Suami Romantis (Jodoh Pasti Bertemu) Oleh Meisy T

Suami Romantis (Jodoh Pasti Bertemu) Oleh Meisy T
Pindah Rumah?


__ADS_3

Aku baru saja selesai mandi. Ridho mendekat memelukku yang sedang menyisir rambut. Aku sedikit heran dengan tingkahnya. Tatapan mata kami bertemu di cermin.


"Tumben?" tanyaku.


"Hm ... kalau misalnya kita pindah dari sini, gimana?"


"Hah?" Aku sedikit terkejut dengan pertanyaannya yang tiba-tiba. "Pindah? Ke mana?"


"Iya. Kita beli rumah. Atau bangun sendiri kalau kamu mau bebas rancangin bentuknya."


Aku termangu beberapa saat. Pindah rumah belum masuk dalam rencanaku dalam waktu dekat. Apa Ridho sudah mulai tak nyaman tinggal di sini?


"Memangnya Mas udah beli tanah?"


"Belum, sih. Lagi cari-cari rumah sederhana untuk direnovasi atau tanah kosong dulu."


Aku bersyukur dalam hati. Berarti kami belum akan pindah dalam waktu dekat. Rasanya begitu berat meninggalkan Ibu dan Bapak saja di rumah.


"Oh, gitu. Mana baiknya aja, Mas. Kalau Mas belum punya uang, beli tanahnya aja dulu."


"Mas udah punya tabungan dikit kalau sekedar untuk renovasi rumah mungil. Kamu maunya kita kapan pindah?"


Sepertinya Ridho mengerti perasaanku yang agak berat keluar dari rumah. Aku menarik napas panjang untuk menenangkan hati. Bagaimanapun juga, aku harus ikut ke mana suami ingin tinggal.


"Terserah Mas aja. Aku bakal ikut keputusan Mas. Tapi ... kalau bisa, jangan jauh banget dari rumah Ibu ya, Mas?" Kutundukkan wajah karena sedikit gugup saat mengungkapkan keinginan.


"Iya, Sayang. Mas baru survey daerah dekat-dekat sini, kok."


Aku menghembuskan napas lega. Rasa sesak yang sempat menghimpit sedikit berkurang. Rasanya memang sedikit egois, tapi hatiku benar-benar tak tenang harus jauh dari orang tua sekarang.


"Ya udah. Kalau Mas dapat rumah yang gampang diubah bentuknya, beli jadi aja."


Aku berusaha mengerti keinginan Ridho. Mungkin dia merasa lebih bebas bila kami di rumah sendiri. Bisa juga dia punya rencana lain saat kami sudah punya rencana sendiri.


"Siip. Mas bukannya ga betah lagi tinggal di sini. Mas sennag Bapak dan Ibu menganggap Mas layaknya anak mereka sendiri."

__ADS_1


Aku menatapnya dengan pandangan penuh tanya. Berusaha mencari tahu isi hati lewat gambaran di wajahnya. Kutemukan ketulusan di mata Ridho yang meletakkan dagunya di bahuku.


"Mas pengen kita belajar mandiri. Kalau memungkinkan lokasinya, Mas mau buka usaha kecil di rumah. Kamu juga bisa berkreatifitas sendiri atau bantu usaha Mas."


Ternyata tebakanku benar. Ridho memang suami yang tekun dalam mencari nafkah. Saat ini dia sudah mempunyai tiga usaha bersama dengan temannya.


Aku tersenyum tulus padanya. Suamiku memang ajaib. Bahkan, dia mulai paham kalau aku sudah mulai jenuh di rumah.


"Iya, Mas. Semoga semua rencana kita dimudahkan Allah."


"Aamiin. Mas pergi dulu, ya. Kemaren baru sempat lihat satu lokasi saat pulang kerja."


"Iya. Hati-hati ya, Mas."


Ridho mencium puncak kepalaku. Aku pun meraih punggung tangannya untuk dicium. Hatiku begitu terharu dengan perhatiannya yang ke sekian kali.


Setelah Ridho pergi, aku meraih gawai di meja. Mencari desain rumah minimalis. Melihat-lihat interior untuk ruangan. Entah mengapa, aku menjadi bersemangat jadinya.


Aku membayangkan rumah kami bercat hijau muda. Ingin mempunyai taman kecil di depan rumah. Mungkin menyenangkan melihat ayunan untuk anak-anak kami bermain. Kalau memungkinkan, ada sisa tanah untuk bertanam buah-buahan di belakang. Ah, rasanya begitu sempurna kalau Ridho bisa mengabulkan harapanku.


