Suami Romantis (Jodoh Pasti Bertemu) Oleh Meisy T

Suami Romantis (Jodoh Pasti Bertemu) Oleh Meisy T
Belajar Bersyukur


__ADS_3

Usai mandi dan berpakaian, aku duduk di depan cermin. Kupandangi wajah yang lebih tirus dari beberapa hari yang lalu. Ternyata kesedihan membuat tubuhku lebih cepat kurus.


Memejamkan mata sejenak, berusaha menguatkan hati agar tak kembali terpuruk. Saat membuka mata, kuhirup oksigen sebanyak-banyaknya agar bisa mengurangi sesak yang terkadang menghimpit dada. Memaksa kedua sudut bibir untuk belajar tersenyum kembali.


Kusisir rambut perlahan, menyapu bedak ke pipi dan memoles lipstik berwarna merah muda ke bibir. Hasilnya cukup menutupi wajah yang mendung sebelumnya. Aku menarik napas panjang sebelum keluar dari kamar.


Baru akan beranjak dari kamar, terdengar ucapan salam dari depan. Sepertinya Silvi sudah tiba. Aku bergegas menghampirinya ke ruang tamu. Silvi sedang disambut oleh Ibu. Gadis mungil itu menyerahkan bingkisan buah pada Ibu.


"Nah, itu orangnya udah keluar. Ibu tinggal ke belakang dulu, ya."


"Ok, Bu," jawab Silvi.


Aku menarik lengan Silvi agar masuk ke ruang keluarga. Dia pun beranjak menuruti langkahku. Kami duduk bersisian di sofa yang bisa menampung dua orang.


"Kamu beneran udah baikan?" tanya Silvi.


"Alhamdulillah. Kamu lihat sendiri, 'kan?"


"Iya, sih. Tumben lipstikan di rumah? Lain deh, yang punya laki."


Aku tersenyum sekilas. "Sesekali aja, kok. Ini tadi pucat banget mukanya."


Silvi menatap iba. "Kamu yang sabar, ya. Semoga Allah ganti dengan yang lebih baik nanti."


Aku menghela napas. "Entahlah. Yang pasti aku belum bisa lupain gitu aja."


"Pastinya, Beb. Aku doakan semoga nanti dapet kembar!" sahut Silvi dengan semangat.


Aku terkekeh pelan. "Aku ga berharap gitu, sih. Sedikasihnya aja. Makasih ya ... udah berusaha ngibur aku."


"Santai aja, Beb. Kitakan friend. Ridho mana?"


"Iya. Pokoknya makasih udah mau datang jengukin aku," ucapku tulus. "Ridho tadi ke kantor mau ambil kerjaan buat dibawa pulang. Udah dua hari izin. Mungkin udah numpuk kerjaannya."


"Apaan, sih!" Silvi nyengir. "Ooh. Suami siaga Ridho, mah."


Aku tersenyum mendengar ucapannya. "Bener. Aku bersyukur Tuhan ngasi jodoh kayak Ridho buat aku."


"Aish! Bikin iri aja, sih. Iya, deh ... yang dapet laki penuh cinta."


Kembali aku terkekeh dibuatnya. "Aku doakan kamu juga dapet yang kek Ridho. Bahkan, lebih baik lagi."


Silvi menatapku dengan mata penuh binar. "Aamiin. Kak Deva gimana?"


Aku sedikit terkejut mendengar nama laki-laki itu kembali disebut. Tak menyangka kalau Silvi masih mengingatnya. Jangan-jangan aku ketinggalan berita terbaru?


"Deva? Kalian jadian?"


"Hah? Ngga, lah! Pernah sih, ketemu lagi satu kali waktu aku ngantar sepupu ke kampus. Maksud aku, gimana kalau aku jodoh sama dia?"

__ADS_1


"Ooh. Kalau memang jodoh alhamdulillah. Dia pria yang baik insya Allah. Ngobrol apa pas ketemu?"


"Aamiin. Cuma saling tanya kabar aja. Bentar doank ketemunya."


"Ngarep!" godaku. "Kamu ga minta nomornya, 'kan?"


"Ye ... Ngga, lah! Sempat kepikiran, sih! Unrungnya ga jadi." Silvi terkekeh memamerkan deretan giginya yang rapi.


"Dasar! Kamu banyak doa aja, semoga dapet jodoh yang shaleh. Mau itu Deva atau pria lain."


"Okesiip!"


Saat sedang asik mengobrol, Ibu datang membawa minuman dan camilan. Aku membatalkan niat membicarakan tentang Deva lagi. Ibu mempersilahkan Silvi untuk minum.


"Makasih ya, Bu."


