
Aku terbangun pukul setengah lima subuh. Turun perlahan dari ranjang agar Ridho tak terbangun. Berjalan sedikit mengendap menuju kamar mandi. Dadaku sedikit berdebar saat membuka alat tes kehamilan yang dibeli Ridho kemaren.
Kubaca kalimat 'Basmallah' sebelum mencelupkan benda tipis itu ke dalam tampungan air seni. Beberapa saat aku memejamkan mata. Kupasrahkan hasilnya pada Yang Kuasa.
Dua menit kemudian, aku membuka mata. Dua garis yang awalnya samar terlihat semakin jelas. Kubuka mata lebih lebar, tak percaya dengan hasil kerja testpack. Benarkah hasilnya positif?
Ternyata memang terdapat dua garis di sana. Beribu syukur aku ucapkan dalam hati. Aku membuka pintu kamar mandi agar ada celah untuk melihat Ridho. Suamiku terlihat masih nyenyak dalam tidurnya.
Aku pun duduk di tepi ranjang. Ridho terbangun karena gerakan tiba-tiba yang kutimbulkan. Matanya yang mengantuk dipaksa membuka. Kupasang wajah sedatar mungkin.
"Kamu kenapa?" tanyanya dengan dahi berkerut.
Aku hanya menggeleng pelan. Ridho terlihat berusaha mengumpulkan kesadarannya. Melihat istrinya masih diam, dia beranjak bangun, lalu duduk di sampingku.
"Hasilnya negatif, ya?" tanyanya sambil menggenggam jemariku. "Ngga papa, kok. Kita coba lagi nanti." Ridho menghiburku dengan sedikit bercanda.
Dengan susah payah, aku menahan senyum yang ingin terkembang. Akhirnya aku tak bisa menahannya lagi. Begitu sulit menyimpan kabar gembira saat melihat wajahnya berubah muram. Perlahan aku mengeluarkan alat test kehamilan itu dari dalam kantong piyama. Ridho meraih benda itu dari genggamanku.
Matanya terbelalak saat melihat hasilnya. "Kamu hamil?" tanyanya dengan penuh semangat.
Aku mengangguk dan memberikan senyuman terbaik pada Ridho. Laki-laki jangkung itu meraihku dalam pelukan. Aku sedikit kesusahan bernapas karena dekapan yang erat.
"Maaf ... mas sangat terkejut dan bahagia."
"Iya, Masku sayang ... selamat ya ... semoga kali ini bisa mendengar panggilan ayah dari anak kita."
"Aamiin. Makasih, Sayangku." Ridho mengecup keningku lama.
Aku menenggelamkan tubuh dalam pelukannya. Tak terasa air mata meleleh di pipi. Ridho mengucapkan kalimat syukur berulang-ulang.
Beberapa saat kami terdiam dengan posisi saling memeluk. Ridho mengangkat kepalaku saat menyadari isakku terdengar. Aku tak bisa menahan rasa haru yang menyeruak.
"Kamu kenapa?" Ridho menghapus air mata di pipiku.
"Aku ... aku ngga nyangka, Mas ... Allah kasih kesempatan hamil lagi sekarang."
"Jangan ngomong gitu, Sayang ... Allah percaya sama kamu artinya."
Aku hanya bisa mengangguk. Segenap rasa bahagia mendesak di dada. Namun, aku berusaha meredamnya, sedikit trauma dengan peristiwa keguguran enam bulan yang lalu.
"Oh iya. Kita ga usah datang ke acara temen kamu, ya? Kadonya titip Silvi aja. Pasti mereka ngerti keadaan kamu."
Walau sedikit kecewa tak jadi pergi, aku berusaha mengerti perasaan Ridho. Dia pasti takut terjadi apa-apa padaku. Aku pun tak ingin gegabah lagi kehamilan sekali ini.
"Iya, Mas. Nanti aku hubungi Silvi."
__ADS_1
Sebelum menghubungi Silvi, aku memberi kabar bahagia pada Ibu dulu. Rasanya tak adil saja, ada orang lain yang tahu tentang kehamilanku sebelum Ibu. Aku menarik napas saat mendengar Ibu menjawab salam.
"Aku ... hamil lagi, Bu."
"Oh ya? Selamat ya, Nak ... jaga baik-baik kandungan kamu. Jangan banyak gerak dulu."
"Alhamdulillah. Makasih ya, Bu."
"Iya, Sayang. Besok atau lusa Ibu ke sana, ya."
"Ok, Bu."
Aku pun memutuskan panggilan setelah Ibu menjawab salam. Terbayang wajah Ibu yang semringah mendengar kabar kehamilanku. Tentu saja dia bahagia karena hanya punya anak semata wayang selama ini.
