Suami Romantis (Jodoh Pasti Bertemu) Oleh Meisy T

Suami Romantis (Jodoh Pasti Bertemu) Oleh Meisy T
Pengakuan Ridho


__ADS_3

Kuletakkan kembali cangkir yang isinya tinggal setengah ke meja. Saat mengangkat kepala, sosok yang begitu enggan kulihat berdiri di halaman rumah. Matanya seperti sedang mencari sosok yang tak ada di sampingku.


"Lagi santai, Rev?" sapanya setelah aku menjawab salam.


"Iya, Mbak. Lagi ngeteh, nih. Mau gabung?" tawarku.


"Kayaknya asik, tuh. Ridho mana?"


"Lumayan, Mbak. Bikin agak refresh. Suamiku belum pulang," jawabku berusaha tetap santai.


"Oh. Eh, kayaknya udah mau hujan, nih. Aku langsung pulang, ya," pamitnya sedikit buru-buru.


Ish! Ketauan banget nyariin Ridho.


Aku tersenyum sekilas. "Iya, Mbak. Buruan biar ga kujanan."


Dalam hati aku mendengus kesal. Kehadirannya selalu membuat mood baikku turun. Kenapa juga kami harus tetanggaan?


"Pamit ya, Rev!"


"Yups!"


Setelah dia pergi, aku menarik napas lega. Untung saja Ridho belum pulang. Tiba-tiba rasa takut kehilangan Ridho menerpa hatiku. Apalagi melihat sikapnya tak secuek pada Nisa dibandingkan dengan Sinta.


Tak lama kemudian, motor Ridho memasuki halaman rumah. Sebenarnya aku ingin mengeluhkan tentang Sinta, tapi tak tega karena dia baru pulang. Ridho tersenyum lembut padaku.


"Tumben duduk di depan, Yang?"


"Lagi pengen aja, Mas. Cuacanya pas juga. Bosen juga nonton TV terus di dalam."


"Kita masuk, yuk! Udah mulai dingin udaranya."


"Iya, Mas."


Kami pun masuk ke dalam rumah. Ridho memeluk pinggangku. Rasa takut kehilangan yang sempat mengganggu pikiran sedikit berkurang. Aku pun membalas pelukan Ridho saat di kamar.


"Tumben?"


"Kangen aja sama, Mas."


"Mas juga kangen. Suka kepikiran kamu sendirian di rumah."


Aku tersenyum lembut padanya. "Sekarang mandi, gih! Udah mau Magrib."


"Mandiin!" sahutnya dengan suara yang dibuat manja.


Aku tertawa melihat ekspresinya. "Apaan! Memangnya bayi? Buruan mandi!"


Ridho ikut tertawa. "Ya udah, mas mandi dulu, ya."


Aku menjawab dengan anggukan. Ridho meletakkan tas, lalu masuk ke kamar mandi. Saat sedang berpakaian hujan mulai turun. Dia tak jadi ke masjid karena hujan sangat deras.


***


Pukul sembilan malam, kami membaringkan tubuh di ranjang. Setelah makan malam tadi, Ridho menemaniku menonton TV sambil mengoreksi tugas siswa. Lama-lama mataku mulai mengantuk. Ridho mengajakku masuk k dalam kamar.


"Ng ... Mas, aku mau nanya?"

__ADS_1


"Apa, Sayang?" Ridho merubah posisi menghadapku dengan tangan ditopangkan ke ranjang.


"Tapi ... Mas jangan marah, ya?"


"Apa, sih? Kok serius banget kedengarannya."


"Sebenarnya ... Sinta itu apa artinya buat Mas?"


Ridho mengerjapkan mata, lalu tertegun sejenak. "Kamu ga percaya sama, mas?"


"Bukan gitu. Tapi ... dulu itu, gimana kalian menghabiskan waktu?"


Ridho menghela napas. "Kayak anak SMA biasa, Sayang ... sesekali kumpul atau jalan.".


"Berdua aja?"


"Ngga, lah! Kan mas bilang dia udah punya pacar."


Tiba-tiba aku mendapat kesimpulan sendiri tentang hubungan mereka dulu. Kulihat mata Ridho sedikit menerawang. Mungkinkah mereka sempat terlibat cinta segitiga?


Aku bergidik ngeri membayangkan bila hal itu memang terjadi. Sinta memang cantik. Wajar bila banyak laki-laki mengharapkan dirinya. Apakah Ridho menyimpan perasaan pada Sinta waktu itu?


"Jadi, bertiga?" tanyaku sedikit ragu.


"Pernah. Kadang rame-rame sama yang lain."


Sekilas kupandang wajah Ridho yang sempat berubah muram. Jangan-jangan Ridho pernah mengungkapkan perasaannya pada Sinta. Atau, Sinta dulu menolak ungkapan cinta Ridho?


