Suami Romantis (Jodoh Pasti Bertemu) Oleh Meisy T

Suami Romantis (Jodoh Pasti Bertemu) Oleh Meisy T
Sayang Suami


__ADS_3

Setelah menikmati sarapan di hotel, kami bersiap untuk mengunjungi salah satu tempat wisata yang cukup terkenal di daerah ini. Pemandian air panas yang berdampingan dengan air terjun. Aku sudah pernah ke sana saat SMP, tapi tak begitu bebas karena sedang menstruasi saat itu.


Setibanya di sana, suasana masih sepi. Ridho memarkir mobilnya di halaman Wisata Air Suban. Kami pun turun dan memesan karcis.


Saat masuk ke bagian dalam, hanya sedikit pengunjung yang terlihat. Beberapa dari mereka sedang menikmati hangatnya berendam di air panas. Ada juga orang tua dan anaknya yang bermain di kolam renang.


"Kita ngapain enaknya? Berenang?" tanya Ridho antusias.


"Males, ah! Kita langsung jalan ke air terjun aja, Yuk!"


Ridho terlihat berpikir sejenak. "Ya udah. Sini tangannya, jalan pelan-pelan, nanti jatuh lagi!"


Mulai deh ... merayu ....


Aku tak berniat menanggapi ucapannya. Mengulurkan tangan agar urusan cepat selesai. Ridho menggenggam erat jemariku, lalu membantu menaiki tebing yang merupakan jalan menuju lokasi air terjun.


Sepuluh menit kemudian, kami tiba di lokasi. Pemandangan yang menakjubkan membuat mulutku ternganga sejenak. Keindahan air jernih yang terjun bebas dari puncak yang menyerupai bukit kecil membuat mata enggan berpaling.


Saat datang ke sini dulu, aku tak terlalu bersemangat karena tak bebas bergerak. Rasa iri melihat teman-teman yang sibuk bermain air membuatku dan satu teman lain yang senasib memutuskan kembali ke depan.


"Bagus banget ya, Mas?"


"Apanya?"


Aku mengerucutkan bibir karena sebal. Ini orang tak mengerti maksudku atau pura-pura tak tahu?


"Ya ampun, bibirnya ... minta dicium, ya?"


Spontan kututup mulut dengan tangan. Jangan sampai Ridho melakukan hal yang membuatku malu di sini. Apalagi suasana sedang sepi. Bisa saja mendadak ada pengunjung lain datang tiba-tiba.


"Bercanda, Sayang ...."


"Ish, Mas, nih!"


"Habisnya kayak kesal gitu."


"Mas, sih ... orang lagi serius jawabnya malah gitu!"


"Iya, iya. Maksud Mas bagian mana yang bagus. Kamu kurang detail nyebutinnya."


Dasar! Bisa banget ngeles.


"Air terjunnya, Masku. Indah banget!"

__ADS_1


Ridho hanya mengangguk sebagai jawaban. Mungkin karena sudah beberapa kali datang ke sini, sikapnya tak senorak aku. Ridho terlihat tenang melihat pemandangan di depan matanya.


Biarin, deh! Depan laki sendiri juga.


Kami berjalan pelan menuju pondok yang dibangun di sekitar air terjun. Duduk di tepinya masih saling menggenggam tangan. Ada satu ruangan yanh dibatasi pintu berbahan triplek. Mungkin tempat untuk mengganti pakaian.


"Mau turun?" tawar Ridho setelah kami terdiam beberapa saat.


"Boleh, deh!"


Kami pun turun perlahan menuruni anak tangga menuju air terjun. Udara cukup dingin, tapi membuat tubuh menjadi segar. Ridho membantuku naik ke batu yang cukup besar. Aku pun duduk di atasnya.


Lelakiku menggulung celana trainingnya dan mencelupkan kakinya ke air yang mengalir. Aku menjadi penasaran bagaimana rasanya, ikut-ikutan mengangkat gaunku berniat turun. Ridho memercikkan sedikit air ke tubuhku.


"Mas!" keluhku.


"Sini turun!" ujarnya sambil tertawa, lalu kembali memuncratkan air ke tubuhku.


"Ini memang mau turun. Cuma aku kaget karena Mas tiba-tiba nyiram."


Bibir Ridho melengkungkan senyuman. Aku jadi sedikit terpesona karena terbawa suasana yang romantis. Suamiku tampan sekali hari ini, walau hanya menggunakan celana training dan baju kaus.


"Kenapa gitu lihatnya?"


