
Usia kandunganku sudah memasuki bulan ke tiga. Tubuhku semakin sehat, tak merasa lemas seperti kehamilan sebelumnya. Selera makanku semakin menjadi-jadi. Terkadang tengah malam aku terbangun dan mencomot beberapa potong kue di kulkas.
Sempat merasa gundah saat melihat pipiku semakin bengkak. Ingat janin yang ada di dalam perut, aku berusaha melupakan hal lain. Apalagi Ridho selalu menghiburku dengan ucapan atau perhatian. Aku semakin semangat menjalani kehamilan yang ke dua.
Hampir setiap hari, Ridho menempelkan telinga di perutku, walau belum ada pergerakan yan berarti dari calon bayi kami. Sering dia berbicara dengan semangat saat melakukannya.
"Kamu lagi ngapain, Sayang?"
"Sehat-sehat ya, di dalam perut Mama."
"Anak Papa ga nakal hari ini, 'kan?"
"Papa pergi kerja dulu, ya. Kamu jaga Mama baik-baik di rumah."
Aku hanya bisa tersenyum atau tertawa melihat tingkahnya. Merasa pernikahan kami benar-benar terasa sempurna. Namun, tetap saja aku tak melupakan calon bayi pertama kami. Sesekali rindu itu masih terasa.
Nada dering tanda panggilan masuk membuyarkan lamunanku. Nama Ibu terlihat di layar pipih itu. Segera kupencet tombol hijau.
"Assalamualaikum. Tumben Ibu nelpon malam-malam gini?"
"Kamu belum tidur, 'kan?"
"Belum, Bu. Baru mau tidur. Kenapa, Bu?"
"Insya Allah besok Ibu mau ke rumah kalian. Kamu mau dimasakin apa, Nak?"
"Asik. Bikinin sambal tempe campur teri aja, Bu." Aku tak bisa menyembunyikan rasa senang dengan rencana kunjungan Ibu.
"Loh, cuma itu aja?"
Bibirku melengkungkan senyuman. "Iya. Udah lama aku ga makan masakan Ibu yang itu."
Ibu sudah pernah ke sini sejak tahu aku hamil. Baru kali ini dia menanyakan seleraku apa. Biasanya dia langsung membawa sayur yang dia masak hari itu. Aku juga tak pernah memesan apapun, semuanya tetap kuhabiskan. Toh, aku tak mengalami mual hamil kali ini.
"Baiklah, Tuan putri. Besok Emak shalehah bawa pesanannya."
Aku terbahak mendengar candaan Ibu yang terdengar konyol. Tetap saja aku bahagia. Sampai saat ini Ibu masih memperlakukanku layaknya putri kecilnya dulu.
"Terimakasih Nyonya Saliha. Sekarang silahkan beristirahat. Udah malam."
Ibu ikut tertawa mendengar gurauanku. "Siip. Kamu juga jangan begadang. Ga bagus buat calon bayi kalian."
"Iya, Bu."
Panggilan suara diputuskan setelah kami saling mengucap salam. Ridho masuk ke kamar. Tadi dia sedang menonton berita saat kutinggal masuk.
__ADS_1
"Siapa yang telpon, Yang?".
"Ibu, Mas. Besok katanya mau ke sini. Tumben-tumbenan nanyain aku mau dimasakin apa."
"Tapi kamu senang, 'kan?"
Aku tersenyum, lalu mengangguk. "Aku terharu tepatnya."
"Ya udah. Sekarang kita tidur, ya. Ga baik ibu hamil tidur malam-malam."
"Iya, Mas."
Kami pun naik ke tempat tidur. Aku mencoba memejamkan mata, tapi tak bisa tidur. Terdengar dengkur halus dari manusia yang tidur di sebelahku.
Cepet banget tidurnya?
Aku menarik selimut untuk menutupi tubuh Ridho. Malam mulai terasa dingin. Ditambah penyejuk udara yang Ridho nyalakan sebelum tidur.
Beberapa saat aku termenung sendiri. Membayangkan kehidupan kami saat sang bayi sudah lahir nanti. Pasti sangat menyenangkan bisa bermain atau jalan-jalan bertiga.
Rasanya tak sabar bertemu dengan buah hati kami. Aku tak memikirkan jenis kelamin lagi. Laki-laki atau perempuan tak masalah, yang penting terlahir dengan sehat dan selamat.
