Suami Romantis (Jodoh Pasti Bertemu) Oleh Meisy T

Suami Romantis (Jodoh Pasti Bertemu) Oleh Meisy T
Badai yang Menghempaskan Asa


__ADS_3

Aku mengangguk pelan. Lagi-lagi bersyukur dengan perhatian dari Ridho. Andai dia tak pandai menenangkan, aku sudah drop dengan kondisi sekarang.


Ridho bangkit dari ranjang, mencium keningku, lalu keluar dari kamar. Tinggallah aku sendiri, mencoba memejamkan mata. Perlahan aku melafazkan zikir, berusaha menenangkan diri.


Beberapa waktu aku mencoba untuk tidur, tapi tak bisa. Pikiranku malah mengembara tak tentu arah. Terdengar adzan berkumandang dari masjid. Aku pun berusaha bangkit dari ranjang.


Pintu berderit dan terbuka. Sosok Ridho berdiri di sana, mungkin akan bersiap ke masjid. Ridho bergegas melangkah mendekatiku.


"Kamu mau kemana, Sayang?"


"Aku mau shalat, Mas."


"Bisa jalannya? Mas bantu, ya."


"Ga usah, Mas. Aku udah baikan, kok. Mas mau ke masjid, 'kan? Nanti telat shalat jamaahnya."


"Beneran? Mas bisa shalat di rumah, kok."


"Iya. Mas tenang aja," ucapku sambil tersenyum.


Ridho mengambil peci, lalu keluar kamar. Aku pun berjalan pelan menuju kamar mandi. Tak terlihat sosok Bunda. Sepertinya sedang istirahat di kamar.


Usai membersihkan diri dan mengganti pakaian, aku mengambil wudhu. Kembali ke kamar, aku melaksanakan shalat Zuhur. Kutengadahkan tangan meminta pertolongan dari Tuhan untuk kami.


Air mata kembali menitik. Tak ada kuasa seorang hamba selain sesuai dengan kehendaknya. Terpekur sejenak merenungkan hal yang sedang terjadi. Entah mengapa, aku merasa sangat lemah kali ini.


Saat melipat mukena, Ridho sudah kembali dari masjid. Aku tersenyum padanya. Ridho mendekat, lau memeriksa kondisi tubuhku.


"Kamu baik-baik aja?"


"Iya, Mas."


"Sekarang makan, ya. Mas temenin."


Aku hanya mengangguk. Kami pun berjalan bersisian menuju ruang makan. Ridho mengambil piring, mengisinya dengan nasi dan lauk. Aku sedikit mual saat dia mulai menyuapi.


"Ayo, dimakan," bujuknya.


"Sayurnya beli ya, Mas?"


"Iya. Mas keluar bentar pas kamu tidur tadi. Bunda ikut panik karena kamu jatuh, akhirnya ga jadi masak," jelasnya. "Kenapa? Ga enak?"


"Ga ngerti, tapi aku agak mual, Mas. Mungkin pengaruh bumbunya kali, ya?"


"Kamu mau Mas belikan sesuatu? Ada selera makanan yang lain?"

__ADS_1


"Ga usah. Ini aja, Mas."


Aku merasa tak enak hati harus membuat Ridho repot lagi. Dia pasti cukup lelah hari ini. Setelah membantu Ayah dan Bunda, hampir setengah hari dia mengurusiku.


Saat suapan ke lima, aku menggelengkan kepala. "Udah ya, Mas. Aku kenyang," ucapku.


Ridho menghentikan kegiatannya menyuapiku. "Ya udah. Nanti ngomong aja kalau selera yang lain, biar aku belikan."


Aku hanya mengangguk. Ridho sepertinya paham kalau aku tak sanggup lagi menghabiskan nasi dan lauk itu. Lelakiku meletakkan piring bekas makan ke wastafel. Kami pun kembali ke kamar.


Saat akan berbaring, aku merasa ada sesuatu yang menetes di bagian bawah tubuh. Darahku sedikit berdesir. Rasa panik kembali melanda, dua kali lipat dari kejadian tadi pagi.


Langkahku terhenti karena tubuh yang mendadak kaku. Ridho yang sedang memeluk pinggangku juga ikut berhenti. Pandangannya kembali menyiratkan kecemasan.


"Kamu kenapa?" tanyanya.


Aku berusaha menenangkan diri. Kuhirup napas untuk mengurangi rasa panik. "Kayaknya aku berdarah, Mas," sahutku dengan suara lirih.


Tubuhku sedikit gemetar karena ketakutan yang tiba-tiba menyerang. Perasaanku tak bisa lagi digambarkan dengan kata-kata. Ridho berpindah posisi sehingga kami berhadapan agar bisa melihat wajahku.


"Bedarah? Gimana maksudnya?"


