
Aku spontan menoleh ke samping kanan, di mana seorang laki-laki baru turun dari motor. Garis wajahnya mengingatkan aku pada seseorang. Ingatanku terasa samar. Perlahan dia mendekat ke arah kami.
"Kamu Reva, 'kan?" Dia memberikan senyuman hangat padaku. "Kamu ga ingat sama aku?"
Aku menatap wajahnya dengan seksama. Sekarang ingatanku mulai jelas. Dadaku sedikit berdebar setelah menyadari siapa pria yang berdiri di depanku. Aku mengalihkan pandangan pada Ridho. Benar saja, di wajahnya tergambar raut tak suka.
Aku kembali menoleh pada Rian yang sudah mengulurkan tangan. Kurapatkan kedua tangan di dada. Rian sepertinya mengerti, lalu menurunkan tangannya.
"Udah ingat, 'kan?" tanya Rian kembali. "Kamu apa kabar?"
Aku mengangguk pelan. "Alhamdulillah sehat. Kamu juga kerja di sini atau ada keperluan?"
"Usaha bersama, merintis sama teman," jelasnya. "Kemaren sempat dikabari ada guru baru. Ga nyangka kamu yang melamar."
Aku memang tak sempat mencari tahu siapa pemilik bimbingan belajar ini. Hanya membaca info lowongan kerja di koran. Mengetahui lokasinya dekat dari rumah, aku langsung mengantar lamaran.
Siapa yang menyangka akan bertemu dengan Rian di sini. Apalagi dia salah satu pemiliknya ternyata. Aku menahan napas berusaha bersikap tenang di depan Ridho.
"Eh. Iya."
Aku menoleh pada Ridho untuk mengenalkannya pada Rian, tapi sorot matanya tak bersahabat. Di sana terbaca jelas, 'Ayo, pulang!'. Aku pun membatalkan niat mengenalkan mereka. Takut Ridho menunjukkan sikap buruknya di sini.
"Aku pulang dulu, ya."
Rian menatap heran, tapi mengangguk juga. Bergegas kuhidupkan mesin motor, lalu melajukannya ke jalan raya. Ridho menyusul di belakangku.
Setibanya di rumah, Bapak sedang duduk di teras. Kami pun mengucapkan salam. Ridho duduk di kursi yang bersebrangan dengan Bapak.
"Gimana kerjanya?" Bapak bertanya padaku.
"Alhamdulillah lancar, Pak. Hari pertama cuma ngajar sekelas."
"Syukurlah. Nak Ridho sibuk? Tumben sore pulangnya?"
"Ga terlalu, Pak. Pengen tau tempat kerja Reva, jadi selesaikan kerjaan langsung ke sana tadi."
"Ooh. Ya udah, kalian istirahatlah."
"Iya, Pak."
Aku dan Ridho beranjak, lalu masuk ke kamar. Ridho sepertinya sengaja mendiamkanku. Ingat belum shalat Ashar, aku memilih mengabaikannya, lalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Usai mengganti pakaian, aku keluar dari kamar mandi. Ridho sedang duduk di kursi, menatapku sekilas, lalu mengambil handuk. Aku menarik napas panjang. Rasa cemburunya kadang berlebihan.
Setelah shalat Ashar, aku membaringkan tubuh di ranjang. Ridho keluar dari kamar mandi, lalu mengambil pakaian di lemari. Aku berusaha memikirkan cara untuk menjelaskan kejadian tadi.
__ADS_1
"Mau makan?" tanyaku, setelah Ridho selesai berpakaian.
"Udah tadi," jawabnya singkat.
Aku menghela napas, lalu menoleh ke jendela yang masih terbuka. Awan mulai menggelap. Sepertinya sebentar lagi turun hujan.
Huaah! Kenapa bisa pas sekali suasananya?
"Dia temenku waktu SMP."
"Ooh."
"Mas ... kita udah nikah loh ....."
"Terus?"
"Aku ga bakal macam-macam sama laki-laki lain," ucapku dengan penuh keyakinan.
"Kalian sepertinya sempat dekat. Buktinya dia langsung ingat sama kamu," sahut Ridho dengan raut curiga.
"Kami pernah sekelas," jawabku singkat, benar-benar tak berniat memberi tahu kalau Rian adalah cinta monyetku.
Hanya itu?"
Aku terdiam, berpikir sejenak. Ridho menunggu dengan sorot mata yang tajam. Apa aku jujur saja?
Ridho mengerutkan dahinya. "Mantan pacar?"
