
Sinta?
Mendadak rasa tak nyaman menyerang hatiku. Wanita itu masuk ke halaman rumah, lalu tersenyum. Tepatnya pada Ridho.
"Pas lewat tadi, lihat kalian sedang duduk santai di depan rumah, jadi aku mampir. Aku ganggu, ya?"
Aku jadi serba salah. Sebenarnya tubuh sudah lelah dan ingin istirahat, tapi tak enak hati menolak kedatangan Sinta yang tiba-tiba. Ridho hanya diam, mungkin takut membuatku cemburu kalau membuka suara.
"Silahkan duduk, Mbak," tawarku, lalu duduk kembali.
Kulirik Ridho yang sempat tersenyum sekilas pada wanita itu sebelum duduk. Sinta memilih posisi yang berhadapan dengan Ridho. Aku mendelik sebal dan cepat menoleh ke arah lain.
Kenapa juga dia harus mampir! Bikin rusak mood aja!
Padahal seharian ini aku sedang bahagia. Apalagi saat mengurus tanaman. Suasana hatiku berubah menjadi suram sekarang.
"Biasa minum apa, Mbak?" Aku berusaha bersikap ramah pada Sinta setelah pikiran sudah lebih tenang.
Bagaimanapun juga, aku adalah tuan rumah. Aku harus berusaha melayani tamu dengan baik. Walau lebih karena menghormati Ridho, bukan untuk menghargai wanita itu.
"Ga usah repot. Aku cuma mampir bentar, kok."
Syukurlah. Aku tak perlu berlama-lama melihat sosoknya di sini. Apalagi harus meninggalkannya hanya berdua dengan Ridho saat aku membuat minum.
"Kamu kerja di mana, Dho?"
Ridho melirikku sebelum menjawab pertanyaan Sintam "Aku ngajar di pesantren, Sin."
"Oh ya? Deket mananya?"
"Ga terlalu jauh dari sini, kok."
"Wah, kamu konsisten berarti, ya. Dari dulu memang sudah kelihatan memang sosok laki-laki shaleh."
Aku hanya diam menyimak obrolan mereka. Semakin penasaran sedekat mana hubungan mereka dulu. Apa iya, cuma teman biasa?
"Biasa aja, Sin."
"Kamu memang selalu merendah. Kalau Reva kerja di mana?"
Aku agak terkejut mendapat pertanyaan tiba-tiba dari Sinta. Kupikir dia tak tertarik mendengar apapu tentangku. Jangan-jangan cuma basa-basi karena tak enak hati dari tadi hanya bicara dengan Ridho.
"Aku di rumah aja, Mbak. Baru-baru ini brenti kerja."
__ADS_1
"Masa? Apa ga suntuk?"
"Biasa aja kok, Mbak."
Andai aku suntuk pun, apa pedulimu?
"Btw, aku pulang dulu, ya. Udah sore, nih. Kapan-kapan aku mampir lagi."
Deh ... ini cewe kepedean banget, sih! Siapa juga yang mengharap kedatangannya lagi?
Aku berusaha menahan gondok karena melihat sikap Sinta yang terkesan seenaknya. Ini perempuan punya hati ga, sih?
Ridho hanya mengangguk pelan. Jujur, hatiku jadi sedikit panas harus melewati suasana seperti ini. Rasanya ingin segera masuk dan menutup pintu rumah.
Kami ikut beranjak dari kursi saat Sinta berdiri. Aku sampai lupa bagaimana cara tersenyum. Hanya menatap kepergian Sinta dengan pandangan nanar.
Sepertinya Sinta tak menyadari kalau aku tak nyaman dengan kehadirannya. Atau dia hanya pura-pura tak peka? Entahlah.
Ridho mengunci pagar saat motor Sinta berlalu dari depan rumah kami. Aku langsung masuk ke dalam rumah tanpa menunggu Ridho lagi. Saat di kamar, aku membanting tubuh ke ranjang.
Tak kupedulikan saat Ridho masuk. Dia langsung ke kamar mandi tanpa menyapaku terlebih dahulu. Membuatku semakin kesal dengan sikapnya.
Aku tak menanggapi saat Ridho pamit shalat Magrib ke masjid. Membalikkan badan menghadap dinding untuk menghindari bertatapan dengannya. Terdengar Ridho menghela napas kasar, lalu menutup pintu kamar.
