Suami Romantis (Jodoh Pasti Bertemu) Oleh Meisy T

Suami Romantis (Jodoh Pasti Bertemu) Oleh Meisy T
Kesayangan


__ADS_3

Seorang perawat laki-laki masuk ke ruangan. Dia akan menyuntikkan antibiotik melalui jarum infus. Bunda dan Ibu memberi ruang untuknya.


"Setelah enam jam belajar berbaring ya, Bu," ucap perawat itu sambil melakukan tugasnya.


"Enam jam lagi?" tanyaku sambil melirik jam yang berbentuk bundar di dinding.


"Iya, Bu. Enam jam setelahnya harus bisa duduk. Dua puluh empat jam usahakan sudah bisa berjalan. Agar Ibu bisa segera pulang ke rumah."


"Gitu, ya? Makasih, Mas."


"Ok. Saya permisi, Bu."


Tak terbayang bagaimana aku harus bisa bergerak dalam waktu sesingkat itu dengan luka lebar di perut. Berulang kali menarik napas untuk menenangkan diri.


Semangat, Reva! Aku berusaha mengumpulkan keberanian sendiri.


Terdengar tangisan bayi kami. Bunda mengambilnya menyerahkannya dalam pelukanku. Ibu membantuku mengajari bayi mungil itu mengecap ASI. Ternyata belum juga keluar airnya.


Ibu mengambil bayi yang belum bernama itu, lalu memomongnya. Sebenarnya kami sudah mencari nama bayi saat aku masih hamil. Ketika usianya kandunganku enam bulan, kami kontrol ke dokter, jenis kelaminnya sudah terlihat, bayi laki-laki. Hanya saja, kami belum sempat memilihnya.


Setelah bayiku tertidur lagi, Ibu meletakkannya lagi ke dalam box. Aku merasa sedikit iri karena belum bisa menggendongnya. Bunda memperpaiki letak kelambu yang tadi terbuka.


"Wah, nyenyak lagi boboknya." Bunda menatap bayiku dengan mata berbinar.


"Iya, Mbak," sahut Ibu.


Aku memejamkan mata yang mulai terasa lelah. Tubuh yang mulai basah oleh keringat membuatku tak nyaman. Perawat tak menyarankan menghidupkan pendingin ruangan, kasihan pada bayi yang masih mungil.


"Kami pulang ngga sebentar ngga papa, Mbak?" Aku kembali membuka mata mendengar Ibu bicara. "Mau ambil beberapa barang, tadi buru-buru belum sempat dibawa."


"Oh. Silahkan, Besan. Kami masih lama kok pulangnya. Takut besok ngga bisa izin pagi ada kerjaan."


"Iya, Mbak. Makasih sebelumnya."


"Makasih apanya, sih? Cucu sama-sama juga." Bunda menepuk lengan Ibu dengan pelan.


Ibu hanya tersenyum menanggapinya. "Ibu pulang bentar ya, Nak."


"Okesiip." Aku mengacungkan ibu jari pada Ibu.


Beberapa saat kemudian, Bapak dan Ibu pamit. Ridho masuk ke dalam ruangan bersama Ayah. Aku menyunggingkan senyuman pada mereka.


"Gimana keadaan kamu, Nak?" tanya Ayah.


"Baik-baik aja, Yah."

__ADS_1


"Luka operasinya gimana?"


"Kata perawatnya enam jam lagi baru terasa, Yah."


"Tunggu hilang biusnya? Kamu yang semangat, ya!"


"Makasih, Yah."


Ridho mendekat menggenggam jemariku. "Kamu butuh apa? Pengen makan sesuatu?"


"Ng ... pengen teh manis aja kayaknya, Mas. Tapi Ibu belum bawa perlengkapannya."


"Ya udah. Mas cari di kantin dulu, ya. Apalagi? Jus buah mau?"


"Boleh, deh. Siapa tau cepat keluar ASI-nya."


"Ok. Tunggu bentar, ya."


Aku mengangguk pelan. Ayah dan Bunda tersenyum melihat perhatian anaknya. Ridho pun pamit untuk mencari pesananku.


***


Tujuh jam sudah berlalu. Kakiku perlahan mulai bisa digerakkan. Sudah beberapa perawat datang bergantian mengganti infus atau memberi obat. Ridho memegang lenganku setelahnya, seolah ikut merasa sakit.


Luka akibat operasi mulai terasa ngilunya. Berusaha kuat dan tidak mengeluh demi bayi juga keluargaku. Aku mencoba belajar memiringkan tubuh.


Ridho mendekat mendengar rintihanku. "Kenapa, Yang?"


"Coba-coba miring, Mas," jawabku sambil meringis.


