Suami Romantis (Jodoh Pasti Bertemu) Oleh Meisy T

Suami Romantis (Jodoh Pasti Bertemu) Oleh Meisy T
Kisah Pilu


__ADS_3

"Mau dibawain apa, Sayang?" tanya Ridho saat aku mengangkat panggilan telepon darinya.


"Es krim aja, Mas."


Hari-hari menjelang persalinan kulewati dengan tenang di rumah. Ridho melarangku pergi ke luar untuk sementara. Takut aku mengalami kontraksi di jalan.


"Es krim?" Nada suara Ridho terdengar terkejut. "Tumben?"


"Hu'um. Panas gini enak kayaknya."


Entah mengapa akhir-akhir ini aku menyukai makanan manis itu. Biasanya aku membelinya di supermarket depan. Berhubung tak boleh lagi ke luar, titip pada Ridho saja.


"Ya, deh. Bentar lagi mas pulang."


"Ok. Hati-hati di jalan ya, Mas."


Panggilan dimatikan setelah Ridho menjawab salamku. Aku duduk termenung sendiri di ruang keluarga. Kadang ada rasa kesepian saat tak ada suami di rumah. Ingin mengurus tanaman, tapi perutku terasa berat, sulit bergerak lagi.


Sebenarnya Ridho pernah memberi saran kalau aku melahirkan di rumah Ibu saja. Hanya saja aku bingung harus membawa semua persiapan lahiran ke sana. Ridho juga sedang sibuk-sibuknya, memulai usaha baru dengan temannya beberapa bulan ini.


Suara salam dari depan membuyarkanku dari lamunan. Aku bergegas membuka pintu. Sosok yang cukup kurindukan berdiri di depan pintu.


"Silvi?"


"Hai ... kamu sehat?"


"Alhamdulillah. Tumben sendiri?" Aku menatapnya heran. "Ayo, masuk!"


Silvi sudah dua kali ke sini. Aku senang dia datang. Hampir dua minggu di rumah saja membuatku jenuh. Ibu hanya sekali mengunjungiku.


"Tadi jengukin temen kantor di sekitar sini, jadi aku mampir. Udah lama ga lihat Nyonya Ridho."


Aku terkekeh mendemgar ucapannya. "Oh gitu. Mau minum apa? Atau ambil sendiri, deh. Kayak tamu jauh aja," ujarku.


Silvi mengerucutkan bibir. "Deh ... aku kan memang tamu!"


Aku tak bisa menahan tawa. "Iya, deh. Tamu yang datang dari jauh mau dibuatin apa?"


Wanita mungil itu ikut tertawa. "Santai, Beb. Ntar aku ambil sendiri."


Kami pun duduk di sofa ruang keluarga. Ada gurat letih di wajah Silvi. Aku menghela napas sebelum bertanya.


"Kamu baik-baik aja, 'kan?"


"Masa kamu ga tau? Aku patah hati tauk!" Silvi sedikit mencebik.


Sebenarnya aku mengerti kondisinya akhir-akhir ini. Hanya saja, aku ingin Silvi cepat move on. Tak berlarut-larut dengan perasaan sedihnya.


Aku menepuk bahunya. "Sabar, Cinta ... kalian belum berjodoh."


"Hiks. Iya. Tapi tetep aja ada hati yang tak rela rasanya."


Aku menahan senyum melihat Silvi yang mendadak puitis. "Mau gimana lagi, Sil. Kamu jangan galau gitu, donk!"


"Aku ga galau, ah! Cuma belum move on!" Silvi terkekeh pelan.


"Tapi kamu ga datang ke nikahannya, 'kan?"

__ADS_1


"Ngga, lah! Untung jauh, jadi punya alasan ga datang." Silvi nyengir kuda.


"Syukurlah. Aku takut kamu nangis-nangis terus viral," candaku.


"Ish, apaan!"


Bibirku melengkungkan senyuman. "Aku yakin kamu juga bakal dapat lelaki yang baik nantinya."


Silvi hanya mengangguk. "Aamiin."


Teringat kami berbalas pesan beberapa bulan yang lalu. Aku pikir Silvi sudah tahu tentang rencana pernikahan Deva. Jadi aku menanyakan kepastian kabar itu padanya.


[Sil. Deva mau nikah, ya?]


[Hah? Nikah? Sama siapa?]


[Kamu ga tau? Kirain kalian sering saling kasih kabar.]


[Ga. Kami udah dua bulan ga kontak. Kan aku udah janji ga terlalu agresif sama Kak Deva.]


[Duh ... kayaknya beneran deh.]


