, mengapa mendadak perang? Suka-suka guelah!


Senyum tipis terukir di bibirku. Rasa bahagia membuncah membuatku begitu bersyukur memiliki Ridho. Semoga dia tetap seperti ini, tak berubah sampai kami tua.


Perasaan bahagiaku tiba-tiba berkurang, hampir lenyap. Kupasang wajah seramah mungkin.


"Ridho!" sapanya.


"Eh, Nis! Mbak Sofi!" Ridho mengangguk sopan.


"Wah ... jalan-jalan sama istri ya." Wanita bernama Sofi bicara.


"Iya, Mba," sahut Ridho.


"Maaf ya, waktu acara kalian Mba ga bisa datang, Deby lagi demam."


"Ga papa, Mba."


Ridho terlihat gelisah. Sesekali dia melirikku dengan ekor matanya. Aku hanya terdiam, tak berniat menanggapi obrolan mereka.


"Udah mau pulang ya?" tanya wanita itu.


Raut wajah wanita itu sukar dibaca. Aku menebak-nebak mereka pasti pernah dekat. Mendadak hatiku terasa panas.


"Iya, Nis. Kami duluan, ya."


"Iya," jawabnya.


Ridho menmraih jemariku dan menggenggamnya sampai ke parkiran. Setelah mmasukkan barang belanjaan ke jok belakang, dia membuka pintu depan untukku.

__ADS_1


Di menit pertama, aku tak bicara. Menatap kendaraan yang lalu lalang di jalan raya. Berusaha menenangkan hati yang sempat curiga.


"Rev?"


Aku menoleh sekilas, lalu kembali menatap jendela kaca samping.


Ridho meraih jemariku. "Senyum cantiknya mana?"


Sejak kapan laki-laki dingin ini belajar merayu?


Aku menghela napas pelan. "Ga usah gombal!"


"Gombalin istri sendiri ga ada yang larang." Ridho berusaha mencairkan suasana.


Namun, hatiku yang terlanjur kusut tak terpengaruh ucapannya. Aku hanya mendelik sebal. Ridho memarkir mobil di masjid saat adzan ashar berkumandang.


***


Sepanjang perjalanan pulang, aku hanya diam. Ridho tak berusaha merayuku lagi.


Dasar ga peka!


Sesampainya di rumah, turun dari mobil aku langsung melangkah ke kamar tanpa menunggu Ridho.


Jangan lebay, Reva!


Bodo amat! Rutukku dalam hati.


Aku meraih handuk dan membawa baju ganti ke kamar mandi. Ternyata Ayah dan Bunda sedang duduk di taman belakang.


"Wah ... yang habis jalan. Ridho mana, Nak?" tanya Ayah dengan nada menggoda.


"Masih di depan, Yah," jawabku sebelum masuk ke kamar mandi.


Sempat kulihat dahi Ayah berkerut. Aku memilih tak perduli. Entahlah, pikiranku sedang kacau.


Selesai mandi, amarahku sedikit berkurang. Ayah dan Bunda sudah tak terlihat lagi di taman.


Saat membuka pintu, kulihat Ridho sedang berbaring di ranjang. Salah satu lengannya tepat di wajah. Apa yang sedang dia pikirkan?


"Jadi pamitan?" tanyaku tanpa basa-basi.


Ridho beranjak duduk. "Bentar, masih pegal," jawabnya tersenyum lembut.


Aku berusaha mengontrol segumpal daging bernama hati. Rasa cemburu ini begitu menyiksaku. Terlintas di pikiran, bagaimana kalau mereka bertemu berdua saja?


Arrgg! Kepalaku mendadak sakit.


Aku menyandarkan tubuh di dinding dan berpegangan pada tepi meja. Sedikit gemetar menahan sesak karena perasaan yang campur aduk. Ridho mendekat, lalu memelukku erat.


"Cuma ada kita. Kamu dan aku," bisiknya pelan.


Aku mendongakkan wajah, berusaha mencari kesungguhan di matanya. Ridho tersenyum dan membelai pipiku.


Next.


Jangan lupa vote, like dan komen..😘😘

__ADS_1


Vote itu pake point yaa, ambil aja point online kita. Tulisan point ada di sudut kanan atas. Nanti pas buka cerita ini, pilih vote. Tinggal kasih point yang kamu punya.☺☺


__ADS_2