Semua pertanyaan berputar di benakku. Menuntut penjelasan dari Ridho. Haruskah aku bertanya lebih lanjut?


"Siapa pacarnya?"


"Hm ... Mas ga cemburu?"


"Kok nanyanya gitu?" Terselip rasa enggan pada nada bicara Ridho.


"Kali aja, kan, iri karena mas jomblo!" Aku pura-pura tertawa dan bercanda.


"Kamu bisa aja! Ngga, lah. Mas belum kepikiran mau pacaran, masih kelas satu SMA."


"Oh. Tapi, kok, Sinta kayaknya lebih dekat sama, Mas?" Aku semakin penasaran.


Ridho mulai terlihat kurang nyaman. "Udah, ah! Ngapain, sih bahas Sinta terus?"


"Aku merasa kalian nyembunyiin sesuatu dariku!"


Tak sadar nada bicaraku sedikit lebih tinggi dari sebelumnya. Apalagi sempat melihat senyum yang Ridho berikan pada Sinta kemarin. Ridho terlihat kaget melihat sikapku.


"Kamu kenapa, sih?"


Aku mengalihkan pandangan ke arah lain. "Ya deh. Aku ga berhak untuk tau masa lalu kalian!"


"Reva!"


Mataku tiba-tiba basah. Ternyata menyimpan tanya dan menahan emosi sangat berat dilakukan. Apalagi mendengar suara Ridho yang sedikit keras.


"Udahlah, Mas! Aku mau tidur aja." Aku membalikan tubuh membelakangi Ridho.

__ADS_1


Terdengar Ridho menarik napas panjang. Tangannya perlahan menyentuh jemariku. Aku tetap bergeming karena terlanjur emosi.


"Sayang ... dengerin mas dulu, sini." Ridho berusaha membuatku kembali menghadapnya.


"Kami ga pernah punya hubungan khusus, kok. Apalagi pacaran."


"Bohong! Buktinya, tadi sore dia datang lagi ke sini. Ga mungkin kalau kalian ga punya hubungan istimewa dulu."


Ridho tampak kaget mendengar kata-kataku. Seketika rasa sedih menerpa hati. Air mataku jatuh tanpa bisa ditahan. Biar saja dia tahu perasaanku yang sebenarnya.


"Sinta datang lagi?"


"Iya. Dan dia nyariin Mas kayaknya." Aku mendelik sebal, lalu kembali mengalihkan pandangan.


"Mungkin kebetulan lewat aja kayak kemaren."


"Ngga, Mas. Dia ga jadi mampir pas tau kamu ga ada di rumah."


"Reva ... kenapa jadi berburuk sangka gitu, sih?"


"Aku? Berburuk sangka? Mas memang ga ngerti perasaan aku!" Amarahku kembali muncul.


"Reva ... please! Jangan mikirin macam-macam gitu, ya?" Ridho berusaha sabar menghadapiku.


"Terserah!"


Ridho menyugar rambutnya. Sepertinya mulai pusing menghadapi kecemburuanku. Aku pura-pura tak melihat kegelisahannya.


Bodo amat!


Pokoknya aku tak menyukai Sinta. Tak nyaman bila dia sering ke sini. Berharap dia menjauh dari kehidupan kami.


"Sayang," rayunya lagi.


Aku tetap bergeming. Rasanya ingin berlari sejauhnya dari sini. Ridho benar-benar tak bisa mengerti perasaanku kali ini.


"Aku harus gimana lagi, biar kamu percaya?"


Sebenarnya aku juga tak tahu harus bagaimana. Aku begitu kaget dengan kehadiran Sinta saat kami sedang bahagia. Aku marah, kesal, juga takut perhatian Ridho beralih pada wanita lain.


"Apa perlu, aku minta Sinta yang jelasin?"


Spontan aku menoleh mendengar kata-kata Ridho. Tak bisa kubayangkan andai Sinta sampai tahu aku cemburu padanya. Bisa-bisa aku diolok-olok atau malah dia senang mendengarnya.


"Ga usah!"


"Ya udah ... jangah marah-marah lagi, ya .... mas cuma sayang sama kamu sekarang. Maunya kita menua bersama. Berharap kita hidup bahagia sampai jadi kakek nenek nanti."


"Dulu?"


"Kita kan belum ketemu," jawabnya sambil terkekeh.


Deh ... ngomong aja pernah sayang sama cewek lain!


"Ga lucu!"


Aku masih mengerucutkan bibir karena kesal. Ridho usil menjawil pipiku berulang kali. Aku berusaha menahan tawa.

__ADS_1


Sebenarnya rasa marahku sudah berkurang, tapi gengsi mengakuinya. Hatiku cukup melambung mendengar kata-katanya. Mengaminkan dalam hati semua harapan Ridho.


__ADS_2