
Hampir dua minggu ini aku sibuk mempersiapkan ujian skripsi. Mundur satu minggu dari rencana awal. Lima hari di rumah Bunda, aku hanya sempat ke kampus sekali.
Hari bersejarah itu datang. Sejak subuh aku mempersiapkan diri. Sebenarnya giliranku setelah Zuhur. Silvi dapat jadwal sidang terlebih dahulu.
Rasa gugup sudah menguasaiku sejak bangun tidur. Berbagai doa telah aku ucapkan dalam hati. Tak lupa meminta dukungan orang tua dan suami.
Dengan penuh semangat aku berangkat sendiri ke kampus. Berulang kali menarik napas panjang untuk menenangkan diri. Ridho berjanji menyusul ke kampus setelah aku selesai ujian.
Setibanya di kampus, aku langsung bergabung dengan Silvi dan teman lainnya. Aku kembali khusuk berdoa saat Silvi dipanggil untuk ujian. Kemudian membuka lembar demi lembar halaman skripsiku.
Satu setengah jam kemudian, Silvi keluar dengan muka sembab. Rasa khawatir tiba-tiba menyerangku. Takut terjadi sesuatu dengan Silvi.
"Kamu kenapa?" tanyaku.
"Ga papa. Kamu yang semangat, ya!" Silvi menepuk bahuku.
Ah, perasaanku semakin tak menentu. Adzan berkumandang, kami pun menumpang shalat di ruang istirahat staf dosen. Aku menyempatkan diri memakan sepotong roti sebelum dipanggil sekretaris prodi.
"Reva Setriani!"
Aku pun melangkah masuk ke lobi prodi yang telah di sulap menjadi ruang sidang. Empat orang dosen sudah duduk manis mengelilingi meja. Kubaca kalimat Basmallah sebelum memulai presentasi.
Setelah menyampaikan bab demi bab skripsi, para dosen mulai mengajukan pertanyaan. Beberapa di antaranya berhasil kujawab. Tiba giliran dosen penguji ilmu Biologi.
"Bagian sel yang bertugas melisis benda asing yang masuk ke dalam sel?"
Astaga! Aku tak sempat membaca materi awal kuliah. Sibuk mengurus Bunda saat masa pemulihan dan mengurus persiapan ujian.
"Lupa." Aku keceplosan karena bingung.
Dosen penguji kedua pun ikut bertanya tentang materi awal semester lain.
"Ga ingat, Bu," jawabku.
Para dosen kompak berkata, "Lupa lagi. Masih muda sudah pelupa."
Aku nyengir sedikit cengengesan. Ingat pesan salah satu kakak tingkat beda prodi saat main ke kos Stefani, "Kalau ga bisa jawab jangan gugup, senyumin aja."
Waktu itu aku tak menganggap serius ucapannya. Ternyata aku benar-benar menerapkannya saat ujian. Kutekan rasa malu dan berusaha kembali fokus.
Pertanyaan selanjutnya tentang ilmu pendidikan, semua berhasil kujawab. Aku memang lebih tertarik pada dunia pendidikan. Setelah merasa cukup, aku dipersilakan keluar.
"Setelah kami pertimbangkan, nilai kamu ga bisa A."
Dosen pembimbing utama menyampaikan hasil sidang saat aku dipanggil kembali.
Aku menganggukkan kepala, lalu menunduk. 'Apapun hasilnya, yang penting udah selesai.'
__ADS_1
"Tapi ... nilai kamu bisa berubah jadi A bila kamu bersedia memperbaiki kekurangan skripsi sesuai arahan."
Kuangkat wajah tak percaya mendengar kata-kata Pak Rudi. Haish! Aku dikerjain kayaknya.
"Nah ... sekarang kamu udah mendapat gelar sarjana, kami berharap kamu bisa menjadi manusia yang berguna bagi bangsa. Terutama bagi orang tua. Semoga kamu sukses setelah keluar dari kampus."
Aku terharu mendengar petuah dosen penguji. Perlahan air mataku menetes. Tetesan menganak sungai ketika para dosen menyalami dan memberi ucapan selamat.
Saat keluar dari ruangan, Silvi dan teman-teman lain telah menunggu.
"Selamat, ya!" ucap mereka bergantian.
Aku hanya menganggukkan kepala tak bisa berkata apa-apa. Memeluk erat Silvi karena keberhasilan kami melewati hari yang begitu mendebarkan.
"Doakan kami cepat menyusul ya," ucap Stefi ketika menyalamiku.
"Iya." Aku pun memeluk Stefi.