Bisa-bisa GR dia kalau aku bilang dia ganteng banget hari ini.


"Bilang aja makin sayang sama Mas karena diajak jalan-jalan. Ya, 'kan?"


Aku memberikan senyuman manis sebagai jawaban. Walau tebakannya kurang tepat, tetap saja itu juga salah satu hal yang aku rasakan sekarang. Bersyukur bisa menikmati pemandangan yang indah bersama suami tercinta.


Ridho membantuku turun perlahan. Dinginnya air sempat membuat tubuhku menggigil sejenak. Tak lama kemudian, kakiku mulai beradaptasi dengan air. Rasanya cukup nyaman dan menenangkan.


Saat kembali menatap air terjun, hatiku mengagungkan nama Tuhan. Sungguh indah ciptaannya, membuat diri semakin sadar diri. Tak ada daya bila tidak diberi perlindungan oleh Yang Kuasa.


Ridho mencium pipiku dengan kilat saat aku sibuk menikmati pemandangan alam lain. Pepohonan dan bebatuan membuat kepala merasa fresh. Aku sedikit terkejut, lalu mendelik sebal. Ridho hanya terkekeh pelan.


Tak lama kemudian, pengunjung lain mulai berdatangan. Untung saja, mereka tak memergoki aksi Ridho. Pasti sangat memalukan bila da yang melihat, walaupun kami adalah pasangan suami istri.


"Masih mau di sini?" tanya Ridho.


Sebenarnya aku masih betah berada di sini. Malah rasanya enggan kembali melangkah pulang. Namun, mengingat kejadian tadi, aku takut Ridho mulai nekad.


"Ke atas yuk, Mas! Udah dingin!" sahutku.

__ADS_1


"Kirain mau berenang sampai basah semua."


"Ga, ah! Aku ga bawa baju ganti."


"Mas udah siapin di mobil, kok."


Aku terkejut mendengar ucapannya. "Masa? Perasaan tadi sama-sama siap-siapnya."


"Pas kamu mandi tadi. Kali aja kamu ingin main air atau berenang."


Sejujurnya, aku sedikit tergoda ingin berenang. Hanya saja, pengunjung yang mulai ramai, membuatku kurang nyaman. Tidak biasa dilihat orang lain dalam keadaan pakaian yang basah. Pasti lekuk tubuhku cukup terlihat walau samar.


"Ga jadi, deh!" tolakku. "Kita ke air panas aja."


"Baiklah, Nyonya Ridho!"


Aku terkekeh pelan. Ridho memposisikan tubuhnya sedikit membungkuk, layaknya menghormati seorang tuan putri di cerita dongeng. Senyumnya membuatku terhipnotis sejenak. Wajah suamiku semakin ceria hari ini.


Kami pun beranjak dari dalam air. Ridho membantuku melewati batu untuk sampai ke tepian. Bagian bawah gaunku sedikit basah, tapi aku membiarkannya. Aku mengangkatnya sedikit saat menaiki anak tangga. Dalaman gamis berwarna hitam tetap menutupi kakiku.


Saat tiba di pemandian air panas, tak ada lagi pengunjung yang berendam. Aku menjulurkan kaki untuk merasakan sensasi hangatnya. Ridho benar-benar masuk ke dalamnya.


"Ga turun?" tanyanya heran.


"Ga, ah! Bisa-bisa terjadi hal lain nanti."


Ridho terkekeh mendengar sindiranku. "Kejadian apa? Memangnya yang tadi malam kurang?" tanyanya dengan nada usil.


Deh ... kok malah dia yang merasa digoda?


Aku mencebikkan bibir dan mengalihkan pandangan ke arah lain. Malas menanggapi omongannya yang sedikit mesum. Bisa-bisa nanti ada ronde berikutnya saat tiba di hotel.


Tangan Ridho bergerak pelan memijit kakiku. Aku kembali menatap wajahnya yang tengah menunduk. Dengan telaten dia juga memijit kaki kiriku.


"Mas ngapain?"


"Ya mijitlah!" sahutnya cuek. "Biar kamu lebih relaks pas pulang nanti." Ridho menatapku dengan lembut.


"Aku tau. Tapi ga enak dilihat orang." Aku benar-benar tak enak hati bila ada yang melihat kelakuan Ridho.


"Biarin aja! Mijit istri sendiri juga." Ridho kembali sibuk dengan aktivitasnya.


Aaarghhh ... sudahlah! Percuma berdebat dengan Ridho.

__ADS_1


__ADS_2