
Hampir setengah jam kami menemani Tante Sita di ruangan Deva. Belum terlihat tanda-tanda kedatangan dokter. Dengan tulus aku berdoa dalam hati untuk kesembuhan Deva.
"Tante jangan sedih gitu, aku yakin Deva juga sedang berjuang agar bisa sembuh ... kapan ga sibuk, aku usahakan ke sini lagi."
Ibu Ridho hanya mengangguk. Bisa kulihat kegelisahan yang tergambar jelas di wajah cantiknya. Ingin ikut menghibur, tapi aku bukan tipe yang cepat akrab dengan orang lain seperti Silvi.
Setelah mengobrol beberapa saat kami pamit pada orang tua Deva. Aku yang mengajak Silvi pulang agar mereka bisa beristirahat. Takut mengganggu istirahat Deva juga.
"Sekali lagi makasih ya ... kalian udah mau datang...."
"Ngga masalah, Tan. Kami kan teman," sahut Silvi.
Aku hanya tersenyum tulus pada Tante Sita. Silvi memeluk wanita itu untuk menenangkannya. Kami pun pergi setelah mencium tangan Ibu Deva.
"Kamu udah makan siang, Sil?" tanyaku saat kami sudah di parkiran.
"Udah tadi di sekolahan. Kenapa, Beb?"
"Temenin aku makan mie ayam di depan sana mau?"
"Kamu belum makan di rumah?" tanya Silvi agak terkejut. "Ini udah mau sore, Beb."
"Tadi makan dikit, Sil. Buru-buru karena ikut panik denger kabar dari kamu."
"Duh ... maaf ya, gara-gara aku istri Ridho jadi kelaparan. Ya udah, kita mampir bentar. Aku temenin kamu makan."
Aku terkekeh mendengar ucapan Silvi. "Makasih ya, Sil."
"Apaan! Yuk, ah!"
Kami melaju beriringan ke jalan depan rumah sakit. Ada kedai mie ayam yang sempat kulihat saat datang tadi. Setibanya di sana, aku memesan mie ayam dan es jeruk. Silvi hanya memesan minuman.
"Kamu makannya semangat banget, Beb?"
"Lagi laper, Sil. Kamu beneran ga mau makan?"
"Ga, Rev. Aku masih kenyang. Habis ini kita langsung pulang, ya? Aku izinnya cuma bentar tadi."
"Siap!"
Selesai makan, aku membayar makanan kami. Kami berpisah di parkiran. Aku memeluk Silvi dan menepuk punggungnya.
"Kamu jangan lesu gitu, donk! Deva pasti bisa melewati masa kritisnya. Semangat!"
"Makasih ya, Beb."
Aku tersenyum dan mengangguk pelan. Silvi melajukan motor ke jalan raya. Aku melambaikan tangan saat dia menoleh.
***
Setibanya di rumah, aku mengucapkan salam. Ridho yang sedang duduk di teras menjawab salamku dengan pelan. Kami pun masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"Gimana keadaan Deva?" tanya Ridho.
"Kalau tadi belum sadar, Mas. Ga tau kalau sekarang. Kami kan cuma bentar jenguknya."
"Parah penyakitnya?"
"Katanya sempat demam tinggi. Semoga aja dia baik-baik aja. Kasihan lihat Ibunya. Sama Silvi juga."
Ridho menghela napas. "Gitu, ya? Kita doakan aja, semoga Deva bisa cepat sembuh."
"Iya, Mas. Aamiin."
Kami hanya berbincang sebentar. Aku pamit ke kamar mandi karena tubuhku benar-benar gerah. Sejuknya air membuat pikiran yang sempat buram kembali jernih.
Setelah berpakaian, aku mengambil gawai di dalam tas. Niatnya ingin menghubungi Silvi. Ternyata dia sudah mengirim pesan duluan.
[Kak Deva udah sadar, Rev. Alhamdulillah.]
[Beneran, Sil? Tau dari mana?]
[Barusan aku nelpon Tante Sita. Ga tenang aja belum tau kabar baik tentang Kak Deva.]
[Alhamdulillah kalau gitu. Kamu jangan banyak pikiran lagi, ya. Nanti ikut jatuh sakit lagi.]
[Makasih, Beb. Kamu tau perasaan aku, 'kan? Kelihatan terlalu agresif, ga? Aku baru nyadar.]
Emoticon lesu ditambah Silvi di ujung pesan. Aku jadi bingung harus menjawab apa. Sebagai seorang wanita yang tak begitu ekspresif, aku memang tak terlalu memperlihatkan perasaan pada lawan jenis.
Kuselipkan emot peluk dan cium di pesan. Berharap Silvi tak kecil hati dengan pendapatku. Jujur, aku bukan tipe orang yang bisa berbasa-basi saat memberi saran.
