
Usia Andra tepat satu tahun hari ini. Kami sudah menyiapkan acara syukuran kecil-kecilan. Aku mengundang anak-anak tetangga dekat rumah.
Ridho sempat mengusulkan untuk mengundang anak-anak panti ke rumah. Kupikir sedikit repot sekarang karena Andra masih kecil. Mungkin untuk tahun depan atau tahun selanjutnya. Untuk saat ini, kami saja yang mengantar makanan setelah acara syukuran.
Usaha Ridho sudah semakin maju. Kami sekarang membuka bengkel dan onderdil kendaraan bermotor di sebelah rumah. Ridho membeli tanah kosong di samping kami
Ridho berhenti mengajar beberapa bulan yang lalu agar lebih fokus menjadi pengusaha. Sebenarnya aku tak memaksanya untuk berhenti mengajar. Aku sudah tak terlalu memikirkan Anisa lagi. Hanya menikmati kehidupan baru bersama buah hati.
Aku sudah meminta bantuan tetangga untuk membungkus nasi kotak untuk dibawa ke panti. Tak lupa amplop yang berisi sedikit uang untuk mereka membeli buku sekolah. Ridho mendukungku sepenuhnya.
Suasana terasa ramai. Hampir semua anak yang diundang sudah datang. Orang tua mereka yang kebanyakan ibu-ibu duduk di kursi depan. Sengaja kami pisahkan agar anak-anak nyaman mengikuti lomba nanti.
Ayah dan Bunda pun sudah tiba dari pagi. Bapak dan Ibu kuminta menginap tadi malam. Semua persiapan sudah selesai.
"Belum dimulai acaranya, Nak?" tanya Ibu.
"Bentar lagi, Bu. Nunggu Silvi datang."
"Dia bisa datang katanya?"
"Iya. Udah mau jalan waktu kuhubungi tadi."
"Oh gitu ... ya, deh. Ibu siapin makanannya dulu."
"Siip."
Ibu kembali ke belakang. Di sana juga ada Bunda dan tetangga sebelah rumah yang membantu. Untuk makanan, aku memesan pada tetangga yang mempunyai usaha katering. Awalnya aku ingin membuat sendiri, tapi begitu Ridho mengingatkan tentang anak panti, pasti kami akan kewalahan memasak banyak.
Terdengar salam dari depan rumah. Silvi datang sambil membawa kotak kado yang besar. Aku sedikit penasaran dengan hadiah yang dia beli.
"Masuk, Sil!"
"Iya, Beb. Maaf telat. Mampir beli kado dulu buat ponakan. Kamu sih, dadakan ngasi taunya."
"Yaelah. Ga usah repot gitu, Cinta. Aku minta kamu datang aja, sama bawa acara."
"Astaga! Bawa acara? Jangan aneh-aneh, deh!"
Aku nyengir kuda. "Acara santai aja, sih. Minta anak-anak nyanyi. Terus adain lomba nyanyi dan hapalan surat pendek untuk acara hiburan, biar seru. Aku udah siapin hadiah kecil buat mereka."
"Haish! Kamu ada-ada aja, Beb."
__ADS_1
Aku terkekeh pelan. "Tadinya mau Ridho aja yang bawa acara. Pas dipikir-pikir lagi agak aneh. Jadi minta kamu deh, yang arahin anak-anak."
Silvi mengerucutkan bibir. "Ya, deh ... baiklah Nyonya Ridho!"
"Deh ... bibirnya. Ga takut cowo pada lari?"
Silvi terbahak mendengar ucapanku. "Apaan! Doa kok jelek amat!"
"Bukan doain, tapi ngingetin. Ya udah, mulai gih acaranya!"
"Siap!"
Silvi pun mendekati Andra yang sedang digendong ayahnya. Ridho yang sedang mengobrol dengan Bapak dan Ayah tak menyadari kehadiran Silvi. Ridho mengulas senyum pada Silvi.
"Hei, Sil! Salim Tante, Nak!" ucap Ridho sambil menuntun tangan Andra meraih tangan Silvi.
"Hai ponakan ganteng! Selamat ulang tahun, ya! Semoga sehat dan tambah pintar."
"Aamiin. Makasih, Tante."
"Sini! Sama Tante bentar!"
Ridho menyerahkan Andra ke pelukan Silvi. Sahabatku mencium pipi Andra dengan gemas. Andra terkekeh karena kegelian dengan ulah Silvi. Setelah puas menjahili Andra, Silvi mengembalikannya pada Ridho.
