
Suara lantunan ayat suci dari masjid membangunkanku. Syukurlah Ridho belum bangun. Aku masih malu bila harus berhadapan dengannya mengingat kejadian tadi malam. Bergegas aku melangkah ke kamar mandi.
Aduh. Lupa kalau ada bagian tubuh yang begitu perih. Aku pun berjalan dengan lebih hati-hati.
Kuguyur air ke seluruh tubuh. Tak kupedulikan rasa dingin yang membuatku menggigil. Selesai mandi kusambar handuk di gantungan.
Kebiasaan! Ga bawa baju ganti.
Kubuka sedikit pintu kamar mandi. Ridho sudah duduk di ranjang. Aku mencoba santai saat berjalan menuju lemari untuk mengambil pakaian.
"Udah mandi? Kok ga ngajak-ngajak?"
Aiih! Si mas-mas ganteng malah iseng. Wajahku dipastikan memerah.
Tak kugubris pertanyaan Ridho , lalu masuk lagi ke kamar mandi. Masih bisa kudengar tawanya sesaat sebelum menutup pintu.
Bibirku pun melengkungkan senyuman. Rasa tak nyaman berganti dengan rasa hangat yang menjalar sampai ke hati.
Setelah berpakaian lengkap, aku membuka pintu. Tubuh jangkung Ridho sudah berada di hadapanku. Ia tersenyum, lalu meraihku dalam pelukan.
"Makasih, ya."
Aku yang masih terkejut hanya bisa menganggukkan kepala. Ridho pun masuk ke kamar mandi.
Sebelum adzan Subuh berkumandang, aku menyiapkan pakaian yang akan dikenakan ke kampus. Seketika ingat pembicaraan mengenai acara di rumah Ridho. Bukankah lusa berarti hari ini?
Berapa hari katanya kemarin ya? Aku mencoba mengingat-ingat sambil memilih baju yang akan di bawa ke rumah mertua.
Lagi ngapain itu?"
Aku tak menyadari Ridho sudah keluar dari kamar mandi. Rambut yang basah membuatnya terlihat makin menawan. Kemana saja kamu selama ini, Reva?
Hiks! Kenapa pikiranku tak bisa diajak fokus.
Aku menarik napas pelan supaya bisa berkonsentrasi. Come on, Rev! Harus tetap jaim, jangan ganjen!
"Eh, jadi hari ini acaranya?"
"Oh ... iya. Insya Allah sore nanti kita ke sana. Jangan mampir-mampir lagi."
Aku merasa kata-kata Ridho seperti sindiran. Kukerucutkan bibir karena rasa kesal kembali menerpa.
"Maksudku biar ngga kecapean. Kan malam acaranya."
Sedikit 'surprise', laki-laki itu tahu yang kupikirkan. Apa sifat 'cueknya' mulai berubah?
"Kirain nyindir," jawabku.
Ridho terkekeh pelan. "Dua-duanya."
Aku mendelik sebal. Bisanya dia pura-pura lupa kelakuan sendiri.
"Aku ke masjid dulu ya."
"Hm."
Selesai shalat, kusempatkan membaca firman Allah beberapa lembar.
Hufh! Akhir-akhir ini, ibadahku agak keteteran. Sangat berharap Ridho bisa menjadi imam yang baik bagiku.
Bergegas kulangkahkan kaki ke dapur, takut telat membantu Ibu memasak.
"Bu, hari ini kita ke rumah Ridho, 'kan?" tanyaku saat melihat Ibu sudah menghidupkan kompor.
"Eh, iya. Untung kamu ingatkan. Ibu hampir lupa karena ada saudara kita yang sakit." Ibu menepuk keningnya pelan.
"Aku juga baru ingat tadi. Hehe."
__ADS_1
Kita bawa apa ya, buat mertua kamu?" Kening Ibu sedikit berkerut.
"Beli aja, Bu. Lagi repot semua masalahnya," saranku.
"Iya, deh. Nanti Ibu pesan sama tetangga kita yang jual kue."
"Okesip. Ini mau masak apa?"
Aku heran melihat meja dekat kompor yang masih kosong.
Ibu tersenyum sekilas. "Ibu kemarin ga sempat ke pasar. Kamu buat nasi goreng aja buat sarapan. Nanti malam beli aja lauknya."
"Baik, Nyonya."
Ibu terkekeh. "Ya sudah. Ibu siap-siap dulu. Jam berapa kata Ridho?"
"Kalau pergi dari sore katanya."
"Mungkin kalian duluan maksudnya."
"Hah? Masa iya, Bu?" Hatiku kembali tak tenang.
"Bisa jadi. Biar bisa ketemu keluarganya."
Masa ga barengan perginya?" Aku mulai cemas.