[Siap! Makasih udah ngingetin ya, Beb.]
[Siip. Sekarang kamu istirahat, ya.]
[❤❤😘😘]
Aku tersenyum melhat balasan emoticon dari Silvi. Kuletakkan gawai di meja, lalu keluar menemui Ridho yang sedang menonton TV. "Deh ... serius amat! Nonton apaan, sih?"
"Itu, berita tentang CPNS," sahut Ridho, lalu mencium rambutku. "Wanginya bikin pengen meluk."
"Mas ada-ada aja, sih." Aku pun ikut menonton berita yang sedang tayang di TV.
Seketika ingat pembicaraanku dengan Ibu beberapa waktu yang lalu. Aku menjadi penasaran dengan apa yang sedang Ridho pikirkan. Sejenak menimbang pertanyaan yang tak merusak moodnya.
"Mas mau ikut tes?"
Ridho menatapku sejenak. "Ngga, lah! Mas udah nyaman dengan pekerjaan sekarang. Niatnya memang ingin jadi pengusaha."
Bibirku melengkungkan senyuman. "Aamiin. Lagian Mas memang udah jadi pengusaha sekarang, 'kan?"
"Masih kecil-kecilan, Sayang ... pengennya bisa membuka lowongan kerja untuk orang banyan, punya karyawan yang bisa diandalkan."
__ADS_1
Sebenarnya aku ingin meminta pendapat Ridho kalau aku diminta Ibu mengikuti tes abdi negara itu. Namun, aku merasa waktunya belum tepat, apalagi dengan keadaan Ridho sekarang. Nanti saja, kalau aku sudah benar-benar yakin untuk ikut.
"Aku doakan semoga terkabul harapannya."
"Makasih, Sayangkuh ... selalu support kerjaan mas."
Aku mengangguk pelan. "Makan yuk, Mas!"
"Mas masih kenyang, kamu makan duluan aja kalau udah lapar," sahutnya sambil mencium rambutku lagi.
"Ya udah, deh."
Aku pun berlalu ke dapur, mengambil piring dan mengisinya dengan nasi dan lauk. Tak membutuhkan waktu lama, aku sudah menghabiskan isi piring. Aku kembali duduk di sebelah Ridho.
"Cepet banget makannya?"
"Habisnya makan sendiri, jadi cepet selesai makannya."
Ridho terkekeh. "Mas belum lapar. Habis tadi makannya?"
"Ya, donk! Laper."
"Bagus, deh ... biar badannya tambah enak dipeluk."
"Mas apaan, sih! Mau lihat aku jadi gendut?"
Ridho tertawa berderai. "Mas ga ada bilang gitu. Tapi kalau kamu jadi gendut juga ngga papa, kok. Mas ga keberatan.".
"Ah, Mas! Nanti ga suka lagi sama aku kalau udah banyak lemak. Nanti jadi ngelirik cewe lain yang lebih can-"
Ridho menaruh telunjuknya di bibirku. "Ga usah ngomong kayak gitu lagi, ya? Mas ga bakal ngelirik cewe lain cuma karena kamu berubah jadi gendut."
Aku tertegun sejenak, lalu menatap matanya. Bisa kulihat ada kesungguhan di wajah tampan itu. Apa aku yang berlebihan?
Tak dapat kupungkiri, tetap saja aku merasa khawatir, suatu hari Ridho tak tertarik lagi pada tubuhku. Terlebih lagi, setelah melihat Sinta yang sangat cantik. Apa mungkin Ridho tak akan berpaling suatu saat nanti?
Ah, kenapa juga pikiranku jadi jelek gini?
Aku menggeleng pelan. Berusaha mengusir pikiran buruk yang melintas di kepala. Aku harus berusaha percaya pada Ridho, agar hati menjadi tenang.
"Kenapa?" tanya Ridho.
"Ng ... ngga papa kok, Mas."
Ridho terlihat berpikir sejenak. "Biar kamu lebih yakin, gimana kalau kita main peluk-pelukan aja?"
Aku mendelik sebal. "Sebentar lagi Magrib, Tuan Ridho!"
Ridho terbahak melihatku kesal. Ah, suamiku memang unik. Bisa sekali membaca pikiran istrinya dan berusaha mengalihkan pikiran buruk.
Jangan lupa vote yang banyak, Zheyenk 😘😘
__ADS_1
Vote itu pake point yaa, ga bayar, kok. Caranya ambil aja point online kita pas baca novel. Tulisan pointku ada di sudut kanan atas. Nanti pas buka cerita ini, pilih vote. Tinggal kasih point yang kamu punya untuk penulis. Biar rangkingnya naik dan penulis tambah semangat. ❤❤