
Hari yang ditunggu tiba. Setelah shalat subuh, aku sudah diantar Ridho ke salon dekat rumah. Sebenarnya ingin satu tempat dengan Silvi, tapi Ridho tak memberi izin, aku juga takut mual pergi terlalu jauh saat hari masih dingin.
Pukul setengah tujuh kami berangkat dari rumah. Aku duduk di samping Ridho, Bapak dan Ibu di jok belakang. Sesampainya di daerah kampus, jalanan sudah macet. Mobil bergerak pelan memasuki tempat parkir yang sudah disediakan. Syukurlah kami tiba lebih awal, jadi lokasi mobil tak terlalu jauh dari gedung.
Ridho menuntunku berjalan menuju aula terbesar kampus. Suasana terasa sakral juga meriah. Ruangan didekorasi sedemikian rupa, dii berbagai sudut terlihat hiasan bunga dengan berbagai warna.
Beberapa teman yang wisuda hari ini sudah datang. Kami menyempatkan berfoto sebelum acara di mulai. Silvi menyusul tak lama kemudian.
"Udah foto sama Ridho?" tanyanya.
"Belum. Ga sempat tadi. Ga terbiasa juga, belum pernah foto berdua." Aku berbicara sedikit berbisik.
Ridho sedang menerima telpon tak jauh dari kami. Ibu dan Bapak sudah diarahkan panitia untuk duduk di tempat yang sudah disediakan. Sebentar lagi acara akan di mulai.
Silvi menggeleng pelan. "Parah! Siniin hape kamu, biar aku fotoin. Mumpung masih fresh."
Aku pun menyerahkan gawai pada Silvi. Walau tak yakin dengan usulnya, aku berharap Ridho tak keberatan kami foto di depan orang banyak. Saat Ridho sudah memutuskan panggilan, Silvi melambaikan tangannya meminta Ridho mendekat.
"Kenapa?" tanya Ridho sedikit heran.
"Reva mau foto berdua, nih!" jawab Silvi.
Aku mengernyitkan dahi mendengar celoteh Silvi. Bukannya dia yang punya ide tadi?
"Iya, Rev?" tanya Ridho.
Duh ... kenapa juga pake ditanya?
"Ide si Silvi, tuh!" Aku sedikit gengsi untuk mengakui keinginan untuk berfoto berdua saja.
"Jadi, ga mau, nih?" tanya Ridho dengan nada usil.
"Hm ... mau, kok. Kan cuma ngasi tau aja itu bukan ideku."
"Halah! Reva, mah. Udah lama nikah masih juga jaiman."
Aku mendelik sebal. Ini anak kenapa makin semangat aja ngejek temen sendiri?
Ridho terkekeh pelan. "Ya udah. Sini!"
Aku pun mendekat padanya. Ridho memeluk pinggangku. Sempat kulirik wajahnya yang tersenyum semringah menatap kamera.
Duh ... kok malah aku yang jadi gelisah gini, ya? Ga pede rasanya foto berdua di depan teman lainnya.
"Satu, dua, tiga!" Silvi memberi aba-aba.
Dengan cepat aku menoleh ke kamera. Saat Silvi memberi aba-aba ke dua, Ridho mendekatkan wajah kami. Tentu saja, wajahku pasti tampak merona. Apalagi, teman-teman yang kukenal melihat ke arah kami.
"Cie ...." goda Stefi yang baru datang.
__ADS_1
Tuh, kan ... benar tebakanku.
"Udah, ah!" keluhku.
"Lagi, donk!" Silvi tak mau menyerah.
Ridho menatap wajahku saat foto ke tiga. Entah seperti apa ekspresi wajahku. Penasaran melihat hasil foto kami.
"Lihat donk, Sil!" pintaku.
"Bentar, pinjam dulu, Sil." Ridho mengulurkan tangannya pada Silvi.
"Aku duluan, donk!"
"Sabar, sabar ... kok jadi pada rebutan, sih?" tanya Silvi dengan dahi berkerut. "Lihat sama-sama kenapa?"
"Takut dihapus kalau dia ga suka," sahut Ridho.
Silvi tertawa melihat tingkah kami. "Nih!" Dia lebih memilih memberikan gawaiku pada Ridho.
Deh ... nih anak temen siapa sebenarnya?
Dasar Silvi pengkhianat!
Aku berusaha mengintip apa yang sedang Ridho lakukan. Ternyata dia sedang mengirim foto-foto kami ke gawainya. Pantas saja dia cepat meminta gawaiku pada Silvi.
Selesai memindahkan foto kami, baru gawaiku dikembalikan. Kulihat Ridho tersenyum menatap layar benda pipih itu. Aku menjadi curiga, dia lihat apa, sih?
Cepat kulihat galeri yang masih terbuka di layar smartphone-ku. Ternyata ada foto yang menampakkan bibirku sedang manyun. Aku menatap wanita yang menawarkan diri menjadi juru foto yang sedang asyik dengan benda pipih di tangannya.
