
Usia kandunganku sudah memasuki bulan ke empat. Rasa mual dan pusing sudah mulai berkurang. Satu bulan aku hanya menghabiskan waktu di rumah sejak wisuda. Sebelum tidur, aku pun mengajak Ridho bicara.
"Hm ... aku mau ngomong sesuatu, Mas."
Ridho yang baru membaringkan tubuh menghadap padaku. "Apa, Sayang?"
"Aku boleh kerja, ngga?"
"Kerja apa? Di mana?"
"Belum tau, sih. Mau masukin lamaran dulu. Ngga papa, 'kan?"
"Sebenarnya mas takut terjadi apa-apa sama kamu. Kamu bosan ya, di rumah terus?"
Aku mengangguk pelan. "Aku bakal cari kerja yang ga terlalu berat. Kalau bisa ga tiap hari datangnya."
"Ngajar di tempat mas, mau?"
"Emang boleh?"
"Ga tau. Mas tiba-tiba aja kepikiran."
"Lagian ga enak, Mas. Tar disangka Mas yang masukin aku. Belum lagi kalau ada isu lain."
"Iya, sih. Kamu mau ngajar di sekolah lain?"
"Kayaknya aku ga masukin ke sekolah dulu tahun ini. Takut keteteran ngurus administrasi dan hal lainnnya."
"Bimbel?"
"Iya. Mungkin aku masukin lamaran ke bimbel aja. Aku dengar ga setiap hari kerjanya. Tugasnya ga banyak kayak sekolah, 'kan?"
"Bener. Mas pernah ngajar sebentar di bimbel. Nanti mas bantu juga cari info tentang lowongan kerja."
"Makasih ya, Mas ...." Aku pun memeluk tubuh Ridho dengan penuh perasaan.
Sempat ragu dia akan mengabulkan keinginanku. Tak menyangka dia begitu pengertian dengan perasaan istrinya. Semoga kamu ga pernah berubah ya, Mas.
***
Setelah memasukkan lamaran ke dua pusat bimbingan belajar, aku diterima di tempat yang tak jauh dari rumah. Ridho langsung menyetujui saat aku memberitahunya. Perasaanku menjadi lebih bergairah karena mempunyai kegiatan baru.
"Kamu hati-hati ya ... perginya nanti," pesan Ridho.
"Okesiip!" Aku mengacungkan jempol padanya.
Hari ini jadwal pertamaku mengajar. Ridho sebenarnya ingin mengantar jemput, tapi takut tak bisa pulang lebih awal. Usai mengantar Ridho bekerja, aku menghampiri Ibu yang sedang membersihkan meja makan.
"Biar Reva aja, Bu."
"Loh, memangnya kamu udah sehat?" Ibu menghentikan pekerjaannya sejenak.
"Udah berkurang mualnya," jawabku.
__ADS_1
Lebih dua bulan aku jarang membantu Ibu membersihkan rumah. Aku hanya menyapu atau menjemur pakaian saat kondisi tubuhku tak terlalu lemas. Rasa tak enak hati mulai menyerang.
Kasihan Ibu ... selama ini pasti lelah mengurus kami seorang diri.
Ridho dan Bapak yang pergi pagi pulang sore juga tak sempat membatu Ibu. Sesekali mereka membantu menyapu rumah saat kondisiku tak memungkinkan. Ah ... kasih Ibu memang sepanjang masa.
Ibu beranjak dari ruang makan menuju dapur. "Ya udah, kalau gitu ... Ibu mau nyuci dulu."
Aku mengangguk pelan. Meletakkan piring kotor ke bak cucian, membereskan meja, lalu mencuci peralatan makan yang kami pakai saat sarapan. Setelahnya aku menyusul Ibu yang sedang sibuk membilas pakaian.
"Udah, Bu? Biar aku yang jemur."
"Bentar lagi, Nak. Kalau cape, kamu istirahat aja."
"Ngga papa, Bu. Oh iya, hari ini Reva udah mulai kerja."
"Oh ya? Di mana?"
"Ga jauh dari rumah kita, kok. Bimbingan belajar gitu."
"Alhamdulillah. Tapi Ridho ngga keberatan?"
"Aku udah izin pas masukin lamaran kok, Bu."
"Iya, Sayang ... kalau udah nikah, kita harus dengerin pendapat suami. Apalagi kamu sedang hamil muda sekarang."
Aku tersenyum hangat pada Ibu. "Siniin cuciannya. Ibu istirahat, gih! Pasti cape ngurusin aku selama ini."
Aku tertawa mendengar candaan Ibu. Sudah lama tak mendengar panggilan itu. Ah ... mengapa hatiku menjadi melow begini?
