Suami Romantis (Jodoh Pasti Bertemu) Oleh Meisy T

Suami Romantis (Jodoh Pasti Bertemu) Oleh Meisy T
Malam Pertama


__ADS_3

Kuambil gawai dari dalam tas. Ada dua pesan baru di aplikasi Whatsapp.


[Udah nyampe, Beb?]


[Ini udah mandi. Besok ke kampus, 'kan?]


[Iya. Kita berjuang bersama-sama, menunggu Pak Rudi.]


Aku tersenyum membaca pesan Silvi yang diberi emoticons bulat kuning mata berair dan lengan terangkat.


[Dasar lebay!] Balasku.


Wanita itu kembali mengirim pesan yang berisi emoticons bulat kuning yang terbahak dengan mata berair.


Pesan ke dua terbuka. Deva?


[Maaf ya, Rev ... kalau kehadiran Kakak terasa mengganggu.]


Aku merasa sedikit bersalah telah mengabaikan Deva. Menimbang sejenak balasan seperti apa yang harus kuketik.


Arrrg! Buntu.


Belum sempat memutuskan balasan yang tepat, pintu kamar mandi terbuka. Kusimpan gawai di bawah bantal sebelum Ridho kembali usil.


Aku mengalihkan pandangan ke arah lain saat Ridho berjalan mendekat. Bergegas kulangkahkan kaki ke kamar mandi untuk mengambil wudhu.


Sengaja aku berlama-lama mengambil wudhu menunggu Ridho ke masjid. Saat tidak ada lagi suara di kamar, aku keluar.


Usai shalat Magrib, aku keluar dari kamar mencari Ibu. Wanita kesayangan sedang menyiapkan makan malam.


"Bapak mana, Bu?"


"Tadi sore pulang bentar, terus pergi lagi. Saudara yang sakit minta antar ke rumah sakit."


"Ooh ... Ibu ga ikut?"


"Tadi Ibu udah lama di rumahnya. Besok aja ke sana. Kamu mau ikut?"


"Aku mau ke kampus besok. Kalau cepat selesai, aku nyusul aja."


"Iya, ngga papa. Ngga usah ikut kalau ada urusan penting."


Berselang menit, terdengar suara Ridho dan Bapak mengucapkan salam. Kami pun menjawab pelan lalu berjalan ke depan.


"Gimana tadi, Pak?"


"Alhamdulillah ngga parah, Bu. Cuma perlu rawat inap malam ini. Besok atau lusa mungkin sudah boleh pulang."


"Syukurlah, Ibu takut kenapa-kenapa. Tadi dadanya sesak sekali kelihatannya."


"Dia dulu 'kan, perokok berat. Sekarang baru merasakan akibatnya."


Aku dan Ridho hanya diam menyimak cerita Bapak. Bersyukur sekali, Bapak dan Ridho tidak merokok.


"Ya udah. Ayo kita makan dulu," ujar Ibu.


Kami pun melangkah menuju dapur. Aku memotong timun untuk mengganti sayur yang sudah habis.


Selesai membereskan bekas makan, aku kembali ke kamar. Ridho mengikuti Bapak duduk di teras.

__ADS_1


Kuraih novel lama yang terletak di tumpukan buku. Belum sempat kubaca karena hampir dua minggu ini sibuk dengan pernikahan dan skripsi.


Novel itu kupinjam di perpustakaan daerah saat mencari tambahan literatur skripsi. Sampul berwarna 'orange' dengan judul Fairish memikat mataku.


Kubuka lembar demi lembar isi novel itu. Cerita tentang dua laki-laki yang berusaha merebut hati si wanita.


Ah, seketika aku ingat Deva. Apa mungkin laki-laki itu menyukaiku?


Astaga! Pesan Kak Deva belum kubalas. Baru akan mengambil gawai, adzan isya berkumandang. Kubatalkan niat membalas pesan Deva. Sejujurnya aku masih bingung harus menjawab apa.


Setelah mengambil wudhu dan melaksanakan shalat isya, aku memutuskan untuk membaca novel kembali.


Terhanyut dengan cerita yang disajikan penulis, sampai tak sadar Ridho sudah masuk ke kamar. Laki-laki itu mendekat ke arahku.


"Baca novel?"


Aku menoleh sekilas tapi tak menjawab pertanyaan Ridho. Mataku kembali fokus ke tulisan dalam novel. Salah satu lelaki sangat romantis mengungkapkan cintanya pada si wanita.


Tangan Ridho terulur untuk meraih novel yang aku baca.


"Paan, sih?" Aku mendelik merasa terganggu.


"Serius amat bacanya!"


"Balikin!" ucapku galak.


Laki-laki itu kembali memberiku kecupan di bibir. Aku refleks menutup mulut saat Ridho menarik wajahnya. Kuhentakkan kaki melangkah menuju ranjang. Ridho menyentakkan tanganku sampai berbalik lagi menghadapnya.


