Suami Romantis (Jodoh Pasti Bertemu) Oleh Meisy T

Suami Romantis (Jodoh Pasti Bertemu) Oleh Meisy T
Dua Ronde?


__ADS_3

Dua bulan sudah berlalu sejak kami kehilangan calon bayi. Aku sudah ikhlas sekarang, menganggap itu ujian supaya kami lebih mendekatkan diri kepada-Nya. Aku memutuskan untuk berhenti dari bimbel hari ini. Minggu ini anak-anak sudah akan mengikuti ujian semester.


Sebenarnya aku ingin berhenti setelah musibah yang menimpa kami, tapi tak enak hati membuat mereka repot mencari tenaga pengajar pengganti. Selain itu, bekerja lumayan mengurangi intensitas pikiran tentang kehilangan janin yang sangat dinanti.


Selesai mengajar aku niat berpamitan pada admin. Kebetulan sang owner yang rumahnya berdekatan dengan bimbel sedang ada di ruangan itu. Aku sudah menghubungi kemarin.


"Kok brenti ngajar, Mba?" tanya Mbak Dita ramah.


"Takut kurang fokus ngajar persiapan ujian, Mbak. Biar Pak Deni aja yang handle," jawabku.


Deni juga jurusan Biologi, tapi beda universitas denganku. Dia yang mengajar kelas tiga, menjadi tenaga pengganti saat aku sakit. Aku juga sudah meminta tolong padanya untuk mempersiapkan anak-anak peganganku ujian semester.


"Wah, sayang, sih ... padahal anak-anak suka belajar sama, Mbak Reva."


"Iya, tuh!" Mereka sibuk nanyain pas Mbak Reva lama ga datang waktu itu.


Saat aku berpamitan dengan anak-anak di kelas tadi, beberapa dari mereka menyatakan kecewa. Aku berusaha menghibur mereka dengan mengatakan kalau Deni lebih pintar. Insya Allah bisa membantu mereka belajar dengan baik untuk ujian.


Aku tersenyum sekilas. "Mau gimana lagi, Mbak. Habis keguguran kemarin, badanku kadang lemas," jawabku sedikit berkilah.


"Duh ... semoga segera dikasi lagi ya, Mbak," sahut Mbak Dita.


"Iya, Mbak. Makasih," ucapku, lalu bergantian menjabat tangan mereka.


Saat keluar dari bimbel, Ridho baru saja tiba di parkiran. Lelakiku tersenyum lembut. Aku pun mendekatinya dan naik ke boncengan. Ridho melajukan motor dengan santai menuju rumah.


Setibanya di rumah, Ibu yang sedang duduk di teras. Aku dan Ridho mengucapkan salam. Ibu menjawab pelan, lalu menatap wajahku.


"Jadi tadi pamitan?"


"Iya, Bu."


Aku sudah memberi tahu Ibu kalau akan berhenti mengajar di bimbel tadi malam. Ibu setuju saja, agar aku bisa istirahat dan kembali sehat lagi. Ridho malah senang saat aku menyatakan niat untuk berhenti mengajar.


"Ya udah, kalian istirahat dulu kalau cape."


Aku dan Ridho mengangguk, lalu beranjak masuk ke dalam rumah. Saat sudah di kamar, Ridho memelukku dari belakang. Aku yang merasa bau keringat berusaha melepaskan diri.


"Aku mandi dulu, Mas. Keringatan, nih!"


"Ngga papa. Aku ga keberatan nyium bau keringat istri shaleha," sahutnya dengan nada usil.


"Aiih! Bisaan banget ngomongnya!"


Ridho tertawa mendengar jawabanku. "Ga percayaan banget, sih?"


"Udah, ah ... aku mau mandi. Tar malam aja pelukannya."

__ADS_1


"Wah ... ada yang mau ngajak pelukan hangat nanti malam, ya?"


Aku mencubit pinggangnya. "Bukan itu maksudku!"


Ridho terkekeh. "Kalau itu juga ga papa, kok."


Pipiku mungkin sudah memerah karena godaannya. Setelah aku mengalami keguguran, kami baru satu kali melakukan hubungan suami istri. Itu pun tak sehangat dulu, aku melakukannya hanya sekedar menjalani kewajiban sebagai istri.


"Maunya Mas itu, mah!"


Ridho mencium ubun-ubunku, lalu melepaskan pelukan. "Ya udah. Mandi, gih! Jangan lupa nanti malam!" ujarnya sambil mengedipkan sebelah mata.


Aku menjulurkan lidah, buru-buru masuk ke kamar mandi sebelum Ridho kembali iseng. Sejuknya air membuat tubuhku kembali bersemangat. Entah mengapa, aku membayangkan hal yang akan kami lakukan nanti malam. Aku menggelengkan kepala untuk mengusir bayangan mesum dari pikiran.


Aiih! Gara-gara godaan Ridho, nih. Jadi kemana-mana pikiranku.


