
Akhirnya kami benar-benar kembali ke hotel. Kami beristirahat sebentar sambil menunggu waktu Magrib. Ridho sudah mengganti pakaiannya dengan sarung dan baju koko.
Usai melaksakan shalat Magrib, kami berjalan-jalan di sekitar halaman hotel untuk mencari udara segar. Sebenarnya ini sudah saatnya makan malam, tapi aku masih kenyang.
"Beneran ga mau makan lagi?" tanya Ridho saat kami duduk di tepi kolam renang.
"Hu'um. Mas kalau mau makan ga papa, nanti aku temenin."
"Masa aku makan sendiri sambil dilihatin bidadari?" ucapnya dengan nada sungguh-sungguh.
Kali ini aku sampai terbahak dibuatnya. Gombalannya benar-benar makin parah. Aku sangat sadar kalau mempunyai wajah yang jauh dari seorang bidadari. Bahkan kalah cantik dari Nisa.
Seketika kembali ingat dengan wanita itu. Sudah lama tak bertemu atau mendengar kabarnya. Tergerak bibir ingin bertanya, memikirkan kata-kata yang tepat sebelumnya.
"Hm ... Nisa apa kabarnya, Mas? Masih kerja di satu tempat, 'kan?"
Wajah Ridho berubah kaku. Entah mengapa, dia tak terlalu suka saat aku menyebut nama wanita itu. Terkadang sempat berpikir bahwa mereka memang mempunyai hubungan di masa lalu.
"Kok kamu nanyain dia?"
"Ga papa. Tiba-tiba aja ingat. Dia ... belum nikah? Atau ada rencana gitu?" tanyaku tak mau mengalah.
"Mungkin belum. Aku juga ga tau, ga pernah nanya," sahutnya sedikit ketus.
"Ih ... kok jutek gitu jawabnya?"
"Habisnya kamu, tuh. Saat suasana bagus di tempat yang bagus, malah bahas dia."
"Iya ... maaf. Aku cuma penasaran aja. Masuk yuk, Mas! Udah dingin udaranya," ajakku sambil mengeratkan cardigan yang melapisi gaun tidur.
"Ok. Bentar lagi masuk waktu Isya," ujar Ridho sambil melihat jam di pergelangan tangannya.
Kami pun beranjak dan saling bergandengan tangan kembali kamar. Tak lama kemudian, adzan Isya berkumandang. Kami mengambil wudhu dan kembali menghadap Sang Pencipta.
Setelah melipat mukena, aku membaringkan tubuh di ranjang. Ridho pun menyusul berbaring di sebelahku. Kami saling bertatapan beberapa saat.
"Mas ... kalau misalnya aku lama hamil lagi, gimana?"
Ridho tertegun sejenak. "Kok nanyanya gitu? Dari tadi aneh-aneh aja pertanyaannya."
__ADS_1
"Ga papa. Cuma berandai-andai aja. Gimana?"
"Gimana apanya? Ya tetap sama-sama kitanya."
"Maksud aku ... Mas bakal kecewa, ga? Tetap sayang sama aku kayak gini walau belum hamil juga?"
Ridho mengerjapkan matanya. "Tentunya, Sayang ... kita nikahkan bukan semata ingin punya anak. Niat utama adalah ibadah."
"Iya, sih. Tapi tetap aja Mas pasti berharap. Apalagi Bunda," gumamku.
"Hush! Kok jadi kemana-mana ngomongnya? Mas bahagia Tuhan menjodohkan kita." Ridho melingkarkan tangannya ke perutku.
"Aku kepikiran aja kalau misalnya hal itu sampai terjadi."
Aku menggigit bibir karena rasa khawatir yang tiba-tiba menerpa. Bukan hal yang mudah untuk mengungkapkan isi hati. Terlebih mengenai kehamilan atau buah hati.
Ridho mengelus puncak kepalaku dengan lembut. "Ga usah mikir macam-macam, Sayang ... rezeki itu datangnya dari Allah. Kita cuma bisa usaha dan berdoa."
Aku mengangguk dan berusaha menerima nasihatnya. Benar kata Ridho, jodoh, rezeki, maut, semuanya di tangan Tuhan. Aku hanya bisa menjalani takdirnya dengan ikhlas.
"Udah, ah! Dari pada bahas yang sedih sedih, mending kita sekarang kita usaha buat bayi!" ucapnya sambil memainkan kedua alis.
Aku pura-pura menguam dan memejamkan mata. Ridho terbahak, lalu mencium pipiku dengan gemas. Bibirku melengkungkan senyuman karena menahan tawa.
