Suami Romantis (Jodoh Pasti Bertemu) Oleh Meisy T

Suami Romantis (Jodoh Pasti Bertemu) Oleh Meisy T
Kesedihan Silvi


__ADS_3

[Rev, Kak Deva sakit. Udah dua hari di rumah sakit.]


[Duh ... kamu udah jenguk?]


[Udah sore kemaren, Rev. Tadi pagi aku telpon, yang angkat mamanya. Kak Deva sempat ga sadarkan diri.]


Emot sedih disematkan diujung pesan Silvi. Aku ikut merasakan kesedihannya. Aku menjadi bingung sendiri, ingin menemaninya ke sana, tapi takut Ridho cemburu. Aku pun menghubungi nomor Silvi.


"Ya, Beb?" Suara Silvi terdengar tak semangat.


"Sabar ya, Sil. Maaf aku belum bisa nemenin kamu. Aku coba ngomong sama Ridho dulu, ya. Kamu taula, sifat Ridho waktu itu gimana."


"Iya, Rev. Ngga papa. Aku mungkin ke rumah sakit sore nanti. Hubungi aja kalau kamu mau ikut ke sana."


"Ok, Sil. Kamu yang tenang, ya. Doain aja dia baik-baik aja, bisa cepat sehat lagi."


"Makasih, Beb."


Aku pun memutuskan panggilan. Sejenak termenung, bingung harus melakukan apa. Walau bagaimananpun, Deva adalah kakak kelasku, sekarang dekat dengan silvi.


"Apa ngga papa aku izin pada Ridho lewat WA aja, ya?"


Deh ... nanti dia jadi emosi, padahal lagi kerja. Tapi kelamaan kalau nunggu dia pulang. Kasihan sama Silvi.


Berulang kali aku menatap layar gawai. Sudah membuka aplikasi hijau, tapi belum juga mengetik pesan untuk Ridho. Kami baru saja berbaikan setelah masalah dengan Sinta selesai. Aku belum sanggup untuk bertengkar lagi dengan Ridho.


Lebih baik aku tanya dulu aja, deh, Ridho pulang jam berapa. Kalau dia ga pulang telat, aku tunggu aja dia pulang.


[Assamualaikum. Mas, hari ini pulang jam berapa kira-kira?]


[Waalaikumsalam. Jam dua. Tumben kamu nanya?]


[Ngga papa. Ok, deh. Aku tunggu Mas di rumah.]


[Hm ... mas jadi penasaran.]


[Ga ada yang istimewa, kok. Mas kerja lagi aja.]


Kutambahkan emot cium di akhir pesan. Berharap Ridho tak terlalu memikirkan pesan dariku. Aku jadi sedikit menyesal sudah nekad menghubunginya.


[Ok. Baik-baik di rumahnya.]


[Siap.]


***


Pukul dua siang, suara motor Ridho memasuki halaman. Aku bergegas membuka pintu. Wajah yang terlihat lelah itu tetap tampan seperti biasanya.


"Cape, Mas?"


"Ngga juga. Cuacanya aja yang ga bersahabat."


Matahari memang bersinar garang seharian ini. Udara terasa pengap. Aku cuma keluar rumah sebentar untuk menjemur pakaian.


Setelah Ridho beristirahat sebentar, aku menemaninya makan siang. Sesekali dia bercerita tentang hal lucu yang dilakukan murid di sekolah. Aku hanya menanggapinya dengan antusias dan tertawa saat ceritanya benar-benar lucu.

__ADS_1


Melihat nasi di piring Ridho sudah habis, aku memberanikan diri untuk membuka suara. "Mas ... aku boleh nemenin Silvi pergi sore ini, ga?"


"Boleh aja, mau kemana emangnya?"


"Ng ... jenguk De-va di rumah sakit." Suaraku sedikit terbata saat mengucap nama itu.


"Deva? Deva yang dulu itu?" Raut wajah Ridho langsung berubah tak suka.


"Jadi gini loh, Mas ... Silvi itu lagi deket sama Deva. Dia lagi sedih karena Deva tadi pagi ga sadarkan diri."


"Silvi sama Deva? Mereka pacaran maksudnya?"


"Aku ga tau hubungan mereka yang sebenarnya gimana. Silvi pernah cerita mereka ada chat gitu. Boleh, Mas?"


"Ntar dulu. Kok bisa Silvi sama Deva?"


Deh ... kenapa juga Ridho jadi kepo gini, ya?"


"Aku juga kurang tau detilnya. Tapi aku senang kalau mereka memang berjodoh."


"Beneran? Eh. Gimana tadi? Deva ga sadarkan diri? Sakit apa dia?"


