
Perjuangan
Perut yang sedikit mulas membuatku terbangun. Kulirik jam di dinding yang menunjukkan angka empat lewat tiga puluh menit. Ternyata belum masuk waktu subuh.
Aku turun perlahan dari ranjang. Saat akan melangkah, tiba-tiba keluar cairan dari bagian bawah tubuhku. Jantungku mulai berdebar cepat karena cemas. Kulirik lantai yang sudah basah, warnanya tak seperti darah.
"Mas, bangun Mas! Aku apa mau melahirkan?" Kusentuh lengan Ridho dengan kuat karena panik.
"Hah?" Ridho langsung bangun dan mengusap wajahnya. "Memang udah waktunya lahiran, Yang?"
Terakhir kami kontrol ke dokter tiga minggu yang lalu. Usiaku memasuki minggu ke tiga dua. Perkiraan lahir akhir bulan atau awal bulan depan. Sekarang baru tanggal dua belas.
"Ga tau aku, Mas. Tapi ada keluar cairan di lantai. Aku ... bingung."
Ridho bangkit dari ranjang dan melihat lantai yang kutunjuk. Dahinya mengernyit pertanda tak mengerti. Tak lama kemudian, terlihat gurat cemas di wajahnya.
"Kita ke bidan sekarang, ya?"
Aku bersyukur Ridho tak ikut panik ."Iya, Mas. Aku mandi bentar."
Ridho mengangguk pelan. Aku bergegas ke kamar mandi. Saat mengganti pakaian, suamiku shalat Subuh di rumah saja. Supaya bisa bergegas pergi, takut ada apa-apa denganku bila ditinggal.
Kami pergi ke bidan yang lokasinya kliniknya dekat dengan rumah Ibu. Dulu juga pernah periksa sekali karena aku mengalami kontraksi palsu saat di rumah orang tua. Setibanya di sana, matahari sudah mulai bersinar. Ridho mengetuk pintu klinik yang masih tertutup.
"Ya. Kenapa, Mas?" tanya wanita muda setelah menjawab salam kami.
"Istri saya sepertinya mau melahirkan, Mbak. Ada keluar cairan gitu."
"Cairan? Masuk dulu, Mas. Ibu bidan sedang mandi."
"Baik, Mbak."
Kami pun dibawa masuk ke ruangan periksa. Di sana ada tempat tidur dan juga sofa. Tak lama kemudian, sang bidan keluar. Dia menyapa kami dengan ramah.
"Gimana, Mbak? Ada masalah?"
"Tadi subuh keluar cairan dari V saya, Bu."
"Banyak? Sekarang masih keluar?"
"Masih, Bu. Sedikit-sedikit, sih."
"Ketubannya merembes itu, Mbak. Masnya beli pembalut, ya. Biar ga basah terus celananya."
"Baik, Bu. Istri saya gimana, Bu?"
"Kita periksa bentar lagi. Biar asisten saya siapin dulu peralatannya."
__ADS_1
"Iya, Bu. Saya hubungi keluarga dulu."
Ridho pun menghubungi Ibu agar datang ke tempat kami. Lima belas menit menunggu, Ibu dan Bapak tiba di klinik. Wajah mereka terlihat cemas.
"Udah ada tanda mau lahiran, Nak?" tanya Ibu.
Aku berusaha menguatkan diri. "Ketubannya merembes kata Bu bidan, Bu."
"Ya Allah. Semoga ga terjadi apa-apa, ya. Jadi gimana selanjutnya?"
"Nanti diperiksa dulu kata Bidannya. Ridho keluar bentar ya, Bu. Diminta Bidan beli pembalut."
"Iya, Nak. Biar kami yang tungguin Reva."
Sepeninggal Ridho aku diminta berbaring di ranjang. Agar cairannya tak terlalu banyak keluar. Ibu memintaku untuk kuat dan sabar. Mungkin takut drop mengingat kehamilan pertama dulu.
"Banyak-banyak berdoa ya, Nak. Serahkan semua harapan pada Allah."
"Iya, Bu." Aku melantunkan harapan dalam hati sambil mengelus perut.
"Mertua kamu sudah dihubungi?"
"Ga tau, Bu. Ridho yang pegang HP."
"Gitu, ya? Mungkin udah Ridho kabari."
Aku hanya mengangguk. Ibu memijit kepalaku sambil terus memintaku berdoa. Beberapa saat kemudian bidan dan asistennya datang ke ruangan. Mereka melakukan VT (****** Test) untuk memeriksa bukaan.