"Ga usah pura-pura lupa gitu jadwal kita!" ujar Ridho.
Aaarghhh! Sepertinya memang tak bisa mengelak lagi.
Ridho mencium kedua kelopak mataku. Mau tak mau aku membuka mata karena geli. Memang pandai sekali dia mencari cara untuk membuatku luluh.
Bibirnya melengkungkan senyuman saat kami bertatapan. Jantungku kembali berdebar tak menentu. Ridho mengecup bibirku dengan lembut dan lama. Aku akhirnya mulai luluh dengan perlakuannya.
Tangannya bergerak lincah di area sensitif tubuhku. Aku terhanyut dengan sentuhan Ridho yang begitu lembut. Kami pun saling menyampaikan kasih dengan cara yang Ridho suka.
Ridho kembali tersenyum saat mendengar eranganku yang berbeda dari sebelumnya. Penyatuan tubuh kami mulai seirama. Napasku kian memburu saat Ridho semakin bersemangat.
Terasa begitu menyesakkan saat sesuatu dalam tubuhku menghentak ingin keluar. Ridho bergerak semakin cepat saat menyadari aku semakin tergoda. Kami pun melepaskan hasrat yang kian membuncah secara bersamaan.
Tubuhku terasa lemas dan penuh keringat. Ridho memelukku erat sebelum beranjak membersihkan diri. Aku pun menyusul saat dia membuka pintu kamar mandi.
__ADS_1
Entah mengapa, kali ini aku begitu percaya diri berjalan di depannya tanpa pakaian. Saat akan masuk ke kamar mandi, Ridho memelukku dari belakang. Bibirnya kembali bergerak di sekitar tengkukku.
Aiih! Sepertinya aku salah langkah. Harusnya aku pakai handuk sebelum ke kamar mandi.
Aku mencoba melonggarkan pelukan. Ridho tak membiarkanku lepas begitu saja. Tangannya mulai bergerilya di tempat yang dia sudah hapal pengaruhnya.
Sudahlah! Mengalah saja, Reva!
"Ini namanya bukan dua ronde, Mas!" seruku.
"Apa?" bisiknya sambil menggoda telingaku.
"Tau, ah!"
Ridho terbahak, tapi tak bicara lagi. Lelakiku kembali sibuk dengan aktivitas yang dia sukai. Semakin gencar menggoda saat tahu aku mulai tak berdaya.
Jujur, aku tak tahu harus menjawab apa. Tepatnya tak bisa berkata-kata lagi karena tahu dia akan semakin semangat membuatku salah tingkah. Aku hanya bisa pasrah dengan keinginannya hari ini.
Ridho membalikkan tubuhku. Aku menundukkan wajah karena malu. Perlahan dia meraih dagu dan kembali ******* bibirku membuatku sedikit kesulitan bernapas.
Hufh! Lupakan saja tubuh yang lelah!
Sepertinya Ridho benar-benar menginginkannya lagi. Aku berusaha menerima perlakuannya dengan sepenuh hati. Anggap saja balasan atas kasih sayangnya selama ini. Tepatnya untuk menghibur hatinya yang sempat bersedih karena memikirkan kondisiku.
Sedikit menyesal tak menerima tawaran makan malam tadi. Tenagaku rasanya semakin berkurang. Bisa-bisa habis setelah ronde ke tiga selesai. Hiks
Usai melewati ronde ke tiga, aku menjatuhkan diri di ranjang karena kelelahan. Tak menyangka Ridho benar-benar memanfaatkan momen ini untuk berbulan madu versinya. Aku menarik selimut untuk menutupi tubuh.
Beberapa saat kemudian, Ridho juga menjatuhkan tubuhnya di sebelahku. Kali ini tanpa bicara atau melakukan apa-apa. Sepertinya dia juga kelelahan. Ridho melingkarkan tangannya di perutku. Tak lama terdengar dengkuran halus dari bibirnya.
Kupandang wajahnya yang terlihat tenang saat tidur. Tanpa sadar wajahku semakin mendekat, lalu mengecup bibirnya sekilas. Ridho bergerak sedikit karena merasa terganggu. Aku pun segera menjauh.
Selamat tidur, Sayangku ....
Semoga Mas selalu sehat ....
Selalu setia di sampingku baik dalam suka maupun duka.
Bersedia menerima keadaanku walau nantinya tak sesuai dengan harapan.
__ADS_1
Jangan lupa vote zheyenk 💕💕