Suami Romantis (Jodoh Pasti Bertemu) Oleh Meisy T

Suami Romantis (Jodoh Pasti Bertemu) Oleh Meisy T
Bertengkar


__ADS_3

Aku memutar badan ke arah jalan. Di sana Ridho berdiri dengan wajah dingin. Jantungku berdegup sangat kencang.


My God! Kenapa bisa pas sekali waktunya?


Teringat kembali saat Ridho mengintrogasi diriku beberapa hari yang lalu. Tentu saja dia ingat wajah Deva.


Kepalaku mendadak berdenyut. Rasanya aku ingin menghilang ke planet yang paling jauh. Agar bisa lepas dari tatapan Ridho yang mengancam.


Kutundukkan kepala untuk menghindari tatapan Ridho. Memainkan ujung sepatu untuk mengusir rasa gugup. Pikiranku mendadak buntu. Apa yang harus aku lakukan sekarang?


"Udah datang aja, Lu!" Sapa pemilik bengkel saat Ridho sudah masuk. Aku tak berani mengangkat wajahnya, hanya menyimak percakapan mereka.


"Udah selesai motornya, Bro?" tanya Ridho.


"Udah, Bro. Mau diambil sekarang, ya?"


"Iya. Itu yang punya udah datang."


Perlahan kuangkat wajah karena mendengar Ridho tak menyebut nama. Tak sengaja bertatapan dengan mata Kak Deva saat melihat teman Ridho. Wajah lelaki berambut cepak itu terlihat bingung.


Ah, mengapa situasi jadi canggung begini?


Kupasang wajah menyesal. Keberanianku sudah ciut saat Ridho menyebut namaku.


"Berapa total biayanya, Bro?"


"Kita ke dalam dulu, Bro. Baru gue catat kemaren listnya, belum sempat mau hitung."


Ridho pun menyusul langkah temannya ke dalam. Aku hanya tertunduk dan terdiam. Deva pun tak bertanya lagi, mulai menyadari situasi sepertinya.


Dua menit berlalu, Ridho keluar dan mendekatiku. Menyerahkan kunci motor ke tanganku. Agak takut, aku menatap wajahnya.


"Ayo pulang!" titahnya.


"I-ya." Aku sedikit terbata saat menanggapi ajakan Ridho. Beranjak dari kursi mengikuti langkahnya.


Aku mengalihkan pandangan pada Deva. Raut wajah laki-laki itu penuh tanda tanya. Kusempatkan tersenyum sekilas padanya. Dia pun membalas senyumku.


"Duluan ya, Kak," ucapku.


"Iya. Hati-hati ya."


Setelah menganggukkan kepala, aku melangkah menuju motor. Perlahan melaju ke jalan raya. Ridho menyusul di belakangku. Sepanjang perjalanan, pikiranku jadi tak menentu.


Hufh! Bakal ada keributan kayaknya, nih.


Terbayang olehku pertengkaran yang akan terjadi nanti. Wajah Ridho yang ditekuk, kata-kata yang pedas akan keluar dari bibirnya. Aku menggeleng pelan, beristigfar untuk menenangkan hati.


Tanganku sedikit gemetar memegang stang kemudi. Aku menarik napas panjang, berusaha berkonsentrasi mengendarai motor. Jangan sampai kejadian kemarin terulang lagi.


Setibanya di rumah, kulihat Ibu sedang mengunci pintu. Aku pun memarkirkan motor di halaman rumah. Kudorong perlahan ke bawah pohon Mangga, takut menginjak beberapa tanaman hias Ibu ditanam sekitarnya.


Tak lama kemudian Ridho juga sampai. Kami mengucapkan salam pada Ibu.

__ADS_1


"Mau kemana, Bu?" tanyaku, setelah Ibu menjawab salam.


"Ke tempat Bapak, Nak. Tadi Bapak telpon, karyawan kita ada yang sakit, padahal toko lagi rame sekarang."


"Ooh ... Kirain kenapa Ibu buru-buru gitu. Aku mau ambil berkas buat daftar ujian. Ibu jam berapa pulangnya nanti?"


"Mungkin sebelum ashar." Ibu menyerahkan kunci rumah padaku.


"Ya udah, aku tunggu Ibu pulang, kalau gitu."


"Aku antar aja, Bu," tawar Ridho.


"Ga usah. Nak Ridho 'kan mau kerja lagi. Ibu naik angkot aja. Ibu pergi dulu, ya."


Aku dan Ridho mencium tangan Ibu. Setelah Ibu menyetop angkot, kami pun membuka pintu. Aku masuk ke dalam rumah, lalu melangkahkan kaki menuju kamar.


Sebelum mencapai pintu, Ridho menyambar lenganku hingga berbalik menghadapnya. Aku yang terkejut mendelik sebal padanya.


"Jangan bilang ... tadi itu kebetulan!" Nada suaranya terdengar emosi.


