
Seperti janjinya minggu kemarin, pagi ini kami bersiap untuk berlibur ke luar kota. Jaraknya hanya tiga jam ditempuh dengan mobil. Sebenarnya aku ingin mengendarai motor saja. Agar lebih bisa menikmati sejuknya udara desa. Namun, Ridho masih khawatir pada kondisiku.
Pulang kerja sore kemarin, Ridho ke rumah mertua untuk meminjam mobil. Ayah memberikan izin memakai mobilnya. Selain karena akhir pekan mereka libur, masih ada mobil Bunda yang bisa dipakai kalau ada situasi darurat. Motor Ridho pun ditinggal di sana.
Usai sarapan dan menyiapkan bekal untuk makan siang, kami memasukkan barang bawaan ke mobil. Hanya satu tas pakaian dan perlengkapan kecil lainnya. Kami hanya menginap satu malam di sana.
"Kami jalan dulu ya, Bu," pamit Ridho.
"Iya. Kalian hati-hati di jalan," sahut Ibu.
Bapak sudah berangkat ke toko. Saat sarapan, kami sudah sempat berpamitan. Pesan Bapak sama seperti Ibu. Ini pertama kali aku pergi jauh tanpa ditemani orang tua lagi.
Jarum jam di pergelangan tangan menunjuk ke angka sembilan. Kami membaca Basmallah dan doa sebelum perjalanan dimulai. Ridho melajukan mobil dengan pelan.
"Kamu udah pernah ke Curup?" tanya Ridho.
"Pernah sekali. Waktu rekreasi tamat SMP."
"Udah lama juga, ya?"
"Iya, Mas. Mas sendiri?"
"Udah beberapa kali, sih. Pergi rame-rame sama temen kumpul di rumah Feri di Curup atau main aja ke air terjun."
"Wah, seru kayaknya, tuh!" ujarku.
"Lumayan. Namanya geng cowo, suka main jauh."
Aku mengangguk paham. Teman sekelas yang laki-laki juga pernah main sampai ke luar kota. Pulangnya mereka kadang bercerita tentang pengalaman seru mereka.
Aku sendiri tidak diberi izin oleh orang tua untuk pergi atau menginap di rumah teman yang berada di luar kota. Walau kadang sedih, tapi aku berusaha mengerti karena mereka hanya mempunyai satu anak. Mungkin mereka khawatir terjadi apa-apa denganku di jalan.
Tak terasa mobil sudah melewati perbatasan kota. Jalanan mulai lengang. Aku menyandarkan bahu ke jok mobil. Ridho memggenggam jemariku.
"Cape?"
"Ngga, biar lebih relaks aja."
Dia tersenyum lembut. "Iya. Tidur aja kalau ngantuk. Kita santai aja jalannya."
__ADS_1
"Ngga papa. Kalau lelet, tar malam baru nyampe donk!"
Ridho terkekeh pelan. "Ga gitu juga kali, Sayangku ... maksud Mas lebih dikit dari jadwal seharusnya."
"Becanda, kok!" sahutku sambil terkekeh.
"Udah tambah pintar ngomongnya sekarang, ya?" Ridho menjawil pipiku dengan gemas.
Aku berusaha mengelak dan tergelak. Kami pun tertawa bersama. Perasaanku menjadi semakin tenang saat membuka kaca jendela mobil agar udara masuk. Walau belum terlalu jauh dari kota, pepohonan mulai nampak di pinggir jalan.
"Seger ya, Mas?"
"Iya. Kamu seneng?" tanyanya sambil menatap wajahku. "Kapan-kapan kita pergi lagi."
Aku mengangguk pelan. Refreshing memang membuat pikiran menjadi lebih tenang. Hari ini aku bahkan tak terlalu mengingat kejadian sedih dua bulan yang lalu.
"Mas ga cape emangnya nyetir sendiri?"
"Ga, kok. Udah biasa bawa keluarga ke luar kota."
"Maksud aku kalau kita pergi lagi nanti."
Ridho kembali menggenggam jemariku. "Ngga, Sayang ... Mas bahagia lihat kamu ceria seperti ini."
***
Pukul sebelas, kami tiba di daerah pegunungan. Aku meminta Ridho menghentikan mobil di sekitar area yang memang dijadikan tempat beristirahat. Beberapa pondok dan kursi yang dibuat dari bambu dibangun di pinggir jalan yang menghadap ke bukit.
