Suami Romantis (Jodoh Pasti Bertemu) Oleh Meisy T

Suami Romantis (Jodoh Pasti Bertemu) Oleh Meisy T
Suasana Haru


__ADS_3

Aku terbangun saat ada sentuhan lembut menyentuh pipi. Berusaha membuka mata yang terasa lengket. Wajah tampan Ridho yang awalnya samar mulai terlihat.


"Mas ... udah pulang?"


"Iya. Barusan. Maaf, udah ganggu istirahatnya ya ... mas ada kabar baik."


"Ya?" Aku berusaha tersadar sepenuhnya karrna penasaran melihat raut semringah di wajahnya.


"Tadi udah dapat rumahnya. Sekitar setengah jam dari sini. Besok Mas ajak kamu lihat dulu. Kalau kamu suka, baru kita hubungi yang punya," ceritanya penuh semangat.


Begitu. Aku sampai lupa dia tadi pamit ingi mencari rumah. Bibirku melengkungkan senyuman. Aku mengangguk sambil menyentuh wajahnya. "Iya, Mas. Besok aku ikut ke sana."


"Ya udah. Mas siap-siap ke masjid dulu ya. Bentar lagi adzan Ashar."


"Okesiip."


Ridho pun beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Mengambil pecinya, tersenyum sejenak padaku. Kutatap punggungnya yang berjalan menuju pintu.


Sungguh aku merasa beruntung memilikinya.


I love you so, much, Mas.


***


Usai mandi, aku pun melaksanakan shalat Ashar. Menyempatkan diri membaca beberapa lembar ayat Allah. Pikiranku semakin tenang. Kondisi tubuhku juga terasa membaik beberapa hari ini.


Terdengar suara derit pintu dibuka. Ridho berjalan mendekat padaku. Aku pun tersenyum padanya.


"Ganti baju, gih?"


"Hah?"


"Kita jalan-jalan, yuk! Atau nonton, mau? Udah lama ga ke bioskop, 'kan?"


Benar. Sepertinya ke bioskop cukup menarik. Hampir satu minggu di rumah saja, lumayan membuatku jenuh.


"Boleh juga. Mas tau film yang sedang tayang?"


"Ga tau. Kita langsung lihat aja ke sana."


Aku bergegas bersiap untuk. Memggunakan gamis berwarna maroon dengan jilbab senada. Aku pun memilihkan kemeja berwarna putih untuk Ridho. Setelah bersiap, kami pamit pada Bapak dan Ibu.


Setibanya di bioskop, Ridho memilih film 'Habibie dan Ainun. Aku hanya mengangguk setuju. Kami pun masuk ke dalam teater saat lampu dimatikan.


Selama film berlangsung, Ridho menggenggam tanganku. Kesetiaan dan kesabaran Ibu Ainun mendampingi Pak Habibie membuatku terharu. Ridho juga cukup menikmati jalan ceritanya.


"Mau makan apa?" tanya Ridho setelah kami selesai menonton film.


"Apa aja, Mas."

__ADS_1


"Makanan apa, tuh?"


"Ish, Mas, nih!"


Ridho terkekeh pelan. "Habisnya ditanyain jawabnya sering gitu."


"Eng ... nasi goreng aja, deh."


"Tumben?"


"Lagi pengen aja."


"Okesiip."


Kami pun masuk ke salah gerai makanan yang menyediakan nasi goreng. Ridho juga memesan dua gelas jus pokat. Tak sadar piringku sudah bersih karena rasa nasi gorengnya cukup enak. Padahal aku bukan penyuka nasi.


Usai makan, Ridho mengajakku berkeliling sebentar di pusat perbelanjaan. Sesekali menawariku membeli pakaian atau barang lain. Aku malah melihat-lihat koleksi pakaian pria. Selama ini belum pernah membelikan sesuatu untuk suamiku.


Mataku terhenti pada batik couple di salah satu deretan pajangan pakaian. Aku menarik tangan Ridho untuk masuk ke sana. Walau sedikit heran melihat istrinya yang terlalu bersemangat, Ridho mengikutiku.


"Ada yang kamu suka?" bisiknya.


Tanganku menunjuk ke pasangan batik laki-laki dan gaun wanita itu. "Bagus ya, Mas?"


Ridho tertegun sejenak. "Lumayan. Ambil aja kalau kamu suka."


"Maksudku cocok, ga?" tanyaku sedikit canggung.


Aku tersenyum malu, lalu mengangguk pelan. Belum pernah membayangkan kami memakai pakaian dengan motif yang sama. Takut Ridho kurang nyaman.