Setelah puas melihat-lihat desain rumah, aku meletakkan gawai di ranjang. Beranjak dari kamar untuk mencari Ibu. Aku ingin memberi tahu rencana Ridho sekarang, agar mereka tak terlalu kaget saat kami memutuskan pindah nanti.


"Ibu nonton apaan, sih?" tanyaku berusaha mengalihkan perhatiannya.


"Itu ... berita tentang penerimaan CPNS. Katanya tahun ini ada tes. Kamu mau ikut?"


Aku terdiam sesaat. Pernah berpikir ingin menjadi seorang abdi negara sebelum menikah. Sekarang, pastinya aku harus meminta izin pada Ridho dulu.


"Nanti aku pikirin dulu, Bu."


"Kalau kamu lulus, lumayan gajinya. Bisa nambah keuangan kalian. Kamu bisa punya penghasilan sendiri, biar ga repotin Ridho terus kalau ingin beli sesuatu."


"Iya, sih. Aku mau tanya pendapat Ridho juga. Kalau diizinin insya Allah nanti ikut."


"Bener juga. Kayaknya Ridho pengertian orangnya. Semoga aja dia ngizinin kamu ikut."

__ADS_1


"Iya, Bu. Oh iya, tadi Ridho ada ngomong tentang rumah gitu. Dia ada rencana beli tanah atau rumah."


"Wah ... bagus! Berarti dia ingin belajar hidup mandiri."


"Tadinya aku sempat kepikiran, gimana Bapak dan Ibu kalau kami pindah dari sini."


"Ngga papa, Sayang ... namanya udah berumah tangga, ya harus ikut suami," sahut Ibu dengan lembut.


"Iya, Bu. Untungnya Ridho bilang cari rumahnya yang ga terlalu jauh dari sini." Aku tersenyum malu.


"Gitu juga bagus. Jadi kami ng2ga susah kalau mau jenguk kalian. Ibu sama Bapak dulu sempat ngontrak kok, sebelum bisa beli rumah sendiri."


"Beneran, Bu?"


"Iya, Nak. Malah sempat dua kali pindah kontrakan. Alhamdulillah, Bapak orangnya tekun, tahun ke tiga kami beli rumah kecil di kampung. Waktu itu kamu baru lahir."


Aku tertegun mendengar cerita Ibu. Semakin kagum pada perjuangan Bapak dalam mengurus keluarga. Merasa beruntung memiliki seorang ayah seperti Bapak. Walau sedikit kaku, dia selalu perhatian saat usiaku masih anak-anak sampai remaja.


"Terus, kapan kita pindah ke sini?"


"Pas kamu balita, Bapak ngajak Ibu merantau ke sini. Awalnya kami tinggal di toko yang sempit. Setelah ada rezeki, baru beli rumah ini."


"Baru tau aku. Kirain Bapak sama Ibu tinggal di rumah nenek sebelum beli rumah."


"Sempat tinggal setahun karena Ibu masih muda waktu itu, baru tamat SMA. Tapi Bapak ingin kami hidup mandiri, jadi pindah ke kontrakan tahun ke dua."


"Ridho juga gitu ngomongnya. Aku berusaha mengerti keinginannya. Ini ngasi tau Ibu biar lebih tenang jadinya."


"Iya, Nak. Semoga rezeki kalian lancar, dimudahkan untuk menggapai cita-cita dan harapan."


"Aamiin. Makasih ya, Bu."


Kupeluk tubuh Ibu dengan penuh perasaan. Ibu tersenyum sambil menepuk-nepuk punggungku. Rasanya baru kemaren aku masih sering bermanja pada Ibu.


Kulirik jam di dinding yang menunjukkan angka dua belas kurang lima belas menit. Sebentar lagi masuk waktu Zuhur. Aku pun pamit ke kamar untuk bersiap. Ibu mengangguk dan mengelus puncak kepalaku. Aku terharu, walau sudah menikah begini, kasih sayang Ibu tak berkurang.

__ADS_1


Usai shalat, kutengadahkan kedua tangan. Memohon ampunan dan menyampaikan segenap rasa syukur atas semua karunia yang diberikan Tuhan padaku untuk saat ini. Sejenak meresapi kalimat yang pernah kubaca, "Nikmat manakah yang bisa kau dustakan?"


Jangan lupa vote ya, teman-teman 💕💕


__ADS_2