
Puas bermain air, kami mengganti pakaian. Setelahnya, Ridho mengajakku memesan makanan di tempat yang sudah disediakan. Aku memesan mie ayam, Ridho lebih memilih nasi padang. Rasanya lumayan untuk mengisi tenaga kembali. Sebentar lagi kami akan menempuh perjalanan ke kota.
"Makasih ya, Mas. Aku seneng hari ini."
"Iya, Sayang. Kapan-kapan kita ke sini lagi, mau?"
Aku mengangguk dengan semangat. Ada danau di daerah sini juga yang mau aku kunjungi lain kali. Semoga ada kesempatan untuk datang lagi dalam waktu dekat.
Sebelum kembali ke hotel, kami berkeliling di sekitar tempat wisata untuk mencari oleh-oleh. Ridho membeli empat kotak stroberi dan beberapa bungkus keripik yang terbuat dari sayuran. Aku tertarik pada panganan dan kue khas daerah sini.
"Masih ada yang mau dibeli?" tanya Ridho saat dalam mobil.
"Udah cukup kayaknya, Mas. Sebagian buat Mas antar ke rumah Ayah. Buat tetangga juga ada."
"Ok. Nanti kita mampir beli buah. Kemarin Mas lihat di pinggir jalan banyak yang jual."
"Iya, Mas. Seger-seger juga. Enak ya, tinggal di daerah pegunungan. Hasil pangannya melimpah."
"Bener. Hasilnya sebagian dibawa ke tempat kita."
"Iya, sih. Tapi kadang ga seger lagi."
Ridho hanya tersenyum. "Kamu mau tinggal di sini?"
Aku berpikir sejenak. "Pengen, sih. Tapi jadinya jauh dari keluarga."
"Nanti kalau ada rezeki, kita beli rumah mungil di sekitar sini buat istirahat kapan jalan-jalan."
Aku spontan memeluk lengan Ridho. "Makasih ya, Mas. Aku doakan semoga Mas lancar rezekinya."
"Aamiin."
Setelah mendapatkan semua yang dibutuhkan, kami kembali ke hotel. Usai melaksanakan shalat Zuhur, kami pun berkemas. Aku menunggu di mobil saat Ridho meyelesaikan urusan dengan hotel.
Ridho melajukan mobil dengan kecepatan sedang. Aku kembali menikmati pemandangan di daerah pedesaan yang asri. Sesekali kami berbincang tentang rencana membeli rumah di daerah mana.
Melewati pegunungan, aku mulai mengantuk. Kembali terjaga saat Ridho menghentikan mobil di tempat pengisian bahan bakar. Ridho terkekeh melihatku yang sedikit terkejut.
"Maaf, Mas ... aku ketiduran," ucapku sambil menutup mulut yang menguap.
Aku sedikit tak enak hati pada Ridho. Pasti dia bosan hampir satu jam hanya menyetir tanpa teman mengobrol. Aku menatapnya dengan pandangan iba.
"Ngga papa ... udah ga jauh juga," sahutnya sambil mengelus puncak kepalaku.
Usai mengisi bensin, kami kembali melanjutkan perjalanan. Ridho melajukan mobil dengan kecepatan cukup tinggi. Kami tak banyak bicara sepanjang sisa perjalanan.
Ridho tak sesantai kemarin membawa mobil karena akan langsung dikembalikan sore ini. Kami sampai di rumah saat adzan Ashar berkumandang. Rumah terlihat sepi dengan pintu yang tertutup.
"Assalamualaikum!"
__ADS_1
"Waalaikumsalam," jawab Ibu sambil membuka pintu.
"Bapak mana, Bu?" tanyaku.
"Lagi ke rumah tetangga yang mau hajatan."
"Nikahan?"
Dahiku sedikit mengernyit. Setahuku tak ada tetangga yang akan mengadakan acara minggu ini. Apa aku yang kurang peka sejak terkena musibah?
"Bukan. Mau umrah. Katanya mau syukuran dikit nanti malam yang ibu dengar."
"Ooh. Ibu ga ke sana?"
"Nanti malam aja. Itu Bapak-bapak diminta Pak RT pasang tenda."
Aku mengangguk paham. Sempat terselip doa dalam hatiku, semoga Bapak dan Ibu suatu hari nanti diizinkan Tuhan berkunjung ke rumahnya. Bila memungkinkan aku yang membiayai perjalanan umrah mereka.
