
Ingin rasanya kuhampiri mereka dan menunjukkan pada wanita itu, Ridho sudah punya istri. Namun, aku takut jadi bahan tontonan orang-orang yang ada di sekitar mereka.
Aku menarik napas panjang, lalu perlahan menghembuskannya.
Jangan ceroboh, Reva!
Mengapa pikiranku jadi kacau begini? Apa aku sudah punya perasaan pada Ridho?
Kuseret langkah menjauh dari mereka. Kalau tidak memikirkan janji dengan Silvi, rasanya ingin pulang saja. Kuambil gawai di tas untuk menanyakan keberadaan wanita bawel itu, lalu mengetik pesan untuknya.
[Di ruang mana?]
[K4. Buruan! Udah mau mulai.]
[Ini udah nyampe.]
Kulangkahkan kaki menuju ruang tempat seminar hasil beberapa kakak tingkat hari ini. Sesekali mataku melirik Ridho dan wanita di sebelahnya.
Hufh! Kutarik lagi napas panjang, lalu melangkah cepat menuju ruang K4 yang mulai terlihat.
Kuatkan hatimu Reva. Jangan sampai Ridho mengejekmu di sini. Berat! Kamu tak akan kuat.
Kuedarkan pandangan mencari sosok Silvi. Wanita berambut sebahu itu duduk di bagian tengah ruangan. Peserta seminar sedang menyiapkan file skripsi mereka. Para dosen yang akan menguji sudah duduk di kursi yang telah di siapkan.
"Hei!" Kusentuh bahu Silvi.
"Lama banget! Darimana aja, Neng?" tanyanya.
"Dari keluarga baik-baik," jawabku asal.
"Wah ... sejak punya suami, jadi pinter ngejawab ya?" Silvi memasang wajah sok imut.
"Apaan!"
"Cie...." Silvi mengedip-ngedipkan matanya.
"Hush! Udah mulai tuh."
Sengaja kualihkan pembicaraan. Hatiku masih tak tenang ketika mengingat Ridho. Aku mencoba fokus untuk mendengarkan hasil penelitian yang dipaparkan.
***
Setelah tiga jam melihat seminar hasil, aku dan Silvi memutuskan untuk mencari makan di sekitar kampus. Sebelumnya, kami shalat Ashar dulu di mushalla gedung bersama.
"Makan apa, nih?" tanya Silvi.
"Mie ayam aja, mau?" tawarku.
"Oke. Di depan rektorat aja ya. Sejuk, makanannya juga enak. Aku pernah diajak Fikri makan di sana."
"Terserah. Eh, siapa Fikri?" Aku merasa asinh dengan nama yang disebut Silvi.
"Anak Hukum. Dulu pernah tetanggaan."
"Temen apa temen ... kok aku ga tau?"
"Lah, kamu kan repot nyiapin nikahan waktu itu."
__ADS_1
"Wah ... ketinggalan berita nih. Jangan-jangan-"
"Apaan, sih?" Silvi tersenyum malu dengan wajah memerah.
"Nah ... sepertinya ada udang di balik bakwan!" Aku makin semangat menggoda Silvi.
Silvi terbahak, "Kamu ada-ada aja omongannya sekarang. Udah ah! Yuk, makan!"
Aku pun menghidupkan mesin motor. Silvi membonceng di belakang. Kami melaju ke tempat yang diusulkannya.
Setibanya di tempat makan, kami memesan mie ayam dan es jeruk. Belum selesai makan, kakak Silvi datang menjemput. Mereka terburu-buru karena akan menjenguk teman Bang Reno di rumah sakit.
"Maaf ya, Beb." Silvi memasang wajah menyesal.
"It's Ok." Aku berusaha santai.
"Duluan ya, Rev!" ujar Bang Reno.
"Yoi, Bang!"
Aku sudah kenal Bang Reno. Kami sering bertemu saat dia menjemput Silvi. Kuteguk es jeruk sebelum kembali menyendok mie ayam yang tersisa setengah.
"Reva...."
Kutolehkan wajah ke arah parkiran. Di sana Deva berdiri baru turun dari mobilnya. Seketika ingat pesannya yang tak kubalas. Aku tersenyum sekilas untuk mengurangi perasaan tak enak.
"Kok ngga ngabari ke kampus?"
"Mendadak tadi. Ga ada rencana." Kupasang wajah menyesal.
"Oh, gitu. Sendiri aja?"
"Ooh ... Kakak gabung ngga papa?"
Aku mengangkat bahu. Tak berniat menerima atau menolak permintaan Deva.
"Mie ayamnya satu, Pak." Laki-laki jangkung itu duduk di hadapanku.
