
Masa, Beb? Ridho gimana kelihatannya? Pasti biasa aja, 'kan?" tanya Silvi beruntun membuatku bingung menjawabnya. "Aku lihat Ridho sayang banget sama kamu."
"Ye ... pertanyaan banyak banget, Neng?"
"Habisnya aku kaget dengar cerita kamu. Beneran?"
"Iya. Aku juga sempat kaget. Ga tau, deh. Aku belum bisa nebak apa yang Ridho pikirin."
"Maksud kamu, gimana?"
"Kali ini sikap Ridho agak beda dari sebelumnya. Tapi aku belum siap juga mau nanya-nanya lebih detil tentang cewe itu."
"Aku ga tau harus ngasi pendapat apa karena ga lihat langsung kejadiannya. Coba kamu minta jelasin yang sebenarnya sama Ridho, biar kamu lebih tenang. Ga galau gini jadinya."
"Iya, sih. Tapi aku jadi ketakutan sendiri, Sil. Entah mengapa, aku merasa mereka kayaknya punya hubungan istimewa di masa lalu."
"Itu kan baru tebakan kamu. Lebih baik kamu langsung tanya langsung sama Ridho. Siapa tau mereka cuma temen deket aja."
"Iya, deh. Nanti aku coba tanyain."
"Gitu, donk! Reva yang kukenal dulu santai orangnya. Ga suka pusing sendiri gini."
Aku menjadi lebih tenang setelah menceritakan masalah itu pada Silvi. Lumayan menambah kepercayaan diri yang sempat drop sejak kemarin. Nanti malam, aku akan mencoba bicara pada Ridho.
"Kita pulang, yuk! Tuh, mas-mas yang punya udah ngeliatin dari tadi," bisik Silvi.
Aku terkekeh. "Bener juga. Dipikirnya, ini orang makan udah, tapi belum juga pergi dari sini," sahutku.
Silvi ikut tertawa. "Gitu, deh. Minggu depan jadi datang nikahan Resti?"
"Insya Allah, Sil. Aku udah ngomong sama Ridho. Mudah-mudahan dia bisa ngantar, katanya."
"Ok, deh. See you next week, Beb." Silvi memelukku sebelum kami berpisah.
"Siip. Makasih ya, buat hari ini."
"Sama-sama, Beb. Jangan suka mendem kalau ada masalah. Langsung ngomong aja. WA aku boleh kalau memang butuh tempat curhat."
"Aiih! Mbak Silvi baik bijak banget, sih!"
Sivi tertawa menanggapi godaanku. "Baru tau, ya? Aku kan memang bijak, baik hati, tidak sombong dan gemar menabung!"
"Heleh! Sayangnya masih jomblo!"
"Hiks. Kamu jahat!"
__ADS_1
Aku terbahak. "Becanda sayang ... kan udah punya Deva."
Wajah Silvi langsung semringah. "Eh. Aku aamiinin, deh," ucapnya malu-malu.
Silvi membayar makanan kami. Awalnya niat kumpulan uang, tapi batal karena Silvi ingin mentraktir kami. Sedang ada rezeki lebih katanya.
***
Saat Ridho pulang kerja menjelang Ashar, aku pura-pura tidur. Aku sedang datang bulan hari ini. Terdengar Ridho masuk ke kamar mandi. Tak lama kemudian, keluar dari kamar pergi ke masjid.
Aku beranjak dari ranjang untuk membersihkan diri. Usai mandi, aku keluar untuk mencari Ibu. Kami pun mengobrol sambil melipat pakain. Beberapa saat berlalu, Ridho pulang dari masjid. Dia menyapa kami, lalu masuk ke kamar.
"Kalian bertengkar?" tanya Ibu.
"Ngga ... kok Ibu nanyanya gitu?"
"Kelihatan ngga akur gitu!"
"Perasaan Ibu itu, mah. Kami baik-baik aja, kok."
"Gitu, ya?" Kulirik wajah Ibu yang masih terlihat curiga. "Kamu jadi ketemu temen tadi?"
"Jadi, Bu. Ibu kok ga nunggu Bapak pulangnya?"
"Takut kamu lama ngumpulnya. Cucian kita keujanan nanti."
Ibu hanya tersenyum. "Ngga kepikiran tadi, buru-buru.
