Suami Romantis (Jodoh Pasti Bertemu) Oleh Meisy T

Suami Romantis (Jodoh Pasti Bertemu) Oleh Meisy T
Sayang Bayi


__ADS_3

Kamu hati-hati kalau bawa Reva, Dho. Takutnya nemu anak-anak yang ngebut gitu," nasihat Bunda.


Ridho yang sedang makan hanya mengangguk. Aku tersenyum mendengar perhatian dari Bunda. Rasanya ingin kupeluk dia seperti Ibu sendiri.


"Aku ke kamar mandi dulu, Bun. Kebelet!" pamitku saat belanjaan sedikit lagi yang belum rapi.


"Ya udah. Biar Bunda yang selesaikan."


Setelah menyelesaikan hajat, aku tak sengaja menoleh ke cermin di kamar mandi. Teringat kembali dengan wajah Nisa yang menawan dibanding aku. Tetap ada rasa tak percaya kalau Ridho menolak cintanya.


Saat ingin keluar, aku agak terburu-buru melangkah. Kakiku menginjak bagian lantai yang tergenang air. Aku agak limbung karena hilang keseimbangan.


"Aaarrrggghhh!"


Aku jatuh terduduk. Perutku terasa berdenyut. Rasa panik seketika menerpa. Sempat kupanjatkan harapan dalam hati untuk calon bayi.


Berusaha bangkit, tapi aku seperti kehabisan tenaga. Terdengar suara Ridho panik di depan pintu. Dengan sekuat tenaga aku mencoba berdiri untuk membuka kunci.


"Reva! Kamu kenapa?"


"Aku jatuh, Mas."


Akhirnya aku berhasil membuka pintu. Ridho bergegas memeriksa kondisi tubuhku. Terasa ada yang keluar dari bagian bawah tubuhku. Aku menutup wajah dengan kedua telapak tangan. Bayangan yang buruk tentang calon bayi memenuhi pikiranku.


"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Ridho menarikku dalam pelukan.


"Reva kenapa, Nak?" Terdengar suara Bunda bertanya dengan nada panik.


"Reva jatuh, Bun," sahut Ridho.


"Ya Allah, cepet bawa ke Bidan deket rumah dulu, biar diperiksa."


Tanganku terjatuh lemas saat mendengar ucapan Bunda. Air mataku mulai menetes. Ridho menuntunku keluar rumah. "Perut kamu sakit?" bisiknya.


Aku mengangguk pelan. Perasaan cemas dan bersalah menyatu membuatku tak sanggup berkata. Bunda menutup pintu ingin menemani kami. Aku memberi kode pada Ridho dengan menggelengkan kepala.


"Biar Ridho aja yang antar, Bun. Tar Ayah panik kita ga ada di rumah."


Bunda berhenti melangkah. "Ya udah. Buruan! Nanti kabari Bunda, biar cepat nyusul ke sana."


"Iya, Bun."


Bersyukur Ridho mengerti perasaanku. Saat ini aku benar-benar cemas. Hanya ingin berbagi dengan suamiku.


Ridho membuka pintu mobil membantuku duduk. Setelahnya bergerak cepat memutar mobil duduk di belakang kemudi. Aku menyandarkan punggung ke jok mobil. Ridho melajukan mobil perlahan.


Saat tiba di rumah bidan, kami dipersilahkan masuk. Untungnya tak ada pasien saat hari libur. Sang bidan mempersilahkan kami masuk.

__ADS_1


"Kenapa, Dho?" tanya Bidan.


Aku sedikit terkejut saat tahu sang bidan mengenal Ridho. Sepertinya mereka cukup dekat. Jangan-jangan Bu bidan ini mama-nya Nisa?


"Tadi istri saya jatuh di kamar mandi, Tante. Perutnya sakit."


Bu bidan melihatku dengan pandangan iba. "Silahkan berbaring di ranjang. Biar tante periksa dulu, ya."


Aku menuruti perintah bidan. Ridho membantuku untuk naik ke ranjang. Sang bidan mulai memeriksa perutku.


"Apakah terasa ada yang keluar dari dalam v-nya?"


"Iya, Bu," jawabku dengan suara yang sedikit serak.


"Jantungnya masih berdetak, tapi lebih baik periksa ke dokter untuk lebih memastikan," ucap sang bidan setelah memeriksa keadaan janin di perutku.


Aku hanya mengangguk pasrah. Kulirik wajah Ridho yang terlihat sangat khawatir. Rasa syukur masih setengah hati kupanjatkan. Seraya berharap kami tak kehilangan janin yang sangat diharapkan kehadirannya.


