
""Suka pusing atau mual?" tanya Dokter.
"Iya, Dok," jawabku. "Kadang sampe lemes."
"Biasa itu. Harus tetap makan ya ... minum susu hamilnya rutin?"
Aku tersenyum malu, lalu menggeleng. Sebulan setelah testpack, kami memang belum membeli susu atau keperluan lain. Selain tak suka rasanya, kami belum mencari tahu informasi tentang gizi ibu hamil.
"Wah, minum susu juga, biar bayinya kuat. Nanti saya resepkan vitamin, tebus di apotek depan. Diminum setiap hari, ya."
"Baik, Dok. Makasih," jawabku.
Ridho hanya tersenyum, lalu menjabat tangan dokter. Kami pun keluar ruangan dengan membawa kertas berisi resep dokter. Ridho menyerahkan kertas pada penjaga apotek. Setelah diminta membayar sejumlah uang, kami diberi bungkusan yang berisi tablet tambah darah dan vitamin.
Ridho kembali menggandeng tanganku menuju mobil, membuka pintu dan membantuku naik. Aku tersenyum melihat perhatiannya. Dalam hati berharap, semoga suamiku tetap seperti ini selamanya.
"Dokternya ramah ya, Mas?"
"Iya. Baik juga. Mas ga nyesel bawa kamu ke sana."
"Untung Mas sempetin nanya sama temen, dokter mana yang recommended."
"Iya, Sayang ... tapi Mas belum sepenuhnya perhatiin kebutuhan kamu. Susu aja belum beli."
__ADS_1
"Ga papa, Mas. Namanya anak pertama, kita memang belum tau apa-apa. Belum sempat nanya-nanya juga sama orang tua. Eh. Mungkin juga mereka ga terlalu ribet zaman dulu, ya?"
Ridho tersenyum lembut. "Kayaknya iya. Zaman dulu belum banyak dokter seperti sekarang. Dunia juga belum canggih buat nyari info dengan mudah."
Aku hanya mengangguk. Salutnya anak-anak dulu tetap kuat dan pintar. Salah satu keajaiban dari Tuhan, karena dunia masih ramah, mereka diberikan anak-anak yang patuh dan pintar
Di tengah perjalanan, Ridho menghentikan mobil di depan sebuah minimarket. Dia membeli beberapa kotak susu hamil dengan rasa yang berbeda. Tak lupa juga membeli stok makanan untukku.
Duh ... calon ayah sedang semangat sekali.
"Banyak banget, Mas?" Satu aja susunya, rotinya juga."
"Ngga pa-pa. Biar ga bosan dan ngerti rasa mana yang kamu suka nanti. Siapa tau besok-besok Mas sibuk, ga sempet beli dalam waktu dekat."
Begitu terharu menatap matanya yang penuh kasih. Rasanya ingin kupeluk tubuh tegap itu di sini. Untung masih punya malu kalau dilihat orang. Hihi
Ridho membayar belanjaan dan menyimpannya di jok belakang. Kami pun masuk ke mobil dan melaju pulang ke rumah. Aku memejamkan mata karena kepala yang mulai terasa berat.
"Bangun, Yang ... kita udah sampai."
Aku bergerak perlahan karena sentuhan tangannya di pipi. Rasanya baru saja memejamkan mata. Masih enggan meninggalkan alam mimpi.
"Eh ... atau mau kugendong ke kamar?"
__ADS_1
Aku berusaha tersadar sepenuhnya mendengar tawaran Ridho. Jangan sampai dia nekad menggendongku ke dalam rumah. Pasti malu kalau dilihat Bapak atau Ibu. Hiks
Ridho terkekeh melihatku mendadak membuka mata. "Kirain ga mau bangun."
Aku tersenyum malu. "Ayo turun, Mas. Aku sendiri aja. Mas kan harus bawa barang."
"Baiklah, Nyonya Ridho!"
Kami pun mengucapkan salam, Bapak yang sedang membaca di teras menjawab pelan. "Kata Ibu kalian ke dokter. Gimana hasilnya?"
"Alhamdulillah, bagus, Pak," jawab Ridho.
"Syukurlah. Sekarang kalian istirahat dulu, bentar lagi Magrib."
"Iya, Pak." Kami menjawab serentak.
Saat sudah di kamar, Ridho mencium perutku. "Sehat-sehat ya, anak ayah." Kemudian dia mengangkat wajahnya, lalu mencium keningku. "Bundanya juga."
Aku mengangguk dan tersenyum semringah. "Ayahnya juga."
Kayaknya masih ada yang belum ngerti cara vote.😊😊
Vote itu pake point yaa, bukan like. Tapi ga bayar, kok. Biar rangkingnya naik dan penulis tambah semangat. Caranya ambil aja point online kita pas baca novel. Tulisan point ada di sudut kanan atas. Nanti pas buka cerita ini, pilih vote. Tinggal kasih point yang kamu punya untuk penulis. ❤❤
__ADS_1