***
Jam dua siang, aku sudah siap pergi bekerja. Kukenakan rok putih, kemeja biru dengan jilbab senada. Setelah merapikan pakaian dan wajah, aku keluar dari kamar mencari Ibu. Wanita tersayang sedang menonton TV.
"Aku pamit ya, Bu."
"Udah mau pergi? Pelan-pelan aja jalannya."
"Siap!"
"Semangat!"
Aku tersenyum mendengar dukungan dari Ibu. Kuraih tangannya untuk dicium. Menghidupkan mesin motor, lalu melaju ke jalan raya. Sepuluh menit kemudian, aku tiba di lokasi.
"Assalamualaikum," ucapku.
"Waalaikumsalam." Admin dan tenaga pengajar lain yang sudah datang menjawab salamku serentak.
Aku memberikan senyuman yang dibalas mereka dengan ramah. "Anak-anak udah datang, Mbak?" tanyaku pada admin.
"Beberapa udah, lagi beli minuman kayaknya."
"Ooh. Ruangnya yang mana, Mbak?"
__ADS_1
"Ruang ke dua, Mbak. Waktunya satu jam setengah, ya. Mbak masuk duluan ga papa, kalau mau siap-siap."
Aku mengangguk pelan. "Makasih ya, Mbak."
"Sama-sama."
Aku pun beranjak menuju ruang yang ditunjuknya. Selain perlu mempersiapkan diri, aku juga tak tahu harus bicara apa lagi pada mereka. Duduk di ruangan, aku mengeluarkan buku yang akan kugunakan nanti. Mereka sudah menghubungiku mengenai kelas yang akan diajarkan.
Tak lama kemudian, bel masuk dibunyikan. Aku merapikan diri, menarik napas untuk menenangkan diri, lalu membaca Basmallah. Sepuluh orang siswa masuk ke ruangan. Aku memberikan senyuman untuk mereka. Salah satunya menyerahkan buku panduan untukku.
"Titipan dari depan, Bu."
"Ok. Makasih, ya."
Bimbel yang menerimaku bekerja baru setahun dibuka. Siswa yang mendaftar belum seramai tempat lain yang sudah besar. Aku malah bersyukur, setidaknya pekerjaanku tak begitu berat.
Setelah mengucapkan salam, aku meminta mereka untuk berdoa sesuai keyakinan masing-masing. Aku pun memperkenalkan diri, lalu mempersilahkan mereka menyebutkan nama. Suasana berjalan cukup baik. Kami mulai akrab karena sesekali aku menggoda mereka.
Usai perkenalan singkat, aku mulai menyajikan materi. Mereka cukup antusias, walau tetap saja sesekali bercanda dengan temannya. Aku berusaha sabar melihat tingkah para murid, apalagi mereka masih SMP.
Saat mereka mengerjakan soal latihan, aku berkeliling untuk membantu. Beberapa masih kesulitan menjawab pertanyaan. Pertemuan ditutup dengan pembahasan soal. Kuucapkan salam perpisahan sebelum mempersilahkan mereka keluar.
Setelah sepi, aku menghembuskan napas lega dan mengucap syukur dalam hati. Hari pertama berjalan cukup lancar. Kusimpan perlengkapan mengajar ke dalam tas.
Baru akan beranjak keluar, ponselku berbunyi. Nama 'My Husband' tertera di layar. Aku duduk kembali, lalu menerima panggilan dari Ridho.
"Kamu masih di bimbel?" tanya Ridho setelah menjawab salamku.
"Iya, Mas. Bentar lagi pulang. Cuma ngajar satu kelas hari ini."
"Ya udah. Kamu tunggu di sana. Aku udah mau jalan pulang."
"Iya."
Walau sedikit heran, aku tetap menuruti permintaannya. Kukira Ridho sudah di rumah. Apa dia sengaja menunda pulang agar bisa menjemputku?
Keluar dari ruangan, aku duduk di ruang depan tempat admin bekerja. Ada satu pengajar yang juga duduk tak jauh dariku. Aku memberikan senyuman saat dia menoleh ke arahku.
"Nunggu jemputan, Mbak?" tanyanya.
"Iya. Sebenarnya bawa motor, tapi suami suruh nunggu bentar. Mbak juga?"
"Ooh. Ngga. Saya ngajar jam ke dua."
Aku mengangguk paham. Kami pun kembali diam dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Aku mengambil gawai, lalu berselancar sejenak di dunia maya. Lima menit kemudian, Ridho sudah tiba di depan bimbel.
"Duluan ya, Mbak!" pamitku.
"Ok," sahutnya.
Kusempatkan tersenyum sekilas pada admin sebelum membuka pintu. Ridho duduk di motornya yang mesinnya tidak dimatikan. Suamiku masih terlihat tampan walau wajahnya terlihat lelah. Aku pun melangkah mendekatinya.
"Reva?" Tiba-tiba seseorang memanggil namaku.
__ADS_1