"Tante akan kasih vitamin dan pelengkapnya untuk sementara sebelum kalian ke dokter. Hari ini kebanyakan praktek tutup. Kalau ada apa-apa, langsung ke rumah sakit aja nanti, ya."


"Iya, Tante. Makasih udah mau bantu kami walau lagi libur," sahut Ridho.


"Sama-sama. Mama sehat, 'kan?"


"Alhamdulillah, Tante. Riki di mana sekarang?"


Berarti dugaanku salah. Hatiku sempat gelisah akan bertemu dengan Nisa di sini. Sepertinya Ridho berteman cukup dekat dengan anak Bu bidan yang bernama Riki.


"Ooh. Berapa biayanya Tante?" tanya Ridho.


"Ga usah. Buat tambahan kado nikah," ujar Bu bidan sambil terkekeh.


Aku ikut tersenyum mendengar candaannya. Sedikit lebih tenang dari awal datang tadi. Ridho hanya tersenyum sekilas.


"Kalau gitu kami pamit, Tante," ucap Ridho setelah menerima bungkusan yang diberikan bidan.


"Makasih, Bu," ucapku.


Bidan yang sempat kubaca nama di depan rumah bernama Rini itu mengangguk pelan. Dia mengantar kami sampai ke teras. Ridho menuntunku naik ke mobil.


Setibanya di rumah, Ayah dan Bunda sudah menunggu di depan rumah. Wajah keduanya terlihat khawatir. Mereka mendekat saat aku dan Ridho turun dari mobil.


"Reva ga papa, Nak?" tanya Ayah.


"Kata Tante Rini bayinya selamat, Yah. Biar lebih yakin periksa ke dokter juga. Cuma hari libur gini jarang praktek yang buka," jelas Ridho.


Aku hanya diam menyimak pembicaraan mereka. Tentu saja dengan rasa yang campur aduk. Tanpa sadar tanganku bergerak mengelus perut yang sudah mulai membuncit.

__ADS_1


"Bener. Besok aja ke dokternya." Bunda ikut bicara.


Ayah mengangguk paham. "Ya udah. Sekarang kamu bawa Reva istirahat ke kamar."


"Baik, Yah."


"Reva masuk dulu, Bun."


"Iya, Nak."


Kami pun beranjak ke masuk. Setelah berada di dalam kamar, Ridho memelukku erat. Tanpa aba-aba, air mataku kembali menetes.


Kamu yang kuat, ya ... jangan banyak pikiran, biar bayi kita ikut tenang."


"Aku ... takut, Mas."


Ridho menghapus air mataku. "Kita harus sabar. Berdoa terus semoga bayinya sehat."


"Iya, Mas. Tapi ... gimana kalau ada apa-apa sama anak kita?"


"Yakin aja, kalau memang rezeki kita, Allah akan menolong kesusahan kita."


"Aamiin."


"Mas ambilin minum bentar, ya. Biar kamu bisa minum vitamin dan lainnya."


"Iya, Mas."


Ridho beranjak keluar. Tak lama kemudian, dia kembali dengan segelas air di tangannya. Aku meraih gelas yang disodorkannya, meminumnya sedikit.


Dikeluarkannya beberapa tablet dari bungkusan yang diberikan bidan. Ridho menyerahkan benda kecil itu ke tanganku. Aku membaca Basmallah sebelum menelannya, lalu kembali meminum air putih.


"Sekarang kamu istirahat dulu, ya." Ridho membantuku berbaring di ranjang. "Udah lapar belum? Kalau mau makan, biar Mas ambilin."


"Aku belum bisa makan, Mas." Pandanganku nanar menatap dinding.


Jujur, separuh hatiku masih merasa khawatir. Ridho ikut berbaring di ranjang, kembali memelukku. Rasa nyaman membuatku semakin tenang.


"Kamu harus tetap makan, Sayang ... kasihan bayi kita kalau Bundanya ga makan."


Aku menoleh pada Ridho. Matanya menyiratkan kesungguhan. Aku pun tersadar dengan ucapanku tadi. Benar, aku harus kuat agar calon bayi kami sehat.


Iya, Mas. Kalau lapar, nanti aku kasih tau, Mas."


"Gitu, donk! Mas keluar dulu, ya. Biar kamu bisa tidur."


Aku mengangguk pelan. Lagi-lagi bersyukur dengan perhatian dari Ridho. Andai dia tak pandai menenangkan, aku sudah drop dengan kondisi sekarang.

__ADS_1


Jangan lupa like dan votenya zheyenk 💕💕


__ADS_2