"Iya, Mas ... ngapain juga aku mikir pria lain kalau udah punya suami shaleh, baik hati dan suka nyenengin istri gini?" Aku berusaha sabar menjawab pertanyaan Ridho. "Kata Silvi gitu. Aku belum ada nanya, nanti mas curiga lagi."


Aiih! Gombal, gombal, deh. Sesekali ini.


Ridho tersenyum semringah. "Coba ulangin lagi!"


"Apanya?" Aku pura-pura tak mengerti maksudnya.


"Aduh, Mas. Orang lagi serius, nih. Gimana? Boleh ga aku nemenin Silvi?"


Wajah Ridho berubah serius. "Galak bener, Buk? Becanda, Sayang .... Boleh, lah. Maskan ga curigaan kayak kamu."


Aku mendelik sebal. "Ga usah diungkit-ungkit lagi, deh!"


Kayak lupa gitu dia, Gaes. Siapa coba yang sering ngambek, sampe cemburu buta?


Aku tak berniat menanggapi godaannya. Bisa panjang kali lebar nanti pembicaraan ini. Paling penting sekarang Ridho tak keberatan kalau aku menemani Silvi menjenguk Deva.


Ridho terkekeh pelan. "Mas seneng, kok, lihat kamu cemburu."


"Mulai, deh ... jangan suka ke-ge-er-an, Tuan Ridho!"


Ridho nyengir kuda, lalu mencubit pipiku. "Baiklah, Nyonya Ridho. Hati-hati perginya. Ga boleh pindah ke lain hati."


"Okesiip. Aman, Tuan!"


Aku pun menghubungi Silvi untuk memberi tahu kabar baik itu. Setengah jam kemudian, aku bersiap untuk pergi. Kami janjian di depan rumah sakit tempat Deva dirawat. Tak lupa mencium tangan Ridho sebelum pergi.


"Jangan kemalaman ya ... kalau ada apa-apa hubungi mas."


"Iya, Mas. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."

__ADS_1


Tiba di rumah sakit, Silvi melambaikan tangannya. Wanita mungil itu sudah memarkir motornya. Di tangannya ada bingkisan buah.


Aku pun bergegas memarkir motor di dekat Silvi. "Gimana keadaan Kak Deva, Sil?"


"Aku tadi udah hubungi Tante Sita, Kak Deva belum sadar, Rev."


"Sebenarnya dia sakit apa, Sil?"


"Awalnya dia demam tinggi. Setelah itu napasnya sesak. Semoga lagi drop aja ya, Beb. Kasian aku lihatnya, biasa ceria dan ramah."


"Iya, Sil. Semoga ga ada penyakit lain yang parah."


"Aamiin. Langsung masuk kita, Sil?"


"Iya, Rev."


Kami pun masuk ke ruangan Deva. Di pintu kami bertemu dengan seorang laki-laki paruh baya. Melihat raut wajahnya, sepertinya ayah Deva.


"Om," sapa Silvi.


"Eh. Nak Silvi baru datang?" Laki-laki itu berpaling padaku.


"Saya Reva, Om. Temen Silvi." Aku memperkenalkan diri.


"Teman Kak Deva juga pas SMA, Om," tambah Silvi.


Ayah Deva tersenyum ramah. "Silahkan masuk!"


"Iya, Om," sahutku.


"Om mau ambil obat Deva di apotek dulu, ya."


"Silahkan, Om."


Saat masuk ke ruangan, Deva terbaring lemah di ranjang yang dilapisi seprai putih. Di sebelah ranjang duduk seorang wanita paruh yang masih terlihat cantik. Aku dan Silvi mencium tangannya.


"Gimana keadaan Deva, Tante?"


Wajah Tante Sita terlihat muram. "Belum tau pastinya, Nak. Tunggu keterangan dari dokter dulu. Barusan udah diperiksa lagi."


Silvi mengangguk paham. "Tante sabar, ya ... semoga Deva baik-baik aja."


"Makasih, Sayang ... Silvi ga kerja?" tanya Ibu Deva.


"Baru pulang, Tante. Ini temen Silvi, teman Deva juga."


"Oh ya? Makasih udah mau jenguk Deva. Kamu juga, Sil ... pasti cape, pulang kerja langsung ke sini."


Aku hanya mengangguk sebagai jawaban. Silvi memberi bingkisan buah pada Ibu Deva. Beberapa saat kami larut dalam pikiran masing-masing.


"Makasih ya, kalian udah mau repot-repot nemenin Tante di sini."


"Ngga repot kok, Tante."


Ibu Ridho tersenyum lembut. Bisa kulihat wajah Deva menurun dari Ibunya.

__ADS_1


__ADS_2