
Setibanya di rumah, aku membaringkan tubuh di ranjang. Membuka aplikasi biru, lalu mulai berselancar di dunia maya. Salah satu teman saat SMA memposting fotonya menyantap bakso isi durian. Seketika air liurku terbit.
"Kira-kira sudah ada belum di sini, ya?"
Temanku itu kuliah di pulau Jawa. Bakso beraneka ras memang sedang trend saat ini. Aku pun mengirim pesan pada Ridho. Tak lupa foto bakso yang sudah ku-crop dari aslinya.
[Pengen .....] Kusertai emot kuning yang menggemaskan.
Beberapa menit menunggu, tak ada balasan dari Ridho. Sedang ngajar kali, ya?
Aku melihat-lihat postingan lain untuk mengurangi rasa jenuh. Ibu sedang keluar rumah, tak ada yang bisa diajak mengobrol. Setengah jam berlalu, belum juga ada respon darinya. Aku mulai tak sabar.
[Sibuk banget, sih!]
Aku menghempaskan gawai ke bantal. Bayangan bakso kembali berputar di benakku. Apa aku nekad aja cari sendiri, ya?
Baru akan beranjak, nada pesan berbunyi.
[Memangnya udah ada di tempat kita, Yang?]
[Ga tau.]
[Kok gitu jawabnya? Maksudku kalau ada, aku beliin.]
[Aku ga tau. Itu lihat punya temen. Ya udah kalau ga mau nyariin.]
[Ok. Nanti sore aku cari, ya. Masih ada kerjaan.]
[Aku maunya sekarang. Kamu ga bisa izin?]
[Masih ada jam ngajar, Sayang ... aku langsung pulang nanti.]
[Ya udah.]
Ingin rasanya memaksa, tapi kasihan juga kalau dia harus bolak-balik ke tempat kerja. Mana tengah hari dan cuaca sedang panas. Untunglah si bayi masih bisa ngerti kondisi ayahnya.
"Sabar ya, baby ... tunggu ayah pulang."
Setelah shalat Zuhur, aku menyempatkan diri membaca kitab Allah beberapa halaman. Kembali berbaring di ranjang karena tak tertarik melihat postingan lain. Memejamkan mata, berharap bisa tidur dan mengusir si bakso dari pikiran.
***
Mataku masih enggan terbuka saat sayup-sayup mendengar suara seseorang membangunkanku. Perlahan aku mengerjap saat tangannya membelai rambutku. Sedikit terkejut saat bibir kami menempel.
"Mas?" Kaget tau!"
"Habisnya ga bangun dari tadi dipanggil," sahut Ridho.
"Bosan sendiri di rumah. Lama-lama jadi ngantuk."
"Pintunya ga dikunci, tuh. Kebiasaan!"
Aku menutup mulut dengan tangan. "Beneran lupa. Tadi ga niat tidur soalnya. Keinget mulu sama bakso."
"Ya udah ... cuci muka sana! Keburu dingin baksonya."
"Beneran dapet? Kirain belum ada yang jual."
"Ga ada kalau deket sini," jawabnya sambil mengganti pakain."
"Terus?"
__ADS_1
Ridho tersenyum sekilas. "Minta tolong temen yang jual bakso varian bikinin. Untung dia masih ada stok durian di freezer."
Duh ... manisnya suamiku. Jadi makin sayang ....
"Makasih ya, Mas," ucapku sambil memeluknya dari belakang.
"Makasih aja? Ga cukup, ah!"
"Terus?" tanyaku sedikit heran.
"Cium sini!" jawabnya sambil menunjuk pipinya dengan jari.
"Ganjen!"
"G mau, nih?" Dia pura-pura cemberut.
Dasar! Makin pintar bersandiwara dia.
Cup! Aku mencium pipi yang ditunjuknya.
"Lagi!"
Karena kesal dan gemas, aku mencium seluruh wajahnya dengan cepat. Ridho terkekeh karena tingkahku. Menghentikan gerakanku dengan meraih wajahku.
"Wah ... mau ngajak gituan namanya, nih!"
"Ish! Apaan!"
Ridho terbahak. "Kirain ga sabaran nunggu malam ...."
"Habisnya banyak banget syarat mo makan bakso aja."
Ridho membelai pipiku. "Becanda sayang ... makan baksonya, gih!"
Kembali ke kamar, kulihat Ridho sedang duduk menghadap laptop. Iseng, aku memeluknya seperti tadi. Ridho merespon, membalikkan badan, lalu mencium keningku.
"Udah makannya? Cepet banget!"
"Ga habis. Mas mau?"
