
Hari ini Ridho mengajakku melihat kondisi rumah yang dia ceritakan kemarin. Ternyata jaraknya lebih dekat dari yang kukira dari rumah Bapak. Tak sampai setengah jam kami tiba di sana. Kemaren karena belum semangat, aku bahkan tak menanyakan posisi pastinya.
Posisi rumah lumayan strategis. Hanya beberapa meter masuk ke dalam gang besar. Tepat di sebelah kiri ada gang kecil. Selang beberapa rumah di sebelah kanan, juga terdapat gang keci lain. Letaknya di pinggir jalan yang sudah diaspal, jadi Ridho pasti dimudahkan saat membuat usaha.
Rumah yang Ridho ceritakan masih setengah jadi. Bagian belakang yang kutebak adalah dapur, dinding luarnya belum diplester. Di halaman depan, terdapat beberapa jenis bunga yang terlihat tak terawat. Ada sisa tanah di belakang rumah. Tak seluas harapanku, tapi cukup untuk menanam dua atau tiga pohon tanaman hasil cangkokan.
"Gimana?" tanya Ridho. "Kamu suka?"
"Hm ... lumayan sih, Mas. Harganya gimana? mas baca di iklan, masih bisa ditawar katanya."
"Ya udah. Coba Mas hubungi dulu pemiliknya."
Ridho pun menghibungi nomor yang telah ia simpan. Terdengar mereka membicarakan tentang rencana pembelian rumah. Setelah berbasa-basi sebentar, Ridho memutuskan panggilan.
"Apa kata orangnya, Mas?"
"Ada saudaranya dekat sini. Tempat dia
nitipin kunci kalau ada yang mau lihat bagian dalamnya. Kita diminta nunggu bentar."
"Ooh. Gitu ...."
Tak lama kemudian, datang orang yang dimaksud pemilik rumah. Seorang wanita mengendarai motor membawa anak balitanya serta. Dia tersenyum pada kami saat turun dari kendaraannya.
"Maaf agak lama ... anakku baru bangun tidur tadi."
"Ga papa, Mbak," jawabku.
Dia pun berjalan melewati kami sambil menggendong anaknya. Kutaksir usia si bocah sekitar tiga tahun. Sedang lucu-lucunya pasti. Seketika aku ingat kembali calon buah hati yang tak sempat kupeluk.
"Silahkan, Mbak, Mas. Lihat aja dulu kondisinya," ucap wanita itu setelah membuka memutar kunci dan membuka pintu.
Aku yang sempat melamun sedikit tergagap. Mataku masih lekat menatap balita digendongannya. Ridho sempat tertegun memandangku. Sepertinya dia menangkap pandanganku yang susah beralih dari anak wanita itu.
"Ayo, kita lihat ke dalam!" ujar Ridho.
"Iya, Mas."
Aku menarik napas pelan sebelum beranjak. Berusaha menutupi perasaan sendu yang sempat menerpa. Ridho memeluk pinggangku saat masuk ke dalam, mungkin juga untuk menenangkan istrinya.
Di dalam rumah itu hanya ada satu kamar tidur, ruang tamu yang menyatu dengan ruang keluarg, serta dapur kecil dan kamar mandi. Kutebak yang punya rumah juga belum lama menikah.
"Gimana?" tanya Ridho setengah berbisik.
__ADS_1
"Gampang ga direnovasinya?" Aku balik bertanya.
"Insya Allah bisa."
Aku mengangguk samar. Sepertinya Ridho bisa menangkap kata setuju dariku. Dia pun tampak berpikir sejenak.
"Pemilik aslinya tinggal di mana ya, Mbak?" tanya Ridho pada wanita itu.
"Kakak saya baru dapat kerja di luar kota. Mereka berencana menetap di sana karena tak jauh dari rumah mertuanya."
"Oh gitu ... kira-kira berapa mereka titip harganya, Mbak?"
"Seperti yang terpasang di iklan, Mas," sahut wanita itu sambil tersenyum sekilas.
"Maksud saya, kira-kira bisa bisa turun berapa? Saya baca masih bisa nego katanya."
"Ooh. Kalo itu saya kurang tau, Mas. Orangnya belum bilang apa-apa tadi. Coba Mas langsung hubungi mereka saja."
"Baiklah," jawab Ridho sambil mengeluarkan gawai dari tas kecilnya.