Silvi meminta anak-anak menyanyikan lagu selamat ulang tahun. Aku dan Ridho memantu Andra meniup lilin. Kami meminta Andra menyuapi kue ke nenek kakek serta oma dan opa.
Setelah anak-anak menikmati makanan, acara hiburan dimulai. Anak-anak tampak bersemangat mengikuti arahan Silvi. Lomba sederhana berjalan dengan lancar. Mereka terlihat senang dengan hadiah buku atau mainan yang kubungkus plastik transparan bermotif agar cantik.
"Makasih ya, Sil!" ujarku setelah acara berakhir.
"Never mind, Beb. Aku pulang dulu, ya. Masih ada kerjaan buat dibawa besok."
"Ok. Jangan kelayapan! Udah mau lamaran juga."
Minggu lalu, Silvi memberi kabar kalau dia akan mengadakan acara lamaran dua minggu lagi. Aku turut bahagia mendengar kabar baik darinya. Berharap kali ini pria itu memang belahan jiwa Silvi.
Silvi tersenyum malu. "Bisa aja kamu, Rev!"
"Cie ... pipinya merah, tuh!" Aku semakin semangat menggoda Silvi.
"Astaga! Udah, ah! Kamu iseng banget, sih." Silvi tertawa canggung.
__ADS_1
Aku pun tak bisa menahan tawa melihat Silvi yang salah tingkah. Terbiasa menghadapi Silvi yang ceplas ceplos, jadi agak aneh dengan sikap jaimnya. Silvi menepuk lenganku karena kesal.
Ridho mendekat melihat kehebohan kami. "Pada kenapa, nih?"
"Biasalah. Nyonya Ridho lagi kumat resenya," sahut Silvi.
Ridho hanya tersenyum maklum. "Kamu mayak baru kenal dia aja, Sil."
Aku terbahak mendengar gurauan Ridho. Tepatnya karena melihat wajah Silvi yang memerah. Andra ikut memamerkan giginya melihat kami ceria.
Silvi mengerucutkan bibirnya. Aku berusaha meredam tawa agar Silvi tak kesal lagi. Ridho menepuk bahuku pelan. "Udah, Yang! Kasihan Silvi, tuh."
"Deh ... ini laki bini kompak amat! Aku pamit ya, Dho!"
"Siip. Hati-hati di jalan ya, Sil!"
"Siap!"
Silvi pun pamit pada Bapak dan Ibu, juga orang tua Ridho. Ibu membungkuskan makanan untuk Silvi. Bunda mengucapkan terima kasih atas kehadiran Silvi di acara ulang tahun cucunya.
"Da Andra!"
"Da ... da ...." sahut Andra dengan semnagat.
Kutatap punggung Silvi yang menjauh. Wanita cantik itu melambaikan tangan saat melajukan motor. Sambil menggendong Andra, aku mengantarnya sampai ke teras.
Belum percaya sepenuhnya kalau tak lama lagi Silvi akan dilamar seorang laki-laki. Rasanya baru kemarin dia merengek karena ditinggal Deva menikah. Apalagi Deva tak mengundangnya secara pribadi. Hanya Ibu laki-laki itu yang menghubunginya dan mengundang Silvi ke acara pernikahan anaknya.
Ah ya ... aku jadi penasaran bagaimana kabar mereka sekarang. Lebih satu tahun kami tak pernah bertemu. Semoga saja mereka juga bahagia seperti kami.
Terakhir berkomunikasi saat Sinta mengirim pesan saat menerima kado dariku.
[Makasih ya, Rev. Bagus bajunya.]
[Sama-sama, Mbak. Syukurlah kalau Mbak suka. Semoga rumah tangga kalian diberkahi kebahagian ya.]
[Gitu juga dengan kamu dan Ridho. Eh. Udah mau lahiran, 'kan? Semoga bayi kalian lahir dengan selamat dan sehat.]
[Aamiin. Makasih doanya, Mbak. Mampir ke rumah kalau lagi ada urusan ke kota, Mbak.].
[Siip. Makasih.]
__ADS_1
Sejak itu kami tak saling memberi kabar lagi. Kami tak berteman di sosial media lain. Aku pun tak berniat membuka beranda Facebook Deva walau tahu akunnya.
Jangan lupa vote dan likenya, Zheyenk ❤❤l