Silvi tega! Harusnya tunggu aku siap, baru difoto.
"Ih ... kok fotonya gini, sih?" protesku pada Silvi.
Wanita berambut ikal itu nyengir kuda. "Ga papa kali, lucu."
Aku mencebikkan bibir. Pasti dia sengaja ngelakuinnya. Apanya yang lucu?
Terdengar pengumuman bahwa upacara wisuda sebentar lagi dimulai. Kami pun masuk dan duduk di tempat yang sudah disediakan. Ridho meminta gawaiku untuk disimpan, takut aku lupa nanti, katanya.
Acara demi acara terlewati. Beberapa jurusan sudah dipanggil untuk diwisuda. Aku deg-degan menunggu giliran dipanggil. Ternyata begini rasanya diwisuda. Rasa haru dan bangga menjadi satu di hati.
Sempat kulihat Bapak dan Ibu yang duduk di bagian yang cukup tinggi. Wajah mereka terlihat bahagia dan bangga. Kuucapkan rasa syukur dalam hati pada Yang Kuasa.
***
Setelah mengikuti acara wisuda, aku dan teman-teman berfoto bersama. Ridho mengambil beberapa moment saat aku tertawa bersama teman-teman. Kami berpelukan dan mengucapkan selamat satu sama lain sebelum pulang.
Ibu dan Bapak sudah menunggu di dekat pintu. Mereka tersenyum melihat kami. Aku dan Ridho berpamitan pada teman-teman, lalu mendekati orang tua kami.
__ADS_1
"Kita mampir ke studio foto dulu, ya," tawar Ridho.
"Iya, Mas."
Bapak dan Ibu hanya mengangguk. Aku menggandeng tangan wanita tersayang dalam hidup. Kami pun berjalan menuju mobil.
Sesampainya di studio foto yang Ridho pilih, kami mengambil nomor antrian. Ternyata tempatnya cukup ramai. Beberapa wisudawan sudah tiba duluan dan duduk menunggu giliran.
Saat namaku dipanggil, kami diminta naik ke lantai atas. Ridho menuntunku naik. Ibu dan Bapak menyusul di belakang kami.
Setelah mengambil gambar keluarga, juru kamera memintaku dan Ridho foto berdua. Dia sempat menanyakan hubungan kami tadinya. Ridho pun berdiri di sampingku.
"Yang mesra donk!" Terdengar aba-aba dari juru foto.
Sepertinya Ridho canggung dan malu karena ada Bapak dan Ibu. Aku berinisiatif merapatkan tubuh padanya. Perlahan Ridho memeluk pinggangku.
"Ok. Wajahnya deketin dikit lagi!"
Kami pun saling menatap sambil tersenyum. Beberapa kali mengganti posisi, sesi foto akhirnya selesai. Tak sabar menunggu hasilnya beberapa hari lagi. Saat menikah, kami sangat canggung ketika ada adegan yang berdekatan.
"Kita jalan-jalan, mau?" tanya Ridho saat sudah di parkiran.
"Mampir lesehan aja, Mas. Kasihan Bapak dan Ibu, mungkin udah cape. Jalan-jalannya besok-besok aja."
"Ooh. Siap Tuan Putri!"
Aku tersenyum mendengar panggilannya. Ternyata suamiku sudah pandai menyenangkan hati sekarang. Kami pun masuk ke dalam mobil.
Ridho menghentikan mobil di depan lesehan ayam bakar. Kami memesan beberapa makanan dan minuman. Tak lama pesan di antar ke meja.
"Bapak mau ayam atau ikan?" tanyaku.
"Ikan aja. Biar Ibu yang makan ayam."
"Cie ... yang mesra sampe tua ...." godaku.
Ibu tersenyum malu. Sekarang aku tak canggung lagi mengganggu Bapak dan Ibu di depan suami. Ridho terkekeh melihat tingkah kami.
"Ayo makan!" tegur Bapak. "Biar ga telat shalat Zuhurnya."
Kami hanya menjawab dengan anggukan kepala. Aku meletakkan minuman masing-masing di depan orang-orang tersayang. Ridho meletakkan mangkuk bakso di depanku. Selesai makan, Bapak mengelurkan donpet untuk membayar.
Ridho berdiri dan segera mencegahnya. "Biar Ridho aja, Pak."
Bapak mengangguk dan menyimpan dompetnya lagi. Aku merasa bahagia melihat kedekatan mereka. Begitu bersyukur dengan semua nikmat yang Tuhan berikan.
Kayaknya masih ada yang belum ngerti cara vote.😊😊
Vote itu pake point yaa, bukan like. Tapi ga bayar, kok. Biar rangkingnya naik dan penulis tambah semangat. Caranya ambil aja point online kita pas baca novel. Tulisan point ada di sudut kanan atas. Nanti pas buka cerita ini, pilih vote. Tinggal kasih point yang kamu punya untuk penulis. ❤❤
__ADS_1