"Hm!" Suara yang sudah sangat kukenal membuatku mendadak berdebar.
Ridho?
Ketika membalikkan badan, lelakiku berdiri dengan buket bunga di tangannya. Aku berjalan mendekatinya. Teman-teman heboh 'bercie-cie' melihat kami.
"Selamat, Sayang!" bisiknya saat menyerahkan buket bunga padaku.
"Aku duluan ya, besok atau lusa kita makan-makan," ucapku sambil membereskan berkas dan memasukkannya ke dalam tas.
Teman-teman kembali heboh saat aku melambaikan tangan. Kami pun berjalan bersisian menuju halaman dekanat. Ridho memasangkan helm sambil tersenyum padaku
Lelakiku memarkir motor ke lesehan ayam bakar yang pernah kami singgahi. Entah mengapa aku tak terlalu berselera makan. Beberapa menit aku hanya mengaduk-aduk isi piring.
"Kenapa?" tanya Ridho melihatku tak seperti biasanya.
"Ga papa. Cape kayaknya."
Ridho mengangguk paham. Dia tak bertanya lagi saat melihat tak sampai setengah porsi nasi yang berhasil masuk ke perutku. Ridho pun mengajakku pulang.
Setibanya di rumah, Ridho membuka pintu. Ibu belum pulang dari pengajian. Perutku teras bergejolak. Aku pun bergegas ke kamar, memuntahkan makanan yang baru masuk di kamar mandi.
Ridho menyusulku. "Kamu kenapa, Yang?"
"Ga tau. Lemes, pusing."
"Kita ke dokter aja, ya."
Aku pun menganggukkan kepala, tak sanggup lagi membantah. Ridho pun membawaku ke klinik yang tak jauh dari rumah. Untungnya tak terlalu ramai pengunjung. Namaku dipanggil setengah jam kemudian.
__ADS_1
"Kalian yang nikah bulan lalu, 'kan?" tanya dokter setelah mendengar keluhanku.
Aku termangu mendengar ucapan sang dokter. Kok dia tahu?
"Ada pegawai yang cerita saat saya tanya jalan macet waktu itu."
"Ooh ... iya, dok," jawabku.
"Sepertinya kalian akan segera mempunyai bayi."
"Hah?"
Aku spontan memegang perut yang masih rata. Hamil?
Hanya bisa terdiam karena berbagai rasa yang campur aduk di dadaku. Ridho tersenyum semringah saat aku menoleh ke arahnya. Bahagiakah dia?
"Selamat, ya! Bulan depan periksa ke dokter kandungan supaya lebih yakin. Atau bisa beli testpack di apotek dulu," jelas dokter laki-laki itu.
"Makasih, dok," sahut Ridho ketika menjabat tangan sang dokter.
Aku tak henti-hentinya bersyukur hari ini. Hari yang sangat bersejarah dan membahagiakan. Saat pulang ke rumah, Ibu dan Bapak sudah pulang. Mereka mengucapkan selamat atas kelulusanku.
Aku hanya bisa mengangguk pelan. Tak sadar air mataku menetes. Perjuangan selama empat tahun tak sia-sia, membuat orang tuaku tersenyum bahagia.
"Kalian darimana?" tanya Ibu.
"Dari klinik, Bu. Insya Allah sudah ada calon bayi di perut Reva," jawab Ridho.
"Wah ... selamat ya, Sayang." Ibu memelukku.
Bapak tersenyum membelai rambutku. Rasanya aku kembali menjadi gadis kecil mereka. Setelah berbincang sebentar, Ibu menyarankan aku beristirahat. Kami pun beranjak menuju kamar.
Saat di kamar, Ridho memelukku erat. "Makasih, ya, Sayang...."
Aku memberikan senyuman termanis. Laki-laki bermata tajam itu mengecup keningku, lalu perlahan turun ke mata dan bibir.
"Sekarang kamu istirahat, ya. Ga boleh cape-cape lagi."
"Iya, Masku sayang," sahutku, sambil mencubit pipinya karena gemas.
Ridho membantuku berbaring di ranjang. Membuka jilbab, lalu membelai rambutku dengan lembut. Matanya menatapku penuh kasih.
"I love you, Reva Setriani," ucapnya membuat perasaanku melambung tinggi.
Terimakasih atas anugerahMu hari ini ... ya, Allah.
Jangan lupa vote, like dan komen..❤❤
__ADS_1
Vote itu pake point yaa, ambil aja point online kita. Tulisannya di kanan atas. Nanti pas buka cerita ini, pilih vote. Tinggal kasih point yang kamu punya.☺☺