"Belum ada bukaan, Mbak. Kita tunggu dulu sampai siang, ya. Kalau belum ada perkembangan, terpaksa dioperasi."
Aku membelalakkan mata. Sangat terkejut dengan hal yang diucapkan bidan. "O-operasi, Bu?"
"Iya, Mbak. Takut terjadi apa-apa sama bayinya kalau lama ditindak. Bisa saja ketubannya kering."
"Ya Allah!" Aku memejamkan mata.
Tak terasa air mataku menetes. Kubelai perutku dengan lembut. Berharap calon buah hatiku kuat bertahan.
"Tapi memang sudah waktunya, Bu bidan?" tanya Ibu.
"Sabar, Bu. Kita periksa dulu kondisi janinnya," sahut bidan sambil tersenyum. "Dek, tolong alat pendeteksi jantung bayi," pintanya pada asisten.
Asisten bidan bergegas memberikan alat pendeteksi. Bidan meletakkan alat itu di perutku. Terdengar getaran dan suara seperti denyut.
"Itu suara denyut jantungnya. Sudah bisa dilahirkan," jelas sang bidan setelah selesai memeriksa.
Kami hanya bisa mengangguk. Terdengar suara langkah di depan. Ridho sudah kembali dengan beberapa bungkusan di tangannya.
__ADS_1
"Silakan dibantu Mbaknya pasang pembalut. Boleh makan dulu biar ada Mbak Reva ada tenaga."
"Baik, Bu." Ridho membantuku berdiri dan berjalan ke kamar mandi.
"Sakit, Yang?"
Aku menggeleng pelan. "Aku ... gugup, Mas. Takut."
"Jangan cemas, Sayang ... yakin aja Allah bakal kasih karunianya kalau memang itu milik kita."
Kuhela napas yang terasa sesak. "Iya, Mas. Aamiin."
Kembali ke ruangan, Ibu sedang menyiapkan makanan untukku. Memasukkan nasi uduk yang dibeli Ridho tadi ke dalam piring. Ibu menyendok nasi dan mau menyuapiku makan.
"Biar aku sendiri aja, Bu. Masih bisa, kok."
"Ngga papa, Sayang. Reva duduk aja."
Akhirnya aku mengalah membiarkan Ibu melakukan keinginannya. Ibu menyuapkan nasi perlahan sambil menyemangatiku. Ridho mengelus puncak kepalaku, lalu keluar menemui Bapak.
Satu jam berlalu, bidan masuk untuk melakukan VT lagi. Ridho menggenggam jemariku erat. Kutahan suara jeritan yang ingin keluar. Terlihat raut khawatir di wajah Ridho.
"Baru bukaan satu, Mbak. Kalau dua jam lagi bukaannya ga nambah, sepertinya harus dilahirkan melalui operasi."
***
Tak terasa sudah dua jam berlalu. Bidan melakukan VT kembali. Aku hanya meringis menahan rasa sakit. Ridho memelukku setelah bidan selesai melaksanakan tugasnya.
"Tetap bukaan satu. Kita siap-siap ke rumah sakit, ya."
"Beneran ga bisa lahir secara normal, Bu?" tanyaku, sedikit ngilu membayangkan perut akan dibedah.
Sang bidan menggeleng. "Kasihan bayinya. Bawa semua perlengkapan lahiran ke rumah sakit, ya. Saya telpon dokter dulu."
Terdengar sang bidan menghubungi seorang dokter. Dia menceritakan kondisiku. Dicapai kesepakatan operasi akan dilaksanakan siang ini juga.
"Dokternya sekarang ada jadwal sc di sana. Kita ke sana sebentar lagi, ya. Jam dua siang sudah bisa masuk ruangan OK."
"Baik, Bu. Makasih," sahut Ridho.
Aku hanya mengangguk pasrah. Menyerahkan semua yang akan terjadi pada Tuhan Sang pemilik alam. Terus saja melangitkan doa agar proses lahiran buah hati kami lancar dan selamat.
"Oh iya. Mbaknya silakan meminta maaf dan memohon restu sama orang tua, ya. Agar proses lahirannya dimudahkan."
"Iya, Bu. Makasih."
Aku pun mendekati Ibu dan mencium tangannya. "Maafin kalau aku ada salah ya, Bu. Doakan aku dan bayiku."
__ADS_1
"Iya, Nak. Pasti kami doakan yang terbaik untuk kalian."
Aku melakukan hal yang sama pada Bapak. Cinta pertamaku hanya mengangguk dan mengelus puncak kepala anaknya. Hatiku dipenuhi keharuan.