Aku menghidupkan TV untuk mengusir rasa jenuh. Acara gosip selebritis sedang tayang di layar kaca. Rumah tangga salah satu artis dikabarkan retak karena orang ke tiga. Aku bergidik ngeri membayangkan ada wanita lain. Jangan sampai menimpa rumah tangga kami.
Saat Ridho akan pergi shalat Magrib bersama Bapak, aku baru kembali ke kamar. Beberapa saat aku termenung sendiri. Rasa penasaran membuatku gelisah sepanjang sore. Aku pun memikirkan pertanyaan yang tepat untuk Ridho tentang wanita itu.
Kok aku jadi gugup gini, ya?
***
Usai makan malam, aku kembali menghabiskan waktu di depan TV. Ibu sempat heran dengan tingkahku, sampai dua kali bertanya.
"Kamu kok tumben betah nonton?"
Aku jawab saja ingin menghabiskan minggu ini di ruang keluarga bersama Ibu dan Bapak. Toh, memang itu juga alasanku sering keluar kamar akhir-akhir ini.
Ibu tak bertanya lagi. Bapak bersikap biasa saja. Kami pun berbincang mengenai rencana kepindahanku dan Ridho. Tentang barang-barang yang harus dibawa atau perlu dibeli.
Pukul sembilan malam, aku baru masuk ke kamar. Mata mulai mengantuk, aku pun pamit pada Bapak dan Ibu. Saat memasuki kamar, Ridho baru saja mematikan laptopnya. Dia berdiri menghadang langkahku menuju ranjang.
__ADS_1
"Kamu ngindar dari mas?"
"Ngga, kok!"
"Tapi mas ngerasanya gitu. Seharian kamu ga mau ngomong sama mas."
"Aku cuma pengen sama-sama Bapak dan Ibu sebelum kita pindah," jawabku sambil mengalihkan pandangan ke arah dinding.
"Tatap mata mas! Kamu ga bisa bohong, Sayang ... aku udah hapal kebiasaan kamu." Ridho meraih daguku agar posisi kami saling bertatapan.
Come on, Reva! Ini mungkin saat yang tepat untuk kamu bertanya.
"Siapa ... Sinta sebenarnya?" Kuberanikan diri untuk bertanya.
Jujur, jantungku berdetak lebih cepat dari sebelumnya. Menyebut nama wanita itu saja membutuhkan kekuatan lebih. Kulihat Ridho berdecak kesal.
"Astaga! Jadi kamu ngindar dari aku masih mikirin Sinta?" tanya Ridho dengan raut tak percaya.
Aku hanya terdiam. Sudah terlanjur bertanya, aku tak akan mundur lagi, menanti Ridho untuk bicara yang sebenarnya. Lelakiku terlihat menghela napas.
"Kan tadi malam aku sudah jelasin kalau kami dulu berteman."
Ada kesungguhan dari kata-katanya. Aku tak berani menatap matanya. Sempat terselip rasa tak enak hati karena sudah meragukan ceritanya.
"Benarkah? Ga ada yang Mas tutupin dari aku?"
"Reva ... please! Untuk apa kita bahas masalah ini berulang kali?"
"Entahlah. Aku merasa hubungan kalian ga cuma sebatas berteman."
Ridho merapatkan jarak di antara kami, ujung jari kaki kami sudah menempel. Aku sedikit gugup karena mendapat tatapan tajam darinya. Namun, aku berusaha tetap fokus dengan apa yang mengganggu pikiran.
"Udah donk, Sayang ... Sinta itu bukan siapa-siapa aku. Dulu dan sekarang. Kita ga usah bahas masalah ini lagi, ya?"
Aku tertegun sejenak. Ridho sepertinya menghindar untuk bercerita lebih lanjut mengenai Sinta. Atau aku saja yang berlebihan?
"Aku-"
Ucapanku terpotong karena Ridho menempelkan jari telunjuknya di bibirku. Aku menarik napas untuk menenangkan diri. Ridho meraihku dalam pelukan.
"Aku ngerti kamu kecewa kemaren. Tapi hubungan kami memang bukan seperti apa yang kamu pikirkan."
"Memangnya ... aku mikirin apa? Sok tau!" Aku sedikit bersungut dengan sikap Ridho yang agak aneh.
"Kami pacaran atau punya hubungan khusus, gitu yang kamu tebak, 'kan?"
__ADS_1
Aku terkesiap. Ternyata Ridho bisa membaca isi hatiku. Memang itu yang melintas dalam benakku. Apa benar mereka tak punya hubungan apa-apa?