
Rasanya ingin menangis, tapi tak tahu apa sebabnya. Terdengar langkah Ridho mendekati ranjang. Air mataku mulai mengalir.
"Sayang ...." Ridho menyentuh lenganku.
Aku membiarkannya kali ini. Tak berniat bertengkar lagi, rasanya menyakitkan. Apalagi ada calon bayi dalam perutku.
Ridho ikut berbaring di sebelahku. Tangan bergerak pelan memeluk pinggangku. Tak mendapat penolakan, Ridho mencium keningku yang masih terasa sakit.
"Maafin aku, ya?"
Aku membalikkan badan. "Untuk apa?"
Ridho terlihat berpikir sejenak. "Kurang mengerti perasaan istriku ini."
"Emang! Ga peka jadi suami."
Ridho tersenyum lembut. Jarinya menghapus air mata di pipiku. "Terus aku harus gimana?"
"Mas ga bisa keluar dari sana?" tanyaku nekad.
Ridho terdiam, tampak sedang memikirkan sesuatu. Aku tahu Ridho punya banyak kemampuan selain mengajar. Buktinya dia sudah membuat usaha percetakan dengan temannya.
"Kalau sekarang belum bisa, Yang ... nanti kalau usaha kami udah maju, aku bisa mundur dari pekerjaan sebagai admin. Jadi ga setiap hari datang ke sekolah."
Aku hanya diam. Sebenarnya merasa sedikit egois dengan permintaaku. Namun, tak ada salahnya mencoba bukan?
Kemarin dia juga sempat cerita temannya mengajak membuat tongkrongan anak muda. Mereka sedang mencari tempat kosong atau usaha kecil yang bersedia diubah suasananya. Tiba-tiba aku teringat temannya yang membuat bakso untukku.
"Eh. Temen Mas yang jual bakso itu gimana usahanya? tanyaku dengan antusias. "Maksud aku, mau ga diajak jualan sama-sama? Kan Mas sedang cari usaha kecil untuk diajak kerja sama?"
"Ooh. Mas belum nawari, sih. Kemarin ingat dia karena kamu ngebet pengen bakso. Teman yang punya ide juga belum ngubungi. Takutnya dia udah nemu tempat duluan."
"Iya, sih. Baksonya lumayan menurutku."
"Nantilah, Mas bicarakan sama teman dulu."
Aku mengangguk paham. Membuat usaha bukan perkara mudah. Ridho pasti ingin memikirkan semuanya dengan matang.
"Jangan marah lagi, ya?"
"Tergantung!" jawabku.
"Tergantung apanya? Kan udah dijelasin tadi ...." Ridho mengernyitkan dahi.
"Kalau ga nyebelin lagi, aku ga bakal marah, kok."
Ridho mengerucutkan bibirnya. "Baiklah, Nyonya Ridho!"
"Ish! Kok gitu mukanya? Ga seneng?"
"Ngga, kok ... aku-"
Cup! Aku mencium bibirnya sekilas.
Ridho terlihat terkejut, lalu tertawa renyah. "Udah ganjen sekarang, ya?"
__ADS_1
Tangannya kembali memeluk pinggangku. Aku berusaha melepaskan diri. Takut pikirannya jadi kemana-mana karena ulahku tadi.
"Lepasin dong, Mas," pintaku.
"Kamu mau kemana?" tanyanya sambil mengedipkan mata.
Arggghh! Sepertinya aku salah mengambil langkah. Berniat menghiburnya, malah membangunkan sesuatu yang lain.
"Ada yang mau aku omongin sama Ibu," jawabku cepat.
"Hm ... aku tahu Ibu ga ada di rumah."
Habislah, aku! Gimana ini?
"Mas ... ga mikir yang aneh-aneh, 'kan?" tanyaku langsung.
"Kalau iya, memangnya kenapa?"
Aku terkekeh pelan. "Masih siang, Mas ... malu, ih!"
"Malu sama siapa?" tanyanya, membuat aku semakin gelisah.
"Maksud aku, 'kan bentar lagi Ashar, masa kita mau gituan?"
Ridho terbahak. "Bercanda, Sayang ... sampai ketakutan gitu wajahnya."
"Mas nyebelin!" ucapku memalingkan wajah darinya.
"Eh. Jadi beneran mau gituan?" Ridho meraih wajahku.
Haish! Kok aku kena terus, sih?
Ridho kembali tertawa. "Istriku menggemaskan sekali, sih?" Bibirnya mengecup pipiku dengan gemas.
Aku berusaha mengelak saat dia ingin mencium bagian yang lain. Bisa-bisa aku yang tak bisa menahan diri nanti. "Aku mau wudhu. Mas juga harus ke masjid, 'kan?"
"Iya, iya ... baik Nyonya Ridho yang shaleha."