"Kok ga bilang?" Ridho membantuku memiringkan badan.


Aku menahan napas menahan sakit yang tak terkira. Hanya sanggup sekali menghadap kanan, lalu ke kiri. Ridho ikut meringis memintaku beristirahat dulu.


Hanya kami berdua dalam ruangan Ayah dan Bunda sedang shalat di Mushalla. Untunglah, bayi mungil kami tak rewel.


"Udah nentuin nama anak kita, Mas?"


"Kamu udah milih yang kita cari kemarin?" Ridho balik bertanya.


"Aku suka Andra. Nanti kita cari kata selanjutnya yang sesuai."


Ridho terlihat menimbang sejenak. "Boleh. Kita panggil Andra dulu." Ridho membelai rambutku.


Terdengar suara langkah kaki masuk ke ruangan sebelahku yang ditutupi tirai. Pasien baru masuk sekitar dua jam.

__ADS_1


"Bu, kenapa anaknya dikasih susu formula? Nanti bayinya tersedak. Belum lagi kalau dia alergi susu sapi." Sepertinya suara perawat.


"Anak saya nangis terus, Mbak. Udah lapar kayaknya."


"Pemberian susu formula harus dengan saran dokter. Bayinya baru lahir. Ngga pa-pa belum dikasih apa-apa selama tiga kali dua puluh empat jam. Bayi masih punya cadangan makanan dalam tubuhnya."


Aku terdiam mendengar penjelasan sang perawat. Kami juga hampir membeli susu formula tadinya. Salah satu teman kantor Ridho yang sudah mempunyai anak menahan keinginan kami. Dia menyarankan untuk menunggu saja sampai malam. Takutnya bayi mengalami bingung ****** bila cepat diberi susu menggunakan dot.


"Ternyata banyak juga pengaruhnya ya, Mas?"


"Hah?" Ridho menoleh padaku. "Apanya?"


Sepertinya Ridho tak terlalu mendengar pembicaraan di kamar sebelah. Dia sedang fokus memeriksa popok bayi kami. Keningnya berkerut menatapku.


"Itu. Akibat buruk dari sufor tanpa saran dokter."


"Oh ... mas ga denger tadi. Popok Andra kayaknya basah, deh. Mas bingung gantinya."


"Tunggu Bunda balik aja kalau gitu, Mas. Andra belum nangis juga."


"Iya. Cuma gerak-gerak gelisah gitu."


Senyumku terkembang melihat Ridho yang begitu antusias merawat bayi kami. Walau belum mengerti sepenuhnya, tapi semangatnya pantas diacungi jempol. Aku tak menyangka Ridho mau repot mengurus hal-hal kecil seperti itu.


Tak lama kemudian, Bunda dan Ayah kembali ke ruangan. Wajah mereka nampak lebih cerah walau ada gurat lelah. Aku bersyukur Bunda bersedia merawat bayi kami sementara Ibu pulang.


"Bun, popok Andra basah, nih."


"Andra namanya? Duh ... cucu oma pipis, ya? Sabar, ya. Kita ganti popoknya." Bunda mengelus pipi Andra dengan gemas. "Siapin popok baru sama bedongnya, Dho."


"Baik, Bun."


Ridho pun merogoh tas bayi untuk mencari benda yang diminta Bunda. Kadang dahinya mengernyit menatap beberapa pakaian bayi. Mungkin masih terasa asing baginya. Aku pun tak terlalu mengerti, hanya sempat melihat postingan online, jadi tak terlalu buta seperti Ridho.


Bunda menyiapkan bedong dan popok di atas kasur. Dia meminta Ridho mengambil bayi kami dari box. Tangan Ridho sedikit gemetar saat menggendong baby Andra.


Terdengar tangisan kecil saat tidurnya diganggu. Bunda menimangnya sebentar setelah mengganti popok baby Andra yang basah. Kemudian menyerahkan bayi kami padaku.


"Coba diberi ASI lagi, Nak. Siapa tau sudaha ada."


"Iya, Bun."


Ridho membantuku memiringkan tubuh agar bisa menghadap bayi kami. Baby Andra mulai mengecap ******. Terasa ngilu dan perih awalnya. Ternyata ASIku mulai keluar. Bayi kami mengecapnya dengan semangat.


Aku sedikit menahan napas menahan ngilu yang teramat sangat. Rasanya seperti ditusuk dengan jarum. Namun, sakitnya kalah dengan rasa bahagia melihat bayi kami mendapat haknya. Kembali rasa syukur kupanjatkan dalam hati pada Tuhan Yang Maha Kuasa.

__ADS_1


Jangan lupa like, vote dan komen 😘😘


__ADS_2