Jarum jam di dinding terus berjalan, tapi aku tetap tak bisa tidur. Perutku mulai terasa lapar. Seketika makanan yang sering Ridho makan melintas di pikiranku. Aku menarik lengan Ridho agar dia terbangun.
"Mas, Mas! Bangun, donk! Aku tiba-tiba pengen makan lontong sayur, deh."
"Aku maunya sekarang ...."
"Ini udah jam 10 malam, Sayang ... mana ada orang jual lontong sayur?"
"Ga ngerti, ah! Pokoknya aku mau makan lontong sayur."
Ridho cepat-cepat membalikkan kembali tubuhku yang membelakanginya. "Ya udah. Mas cari dulu, ya. Tapi kalau ga nemu jangan marah ya, Sayang?"
"Hm."
Aku menjawab ogah-ogahan. Entah mengapa, kuah lontong sayur tiba-tiba melintas di pikiranku. Rasanya sedih sekali saat Ridho bilang tidak bisa menemukannya.
"Mas pergi dulu, ya. Kamu kunci pintunya."
Kami pun turun dari tempat tidur beranjak keluar kamar. Ridho meraih jaket dan kunci motor. Aku memberikan senyuman sekilas saat dia melambaikan tangan.
Kulirik jam di dinding. Sudah pukul setengah sebelas, tapi Ridho belum juga kembali. Apa dia tak menemukan orang yang menjual lontong sayur?
Tak lama kemudian, suara motor Ridho memasuki halaman rumah. Aku bergegas membuka pintu. Ridho pun mengucapkan salam sebelum masuk.
__ADS_1
"Dapat kan, Mas?"
Dengan semangat aku meraih bungkusan di tangan Ridho. Aku sedikit heran melihatnya hanya terdiam. Menjadi paham saat melihat isi bungkusan yang dibawanya.
"Kok mie ayam, sih?"
"Ga ada yang jual makanan itu, Sayang ... mas udah mutar-mutar di sekitar sini tadi."
"Masa, sih?"
"Iya, Sayang. Lagian bukannya kamu lebih suka mie ayam selama ini?"
Aku mengerucutkan bibir karena tak mendapat makanan yang kuidamkan. Ridho membelai pipiku dengan lembut. Aku tetap bergeming, tak biasanya Ridho menyerah dengan keinginanku.
"Udah, ah! Aku mau tidur aja."
"Mia ayamnya?"
"Mas aja yang makan!"
Ridho mencegah langkahku yang akan masuk ke dalam kamar. "Besok habis shalat subuh mas langsung keluar lagi, ya?"
Aku berhenti sejenak. "Mas cape, 'kan? Istirahat aja, sana!"
Laki-laki bertubuh jangkung itu meraihku dalam pelukan. "Maafin mas, ya ... ga bisa menuhin keinginan kamu kali ini."
Aku menarik napas panjang. Berusaha menghilangkan rasa dongkol akibat tak dapat makanan yang kuinginkan. Ditambah sikap Ridho yang sedikit cuek saat kembali.
"Sekarang kita tidur aja."
Ridho memasang tatapan menyesal. Aku berusaha melepaskan diri dari pelukannya. Lebih baik aku mencoba tidur lagi.
"Kamu ga marah lagi, 'kan?"
"Ga usah dibahas lagi, Mas."
Ridho menggaruk kepalanya yang kuyakin tak gatal. Kulanjut langkah yang sempat terhenti menuju kamar. Tak kupedulikan Ridho yang masih berdiri di tempatnya.
Baru saja membaringkan tubuh di ranjang, Ridho ikut menyusul berbaring di sebelahku. Aku membalikkan tubuh menghadap dinding. Suasana terasa hening. Kutunggu kata penghibur darinya, tapi Ridho tak bicara lagi.
Perutku kembali berbunyi. Segelas susu coklat hangat rasanya cukup untuk saat ini. Namun, aku sedikit kurang nyaman keluar kamar saat malam sudah larut.
Terpaksa nurunin gengsi, nih. Butuh Ridho buat nemenin ke dapur.
Kubalikkan kembali tubuh agar menghadap Ridho. Ternyata dia sudah memejamkan mata. Tak lama kemudian, dengkurnya kembali terdengar. Aku memutar bola mata melihat tingkah ajaibnya.
__ADS_1
Ridho nyebelin!