
Wajah Reva terlihat merona. Sekuat tenaga aku menahan keinginan untuk menyentuh wajahnya. Perkenalan baru dimulai.
Sengaja mendekatkan wajah kami, agar Reva sadar dia sudah punya pasangan. Aku menahan tawa melihatnya memejamkan mata. Gugupkah dia?
"Kalau sudah nikah ... harus bisa jaga perasaan suami," ucapku tepat di wajahnya.
Reva membuka mata, lalu mendorong pelan tubuhku. Dia terlihat kacau dan salah tingkah. Istriku memang menggemaskan.
"Minggir! Aku mau lanjut ngedit," ucapnya galak. Matanya mendelik saat melihatku..
Aku mundur perlahan. Tak bisa kutahan senyum yang melengkung di bibir. Ternyata dia benar-benar terpengaruh dengan apa yang aku lakukan.
Dalam diam aku memperhatikan tingkahnya. Reva berbalik dan terdengar menarik napas panjang. Sifat isengku kembali kumat.
"Kamu kenapa?" tanyaku pura-pura tak mengerti kondisinya.
"Ng-ga papa," jawabnya tanpa menoleh ke arahku.
"Pasti tadi mikir macam-macam!" godaku.
"Apaan? Ga ada!" Reva menoleh sekilas dengan memasang wajah kesal.
"Itu wajahnya kenapa?"
Dia tak merespon lagi pertanyaanku. Puas sekali bisa mengganggunya hari ini. Tunggu saja adegan berikutnya, Sayang!
Reva terlihat fokus dengan file skripsinya. Aku pun membuka laptop untuk menyelesaikan pekerjaan dari kantor. Cukup seperti ini saja sekarang. Aku akan meraih perhatiannya dengan perlahan.
Kami sibuk dengan aktivitas masing-masing. Suasana kamar terasa hening. Reva memutar lagu di aplikasi musik. Lagu 'Paint My Love' dari MLTR mengalun lembut. Ternyata dia suka juga lagu lama.
Hampir satu jam berlalu, Reva meregangkan tubuhnya. Aku tak sempat lagi menyapanya karena sibuk dengan pekerjaan. Membiarkannya berlalu saat ia beranjak keluar kamar.
Nada pesan menghentikan gerakan jariku di keyboard laptop. Pesan dari teman kerjaku masuk. Sebenarnya dia juga temanku saat SMA dulu.
[Assalamualaikum. Besok jadi ke kampus, Dho? Jam berapa?]
__ADS_1
Aku tertegun membaca pesannya. Baru ingat besok kami akan mengantar anak-anak lomba ke kampus Reva. Hari ini kami tidak bertemu karena Nisa tak ada jam mengajar.
Kemaren kepala sekolah sempat memanggil kami sebelum pulang. Aku tak sempat membicarakan jadwal dengan Nisa karena buru-buru pulang. Ada rasa tak nyaman juga berdua dengannya karena kantor sudah sepi.
Aku berusaha mengingat jam berapa jadwal lomba yang diberi tahu panitia. Sepertinya sudah agak siang. Aku akan ke sekolah dulu agar bisa berangkat bersama Nisa.
[Waalaikumsalam. Jadi. Jam 10, Nis.]
Setelah membalas pesan dari Nisa, aku meletakkan gawai kembali ke meja. Kembali fokus untuk melanjutkan pekerjaanku. Besok pagi tinggal diprint agar bisa mempersiapkan anak-anak berangkat lomba ke kampus.
Tenggorokanku terasa kering, tapi enggan keluar kamar. Rasanya masih sungkan mengambil makanan atau minuman sendiri. Nanti saja, minta tolong Reva saat dia kembali.
Rasa letih mulai menyerang tubuh. Pekerjaanku tinggal sedikit lagi. Kuputuskan untuk melanjutkannya besok pagi saja. Aku mematikan laptop dan menyimpan perlengkapan kerja ke dalam tas.
Reva belum juga kembali ke kamar. Mungkin dia mengobrol dengan orang tuanya. Aku melangkah ke ranjang, lalu membaringkan tubuh.