"Boleh. Penasaran rasanya ... bawa sini, ya?"
"Ok. Tunggu bentar."
Aku kembali ke ruang makan, mengambil mangkuk yang berisi bakso. Ridho membelalakkan mata saat melihat isinya. "Itu bukannya ga habis, tapi ga dimakan."
Aku nyengir kuda. "Aku makan, kok ... enak."
Ridho menggelengkan kepala. "Padahal udah buru-buru tadi. Mutar-mutar ga nemu, akhirnya maksa temen buat nyoba bikinin."
"Jadi, ga ikhlas?" Aku mengerucutkan bibir.
"Bukan gitu ... maksudku ... ah, udah, ga usah dibahas lagi."
Sebenarnya aku mengerti perasaannya. Mau gimana lagi, tadi memang ingin sekali mencoba makanan itu. Aku memberikan senyuman manis padanya.
"Sini, aku suapin!"
Aku menyodorkan sendok yang berisi potongan bakso ke mulutnya. Ridho sedikit mengernyit saat mengunyah makanan itu. Tangannya diangkat isyarat menolak saat aku ingin menyuapi lagi.
"Kenapa?" tanyaku. "Enak, 'kan?"
__ADS_1
"Ga tau. Aku kurang suka rasanya."
"Enak, kok. Aku juga makan tadi." Aku kembali mendekatkan sendok ke mulut Ridho. "Habisin ya, Mas sayang ... biar bayi kita senang."
Ridho mendelik, tapi perlahan membuka mulutnya. Suapan ke dua berlanjut sampai suapan ke lima. Ridho mengangkat tangan tanda menyerah.
"Sudah ya, Sayang ... aku bisa muntah, nih."
"Ya udah, deh." Aku pun tak semangat lagi memaksanya.
Ridho meminum air putih yang kuambil sampai habis. Aku menahan tawa melihat ekspresinya. Kasihan juga sebenarnya, tapi makan sepiring berdua romantis, 'kan?
"Banyak kerjaan, ya?" tanyaku saat Ridho kembali fokus dengan laptopnya.
"Bantu ngetik soal beberapa guru yang ga punya laptop. Bentar lagi ujian semester."
"Baik bener suamiku ... jangan-jangan punya Mbak itu juga, ya?"
Ridho menoleh padaku. "Mbak siapa?"
"Mbak cantik yang pernah deket sama suamiku itu." Tiba-tiba saja perasaanku berubah drastis.
"Nisa? Ga, kok."
"Iya. Tapi Mas masih sering ketemu, 'kan? Pernah ngobrol, 'kan?"
"Kan satu tempat kerja Sayang ... ga mungkin ga pernah nyapa."
"Tuh, kan ... pasti lupa sama aku kalau lagi ngobrol sama dia." Aku mencebik karena sebal.
"Lah, kok jadi mewek gitu? Ga mungkin aku lupa sama istri yang cantik dan shaleha ini."
"Bohong!"
Ridho mengulurkan tangan ingin menyentuh wajahku, tapi aku mundur untuk menghindarinya. Laki-laki berhidung mancung itu menggaruk kepalanya. "Kamu kenapa, sih?"
"Aku males sama Mas!"
Aku pun bergegas melangkah menuju pintu. Ridho sempat menahan tangan, tapi aku tepis. Akibat terburu-buru, keningku menabrak pintu.
"Arrgh! Gara-gara Mas, nih!"
Ridho segera mendekat padaku. Mengusap keningku yang pasti memerah. "Kenapa juga buru-buru gitu jalannya?"
"Jadi salah aku?" Aku mendelik sebal. "Memang salah aku semuanya!"
"Loh, kok gitu ngomongnya?" Ridho menatapku dengan lembut.
"Ah, ga tau, deh! Sebel aku bayangin kalian ngobrol berdua." Aku melepaskan tangannya, lalu berjalan menjauh.
"Sayang ...."
"Mas nyebelin!" Aku membanting tubuh ke ranjang.
"Hei ... pelan-pelan dong rebahannya. Kan udah ada bayi dalam perutnya."
"Bodo!" Aku pun membalikkan badan menghadap dinding, tak memperdulikan Ridho yang masih ingin bicara.
Next.
Kayaknya masih ada yang belum ngerti cara vote.😊😊
__ADS_1
Vote itu pake point yaa, bukan like. Tapi ga bayar, kok. Biar rangkingnya naik dan penulis tambah semangat. Caranya ambil aja point online kita pas baca novel. Tulisan point ada di sudut kanan atas. Nanti pas buka cerita ini, pilih vote. Tinggal kasih point yang kamu punya untuk penulis. ❤❤