Hufh! Jantungku berdetak sangat cepat.


Kutarik napas pelan, lalu mencoba mengumpulkan keberanian untuk mejelaskan kejadian sebenarnya pada Ridho.


"Ta-di me-mang kebetulan."


Tetap saja suaraku terdengar gemetar. Kadang heran sendiri, kemana Reva yang cuek dan suka membantah Ridho?


Sekarang aku tak seberani dulu menghadapi laki-laki itu. Apa karena kami sudah punya rasa saling memiliki?


Astagfirullah! Seketika amarahku bangkit. Kulepas cekalan tangan Ridho, lalu meninggalkannya masuk ke dalam kamar. Kuhempaskan tubuh di ranjang.


Ridho masih berdiri di pintu dan menatapku tajam. Terlihat jelas raut wajahnya menyimpan amarah.


"Aku kerja dulu. Nanti kita bahas lagi." Laki-laki itu berlalu dari hadapanku.


Aku hanya diam. Menatap punggung Ridho yang berlalu dari hadapanku.


Tuhan ... apa yang harus kulakukan?


Aku beranjak ke kamar mandi. Kubasuh muka dan mengambil wudhu. Sebentar lagi tiba waktu shalat Zuhur.


Selesai shalat, kubaca beberapa halaman kitab Allah. Hatiku menjadi lebih tenang.


Setelah menyiapkan berkas yang diperlukan untuk mendaftar seminar, kuprint dua eksemplar skripsi. Sisanya akan aku fotokopi besok.


Jam di pergelangan tangan telah menunjukkan pukul tiga. Kubaringkan sejenak tubuh yang lelah. Perlahan mataku terpejam.


"Reva! Kenapa pintunya tidak dikunci?" suara Ibu membangunkanku.


Astagfirullah! Aku ketiduran. Waktu ashar sudah lewat, aku tak mendengar suara adzan.


Bergegas kulangkahkan kaki keluar kamar untuk menemui Ibu. "Maaf, Bu. Tadi aku sibuk ngeprint, Bu. Ga sengaja ketiduran bentar."

__ADS_1


"Kamu sudah makan, Nak?"


"Belum sempat, Bu."


"Kebiasaan! Suka telat makan."


Aku nyengir kuda. "Ibu masak apa?"


"Tadi cuma sempat bikin sambal tempe campur ikan teri."


Rasa sedih menelusup di hatiku. Ibu pasti kerepotan mengurus rumah seorang diri sementara aku menginap di rumah mertua.


"Wah ... enak tuh! Bentar lagi aku makan. Ibu sendiri?"


"Ibu makan di toko, tadi Bapak beli nasi bungkus."


"Cie ... yang pacaran lagi."


Ibu terkekeh pelan. "Iya, donk!"


Seketika rasa bahagia dan iri bercampur menjadi satu. Bangga melihat Bapak dan Ibu tetap akur sampai tua. Rasa kesal kembali menerpa ketika ingat sifat Ridho.


Panjang umur, orang yang dipikirkan sudah datang dan mengucapkan salam. Aku menjawab pelan. Setelah bertegur sapa dengan Ridho, Ibu masuk ke kamar. Tinggal kami yang saling menatap dengan canggung.


"Ikut aku!" ucapnya sambil berlalu menuju kamar.


Dengan malas kuikuti langkahnya, lalu duduk di kursi. Ridho menyandarkan tubuhnya di dinding yang berwarna merah muda. Begitu kontras dengan wajah laki-laki jangkung itu sekarang.


"Kamu ada apa sama laki-laki itu?"


Pertanyaan yang lebih kutangkap sebagai tuduhan akhirnya dilontarkan.


"Udah kubilang ... kami ga ada apa-apa!" volume suaraku lebih tinggi dari sebelumnya.


"Reva!"


Aku terkejut mendengar suara Ridho yang sedikit membentak. Kepalaku kembali berdenyut.


"Udah ... aku cape," gumamku, lalu berdiri berniat mengambil minum di dapur.


Ridho menghadang langkahku. "Maaf," ucapnya pelan.


Aku tak menjawab, hanya memberi tatapan memohon. Tenaga hampir habis untuk membahas masalah yang hanya membuatku semakin terpojok.


"Reva?"


"Aku mau minum."


Ridho menggeser tubuhnya untuk memberi jalan. Baru berjalan dua langkah, tubuhku sedikit limbung. Mataku berkunang-kunang. Kupejamkan mata menahan sakit di kepala.


"Reva!"


Suara teriakan Ridho terdengar sebelum menangkap tubuhku yang hampir menyentuh lantai.

__ADS_1


Jangan lupa vote, like dan komen..😘😘


Vote itu pake point yaa, ambil aja point online kita. Tulisan point ada di sudut kanan atas. Nanti pas buka cerita ini, pilih vote. Tinggal kasih point yang kamu punya.☺☺


__ADS_2