Ridho beranjak keluar untuk menghubungi yang punya rumah. Aku masih melihat-lihat bagian rumah lebih detil untuk mengira-ngira dekorasi yang pas andai kami jadi membelinya. Beberapa menit kemudian, Ridho kembali masuk. Dia berjalan mendekatiku.
"Udah mas urus. Kita pulang dulu, ya. Biar mas urus sisanya besok," bisiknya.
"Kami permisi dulu ya, Mbak. Besok saya datang lagi untuk keperluan lainnya," pamit Ridho.
"Baik, Mas. Nanti saya minta suami yang bantuin. Dia pulang sekitar jam empat sore."
"Iya. Terima kasih."
Kami pun keluar secara bersamaan. Kutatap sekali lagi balita yang sedang berlarian di sekitar halaman. Pipi gembilnya membuatku gemas.
"Anak Mbak lucu!" Aku tak tahan lagi ingin berkomentar.
Wanita itu tersenyum ramah. "Iya. Dia memang aktif sekali."
"Sehat tandanya," pujiku.
Dia terkekeh pelan. "Bener. Emaknya sampai kewalahan kadang.
Aku tertawa membayangkan kerepotan ibunya. Pernah melihat tetangga yang sedang mengejar anaknya yang sangat aktif. Rasa rindu akan kehadiran buah hati semakin menyeruak.
"Kami permisi, Mbak!" sahutku.
__ADS_1
"Iya, Mbak."
Aku menaiki boncengan motor, lalu menatap bocah itu untuk terakhir kali. Ridho menggenggam jemariku saat kami sudah berada di jalan raya. Aku menarik napas panjang berusaha mengusir pikiran yang akan membuat sedih.
"Mau makan dulu?" tawarnya.
"Ngga usah, Mas. Aku makannya udah jam 1an tadi. Masih kenyang."
Ridho tak menyahut lagi. Kami terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Sesekali aku menatap langit yang mulai mendung. Berulang kali beristigfar dalam hati agar tak kembali larut dan membuat Ridho khawatir.
***
Usai shalat Magrib, aku bersama ibu menyiapkan makan malam. Bapak dan Ridho masih berbincang di depan. Ibu pun memintaku memanggil mereka.
"Makan dulu, Pak, Mas!"
"Oh iya," sahut Bapak.
Ridho hanya mengangguk, lalu menyusul langkah Bapak masuk ke dalam rumah. Wangi ikan bakar dan sambal hijau cukup menggugah selera makan. Aku tersenyum melihat Ridho bersemangat melahap makanan di piring.
Setelah makan, aku membersihkan meja dan mencuci peralatan bekas makan. Ibu kuminta menyusul Bapak dan Ridho ke ruang keluarga. Ridho ingin berbicara mengenai rencana kepindahan kami.
Samar-samar kudengar pembicaraan mereka. Ridho bercerita tentang rumah yang kami lihat tadi. Aku pun ikut duduk di sebelah Ridho, setelah selesai urusan di dapur.
"Jadi, kalau lancar prosesnya besok, kemungkinan kami akan pindah ke sana dalam waktu dua atau tiga minggu lagi, Pak."
"Sudah diurus surat-suratnya?" tanya Bapak.
"Belum, Pak. Insya Allah besok aku urus sama yang dititipi."
"Gitu, ya? Hati-hati saat ngurus surat atau pas pembayaran, harus jelas semua prosesnya. Ajak seseorang yang bisa jadi saksi. Kalau pemilik aslinya belum bisa hadir besok, minta mereka bikin surat kuasa untuk sementara."
"Iya, Pak. Rencananya Ridho ajak teman pas ke sana besok."
"Benar itu. Nak Ridho udah kasih kabar sama orang tua tentang rencana kalian?"
"Belum, Pak. Tapi Ayah pernah membicarakan masalah ini dulu. Insya Allah mereka setuju dengan rencana kami. Besok kalau sudah ada kepastian, aku bakal kasih kabar ke Ayah."
"Baiklah kalau gitu. Bapak doakan semoga lancar semua prosesnya. Kalau perlu apa-apa, nanti ngomong aja sama Bapak."
"Iya, Pak. Terima kasih."
Aku dan Ibu hanya diam menyimak pembicaraan Bapak dan Ridho. Bibirku melengkungkan senyuman melihat kehangatan keluarga kami. Walau sempat terselip rasa nelangsa, suasana ini tak akan lama lagi kurasakan.
__ADS_1