Saat Ridho sudah melepaskan pelukan, aku mencium pipinya, lalu bergegas turun dri ranjang. Melihat Ridho ikut turun ,aku berlari ke kamar mandi. Tawaku tersembur melihat eksperesi wajahnya.
"Awas, ya! Nanti malam Mas makan kamu!" tukasnya sebelum aku menutup pintu.
Haha. Senang melihat Ridho yang ekspresif seperti itu. Ternyata dia bisa berubah dari pria berwajah dingin menjadi hangat, walau perlahan. Ingat awal kami menikah dulu, sikapnya sungguh berbeda.
Aku sengaja berlama-lama di kamar mandi. Menunggu tak ada suara Ridho baru membuka pintu. Siapa tahu, dia menunda pergi ke masjid karena belum terdengar adzan.
Setelah yakin tak ada gerakan di luar lagi, aku membuka pintu. Ternyata Ridho sudah tak ada lagi. Aku mengambil handuk dan memutuskan untuk mandi sore, tak lupa membawa baju ganti. Walau sudah beberapa bulan menikah, aku masih malu jika harus berganti pakaian di depan suami.
Tak lama, adzan Ashar berkumandang. Aku bergegas mandi dan memakai baju. Setelah shalat Ashar, aku kembali membaca Al-Quran. Berharap calon bayiku menjadi anak yang shaleh.
***
Usai makan malam, aku kembali ke kamar. Sekarang aku semakin betah berbaring di ranjang. Ridho sedang shalat Isya di masjid.
Aku melihat foto-foto dengan teman sekelas di studio beberapa hari yang lalu. Kami ke sana untuk membuat pasfoto untuk ijazah. Namun, Silvi meminta tambahan sesi pemotretan yang lain. Sudah seperti model saja kami diajaknya.
__ADS_1
Tak lama kemudian, terdengar derit pintu tanda dibuka. Aku menghentikan kegiatanku sejenak. Ridho terlihat tampan dengan koko putih dan peci hitamnya.
"Kamu belum shalat? tanyanya.
"Udah, kok."
"Lagi ngapain?" Ridho duduk di sebelahku.
"Lihat-lihat foto kemaren, lucu."
"Mana?" tanyanya mendekatkan wajah ke gawaiku.
Aku pun menunjukkan foto kami. "Lucu, ya? Ide si Silvi nih, foto ala-ala model gitu."
Ridho terdiam sejenak. "Ngga diupload di sosmed, 'kan?"
"Kenapa?" tanyaku. Sebenarnya ada niat ingin posting di aplikasi biru.
"Ngga boleh!"
"Kok ga boleh?" Aku menjadi tak semangat.
"Kamu cantik banget di situ. Aku males ada laki-laki lain yang lihat. Apalagi mantan kamu."
Aku tersenyum mendengar pujiannya. "Masa, sih?"
"Iya. Awas aja kalau sampai diposting!"
Aku terkekeh mendengar ancamannya. "Mas lebay, deh! Lagian aku ga ada temenan sama mantan di facebook, kok."
Ridho mengerucutkan bibirnya. "Tetap aja ga boleh."
Aku tak dapat menahan tawa. Sifat cemburunya kadang terlihat menggemaskan. "Iya Masku sayang ...."
"Gitu, dong ... baru istri shaleha namanya." Ridho membelai pipiku.
Aku tersenyum manis untuknya. "Iya, donk!"
"Apalagi kalau mau memenuhi permintaan suaminya sekarang."
"Maksudnya?" tanyaku penasaran.
"Pura-pura ga tau, ya?" tanyanya sambil mengedipkan mata.
Argghh! Aku kembali teringat dengan kejadian sore tadi. Ternyata dia masih dendam padaku.
Aku memasang wajah sok imut. "Suamiku baik, deh ... aku sayang ... banget Mas."
"Ngga mempan!" sahutnya dengan wajah dibuat garang.
Ridho meletakkan pecinya di meja. Membuka sarung dan kokonya. Hanya tertinggal celana pendek dan kaus dalam.
Sudahlah ... terima saja nasibmu, Reva! Siapa suruh membangunkan sesuatu yang sdmedang tidur? Hiks.
Ridho kembali ke ranjang, lalu berbaring di sebelahku. Bibirnya membelai pipiku, lalu berpindah ke leher dan bahu. Aku hanya bisa pasrah dengan apa yang dia lakukan.
__ADS_1
Kayaknya masih ada yang belum ngerti cara vote.😊😊
Vote itu pake point yaa, bukan like. Tapi ga bayar, kok. Biar rangkingnya naik dan penulis tambah semangat. Caranya ambil aja point online kita pas baca novel. Tulisan point ada di sudut kanan atas. Nanti pas buka cerita ini, pilih vote. Tinggal kasih point yang kamu punya untuk penulis. ❤❤