"Aku ga tau, Mas. Aku ... takut." Kututup wajah dengan kedua telapak tangan.


Ya Allah ...aku benar-benar tak tahu apa yang harus kulakukan sekarang.


"Kamu tenang dulu, Sayang ... tarik napas dulu, cerita yang jelas sama aku."


Aku beristigfar lalu menjatuhkan tangan ke samping tubuh. "Gimana kalau bayinya udah ga ada, Mas?"


Ridho sepertinya mulai paham dengan maksudku. Wajahnya berubah dari panik menjadi mendung. Hatiku sangat sakit melihat kekecewaan yang tergambar di sana, walau hanya sejenak. Ridho menghela napas, lalu membelai pipiku.


"Kita ke rumah sakit sekarang. Aku kasih tau Bunda dulu ya, biar bisa siap-siap."


Aku hanya mengangguk pasrah. Ridho bergegas keluar memanggil Ibunya. Aku tak berani duduk atau berbaring, hanya berdiri di dekat ranjang. Tak lama kemudian, Ridho datang bersama Bunda.


"Kamu tenang dulu, ya. Jangan panik agar janinnya selamat," ucap Bunda. "Ridho cepat bawa Reva ke rumah sakit. Nanti Bunda nyusul bawa tas kalian, Bunda mau cari kain dan perlengkapan lain dulu."


"Iya, Bun."


Ridho segera menuntunku menuju mobil. Saat duduk di mobil, pandanganku mulai samar, kepala terasa berputar. Perlahan kesadaranku hilang.


"Reva?"


Ridho menoleh ke arahku. Tangannya menepuk bahuku pelan. Aku tak bisa lagi mendengar kata yang lain karena semuanya berubah menjadi gelap.

__ADS_1


***


Saat terbangun, aku sudah berbaring di ranjang beralas seprai putih. Jarum infus sudah menancap di lengan kiriku. Sepertinya aku berada di sebuah ruangan rumah sakit.


Aku berusaha mengingat kejadian sebelumnya. Rasa khawatir kembali menyerang. Kulihat Ridho berdiri tak jauh dari ranjang, sedang menghubungi seseorang.


"Iya, Pak. Kami di rumah sakit Raflesya sekarang."


"...."


"Reva belum sadar, Pak. Tapi udah ditangani dokter tadi."


Jantungku berdetak kencang. Sepertinya Ridho menghubungi Bapak. Pikiranku mendadak gusar. Apa yang sebenarnya terjadi?


Tanganku bergerak pelan menyentuh perut. Sakit. Ngilu. Entah rasa apa yang cocok untuk menggambarkannya. Pikiran buruk kembali memenuhi kepalaku.


Ya Allah ... apa aku sudah kehilangan bayiku?


Isak tangisku mulai keluar. Ridho yang mendengarnya terlihat terkejut dan langsung menghampiriku. Tangannya menggenggam jemariku erat.


"Kamu yang sabar ya ... harus kuat!"


"Jujur sama aku, Mas. Apa yang sebenarnya terjadi?"


Ridho menarik napas pelan sebelum menjawab pertanyaanku. Aku mulai percaya dengan keyakinan yang sebelumnya menghampiri. Calon bayi kami tak bisa diselamatkan?


"Bayi kita udah ga ada ... kamu harus tabah. Ini ujian untuk kita. Allah lebih menginginkannya untuk kembali."


"Ga mungkin. Mas ... aku mau bayiku. Mana bayiku?" Aku mulai histeris setelah mendengar kata-kata Ridho.


"Udah, Sayang ... mungkin belum rezeki kita untuk sekarang." Mata Ridho terlihat berkaca-kaca.


"Mas! Kamu tega! Kamu ga ngerti perasaan aku."


Ridho membungkukkan badan untuk memelukku. "Sabar, Sayang ... istigfar ... Jangan gini! Mas sedih jadinya. Mas juga sangat mengharapkan dia lahir dengan selamat. Tapi takdir Allah berkata lain."


Bahuku berguncang menahan tangis. Rasanya seperti nyawa tercabut dari badan. Mengapa sesakit ini ya, Tuhan?


"Kenapa, Mas? Kenapa ga bisa bertahan?" Ucapanku mulai tak bisa dikendalikan.


Ridho membelai kepalaku yang masih terbungkus jilbab. Aku hanya terdiam dengan pikiran yang kosong. Sampai tak perduli saat dia mencium pipi juga keningku.


Terima kasih, buat teman-teman yang sudah vote 😘😘


Caranya ambil aja poin online kita pas baca novel. Tulisan poinku ada di sudut kanan atas. Nanti pas buka cerita ini, pilih vote. Tinggal kasih poin yang kamu punya untuk penulis. Biar rangkingnya naik dan penulis tambah semangat. ❤❤

__ADS_1


__ADS_2