"Ga tau juga. Coba tanyain Ridho lagi nanti."
"Bener juga. Ya udah, Ibu katanya mau siap-siap. Biar aku aja yang masak sama nyuci."
"Okesip."
Aku tersenyum mendengar jawaban Ibu. Wanita kesayangan terkadang bisa berubah jadi kocak.
***
Selesai menemani Ridho sarapan, aku kembali ke kamar untuk menyelesaikan persiapan ke rumah Ridho.
Bergegas kuselesaikan pekerjaan rumah yang belum tersentuh. Ibu sedang ke rumah tetangga yang sering membuat kue pesanan.
Jarum jam di dinding menunjuk ke angka sembilan. Aku membersihkan diri, lalu mengganti pakaian. Kuketik pesan untuk dikirim pada Silvi.
[Sil, aku mau otw.]
[Ok, Beb. Aku juga udah siap pergi.]
[Udah berani bawa motor?]
[Berani-beraniin. Bang Reno mau cepet kerja tadi.]
Silvi baru belajar mengendarai motor dua bulan yang lalu. Aku agak khawatir terjadi apa-apa padanya di jalan.
[Mau aku jemput?] tawarku.
[Ga usah. Tambah lama, rumah kita beda arah.]
[Oklah. Hati-hati di jalan ya.]
[Duh ... so sweet.]
Mulai deh, kumat 'lebaynya'.
Setelah mengunci pintu, kulajukan motor perlahan ke jalan raya. Semoga saja Silvi selamat sampai kampus.
Setengah jam menempuh perjalanan, aku tiba di kampus. Silvi belum terlihat. Kubatalkan niat menghubungi, takut dia tambah gugup.
Sepuluh menit duduk di depan dekanat, wanita mungil itu tiba. Wajah Silvi terlihat mengkhawatirkan.
__ADS_1
"Gimana tadi?" tanyaku setelah mendekat.
"Alhamdulillah, Non. Gile! Hampir sejam aku di jalan kayaknya."
"Ga papa. Namanya baru pertama pergi jauh," hiburku.
"Pak Rudi udah nyampe?"
"Ga tau. Aku belum lihat."
"Mobilnya tau ga yang mana?"
"Ga hapal aku. Mending ke atas langsung deh."
Kami pun melangkah menuju lantai dua. Di depan ruang dosen kami bertemu dengan sekretaris jurusan.
"Mbak, Pak Rudi ada?"
"Ada tuh. Mau bimbingan ya?"
"Iya, Mbak. Makasih ya."
Mbak Iin tersenyum ramah. Wanita cantik itu memang tak segan memberi informasi saat kami butuh.
Kami pun mengetuk pintu dan mengucapkan salam. Pak Rudi melihat sekilas, lalu mempersilahkan kami masuk.
"Ada apa?" tanyanya.
"Mau bimbingan, Pak."
"Perasaan baru kemarin bimbingan. Buru-buru amat mau wisuda, Neng! Kacang di kebun belakang belum di panen."
Kami tersenyum mendengar candaan Pak Rudi. "Bapak bisa aja," sahut Silvi
"Gimana? Udah siap seminar hasil?"
"Ini mau bimbingan, Pak?" jawabku.
"Langsung aja, biar dosen penguji yang koreksi lagi. Minggu depan ya."
Aku sedikit shock dengan keputusan Pak Rudi. Kami baru bimbingan satu kali semester ini. Sepertinya sang ketua jurusan memang sibuk sekarang. Silvi menganggukkan kepala.
Ini gimana, Pak?" Silvi menunjukkan tumpukan skripsi kami.
"Tinggalkan saja buat saya. Nanti tinggal print buat dosen lain."
"Terimakasih, Pak," sahut kami bersamaan, lalu keluar dari ruang Pak Rudi.
"Kok aku gugup ya, Sil?" ucapku setelah kami tiba di halaman dekanat.
"Udah ... ga papa. Lebih cepat lebih baik."
Aku mencoba menenangkan diri. Berbagai ketakutan melintas di benakku. Belum lagi hari ini akan menginap di rumah Ridho.
"Langsung pulang, yuk!" tawarku.
"Ga istirahat dulu, nih?"
"Nanti sore mau ke rumah Ridho, ada acara gitu."
"Wah ... ngunduh mantu?"
"Miriplah. Tapi acara keluarga gitu. Aku juga ga terlalu ngerti prosesnya."
"Ya udah. Aku pulang juga, deh."
Kulajukan motor keluar dari area kampus. Silvi menyusul di belakang. Di tengah perjalanan, aku masih memikirkan banyak hal, tak sadar ada motor melaju kencang keluar dari gang.
__ADS_1
"Reva!" Silvi berteriak lumayan kencang.
Jangan lupa like, komen, dan vote yaa teman-teman ❤