"Kamu menggemaskan!" ucapnya.


"Menyebalkan!" balasku.


"Ngga! Kamu bebas ngapain aja. Termasuk ngobrol mesra sama cewe lain."


Ups! Aku keceplosan.


Huaah! Bisa diejek Ridho habis-habisan ini.


Ridho terlihat berpikir keras. Sepertinya dia menyadari aku melihat mereka di kampus.


"Kamu cemburu?" Laki-laki itu tersenyum.


"Ngga. Ngapain aku cem-"


Ridho meletakkan telunjuknya di bibirku, lalu meraihku dalam pelukan. Aku hanya diam, bingung dengan sikap Ridho. Kukira dia akan usil seperti kemarin.


"Aku ga ada apa-apa sama dia. Nisa teman kerja. Kami tadi lagi bahas tentang anak-anak yang sedang lomba."


Aku ga lihat ada anak-anak." Kuberanikan diri menatap wajahnya.


"Ada. Mereka lagi di ruangan, panitia lagi jelasin cara kerja lomba."


Aku menyipitkan mata. Mengira-ngira Ridho berkata jujur atau hanya menghiburku.


"Kamu ga percaya?" Ridho menatap tajam.


Aku menundukkan kepala. Ridho mengangkat daguku agar kembali menatap matanya.


"Kamu sendiri, ngapain berdua sama laki-laki di sana? Deva, 'kan?"

__ADS_1


Astaga! Aku terkejut mendengar kata-kata Ridho. Mungkinkah dia melihat kami di kantin?


"A-ku awalnya ga sama dia, kok. Tadi makan ke sana sama Silvi." Tatapan Ridho membuatku merinding.


"Silvi?" Kata-katanya terdengar penuh tekanan.


"Iya. Dia pulang duluan dijemput Abangnya. Kak Deva baru datang pas aku mau pulang." Walau berusaha tenang, tetap saja suaraku terdengar gemetar.


"Iyakah?" Ridho menyipitkan mata.


Aku menganggukkan kepala, lalu berusaha melepaskan diri dari Ridho.


"Sekarang lepas," ucapku.


"Ngga!"


"Ridho...." Aku memberi tatapan memohon.


"Mas!"


What??? Aneh sekali kedengarannya. Aku menggeleng pelan.


"Kenapa?"


"Ng-ga."


Lelaki jangkung itu perlahan mendekatkan wajahnya. Aku menutup mata karena gugup. Mungkinkah Ridho akan meminta malam pertama?


Laki-laki bertubuh tegap itu mencium keningku. Aku membuka mata dan mencoba menetralkan debar kencang di dada. Ridho tersenyum dan menatapku intens.


Mak! Kenapa aku jadi terpesona?


"Mulai sekarang panggil aku, Mas ya," ucapnya.


"Hah?" Pikiranku belum fokus.


"Ga enak dengar kamu panggil nama gitu."


"I-ya."


Aku tertegun sejenak saat Ridho memeluk erat. Perlahan aku membalas pelukannya. Rasa hangat menjalar hingga ke hati.


Ridho menuntunku perlahan menuju ranjang. Membaringkan tubuhku, lalu membelai rambutku. Aku berusaha bernapas dengan normal walau rasa gugup kembali mendera.


Ridho kembali tersenyum, mungkin mencoba membuatku nyaman. Wajahnya mendekat perlahan, lalu mengecup kedua mataku. Aku meremas seprai merasakan gejolak yang muncul di tubuhku.


Tangan Ridho bergerak perlahan menelusuri lekuk tubuhku. Bibirnya turun menyentuh bibirku. Awalnya aku hanya diam, bingung harus merespon ciuman Ridho.


Setelah bibir Ridho menyapu setiap sudut bibir, aku berusaha membalas ciumannya. Aku memejamkan mata karena rasa malu yang tiba-tiba menyerang. Setelah aku merasa nyaman, Ridho menuntunku dengan pelan untuk menyatukan tubuh kami.


Aku menggigit bibir ketika bagian tubuhnya masuk pertama kali ke dalam diriku. Dengan sekuat tenaga menahan sakit agar tak menjerit. Ridho kembali mengecup bibirku saat mendengar rintihan karena bagian tubuhku berdenyut perih.


Sabar, Reva! Ini sudah jadi kewajibanmu sebagai seorang istri. Aku berusaha menyemangati diri.


Ridho menyentuhku dengan lembut. Malam pertama terlewati dengan sempurna, berakhir dengan ciuman lembut di kening, pipi dan bibirku.


Jangan lupa vote, like dan komen..😘😘


Vote itu pake point yaa, ambil aja point online kita. Tulisan point ada di sudut kanan atas. Nanti pas buka cerita ini, pilih vote. Tinggal kasih point yang kamu punya.☺☺

__ADS_1


__ADS_2