Ridho yang tadi kembali ke mobil untuk mengambil barang bawaan memandang kami dengan tatapan penuh tanya. Aku hanya menggeleng pelan. Kuputuskan untuk bicara di kamar saja nanti.
"Ini oleh-olehnya diletak di mana?" tanya Ridho.
"Kasih Ibu aja dulu. Nanti aku pisahin buat Ayah-Bunda. Biar Ibu yang bagiin buat beberapa tetangga."
"Ini, Bu."
"Sesekali, Bu," ujar Ridho.
Aku hanya tersenyum, lalu masuk ke dalam rumah. Ibu membawa plastik oleh-oleh ke dapur. Ridho menyusul langkahku ke kamar.
"Kenapa tadi?" tanya suamiku.
"Itu ... ada tetangga yang mau umrah. Bapak lagi bantuin pasang tenda."
"Ooh. Kok wajahnya gitu?"
"Ngga papa. Jadi kepikiran aja, Bapak dan Ibu mingkin pengen ke sana juga."
Ridho meraihku dalam pelukan. "Pasti ada hatapan ke sana. Kita doakan semoga ada rezeki dan diberikan kesempatan ke sana."
"Aamiin. Ayah dan Bunda udah pernah ya, Mas?" tanyaku penasaran, lalu melepaskan diri dari pelukannya.
Selama ini kami belum pernah bercerita tentang kehidupan keluarga yang lebih detil. Aku bahkan belum menanyakan lagi kabar mereka bulan ini. Terlalu sibuk dengan penanganan hati sendiri yang sempat terpuruk.
"Belum juga. Mereka udah daftar haji, insya Allah tahun depan berangkat, nunggu Bunda pensiun. Ayah tahun ini pensiunnya."
"Alhamdulillah. Semoga dilancarkan prosesnya."
"Aamiin."
__ADS_1
"Ya udah. Aku mandi duluan ya, Mas."
"Iya. Mas juga mau langsung ke masjid."
"Ok."
Ridho mencium keningku sebelum pergi. Aku termangu di depan cermin. Sekali lagi membuat harapan untuk Bapak dan Ibu.
***
Usai mandi, Ridho bersiap ke rumah mertua. Aku menyerahkan bagian oleh-oleh untuk orang tuanya. Ridho menatapku terlihat sedang berpikir.
"Ga kebanyakan, nih?"
"Ga, kok. Udah aku pisahin buat di rumah sama tetangga tadi."
"Ya udah ... aku berangkat dulu, ya."
"Hati-hati di jalan ya, Mas."
Ridho yang sudah duduk di belakang kemudi mengangguk pelan. Sebenarnya aku ingin ikut ke rumah mertua. Namun, Ridho tak mengizinkan. Minggu depan saja kami berkunjung ke sana.
Aku tak membantah. Tahu pasti alasan Ridho takut aku kelelehan. Sejak keguguran, Ridho lebih berhati-hati menjaga kesehatanku.
"Kamu ga ikut?" tanya Bapak yang baru pulang dari rumah tetangga.
"Ngga, Pa. Udah sore kata Ridho. Minggu depan aja ke sana lagi."
"Ooh. Lagian kalian baru sampai juga dari jauh."
"Iya, Pak."
"Ibu mana?"
"Lagi ngantar oleh-oleh ke rumah tetangga, Pak. Buat Bapak dan Ibu ada di meja makan."
Bapak hanya mengangguk, lalu masuk ke dalam rumah. Sempat kulihat wajah lelahnya yang mulai menua. Berharap semua harapannya dikabulkan Yang Kuasa.
Aku pun masuk ke kamar lagi. Tak kulihat Bapak di ruang makan. Sepertinya langsung membersihkan badan. Tadinya berharap makanan yang kami bawa bisa menghibur hatinya.
Entah mengapa perasaanku jadi lebih sensitif sekarang. Sering memikirkan sesuatu sampai kepala sedikit berdenyut. Kuhirup Oksigen lebih banyak agar hatiku kembali tenang.
Setengah jam lagi adzan Magrib berkumandang. Aku pun memanfaatkan waktu untuk beristirahat sejenak. Membaringkan tubuh yang lelah dan kepala yang tak berhenti berpikir.
Ya Allah ... berikanlah kesehatan pada kedua orang tuaku. Lancarkan jalan rezeki kami agar bisa mengunjungi rumahmu.
Begitu juga dengan mertuaku. Berilah mereka kesehatan dan permudahlah proses persiapan keberangkatan mereka.
Terimakasih buat teman-teman yang sudah mau vote cerita aku 💕💕
__ADS_1