
Brugh!
Seorang wanita menabrak tubuhku. Tumpukan laporan yang sudah dijilid rapi berserakan di lantai. Rasa penat setelah mendampingi anak semester tiga praktikum membuatku sedikit emosi.
"Yah, kalau jalan lihat-lihat donk!"
"Yaelah, Mas. Ga sengaja saya. Maaf ya." Dia memasang wajah menyesal.
"Ya udah. Bantu pungutin!" ucapku galak.
Wanita itu mendelik sebal sebelum membantuku memungut laporan yang bertebaran. Saat aku mencondongkan badan, tangan kami bersentuhan.
"Apaan sih? Bukan mahrom!" Aku menarik tangan sambil membelalakkan mata.
Wanita berjilbab warna merah muda itu menatap galak, tapi tak mengucapkan satu kata pun. Aku membalas tatapannya tak kalah sebal.
Marahkah dia? Padahal aku bicara yang sebenarnya.
Wanita yang tingginya tak melewati bahuku itu segera berdiri. Dia memberikan senyum tipis, lalu berlalu dengan langkah lebar. Aku sedikit curiga melihat gelagatnya.
"Hei, Mbak! Jangan kabur!" teriakku.
Ga sopan banget tu, anak! Kalau laki-laki sudah kutarik bahunya.
Wanita menyebalkan itu tak menoleh lagi. Setengah berlari menuju ruang kuliahnya. Jangan-jangan sudah telat dia.
Cewe kok grasa grusu gitu?
Kulirik sekilas ruang anak Biologi itu, sepertinya dosennya sudah datang. Wanita itu menjadi bahan tertawaan teman sekelasnya. Tak sadar, aku ikut tersenyum. Kasihan juga, jadi hiburan gratis pagi-pagi begini.
***
Setelah tabrakan di koridor gedung bersama, aku tak pernah bertemu dengan wanita itu lagi. Sejak diterima mengajar di sekolah dekat rumah, aku jarang ke kampus. Hanya datang bimbingan sesekali. Minggu depan aku akan diwisuda.
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunanku. Entah mengapa aku tiba-tiba ingat wanita itu. Sebenarnya, aku pernah sesekali memikirkannya sejak pertemuan itu.
"Ridho, Ayah mau bicara." Suara Bunda terdengar di sela ketukan.
"Iya, Bun." Aku pun turun dari ranjang dan membuka pintu.
"Kamu ga sibuk, 'kan? Ayah nunggu di teras."
Tumben? Biasanya Ayah ngajak ngobrol sambil nonton TV.
"Ngga kok, Bun."
__ADS_1
Kuikuti langkah Bunda ke teras. Ayah sedang menatap layar gawainya.
"Duduk sini, Dho," kata Ayah menepuk kursi di sebelahnya.
Bunda ikut duduk di depan kami.
"Gimana tempat kerja kamu yang baru?"
"Lumayan menyenangkan, Yah. Lebih terasa kekeluargaannya dari tempat yang lama."
Sekarang aku bekerja di sebuah 'boarding school' salah satu yayasan Islam di kota ini. Selain mengajar, aku juga diberikan tugas untuk mengurus administrasi sekolah bersama seorang karyawan TU.
Sekolah ini baru beberapa tahun berdiri. Jadi belum mempunyai dana lebih untuk merekrut banyak karyawan.
Sebenarnya salah satu anggota yayasan adalah teman Ayah. Namun, saat melamar, aku tak memberi tahu Ayah. Aku ingin mereka menerimaku sesuai kemampuan.
"Tadi ketemu sahabat Ayah waktu sekolah."
"Wah, reuni tadi, Yah?" tanyaku antusias.
Bunda hanya menyimak, mungkin sudah mendengar duluan cerita Ayah.
"Iya, dong! Nostalgia kita. Dia punya anak perempuan. Usianya satu tahun di bawah kamu. Rencananya kami mau jodohin kalian."
