Suami Romantis (Jodoh Pasti Bertemu) Oleh Meisy T

Suami Romantis (Jodoh Pasti Bertemu) Oleh Meisy T
Mengurus Mertua di Rumah Sakit


__ADS_3

"Gimana keadaan Bunda, Yah?" tanya Ridho setelah kami berada di dalam ruangan.


"Udah mendingan, Dho."


Wajah Ayah terlihat lelah. Sepertinya dia langsung sibuk mengurus Bunda setelah seharian bekerja.


"Bunda sakit apa, Yah?"


"Bunda kena Magh akut, Dho. Tadi hampir pingsan di kantor. Untung ada temannya cepat menghubungi ayah."


"Malam ini menginap di sini, Yah?"


"Iya. Kata dokter lihat perkembangannya besok. Kalau keadaan Bunda udah membaik, boleh pulang ke rumah."


Aku hanya diam menyimak percakapan Ridho dan ayahnya. Bunda terlihat memejamkan mata, mungkin pengaruh obat membuatnya ngantuk.


Ridho mengangguk paham. "Ayah kalau mau pulang dulu ganti baju ga papa, biar kami kaga Bunda."


"Bentar lagi, Dho. Ayah mau tebus resep dulu ke apotek, ya."


"Iya, Yah."


Ayah beranjak keluar ruangan. Tak lama kemudian, petugas yang membawa makanan masuk.


"Makasih, Mba," ucap Ridho, sebelum petugas itu keluar.


Bunda membuka mata mendengar pembicaraan kami. Aku mencuci tangan ke kamar mandi berniat menyuapi Bunda. Saat kembali, Ridho sedang bicara dengan ibunya.


"Bunda pasti pernah telat makan, makanya sampai sakit gini."


Bunda hanya menatap lesu pada Ridho. Aku mendekat, lalu meraih tempat makan yanh diletakkan di nakas.


"Makan dulu ya, Bun. Aku suapin," tawarku.


Bunda hanya menatap sekilas. Aku berusaha tak terpengaruh dengan sikapnya. Perlahan mendekatkan sendok yang berisi bubur ke mulut Bunda.


"Ayo, Bun!" tegur Ridho.


Bunda pun membuka mulutnya. Saat suapan ke empat, Bunda melambaikan tangan menolak makan.


"Dikit lagi, Bun," bujuk Ridho.


Ibu mertuaku menggeleng pelan. Aku mengembalikan tempat makan ke nakas. Ridho mengambil air dan membantu Bunda minum.


Beberapa saat kemudian Ayah kembali. Membantu Bunda minum obat, lalu pamit pulang ke rumah. Selain mengganti pakaian, ayah juga ingin mengambil beberapa barang yang diperlukan selama di rumah sakit.


Lima menit berlalu, Ibu dan Bapak datang berkunjung. Mereka bercerita sempat bertemu ayah di depan. Orang tuaku hanya duduk sebentar karena berusaha mengerti Bunda ingin istirahat.


"Semoga lekas sembuh ya, Mba," ucap Ibu dengan tulus.


"Iya. Makasih, ya."


Aku pun mengantar mereka keluar ruangan. Saat kembali masuk, Bunda sudah memejamkan mata.

__ADS_1


"Kamu jaga Bunda bentar, ya. Aku mau shalat Ashar."


"Iya, Mas."


Sepeninggal Ridho, aku mengeluarkan gawai dari dalam tas. Mengusir rasa jenuh dengan berseluncur di dunia maya. Aku membaca beberapa cerpen di grup literasi yang aku ikuti.


Saat Ridho kembali, aku menyimpan lagi gawai ke dalam tas. Ridho duduk di sebelahku.


"Aku antar kamu pulang kalau Ayah udah balik, ya."


"Aku ga ikut nginap, Mas?"


"Ga usah. Nanti kamu ikut sakit, kondisi lagi ga fit gitu. Bentar lagi ujian skripsi, 'kan?"


Aku pun menganggukkan kepala. "Makasih ya, Mas."


Ridho menjawab ucapanku dengan senyuman. Kembali rasa syukur memenuhi hatiku.


Hampir satu jam kemudian, Ayah kembali ke rumah sakit. Aku membantunya menyusun barang yang dibawa dari rumah.


"Aku antar Reva pulang dulu ya, Yah. Habis Magrib aku balik lagi."


"Iya, Nak."


Kami pun mencium tangan Ayah sebelum keluar dari ruangan.


Sesampainya di rumah, hari sudah menjelang Magrib. Semburat senja sudah menghiasi langit yang mulai gelap. Ridho bergegas mandi dan bersiap ke masjid.


