
"Rasain!" ucap Reva sambil mencubit pipiku.
Aku meringis memegang pipi yang sakit dan berdecak kesal. Sedikitpun dia tak perrduli pada reaksiku. Tak lama listrik hidup kembali. Reva melepas pelukannya lalu melangkah menuju ranjang.
Ah, wanita berlesung pipi itu membuatku gemas.
Saat Reva membaringkan badan, aku berjalan mendekat. Aku tak punya tenaga lagi untuk berdebat. Pura-pura tak peduli saat Reva bergerak gelisah.
"Eh, mau ngapain?" Reva mendelik padaku.
"Tidurlah," jawabku cuek.
Reva pun meletakkan guling di antara kami. Wanita ini cukup keras kepala. Tak kugubris tindakannya. Tubuh yang lelah sudah menuntut untuk diistirahatkan.
"Jangan sampai melewati batas!" katanya sambil menepuk guling.
Aku menghela napas sebelum menjawab, "Hm."
Reva menutupi tubuhnya dengan selimut, lalu membalikkan badan membelakangiku. Aku pun mulai memejamkan mata. Sepertinya kisah penuh drama akan dimulai.
***
"Aaaa!"
Aku tersentak mendengar teriakan Reva. Rasanya baru saja tertidur. Ras pegal di badan masih terasa.
"Apaan, sih?" Kukucek mata sebelum berkata, "pagi-pagi udah berisik!"
Reva tak menghiraukan ucapanku, lalu turun dari ranjang. Wanita berkulit putih itu melangkah menuju kamar mandi. Mendengar suara lantunan ayat Allah telah dihidupkan di Masjid, aku pun beranjak menunggu Reva di depan pintu.
"Ngagetin aja, sih!" bentaknya.
Buset! Ini cewe galak banget. Pengen meluk jadinya.
"Ga ngajak aku shalatnya?" godaku.
"Ke masjid sana! Bapak bentar lagi keluar tuh."
__ADS_1
Baiklah! Aku akan mengalah untuk sementara waktu.
"Iya," jawabku.
Reva pun melengos dan berlalu dari hadapanku. Bibirku melengkungkan senyuman melihat tingkahnya. Sepertinya aku harus belajar mengerti sifatnya.
Sabar, Bro! Dekati dia dengan perlahan.
Setelah mengambil wudhu, aku pun keluar dari kamar. Bapak mertua sudah membuka pintu depan. Aku pun berjalan mendekatinya.
"Pak," sapaku saat dia menoleh.
"Kirain Nak Ridho belum bangun," goda Bapak.
Aku tersenyum mendengarnya. Bapak mertua tak tahu saja, anaknya belum mau kusentuh. Kami pun berjalan bersisian menuju masjid.
Dalam perjalanan pulang, Bapak mengajaknya mengobrol. "Hari ini masih libur, Nak?"
"Ngga, Pak. Aku udah ambil libur dua hari sebelum akad kemarin."
"Oh gitu. Lagi sibuk, ya?"
Bapak menganggukkan kepala. Tak terasa kami sudah tiba di depan rumah. Aku pun kembali ke kamar. Di pintu, aku berpapasan dengan Reva.
"Mau kemana?" tanyaku.
"Bantu Ibu masaklah," jawabnya
"Aku ngapain, ya?" tanyaku dengan nada usil.
"Terserah!"
"Ya ampun, jutek amat!"
"Biarin!" sahutnya sambil berlalu.
Aku menghela napas, lalu meraih tas yang belum sempat dibongkar isinya. Kukeluarkan beberapa baju dan barang-barang lain, lalu menyimpannya di lemari. Ternyata ada satu rak yang masih kosong.
__ADS_1
Apa Reva yang menyediakan tempat pakaianku? Tak bisa dipercaya, mungkin ibu mertua yang melakukannya.
Huh! Udah punya istri, masih aja ngurus diri sendiri.
Aku tertawa miris. Mengambil tumpukan pakaian dan memasukkannya ke lemari. Kita lihat saja, sampai kapan wanita manis itu akan bertahan dengan egonya.
Bergegas kusiapkan pakain kerja hari ini. Kuraih buku paket dan membacanya. Hari ini aku mengajar jam pertama.
Kututup buku saat melihat jarum jam di dinding hampir menunjuk angka enam. Meraih handuk, lalu melangkah ke kamar mandi. Bisa-bisa digoda teman-teman kalau aku telat datang kerja.
Setelah berpakaian rapi, pintu di dorong dengan pelan. Reva masuk dengan wajah yang penuh keringat. Ternyata dia tak semanja yang kukira.
"Kamu di rumah aja?" sapaku
"Ini baru mau mandi, mau ketemu dosen."
"Ooh." Aku menjawab acuh tak acuh, masih sedikit kesal dengan sikapnya.
"Awas! Jangan ngintip!" teriaknya sambil berlari masuk ke kamar mandi.
Aku terlonjak kaget. "Apaan!"
Reva tampak tak peduli dengan raut kesal di wajahku. Dia membalikkan badan dan menutup kamar mandi. Bibirku menyunggingkan senyuman tipis.
Kulangkahkan kaki keluar kamar untuk menyapa Bapak dan Ibu. Setelahnya, duduk di teras sebentar untuk mengusir rasa jenuh. Di halaman rumah terdapat pohon mangga dan beberapa tanaman hias ibu mertua.
Lima menit berlalu, aku kembali ke kamar. Suasana kamar begitu sepi. Sepertinya Reva masih di kamar mandi. Aku mendorong pintu kamar dengan pelan.
Pintu belum sepenuhnya terbuka, terdengar suara teriakan Reva.
"Ridho! Jangan masuk dulu!" Dia terlihat panik.
Aku menahan tawa yang hampir tersembur, lalu menutup pintu.
Menggemaskan!
Happy reading... 😘
__ADS_1
Jangan lupa vote, like, dan komen semangatnya.❤❤