Ridho pamit keluar untuk membeli sarapan kami pagi ini. Dia tak mengizinkan aku memasak. Menyimpan lagi bahan yang aku keluarkan dari kulkas saat melihatku di dapur. Bibirku melengkungkan senyuman melihat punggungnya menjauh.
Aku meraih gawai di meja. Mengetik pesan untuk Silvi. Kuhapus lagi kabar baik yang hampir terkirim.
Lebih baik aku telpon aja, ah. Biar lebih surprise untuk Silvi.
"Assalamualaikum, Beb."
"Waalaikumsalam. Maaf, Sil ... aku ga jadi pergi ke nikahan Rena."
"Yah ... kenapa, Beb?"
"Kamu sakit?"
"Aku ... aku hamil lagi, Sil."
"Hah?" Silvi terdiam beberapa saat. "Beneran, Beb? Selamat, ya!" Suara Silvi terdengar antusias.
"Iya, Sil. Makasih. Kado buat Rena aku antar ke rumah kamu aja gimana?"
"Nanti aku samperin aja, Beb. Kamu tunggu di rumah aja, Ok?"
"Deh ... baik bener. Makasih, Cinta."
"Tumben mesra?"
Aku terbahak mendengar suara Silvi yang terdengar jutek. "Aku tarik lagi, nih!"
Silvi ikut tertawa. "Dasar gaje!"
Kami mengobrol sebentar. Aku mematikan panggilan saat Ridho kembali ke rumah. Dia membawa banyak bungkusan di tangannya.
__ADS_1
"Banyak banget, Mas? Buat siapa aja?"
"Buat kamu, donk! Habisin!"
"Deh ... dua porsi masih bisa lah ... Lima porsi? Bisa pecah perut aku, Mas!"
Ridho terbahak. "Habisnya kemaren mas lihat kamu semangat banget makannya. Kasih untuk Silvi pas antar kado aja."
"Oh iya. Pas banget. Dia mau nyamperin ke sini katanya."
"Wah, bisa santai kita!"
"Iya, Mas. Kita makan, yuk!"
Aku mengambil peralatan makan di rak. Memindahkan isi bungkusan ke piring. Ridho membeli macam-macam sarapan. Nasi uduk, lontong sayur, juga gado-gado.
Sarapan pagi ini terasa berbeda dari biasanya. Ridho berulang kali menatapku dan tersenyum. Aku memutar bola mata, sedikit risih melihat tingkahnya.
"Mas ngapain, sih?"
"Ngga ... ngga papa," sahutnya sambil tersenyum.
Aku menghela napas. Sepertinya Ridho begitu semangat dengan kehamilanku. Dalam hati aku berdoa, semoga calon bayi kami selamat sampai lahiran.
Usai sarapan, Ridho memintaku beristirahat. Dia ingin mengambil alih pekerjaan rumah hari ini. Aku pun duduk di ruang keluarga sambil sesekali menggodanya.
"Yang bersih ya, Pak .. nyapunya."
Ridho yang awalnya cemberut, lama-lama tertawa karena keusilanku. Aku mencium pipinya saat Ridho mengepel lantai. Sebenarnya ada rasa tak tega, tapi Ridho benar-benar tak mengizinkanku membantunya.
Setiap lewat di depanku, Ridho tersenyum sambil mengacak rambutku. Terkadang kami saling menjawil pipi dengan gemas. Aku mengikuti permainan Ridho walau merasa tingkah kami sangat lebay.
Setelah menemani Ridho menyelesaikan semua pekerjaan, aku memutuskan untuk mandi. Ridho masih beristirahat melepas lelah. Kupeluk tubuhnya saat keluar dari kamar mandi.
"Nah, nah ... mau ngapain peluk-peluk, nih?" tanyanya dengan nada usil.
Ampun, deh! Ini cowo ga bisa disentuh dikit, suka usil omongannya.
Aku mengerucutkan bibir karena gemas. "Ngga ngapa-ngapain, Mas. Cuma kasihan aja lihat mas kecapean, gitu."
Laki-laki bermata tajam itu tertawa berderai. "Kok gugup gitu jawabnya? Mas ga kecapean, kok. Lagian, kamu yang tiap hari ngerjain semuanya selama ini, biasa aja, 'kan?"
Aku hanya bisa tersenyum mendengar ucapannya. Ah, suamiku paling bisa menyenangkan hati. Kadang aku merasa tak begitu pantas menjadi istrinya, belum bisa menjadi yang terbaik.
Jangan lupa like dan komen yang greget 😘😘
__ADS_1
Kasih point juga kalau berkenan 😍