Usai mandi, aku mengintip keluar dari celah pintu yang kubuka sedikit. Akibat keisengan Ridho, aku lupa membawa handuk. Untunglah dia sedang tak ada di kamar, mungkin mengambil minum.


Bergegas kuambil pakaian dalam dan piyama tidur. Tepat saat memasukkan kancing baju terakhir, Ridho masuk ke dalam kamar. Aku mengembuskan napas lega.


Untung, deh! Kalau lihat aku lagi ganti baju, pasti kumat lagi isengnya.


"Cepet banget mandinya?" tanya Ridho.


"Buru-buru, belum shalat Ashar tadi."


"Tunggu, Mas! Aku belum sempat wudhu tadi."


Ridho sedikit mengernyitkan dahi, tapi menghentikan langkahnya. "Tumben?"


Aku hanya terkekeh pelan. Tak berniat membahas kejadian tadi lagi. Bergegas masuk lagi ke kamar mandi untuk mengambil wudhu.


Selesai shalat Ashar, aku menyempatkan diri membaca Al-Quran. Baru satu minggu ini aku mulai sering membacanya lagi. Bulan lalu, aku masih sedikit drop dengan keadaan yang terjadi.


Aku menyudahi bacaanku, saat Ridho selesai mandi. Setelah dia berpakaian, kami membaringkan tubuh di ranjang. Ridho memelukku erat.


"Kamu ga nyesel brenti kerja, 'kan?"


Aku menggeleng pelan. "Aku udah pikir matang-matang, kok. Demi anak-anak. Demi aku juga."


Ridho mengangguk paham. "Minggu depan kita liburan kalau, gitu?"


"Liburan?" tanyaku sedikit heran.


"Iya. Kita keluar kota. Anggap aja bulan madu yang tertunda."


Pipiku mungkin sedikit bersemu mendengar kata bulan madu. Pernah membayangkan kami jalan-jalan berdua dan menginap di hotel yang romantis, tapi aku tak mengatakannya. Selain karena sedang hamil, Ridho semakin sibuk dengan bisnisnya sekarang.

__ADS_1


"Minggu depan bukannya anak sekolah sedang ujian?"


"Iya. Maksud aku pas week-endnya. Kita pergi ke tempat wisata yang deket aja, masih dalam propinsi ini."


"Ooh. Iya, Mas."


"Suatu hari nanti, insya Allah aku akan bawa kamu jalan-jalan ke luar propinsi."


Rasa haru memenuhi hatiku. Aku mencium pipinya sekilas. "Makasih ya, Mas."


"Eh ... main cium aja. Nanti kena denda!" ujarnya.


"Denda? Apaan!" Aku mendelik sebal.


"Menghangatkan ranjang dua ronde!" sahutnya sambil tertawa.


"Ih ... dasar!"


Dadaku sedikit berdesir mendengar ucapan Ridho. Selama menikah, kami hanya sekali melakukan hal itu dua ronde dalam semalam. Sejak hamil, Ridho sedikit berhati-hati ingin mengajakku berhubungan.


"Udah, ah, becandanya! Sana, siap-siap ke masjid!" usirku halus.


Waktu Magrib tak sampai setengah jam lagi.


Lama-lama membicarakan tentang bercinta, bisa-bisa aku yang tak bisa menahan gairah. Sekarang saja, aku tak fokus lagi untuk mencari bahan obrolan lain.


Ridho hanya tertawa melihat reaksiku. "Mengalihkan pembicaraan, ya?" Tangannya bergerak mencubit pipiku dengan gemas.


Aku meringis sambil mengelus bekas cubitan Ridho. Tak dapat dipungkiri, aku ikut bahagia melihatnya bersemangat lagi. Hampir sama sepertiku, Ridho juga murung belakangan ini. Hanya saja, dia tak pernah mempelrihatkan kesedihannya secara langsung.


"Sakit, tau!" Aku pura-pura merajuk.


"Nanti malam dibikin enak!" ucapnya semakin bersemangat.


"Apaan, sih!"


Ridho bangkit dari ranjang. Mencium pipiku sebelum turun. "Dua ronde!"


Aku menutup wajahku dengan bantal. Sepertinya dia bersungguh-sungguh kali dengan ucapannya tadi. Bisa-bisa tengah malam baru bisa tidur nyenyak.


Ridho terbahak. "Aku ke depan dulu, ya. Nemenin Bapak di teras sebelum ke masjid."


Aku mengintip sedikit dari balik bantal. "Iya. Cepetan sana!"


Ridho mengacak rambutku dengan gemas. Lelaki kesayangan mengambil peci dan sarung, lalu keluar dari kamar. Aku baru bisa bernapas lega saat dia menutup pintu.


Terima kasih buat teman-teman yang sudah bersedia memberikan vote 💕💕

__ADS_1


__ADS_2