"Baik, Dek," jawab penjual.
"Kamu udah mau pulang?" tanya Kak Deva.
"Iya, Kak. Udah sore."
Kuselesaikan makan dengan cepat. Tak ingin berlama-lama berdua dengan Deva. Sikap lembutnya bisa membuat hatiku kembali nyaman.
"Yah ... padahal Kakak mau ngobrol tentang kampus ini." Raut kecewa terlihat jelas di Deva.
"Lain kali ya, Kak." Aku merasa sedikit bersalah.
Tak ada rencana bertemu dengan laki-laki berwajah teduh itu hari ini. Aku pun buru-buru berdiri untuk menghindar darinya.
Setelah membayar makanan, aku melangkah menuju motor. "Duluan ya, Kak," pamitku.
"Ok!" sahut Deva sambil melambaikan tangan.
***
__ADS_1
Tiba di rumah, aku langsung masuk ke kamar. Ibu sepertinya sedang mandi. Saat ingin mengganti pakaian, terdengar suara Ridho mengucapkan salam. Aku bergegas masuk ke kamar mandi.
Kuguyurkan air ke seluruh tubuh. Sejuknya air sedikit mengurangi penat. Usai berpakaian, aku keluar dari kamar mandi.
Ridho sedang duduk di kursi menatapku tajam. Aku pura-pura tak melihatnya. Rasa kesal masih menggelayut dihatiku.
Huh! Bilangnya kalau sudah menikah harus bisa jaga perasaan suami. Dia sendiri tak merasa bersalah berdua dengan wanita lain.
Aku menyisir rambut, lalu melangkah menuju pintu untuk menghindar dari Ridho.
"Kamu kenapa?" Raut wajah Ridho terlihat bingung.
Tak kugubris pertanyaannya, tetap melanjutkan niatku keluar kamar. Ridho menghadang tubuhku sebelum mencapai pintu.
"Kamu kenapa?" tanyanya lagi.
Kamu yang kenapa?" balasku.
Ridho mendekatkan tubuhnya. Aku mundur perlahan, seketika ingat kejadian kemarin. Tangannya bergerak mengunci pinggangku.
"Lepasin!" bentakku.
Ridho bergeming, lalu merapatkan pelukannya. Jantungku berdetak sangat cepat, rasanya sebentar lagi aku akan pingsan. Aku berusaha bernapas dengan pelan.
"Jangan bikin aku penasaran," ucapnya di telingaku.
Aku menahan napas karena berbagai rasa yang campur aduk. Kucoba mengumpulkan tenaga untuk lepas dari laki-laki tak berperasaan itu.
God! Tubuhku kaku, tak bisa digerakkan.
"Lepas." Hanya kata itu yang sanggup kuucap.
Ridho mendekatkan wajahnya saat aku mendongak untuk memohon. Irama jantungku kembali bertalu-talu. Kucoba mendorong tubuh Ridho, tapi sia-sia. Tenagaku tak cukup kuat untuk melawan tubuh tingginya.
"Please...." Aku memasang wajah memohon.
Sedetik kemudian bibir Ridho sudah menempel di bibirku. Mataku membulat karena kaget. Ridho melonggarkan pelukan setelah menciumku sekilas.
Aku mengatur napas yang sudah tak beraturan. Jantungku pun tak mau diajak kompromi. Sensasi ciuman singkat Ridho membuatku linglung.
Dengan sisa tenaga yang ada, aku melepaskan diri dari pelukan laki-laki yang berstatus suami. Ridho masih menatapku tajam. Aku menundukkan kepala tak sanggup berkata apapun.
"Masih belum mau cerita?"
Aku menghela napas dengan kasar. Seketika ingat kembali wajah cantik wanita yang bersama Ridho siang tadi. Sekuat hati berusaha tak bertanya tentang kejadian siang tadi.
Hufh! Bisa GR dia kalau tau aku cemburu.
Pikiranku jadi tak menentu. Apa aku benar-benar merasa cemburu?
"Ga ada apa-apa." Aku memutuskan untuk mengalah, tak ingin memperpanjang masalah. Sebentar lagi adzan Magrib akan berkumandang, lebih baik aku pura-pura tak melihat mereka di kampus.
Ridho pun tak menggangguku lagi. Laki-laki itu meraih handuk lalu masuk ke kamar mandi.
Aku menarik napas lega. Benar-benar tak siap dengan ejekan Ridho.
Jangan lupa vote, like dan komen..❤❤
__ADS_1
Vote itu pake point yaa, ambil aja point online kita. Tulisan point di sudut kanan atas. Nanti pas buka cerita ini, pilih vote. Tinggal kasih point yang kamu punya.☺☺