Suami Romantis (Jodoh Pasti Bertemu) Oleh Meisy T

Suami Romantis (Jodoh Pasti Bertemu) Oleh Meisy T
Lamaran Deva


__ADS_3

Kepalaku mendadak pening. Kutarik napas panjang untuk mengurangi sesak yang tiba tiba menghimpit.


"Kenapa, Beb?" tanya Silvi.


"Buruan makannya. Habis itu kita pulang." Aku benar-benar tak fokus lagi.


"Lah, kenapa?"


"Kepalaku pusing."


"Jangan-jangan ...."


Oh, Tuhan! Lama-lama kucubit juga nih, anak!


Silvi berhenti bicara saat melihatku menatap galak. Dia pun menghabiskan nasi goreng dengan lahap. Sementara, aku tak lagi berselera melanjutkan suapan.


Silvi melambaikan tangan saat aku menaiki angkot menuju rumah Bapak. Tak ada niat untuk menghubungi Ridho lagi. Sekarang aku hanya ingin tidur.


Sesampainya di rumah, kubuka pintu dengan kunci yang tetap kubawa dalam tas. Sedikit bersyukur Ibu tak ada di rumah. Aku sedang malas mengarang alasan mengapa datang lagi hari ini.


Kuhempaskan tubuh ke ranjang. Pandanganku terpaku pada foto keluarga yang diambil saat aku masih SD. Ternyata lebih menyenangkan menjadi anak-anak. Tak ada beban pikiran.


Adzan Zuhur berkumandang, aku pun segera mengambil wudhu dan shalat. Kubaca dua lembar kitab Allah untuk lebih menenangkan hati.


Setengah jam berlalu, perasaanku sedikit membaik. Kukeluarkan gawai dari tas untuk membalas pesan dari Deva.


[Maaf bila selama ini sikapku udah menyakiti Kakak. Sebenarnya, aku udha menikah, aku dijodohkan orang tua dengan laki-laki yang Kakak lihat kemarin. Maaf baru bisa menjelaskan, aku ngga tahu kalau Kakak memendam perasaan padaku. Aku doakan semoga Kakak mendapatkan wanita yang lebih baik dariku.] Send.


Kuletakkan gawai di atas meja. Di sebelahnya terdapat piala bertuliskan "Juara 2' yang kudapat saat mengikuti lomba pidato waktu SMP. Juara pertama diraih Rian, si cinta monyet.


Ah, tiba-tiba saja kenangan manis itu melintas dibenakku.


Kutinggalkan kamar untuk menonton TV. Sinetron kisah nyata sedang menayangkan sepasang suami istri yang sedang bertengkar. Si suami cemburu pada istrinya yang bertemu mantan saat di minimarket.


Kebiasaan Ibu, nih! Suka banget nonton acara ini.


Seketika ingat si wajah dingin yang juga sedang marah. Semoga setelah ini kami tak bertengkar lagi.


Kuganti channel untuk mencari acara yang lebih menarik. 'Laptop Si Unyil' sedang jalan-jalan ke Eropa.


Seru kali ya, jalan-jalan sama suami. Tak perlu jauh-jauh, deh, ke Padang atau Lampung misalnya.


Haduh! Kenapa aku lagi-lagi memikirkan laki-laki itu.


Kubaringkan tubuh ke ranjang. 'My Husband calling' tertera di layar. Setelah dua kali panggilan, aku pun mengangkatnya.


"Kamu udah selesai?" tanyanya setelah mengucapkan salam.

__ADS_1


"Aku di rumah Ibu. Nanti sore aku pulang ke rumah Mama."


"Tadi pagi udah dibilang, nanti aku jemput."


Nada suaranya terdengar bergetar menahan amarah. Aku menghela napas untuk menyabarkan diri.


"Aku takut kamu sibuk," jawabku asal.


"Tunggu di sana. Pulang kerja aku jemput."


Panggilan diputuskan. Dasar egois!


Aku pun berselancar ke dunia maya. Ada undangan dari teman SMA di notif Facebook-ku. Untunglah acaranya minggu depan, aku belum mood meminta sesuatu pada Ridho sekarang.


Jam dua lewat lima menit, terdengar Ridho mengucapkan salam. Aku beranjak ke depan membuka pintu.


Kami duduk di ruang tamu. Ada beberapa bingkai foto terpajang di dinding. Salah satunya, fotoku dan teman-teman saat perpisahan SMA. Beberapa menit terlewat dengan hening. Aku pun tak berniat memulai pembicaraan.


"Kamu udah makan?" tanya Ridho akhirnya.


"Udah," jawabku.