"Ibu yang makasih, kamu udah mau jengukin Reva."


"Ah, Ibu bisa aja. Walau jarang ketemu, kami tetep deket, kok."


"Iya, deh. Kamu kapan ngundang kita?" tanya Ibu dengan nada usil.


Silvi nyengir kuda. "Ibu doain aja, segera dapet jodoh yang cocok."


"Ok, deh. Jangan lupa undangannya nanti."


"Aman, Bu!"


"Ya udah. Ibu mau mandi dulu, udah sore."


Silvi hanya mengangguk sebagai jawaban. Sepeninggal Ibu kami kembali mengobrol. Silvi mengaku kagum dengan sifat Ibu yang bisa akrab dengan anak muda.


"Ibu memang gitu orangnya. Kami bebas becanda di rumah ini."


"Mamaku juga, sih, tapi masih kalah gaul sama Ibu kamu."


Aku tersenyum mendengar pengakuan Silvi. Ibu memang tak terlalu kaku mendidikku selama ini. Walau sudah menikah, dia tetap bisa berperan jadi sahabat buatku.


"Assalamualaikum!" Terdengar ucapan salam Ridho dari depan.


Kami pun menjawab serentak. Aku mencium tangannya sebagai ganti pelukan. Ridho melirik Silvi sekilas, lalu tersenyum padanya.


"Udah lama, Sil?"


"Lumayan, Dho. Ini udah mau pulang."


"Cepet banget, Sil?" protesku.


"Aku tadi ga sempat izin sama orang rumah, langsung aja dari tempat kerja. Kapan-kapan kita ngumpul lagi, ajak temen yang lain juga."

__ADS_1


"Ooh. Ya udah, deh. Boleh ... atur aja waktunya. Insya Allah aku ikut kalau diizinin," sahutku sambil melirik Ridho.


"Boleh, kok. Asal ga kecapean."


"Cie ...." Silvi kembali usil.


Aku tersenyum malu. "Tenang aja, Mas. Ada Silvi yang bakal urusin." Aku tak mau kalah.


"Malesin! Udah punya suami juga."


Ridho tertawa melihat tingkah kami. "Aku ke kamar dulu, ya. Kalian lanjutin ngobrolnya."


"Siap!" jawabku dan Silvi.


Setelah menghabiskan minuman dan sedikit camilan, Silvi pamit pulang. Aku mengantarnya hingga ke teras. Silvi mencium tangan Ibu, juga Bapak yang baru pulang.


"Wah, ada teman Reva, ya?"


"Iya, Pak. Pamit dulu ya, Pak," jawab Silvi.


"Hati-hati di jalan," sahut Bapak.


Silvi mengangguk pelan. Tak membutuhkan waktu yang lama, Silvi melajukan motornya ke jalan raya. Aku beranjak masuk untuk menemui Ridho.


Lelakiku baru saja keluar dari kamar mandi. Aku duduk di tepi ranjang menunggunya selesai berpakaian. Setelah rapi, Ridho berjalan mendekatiku.


"Seneng habis ketemu Silvi?" tanya Ridho setelah duduk di sampingku.


"Lumayan, Mas. Sifat cablaknya kadang bikin gemes."


Ridho tersenyum lembut padaku. "Mas seneng lihat kamu ga sesedih kemaren."


Seketika aku ingat lagi ujian yang baru menimpa kami. Sebisa mungkin aku menahan perasaan yang mulai terpengaruh. Tak ingin membuatnya khawatir, apalagi Ridho baru saja pulang kerja.


"Iya, Mas. Banyak kerjaannya, ya?"


"Lumayan, tapi masih bisa Mas atasi, kok."


Aku hanya mengangguk. Ridho meraihku dalam pelukan. Rasanya begitu nyaman, menghirup aroma maskulin yang bercampur dengan harumnya sabun mandi yang menguar dari tubuhnya.


"Kamu jangan sampai berlarut-larut dalam kesedihan ... harus bisa melanjutkan kehidupan kembali."


"Iya, Mas. Makasih, ya, selalu ada buat aku."


Ridho membelai rambutku. "Iya, Sayang ... udah jadi kewajiban Mas untuk support kamu."


Aku membenamkan kepala di dada bidangnya. Menghapus air mata yang sempat menitik dengan cepat. Sebenarnya air mata haru, tapi takut Ridho salah paham dan khawatir.


Berusaha menikmati setiap detik kebersamaan ini dengan perasaan syukur. Berharap ujian yang diberikan bisa membuat hati kami lebih dekat. Juga menjadikan aku manusia yang lebih kuat dan pandai bersyukur.

__ADS_1


Jangan lupa vote ya zheyenk 💕💕


__ADS_2