Aku cukup terkejut dengan rencana Ayah. Zaman sekarang masih jodoh-jodohan? Kepalaku mendadak pening.
Bunda pun terlihat shock mendengar kata-kata Ayah.
"Tapi, Yah-"
"Kenapa? Kamu udah punya pacar?"
"Dengerin dulu anaknya ngomong, Yah." Bunda sepertinya berpihak padaku.
"Ngga. Hanya saja...." Aku bingung mencari alasan yang tepat untuk menolak perjodohan ini.
Sejak putus dari mantan saat semester empat, aku tak pernah pacaran lagi. Sering ikut kajian membuatku paham tak ada istilah pacaran dalam Islam. Aku berusaha menjaga hati dan fokus pada kuliah.
Sebenarnya, ada teman lama yang akhir-akhir ini kami cukup dekat. Nisa juga mulai dekat dengan Bunda. Hanya saja, aku tak punya perasaan apa-apa padanya.
Seketika aku ingat wanita berkerudung merah jambu. Terbersit pikiran ingin mengajukan dia sebagai alasan penolakan ide Ayah. Di mana aku bisa menemuinya?
Ah! Nanti aku malah jadi tertawan Ayah.
"Nah ... kamu juga ga punya calon kayaknya. Minggu depan kita berkunjung ke rumah mereka."
__ADS_1
Aku terdiam, tak berani membantah lagi. Ayah tersenyum menenagkanku. Semoga pilihan ayah memang jodoh yang tepat untukku.
***
Pukul delapan malam kami tiba di rumah teman Ayah. Gadis yang diceritakan Ayah belum terlihat. Aku menanti kehadirannya dengan perasaan tak menentu.
Kami pun di persilahkan duduk di sofa ruang tamu. Tak lama, wanita berhijab biru datang dari arah dalam. Mataku sedikit menyipit karena merasa mengenal sosoknya.
"Kamu?" Dia membulatkan mata saat melihatku.
Aku pun tak kalah terkejut, lalu mengalihkan pandangan. Berusaha menenangkan debaran aneh di jantungku. Benar-benar tak menyangka jodoh yang Ayah ceritakan adalah gadis yang pernah kupikirkan.
Setelah ngobrol panjang lebar, para orang tua menentukan tanggal pernikahan. Aku tak banyak bicara, sesekali melirik wanita bernama Reva itu. Sepertinya kami memang berjodoh.
***
Acara resepsi telah selesai dilaksanakan siang tadi. Keluarga yang menginap sudah pulang ke rumah masing-masing. Setelah cukup lama mengobrol dengan bapak mertua di teras, aku pamit ke kamar.
Kudorong pintu perlahan, wanita itu sedang berbaring dengan mata terpejam. Timbul pikiran ingin menggodanya. Sudah sah jadi istri juga.
"Malam pertama malah tidur!" Aku iseng menggodanya.
Reva mendelik sebal. Tak lama tersungging senyum tipis di bibirnya. Seketika aku ingat kejadian saat tabrakan beberapa bulan yang lalu.
"Ngantuk. Kamu tidur di bawah. Itu ada tikar." Reva menunjuk karpet di sudut kamar, lalu melempar bantal ke arahku.
Aku terkejut, tapi tetap menangkap bantal. Ternyata dia belum berubah. Aku berusaha bersabar dengan sikapnya.
"Wah ... parah!" tukasku.
"Bodo!" jawabnya.
Wanita berambut hitam itu berbalik membelakangiku. Tiba-tiba listrik mati. Dia melompat dari ranjang, lalu memelukku.
"Ngapain peluk-peluk! Tadi sok jual mahal...." Aku pura-pura galak.
Reva melonggarkan pelukan, lalu mencubit pipiku.
"Aduh." Aku meringis sambil memegang pipi.
"Rasain!"
Untuk sementara, aku upload Ridho dulu yaa ☺☺
Jangan lupa vote dan likenya.❤❤
__ADS_1