"Dasar suami ga peka!" teriakku saat tak terdengar lagi aktivitas Ridho di dalam rumah.
Kupaksa diri untuk bersitigfar agar hati menjadi lebih tenang. Tak lama kemudian, rasa kantuk mulai menyerang. Aku pun memejamkan mata yang terasa lelah. Sampai lupa harus menunggu Ridho pulang dari masjid.
Aku baru akan terlelap saat seseorang mendaratkan ciuman di kening. Tapi mata enggan terbuka. Kubiarkan saja Ridho membelai rambutku.
***
Aku terbangun pukul empat pagi. Turun dari ranjang dengan hati-hati agar Ridho tak terbangun. Berjalan pelan ke kamar mandi untuk membasuh muka.
Baru kusadari aku sedang datang bulan. Pantas saja tadi malam aku emosi. Untung saja aku tertidur, jadi tak sampai ribut dengan Ridho. Aku tak bisa membayangkan harus bertengkar di hari pertama kami tinggal di rumah ini.
Kuambil gawai di meja, lalu keluar dari kamar. Duduk di ruang keluarga yang hanya dialasi karpet. Kami belum sempat membeli sofa dan TV. Belum tertarik tepatnya. Hanya ada meja kecil tempat aku meletakkan bunga hias dan foto kami saat di pantai.
Aku membuka aplikasi biru, lalu masuk ke grup kepenulisan. Membaca beberapa cerita yang bisa membuatku terhibur. Tak terasa, hampir satu jam berlalu.
Terdengar pintu kamar dibuka. Ridho bangun beberapa menit sebelum adzan Subuh berkumandang. Aku hanya mengangguk saat dia pamit ke masjid.
Setelah Ridho pergi, aku beranjak menuju dapur. Memasak nasi dan lauk untuk Ridho sarapan. Tak lupa memutar mesin cuci yang telah kuisi air sebelumnya.
__ADS_1
Saat sedang menggoreng ikan, tiba-tiba ada tangan memeluk pinggangku. Aku sampai tak menyadari kalau Ridho sudah pulang dari masjid.
"Mas ... lagi repot, nih!" protesku sambil berusaha melepaskan diri.
"Biarin!"
"Jangan becanda, ah. Nanti gosong masakanku."
"Siapa suruh nyuekin mas tadi malam?" Ridho tak juga melepas pelukannya.
Aku tertegun sejenak. Mendadak ingat kembali kejadian kemarin. Sebenarnya siapa yang salah tadi malam?
"Nanti aja bicaranya," sahutku.
"Ok. Mas tunggu penjelasannya. Mas mandi dulu."
Ye ... kok jadi kebalik? Harusnya aku yang meminta penjelasan darinya.
Sudahlah. Dari pada drama ini menjadi panjang. Bisa-bisa tak jadi masak ikan di penggorengan bila membantah kata-kata Ridho.
Setelah sarapan siap, aku menyusul Ridho ke kamar. Terlihat dia sedang sibuk menyiapkan bahan untuk mengajar. Sepertinya dia juga tidur lebih awal tadi malam.
"Sarapannya udah siap, Mas," ucapku dengan nada datar.
"Bentar lagi, Yang ... mas masih ada yang mau disiapin."
"Ya, deh."
Aku pun kembali ke dapur, membereskan peralatan masak, lalu mencucinya. Beberapa saat kemudian, Ridho datang. Aku meliriknya sejenak, lalu mencuci tangan.
"Ayo kita makan sama-sama!" ujarnya sambil menarik lenganku.
Aku hanya diam dan mengikuti langkah Ridho ke meja makan. Awalnya kami makan dalam diam, hanya sesekali saling menatap membuat suasana menjadi canggung. Jujur, aku kurang selera makan jadinya.
"Kamu kenapa?" tanyanya.
"Hah? Ga papa!"
"Dari tadi nasinya diaduk-aduk aja."
"Aku belum lapar," jawabku mencari alasan.
Ridho menghela napas. "Sepertinya ada yang kamu pikirin. Jangan bilang karena Sinta lagi."
__ADS_1
Aku menjadi gugup karena Ridho memberi tatapan tajam. Ingin langsung mengiyakan, tapi mendadak hatiku menciut. Aku harus jawab apa?
Jangan lupa like dan vote, teman-teman Ridho-Reva 💕💕