"Ya ampun ... anak SMP zaman dulu ga ngerti pacaran kayak sekarang kali, Mas." Aku berusaha santai menjelaskannya.
"Kali aja kamu beda," sahutnya.
Aku terkekeh pelan. Bangkit dari ranjang, kupeluk tubuhnya. "Udah, ah. Kok jadi bahas masalah yang ga penting gini, sih?"
Ridho tertegun sejenak. Kuberanikan diri menatap matanya. Pandangannya perlahan mulai melembut. "Kamu jangan macam-macam ya pas kerja!"
Aku tersenyum berusaha menenangkan hatinya. "Iya, Masku ... lagi hamil gini juga."
Laki-laki bermata tajam itu membalasku pelukanku. Aku berjinjit untuk mencium pipinya. Ridho membelalakkan mata.
"Masih sore, nih!" ujarnya.
Aku mendelik sebal. "Ish! Siapa juga yang ngajak aneh-aneh?"
Tawa Ridho berderai. "Aku ga bilang kamu ngajak aneh-aneh, kok."
__ADS_1
Giliranku yang berubah sebal. Bisa-bisanya dia mengalihkan pembicaraan. Jelas-jelas tadi pikirannya ke sana.
"Ya udah. Siap-siap ke masjid sana!" Aku melepaskan pelukan, lalu pura-pura mengusirnya.
"Iya Nyonya Ridho yang shaleha ....."
Aku tetap cemberut dan berusaha menahan tawa. Ridho mengambil sarung dan pecinya. Keluar kamar menyusul Bapak menunggu adzan di teras. Aku kembali membaringkan tubuh di ranjang. Untunglah, kali ini cemburunya tak separah biasanya.
Nada pesan gawaiku berbunyi. Permintaan dari admin untuk mengajar besok. Ada tenaga pengajar yang sakit, jadi aku diminta untuk mengganti tugasny. Kubalas dengan menyanggupi penambahan jadwal tersebut.
Sepuluh menit berlalu, adzan Magrib pun berkumandang. Aku kembali mengambil wudhu dan melaksanakan shalat tiga rakaat. Berlanjut dengan membaca firman Allah.
***
Usai melaksanakan shalat Isya, aku mempersiapkan beberapa hal untuk mengajar besok. Kelas tiga yang akan aku gantikan pengajarnya, jadi butuh mental lebih. Tak lama latihan, Ridho masuk ke kamar.
"Lagi ngapain?" tanyanya setelah berada di dekatku.
"Lagi baca-baca buat besok."
"Bukannya besok ga ada jadwal?" Ridho tampak berusaha mengingat jadwalku mengajar.
"Iya. Tadi sore dapat pesan diminta ganti pengajar yang lagi sakit."
"Ooh, gitu. Jam berapa?"
"Habis Ashar kalau ga salah."
"Aku udah pulang kerja berarti. Besok jangan pergi sendiri, aku antarin perginya."
Aku mengangguk pelan. Ridho mengganti pakaiannya dengan kaus dan celana pendek. Aku pun menyimpan buku dan peralatan lain ke dalam tas. Ridho menarik lenganku untuk mengikuti langkahnya.
Dadaku mulai berdebar. Merasa ada yang berbeda dari sentuhannya saat ini. Perlahan kami membaringkan tubuh di ranjang. Ridho membelai rambut dan pipiku.
Aku tersenyum menatap wajahnya. Tangannya mulai bergerak menyentuh bagian tubuhku yang lain. Aku menahan napas karena sudah bisa menebak apa yang diinginkannya.
"Mas sayang kamu," ucapnya.
"Aku juga sayang sama-"
Kalimatku terpotong karena bibir Ridho sudah menempel di bibirku. Setelah aku kehabisan napas, Ridho menarik wajahnya. Aku tersenyum malu. Tetap saja masih canggung, walau kami sudah berulang kali melakukannya.
Ridho pun mulai bergerak sesuai dengan insting lelakinya. Aku berusaha mengimbangi gerakannya. Belajar menjadi wanita yang lebih peka pada keinginan sang suami. Kami mulai hanyut dalam suasana yang penuh kasih.
Next
__ADS_1
Vote itu pake point yaa, ga bayar, kok. Caranya ambil aja point online kita pas baca novel. Tulisan pointku ada di sudut kanan atas. Nanti pas buka cerita ini, pilih vote. Tinggal kasih point yang kamu punya untuk penulis. Biar rangkingnya naik dan penulis tambah semangat. ❤❤