Aku turun duluan untuk mengambil bekal makan siang. Ridho menatap heran. "Udah lapar?"
Aku menggelengkan kepala sebagai jawaban. Sebenarnya belum terasa lapar, tapi aku ingin merasakan nikmatnya makan sambil menikmati pemandangan yang menakjubkan. Pohon-pohon yang berderet sampai ke puncak bukit. Langit biru yang dihiasi awan-awan putih. Belum lagi beberapa bunga liar yang tumbuh berwarna warni di bawah jurang.
"Terus?"
"Pengen aja istirahat di sini, menikmati udara sejuk sambil makan."
"Ooh. Baiklah, Nyonya Ridho!"
Aku terkekeh mendengar nada usilnya. Sudah cukup lama kami tak bercanda lagi. Ujian kemarin bukan hanya membuatku depresi, tapi juga mengurangi semangat hidup Ridho.
__ADS_1
Kami pun mencari pondok yang tak terlalu ramai. Hanya ada satu pasangan yang sedang menikmati pemandangan. Kami duduk di bagian ujungnya satu lagi.
Hampir setengah jam mengobrol sambil menikmati pemandangan alam yang begitu mempesona, aku membuka bekal makan siang. Dua kotak nasi putih, sambal teri tempe, goreng ikan nila dan potongan timun. Aku makan dengan lahap. Ridho tersenyum menatap wajahku.
"Mas ga makan?" tanyaku heran.
"Iya. Baru mau makan. Mas takjub aja lihat kamu semangat makan. Udah lama ga kayak gitu."
Aku tersenyum malu. Sempat-sempatnya dia mengingatkan tentang caraku makan. Aku pun mengangsurkan sendok yang berisi makanan untuk menyuapinya. Ridho tersenyum, lalu membuka mulutnya.
"Lebih enak dari di rumah, 'kan?" tanyaku.
"Iya. Dasarnya memang masakan istri mas enak, kok."
"Aiih! Mas bisa aja. Terbang nanti aku, nih!"
"Jangan ... nanti sudah mas nangkapnya."
Aku menutup mulut dengan tangan. Tak menyangka Ridho semakin pintar menggombal sekarang. Lelakiku mengernyitkan dahinya.
"Kenapa?"
"Mas gombal terus, sih?"
"Tapi suka, 'kan?"
Bibirku melengkungkan senyuman. Entah mengapa, aku memang merasa senang saat Ridho mengeluarkan pujian. Ridho mengacak jilbabku yang menutupi rambut.
"Ih ... Mas! Kusut, nih!" Aku merapikan jilbab hijau toska yang senada dengan gamis yang kupakai.
Ridho nyengir kuda. "Masih cantik, kok!"
Lagi-lagi pujiannya membuatku tersenyum malu. Ah ... lelakiku benar-benar berubah. Tepatnya semakin bisa menghiburku yang tengah terpuruk.
Andai tak ada orang lain yang melihat, ingin rasanya kupeluk tubuhnya, bahkan mencium pipinya sebagai ungkapan terima kasih. Hanya bisa menggenggam tangannya dan memberikan senyuman manis. Sepertinya Ridho mengerti perasaanku, dia pun mengeratkan geganggaman jemari kami.
Setelah terdiam beberapa saat, Ridho juga mulai memakan bekal bagiannya. Aku pun kembali menikmati makan siang yang sempat tertunda. Kami makan dengan semangat sambil mengomentari kondisi hutan lindung yang cukup bagus.
Pukul dua belas siang, kami menyimpan peralatan bekas makan ke mobil. Ridho mengajakku mencari mushalla untuk menunaikan shalat Zuhur. Untunglah lokasinya tak terlalu jauh dari mobil. Beberapa orang terlihat sedang mengambil wudhu.
__ADS_1
Kami pun berdiri di belakang yang lain untuk mengambil wudhu. Ridho memintaku untuk berwudhu duluan, sambil menutupi tubuhku karena lokasinya tak tertutup. Sejuknya air menambah relaks tubuh yang sempat lelah karena perjalanan.
Setelah melaksanakan shalat empat rakaat, kutengadahkan tangan memohon ampunan. Betapa kadang aku kurang bersyukur dan merasa tak beruntung. Tak lupa memanjatkan segenap asa pada Tuhan Yang Maha Kuasa.