
Sepulang dari kantor, Ridho mengajakku mengunjungi dokter kandungan. Sebenarnya kami sudah janjian tadi pagi. Jadi aku sudah bersiap sebelum dia pulang.
"Kami pergi dulu ya, Bu," pamitku.
"Iya, hati-hati di jalan."
Ridho mengeluarkan mobil dari garasi. Tadi pagi dia sudah meminta izin pada Bapak ingin menggunakan mobil. Tentu saja Bapak tersenyum hangat, lalu berangkat ke toko membawa motorku.
Jalanan terlihat ramai. Sore begini, pekerja kantoran dan karyawan lain baru saja pulang dari bekerja. Aku menikmati pemandangan sore melalui jendela samping.
"Kamu ga enak badan? Mual?" tanya Ridho.
"Sedikit," jawabku.
"Tiduran aja dulu ... atau kita singgah beli minuman?" tawarnya.
"Ga usah. Dekat klinik aja nanti kalau memang haus."
"Ya udah. Eh. Kira-kira anak kita cowok atau cewe, ya?" tanya Ridho antusias.
"Mas maunya gimana?"
"Apa aja, sih. Cuma penasaran karena anak pertama."
__ADS_1
"Aku maunya cowo." Aku menoleh padanya.
"Kenapa?"
"Biar bisa bela adeknya kalau kenapa-kenapa," jawabku dengan penuh semangat.
"Aamiin." Ridho meraih jemariku. "Eh. Berarti habis ini langsung mau program buat adek bayi lagi?" tanyanya dengan nada usil.
"Hah?" Aku membelalakkan mata. "Jangan dulu donk, Mas ... dengar cerita dari orang melahirkan itu sakit banget."
Ridho terbahak. "Becanda sayang ... Mas juga tau kok, perjuangan seorang ibu melahirkan gimana."
"Mas nih, suka banget ngerjain aku."
"Masih jauh, Mas?"
"Bentar lagi sampai, kok." Ridho mengelus puncak kepalaku. "Mas dapat info dari temen kerja yang sudah pernah periksa."
Aku menganggukkan kepala. Kami kembali larut dalam pikiran masing-masing. Tak lama kemudian, Ridho menghentikan mobil di halaman sebuah klinik yang cukup besar. Dia turun terlebih dahulu, lalu membuka pintu mobil untuk.
"Ayo ... pelan-pelan turunnya." Ridho menggandeng tanganku saat masuk ke klinik.
Setelah mendaftar, kami diminta menunggu karena dokter kandungan baru saja tiba. Aku dan Ridho duduk di kursi yang tak jauh pintu. Beberapa pasangan lain juga duduk di sekitar kami.
__ADS_1
Namaku dipanggil saat antrian ke tiga. Ridho meraih pinggangku, kami pun masuk menemui dokter. Laki-laki berjas putih itu tersenyum ramah, lalu mempersilahkan kami untuk duduk.
"Silahkan ... ada keluhan?"
"Ga ada, Dok. Mau periksa aja," jawabku.
"Ooh, iya. Anak ke berapa?" tanyanya lagi.
"Anak pertama, Dok," sahut Ridho.
"Ok. Silahkan naik ke ranjang." Sang Dokter berdiri dan memintaku mendekat dengan isyarat matanya. "Tolong dibantu Mbaknya," ujarnya pada asisten wanita yang berdiri di sebelah ranjang.
Setelah berbaring di ranjang, asisten menaikkan gamisku, lalu menutup kaki sampai bagian bawah perut dengan selimut. Dokter mulai mengoleskan semacam gel, lalu menempelkan alat periksa ke perutku.
"Bagus ... perkembangannya OK. Sekarang usianya sepuluh week. Kira-kira dua bulan setengah."
Aku menyimak penjelasan dokter dengan antusias. Sesekali mataku menatap layar monitor yang menempel di dinding. Ternyata begini rasanya melihat bentuk calon bayi kami. Berdebar dan tak sabar ingin melihat perkembangannya lagi.
Dokter mengalihkan pandangan pada Ridho. "Organ-organnya belum terlihat jelas, ya." Tangannya menunjuk layar monitor. "Jenis kelaminnya juga belum bisa diprediksi. Tunggu usianya lima atau enam bulan nanti."
"Baik, Dok," sahut Ridho.
"Ok. Udah semuanya. Tolong dibantu, Mbak."
__ADS_1
Dokter yang dari wajahnya kutaksir berumur 40 tahun menghentikan kegiatannya. Asisten dokter membersihkan perutku, lalu membantu turun ranjang. Ridho menghampiri kami dan membantuku duduk kembali.