"No problem. Mau dua pasang juga ga papa."


Aku sedikit terperangah mendengar ucapannya. "Satu aja," bisikku. "Ng ... takut duitnya kurang."


Ridho terkekeh pelan. "Duit Mas banyak," balasnya setengah berbisik.


"Mas, nih!" keluhku mendengar candaannya. "Kali ini aku yang bayar."


Ridho sedikit mengernyitkan dahinya. Aku tak berniat menanggapinya lagi. Berjalan pelan mendekati pakaian yang menarik hati itu. Meraba bahannya dan mengira-ngira bentuknya saat kami pakai.


"Ada yang bisa saya bantu, Mbak?" tanya salah satu pramuniaga setelah mendekat.


"Tolong turunin, Mbak," jawabku sopan. "Saya dan suami mau coba, boleh?"


"Baik, Mbak."


Aku hanya mengepaskan gaun itu ke badan sekilas. Setelah merasa cukup, mengambil baju untuk Ridho dan meletakkan di bagian depan tubuhnya. Lelakiku tersenyum malu, tapi tak menolaknya.


Aiih! Wajahnya yang sedikit merona membuatku gemas.

__ADS_1


"Bagus itu, Mbak," komentar sang pramuniaga.


Aku tersenyum semringah karena merasakan hal yang sama. "Ya udah. Saya ambil yang ini aja, Mbak."


"Iya, Mbak."


Saat pramuniaga membungkus belanjaan, aku mengeluarkan uang dari dompet. Hasilku mengajar selama beberapa bulan kemaren. Masih ada sisa untuk membeli sesuatu untuk Bapak dan Ibu.


Aku mendelik saat Ridho kembali protes. Dia menggaruk kepala yang kuyakin tak gatal. Biar saja dia merasa risih, nanti saja aku jelaskan di rumah.


"Habis ini temenin aku cari buat Bapak dan Ibu juga ya, Mas."


"Di sini ga ada?"


"Terlalu muda gayanya," jawabku sambil terkekeh.


"Eh. Iya juga."


Wajah Ridho kembali merona. Membuat pikiranku menjadi tak fokus. Ah ... andai sedang di dalam kamar, sudah kucium pipinya dengan gemas.


Setelah menerima bungkusan dari pramuniaga, kami kembali berkeliling ke beberapa toko. Akhirnya aku membeli gamis untuk Ibu dan baju batik untuk Bapak. Ridho sempat memaksa ingin membayar, tapi aku bergerak lebih cepat darinya.


Merasa sudah cukup, aku mengajak Ridho pulang. Sedikit malu karena kami berjalan keluar bergandengan tangan. Ridho menggenggamnya semakin erat saat aku awalnya terkejut.


Seketika teringat kejadian beberapa bulan yang lalu. Saat kami bertemu Nisa di sini. Waktu itu Ridho juga melakukan hal yang sama. Namun, aku malah menikmatinya karena sempat melihat tatapan kurang suka dari wanita itu.


"Kok ga mau Mas bayarin tadi?" tanya Ridho saat kami sudah di dalam mobil.


Aku menghela napas sejenak. Sebenarnya ingin membahasnya di rumah saja nanti agar suasananya lebih nyaman. Namun, Ridho sudah tak sabar sepertinya.


"Selama ini Mas yang selalu beliin aku ini itu. Aku belum pernah kasih apa-apa buat Mas."


Saat pertama kali menerima gaji, aku sempat ingin membelikan mereka sesuatu seperti ini. Hanya saja, peristiwa sedih itu membuatku tak bersemangat lagi. Aku sampai lupa dengan niat awalku.


"Kan memang sudah kewajiban Mas, Sayang."


"Iya, Mas. Aku pengen aja beliin Mas sesuatu dari hasil ngajar kemaren. Buat Bapak dan Ibu juga.


Ridho menatapku dengan pandangan haru. Sepertinya dia mulai mengerti dengan apa yang aku rasakan. Tangannya meraih jemariku untuk digenggam.


"Makasih ya ... maaf Mas tadi sempat ga paham sama keinginan kamu," matanya mengerjap pelan.


"Iya, Mas. Ini ga seberapa dibandingkan dengan apa yang udah Mas berikan selama ini."


Kami saling menatap beberapa saat. Berusaha menyelami perasaan masing-masing. Ah ... rasanya tak ingin momen ini cepat berakhir.


Terima kasih buat teman-teman yang sudah vote 💕💕


Ada yang pernah request versi lain Ridho dan Reva. Aku belum nemu versi Koreanya. Ini dapetnya versi India dulu, ya ❤❤

__ADS_1



__ADS_2