Teringat nasi goreng yang tak sampai setengah kumakan di kampus tadi. Perutku berbunyi di saat yang tak diharapkan.


"Kamu pasti belum makan!" tukasnya.


"Ayo!" Laki-laki berhidung mancung itu meraih tanganku.


"Kemana?" sahutku.


"Kita cari makan sebelum pulang ke rumah."


Aku benar-benar belum terbiasa dengan sikap Ridho yang cepat berubah. Sebentar cuek, setelahnya perhatian lagi. Bisa 'sport jantung' lama-lama.


"Motorku?"


Ridho mendesis sebelum menjawab pertanyaanku. "Tinggal dulu. Besok kita pulang ke sini."


Aku pun tak berani membantah lagi. Kami melaju ke jalan raya setelah mengunci pintu. Ridho menghentikan motornya di sebuah lesehan ayam bakar yang tak jauh dari rumah mertua. Dia memesan dua porsi ayam bakar dan dua gelas es jeruk.


Ridho belum makan?


Kulihat jam dipergelangan tangan sudah menunjukkan pukul tiga sore. Jangan-jangan dia belum makan karena memikirkan pesan Deva. Aku merasa sedikit bersalah.


Kami tak saling bicara saat makan. Sesekali tatapanku dan Ridho bertemu. Aku mengalihkan pandangan pada kolam kecil yang terdapat di belakang warung. Kolam tersebut dikelilingi beberapa tanaman merambat dan ditengahnya ada air mancur. Menenangkan.


Ridho membayar makanan, lalu melajukan motornya ke masjid dekat lesehan. Adzan Ashar telah selesai dikumandangkan. Kami berpisah di teras masjid untuk mengambil wudhu.

__ADS_1


Setibanya di rumah, pintu masih tertutup. Bapak dan ibu mertua belum pulang. Ayah bekerja di dinas Pertanian. Kantor mereka cukup berdekatan.


Masuk ke kamar, aku duduk di tepi ranjang, Bersiap dengan kemarahan atau apapun dari Ridho. Namun, dia berlalu dari kamar setelah meletakkan tasnya.


Teringat jemuran, aku beranjak ke belakang rumah. Ridho sedang duduk di taman sambil memberi makan ikan. Dia hanya melihatku sekilas, lalu kembali menatap ke arah kolam.


Masih marahkah? Inginku jelaskan saat ini juga, tapi bibirku tak mau membuka.


Aku pun mengangkat pakaian dan melipatnya di ruang keluarga. Tak lama Ridho masuk dan langsung berlalu ke ka kamar. Selesai berkutat dengan pakaian, aku kembali ke kamar. Kami berpapasan di pintu, Ridho hanya menatap sejenak , lalu melewatiku dengan handuk dibahunya.


Mengapa hatiku sakit?


Kutatap foto laki-laki itu di dinding kamar yang dicat warna hijau, tatapan matanya tajam dengan senyum tipis di bibirnya.


Tampan dan jantan.


Setengah jam menunggu, laki-laki itu kembali ke kamar, membuka lemari dan mengambil baju. Aku beranjak keluar menuju kamar mandi.


Sejuknya air sedikit mengurangi penat. Hampir seharian Ridho mendiamkanku. Rasanya sangat tak nyaman.


***


Selama makan malam pun, Ridho tetap diam. Hanya Ayah yang mengajakku bicara, Bunda sesekali menanggapi.


Saat dia kembali dari masjid, aku tak tahan lagi.


"Kamu marah?" tanyaku akhirnya.


"Marah kenapa?" tanyanya sambil mengalihkan pandangan ke sudut kamar. Di sana ada lemari kecil tempat beberapa piala di pajang. Aku baru sadar belum pernah melihatnya.


"Aku ga ada apa-apa sama dia," pancingku.


"Benarkah?" Ridho mendekat.


Aku mundur perlahan, belum terbiasa dengan jarak yang begitu dekat.


Laki-laki itu mengunciku yang telah menempel di dinding. "Kamu memang ga boleh punya hubungan apapun dengan laki-laki lain!" bisiknya di telingaku.


Aku sedikit gemetar mendengar suaranya yang terdengar mengancam.


"Kamu hanya milikku," ucapnya, sebelum menempelkan bibirnya ke bibirku.


Hai teman-teman....❤


Jangan lupa vote, like dan komen..😘😘


Vote itu pake point yaa, ambil aja point online kita. Tulisan point ada di sudut kanan atas. Nanti pas buka cerita ini, pilih vote. Tinggal kasih point yang kamu punya.☺☺

__ADS_1


__ADS_2