Besoknya Silvi menemuiku di rumah Ibu. Awalnya Silvi sempat shok. Aku sedikit menyesal menanyakan kabar Deva padanya. Tapi mungkin sudah seharusnya Silvi tahu. Supaya dia tak berharap lebih lagi pada Deva.


"Kamu tau dari mana, Beb?"


"Eng ... dua hari yang lalu, aku ke mall sama Ridho. Kami ketemu Sinta di sana."


"Sinta?"


"Oh ... yang bikin kamu cemburu itu?"


Aku mendelik sebal. Bisa-bisanya Silvi malah mengingatkanku pada suasana saat itu. "Iyah."


"Jadi, Sinta saudaranya Deva?"


Mendadak lidahku kelu. Tak menyangka Silvi berpikir Sinta masih bersaudara dengan Deva. Kutarik napas panjang untuk meyakinkan diri.


"Sinta ... dia calon istri Ridho."


"Apa?" Silvi menatap tak percaya. "Mereka mau nikah?"


Aku memasang wajah menyesal, lalu mengangguk. "Kamu yang sabar, ya. Mungkin kalian belum berjodoh."


"Huaah. Beneran, Rev?" Silvi mulai terlihat panik.


"Ssttt! Nanti kedengeran Ibu."


"Hiks. Pantes aja dia udah lama ga nanyain kabar aku. Aku sempet pengen WA duluan, tapi gengsi juga rasanya."


Aku hanya bisa memeluknya sejenak. Bisa kurasakan kesedihan Silvi. Walau tak memiliki hubungan spesial, mereka sudah pernah melewati waktu bersama.


"Ternyata dia udah punya calon istri. Aku bukan pilihannya." Silvi berusaha terlihat tegar.


"Dah, ah! Aku haus. Ambil minum dulu. Kamu mau?" tanya Silvi mengembalikan kesadaranku.


"Ga usah. Aku udah minum tadi."

__ADS_1


Silvi kembali dengan segelas sirup di tangannya. Kami kembali mengobrol dan mengalihkan pembicaraan tentang Deva. Tak lama kemudian, terdengar ucapan salam dari Ridho.


"Aku pulang dulu ya, Beb?"


"Cepet amat, Sil?"


"Huh! Siapa tau kalian mau mesra-mesraan. Males banget lihatnya!"


Aku terbahak melihat ekspresi Silvi. "Tau sih, yang lagi patah hati!"


Silvi mendelik padaku. "Bisa banget ngomongnya!"


Kami pun beranjak untuk membuka pintu. Di teras terlihat Ridho duduk bersama temannya. Laki-laki yang pernah ke rumah dulu. Aku tersenyum ramah padanya.


"Ngapain lihat-lihat, Mbak? Tar naksir, loh!"


Aku terkejut mendengar ucapan Tomi. Matanya menatap jahil pada seseorang di sebelahku. Kurapatkan bibir menahan tawa. Menunggu balasan dari Silvi.


"Deh ... apaan! Jangan GR, Mas!"


"Lah, tadi lihat saya kek gimana gitu."


"Aku cuma lagi berusaha mengingat, kayaknya pernah lihat."


"Kayaknya kita belum pernah ketemu, deh."


"Pernah, kok," sahutku. "Waktu di resto dulu. Masnya mau pulang, kalian datang."


"Nah ... tuh, kan ... makanya jangan suka ke-GR-an!"


Tomi nyengir kuda, lalu mengangkat bahu. Aku mengulum senyum. Ridho ikut tertawa melihat pertengkaran mereka.


"Ya, deh. Becanda doank, Mbak!"


"Huh! Dasar laki-laki!"


"Sil," tegurku sambil menyenggol lengannya.


Silvi tersadar omongannya sedikit keterlaluan. Tapi tak berniat memperbaiki ucapannya. Silvi hanya terdiam mengatup bibirnya rapat.


"Maaf ya, Mas ... temenku lagi patah hati, jadi agak galak," tukasku.


"Reva," bisik Silvi. "Bikin malu aja, deh!"


Aku pura-pura tak mendengar ucapan Silvi. Juga tak menanggapi kedipan dari Ridho yang mungkin keberatan dengan ucapanku. Aku memang sengaja berkata begitu, siapa tahu Tomi adalah jodoh Silvi.


Tomi mengulum senyum. "Ngga papa, Mbak."


Silvi tak menanggapi ucapan Tomi. "Aku pulang dulu ya, Beb."


Wanita itu sepertinya ingin menghindar dari suasana ini. Aku tak memaksanya tetap tinnggal. Biar saja Tuhan yang memberi jalan andai mereka berjodoh.


"Ya udah. Kamu hati-hati di jalan, ya."


"Siip. Assalamualaikum!"


"Waalaikumsalam."

__ADS_1


__ADS_2