***


Kamar terasa sepi tanpa kehadiran Ridho. Ini pertama kalinya aku tidur sendiri tanpa suami. Ternyata terasa ada sesuatu yang kurang.


Beberapa kali aku mencoba memejamkan mata. Namun, rasa kantuk tak kunjung datang. Dering nada pesan membuatku sedikit terkejut.


Aku pun meraih gawai di atas meja. Satu pesan baru dari Ridho terbaca.


[Kamu belum tidur?]


[Belum. Bunda gimana?]


[Lagi istirahat. Kamu lagi ngapain?]


[Tidur-tiduran aja.]


[Pasti lagi mikirin aku.]


Bibirku melengkungkan senyuman membaca pesan dari Ridho. Dasar! Percaya dirinya tinggi sekali.


[Ih... GR!]


[Hehe. Kamu jangan begadang, ya. Besok pagi aku pulang.]


[Iya. Mas juga istirahat, gih!]

__ADS_1


[Baik, Sayang. I love you.]


Aku tersenyum semringah membaca pesan terakhirnya. Ingin membalas dengan 'I love you, too', tapi terasa canggung. Akhirnya aku mengirimkan dua emoticon hati untuknya.


Setelah mengembalikan gawai ke meja, aku mencoba tidur lagi. Rasa bahagia karena berbalas pesan dengan Ridho membuat hatiku menjadi lebih tenang. Tak butuh waktu lama aku jatuh tertidur.


***


Ridho mengetuk pintu dan mengucapkan salam tepat pukul enam. Aku bergegas menyambutnya pulang. Rasa rindu membuatku ingin cepat melihat wajahnya.


Setelah menemaninya sarapan, aku mengantar Ridho ke depan. Ridho tetap pergi ke kantor. Ada pekerjaan mendesak, juga ingin meminta izin langsung pada pimpinannya.


Aku kembali masuk ke dalam rumah saat motor Ridho hilang dari pandangan. Melanjutkan pekerjaan rumah yang belum tersentuh. Ibu menemani Bapak ke toko karena kondisi Bapak yang belum begitu baik.


Pekerjaanku selesai ketika jarum jam dinding menunjuk ke angka sepuluh. Setelah beristirahat sejenak, aku beranjak mandi dan bersiap ke rumah sakit. Kupakai gamis berwarna biru dan jilbab yang senada.


Usai mengirim pesan pada Ridho, aku mengunci pintu rumah, lalu menghidupkan mesin motor.


Sepuluh menit melaju di jalan raya, aku tiba di rumah sakit. Bunda sedang tidur ketika aku masuk ke dalam ruangan. Ridho tersenyum, lalu menepuk tempat di sebelahnya memintaku duduk.


"Kamu ga cape bolak balik ke sini?" tanya Ridho, saat aku sudah berada di sampingnya.


"Ngga, kok. Cuma sebentar-sebentar juga di sininya.


"Aku shalat Zuhur bentar, ya. Tadi belum sempat karena Ayah belum balim dari rumah."


"Iya, Mas."


Ridho pun beranjak keluar dari ruangan. Aku mengeluarkan novel yang sengaja kubawa di di dalam tas. Tak lama kemudian Ridho kembali bersama beberapa temannya. Sepertinya rekan kerjanya, melihat dari seragam mereka yang sama dengan Ridho.


Bunda terbangun mendengar suara mereka yang cukup ramai. Mataku terpaku pada sosok wanita di antara teman Ridho. Benar, itu Nisa.


Ternyata mereka satu tempat kerja. Dadaku kembali sesak mengetahui kenyataan yang ada di depan mata. Kenapa Ridho ga pernah cerita?


Dia tersenyum sekilas saat melihatku. Aku membalas senyumannya dengan setengah hati.


"Bunda udah sehat?" tanyanya setelah mencium tangan ibu mertuaku.


"Nisa? Alhamdulillah sehat. Kamu udah lama ga main ke rumah," sahut Bunda dengan antusias.


"Maklum, Bun. Sekarang udah sibuk kerja."


Nisa meletakkan parcel buah di nakas, lalu mengambil buah jeruk. "Nisa kupasin buah ya, Bun."


"Iya."


Nisa menyuapi Bunda sambil bercerita mengenai kegiatannya sekarang. Bunda terlihat senang mengobrol dengan Nisa. Seketika hatiku berdenyut perih. Aku beranjak keluar ruangan.


Ridho yang sedang mengobrol dengan temannya menyadari aku keluar segera menyusul. Aku hanya diam saat dia mendekat dan meraih tanganku.


"Aku mau pulang," ucapku, lalu berusaha melepaskan tangannya.


"Rev ...."

__ADS_1


Sekuat tenaga aku menahan air mata agar tak jatuh.


__ADS_2