Kepalaku terasa berat, perlahan kupejamkan mata yang terasa lelah. Kusempatkan membaca kalimat Allah dalam hati. Perlahan kesadaranku mulai hilang.
***
Segera kutarik tangan saat Reva terlihat bergerak gelisah. Mata tiba-tiba membuka. Kami sempat saling menatap beberapa detik, cepat aku alihkan pandangan ke arah lain, lalu beranjak ke kamar mandi.
Aku mengambil wudhu karena sudah berniat melaksanakan shalat tahajud. Ingin rasanya memgajak Reva. Saat membuka pintu, Reva sudah duduk si tepi ranjang.
"Kamu mau shalat juga?" tanyaku, sangat berharap dia menjawab iya.
Reva hanya menganggukkan kepala. Tak lama dia turun dan melangkah menuju kamar mandi. Aku pun bersiap sambil menunggu Reva berwudhu.
"Kita shalat jamaah aja," umtawaku saat dia mengambil mukena.
Aku berdiri dengan perasaan semringah di di depan Reva. Tak bisa kulukiskan perasaan hangat yang menguasai hati. Beberapa saat, kami larut dalam suasana mengingat Tuhan.
Kuangkat kedua tangan bermunajat pada Yang Kuasa. Menyampaikan segenap harapan tentang rumah tangga dan masa depan kami. Setelah selesai berdoa, aku mengulurkan tangan pada Reva.
"Hah?" Wajah Reva terlihat bingung. Seketika rasa semringah berganti dengan rasa kesal.
__ADS_1
"Salim!" ucapku dengan nada ketus.
Reva cepat meraih dan mencium tanganku. Aku menahan senyum melihat tingkahnya. Istriku yang shaleha!
Selesai shalat aku kembali berkutat dengan pekerjaan. Reva terlihat naik lagi ke ranjang. Sepertinya dia tak nyenyak tidur tadi.
Bergegas kusesaikan pekerjaan sebelum adzan subuh berkumandang. Sayup-sayup kudengar suara orang batuk. Sepertinya Bapak sudah mau pergi ke masjid.
Aku pun mematikan laptop dan menyimpannya ke dalam tas. Berniat menyusul Bapak yang sudah terdengar membuka pintu depan. Kuputuskan untuk berwudhu di masjid saja nanti. Bergegas aku melangkah keluar kamar.
"Bapak kira Nak Ridho belum bangun." Sapa Bapak saat aku sudah di belakangnya.
"Tadi mau menyelesaikan pekerjaan dari kantor dulu, Pak," jawabku sambil tersenyum.
"Ooh. Ayo! Udah adzan tuh!"
"Iya, Pak."
Kami pun bergegas berjalan menuju masjid. Beberapa tetangga yang sudah kuhapal wajahnya bertemu di depan masjid. Bapak menganggukkan kepala saat mereka menyapa.
Dalam perjalanan pulang ke rumah, salah satu tetangga menyusul langkah kami. "Beruntungnya Pak Mahdi punya menantu shaleh!" ujarnya.
Aku sedikit terkejut menjadi bahan pembicaraan, lalu tersenyum tipis padanya. Agak malu rasanya saat mendengar pujian orang tepat di depan Bapak mertua.
"Alhamdulillah, Pak Tono. Semoga Bapak nanti juga dapat mantu seperti Rodho."
"Aamiin!"
Aku menundukkan wajah yang pasti terlihat salah tingkah. Persahabatan Ayah dan Bapak membuat hubungan kami tak seperti menantu mertua. Bisa kurasakan Bapak memperlakukan aku seperti anaknya sendiri.
Rasa syukur memenuhi hati. Tak salah Ayah memilihkan jodoh untukku. Untung saja aku tak berkeras menolak saat Ayah membicarakan tentang perjodohan.
Happy reading ....❤❤
Jangan lupa vote dan komen....😘
__ADS_1
Vote itu pake point yaa, ambil aja point online kita. Tulisannya di kanan atas. Nanti pas buka cerita ini, pilih vote. Tinggal kasih point yang kamu punya.☺☺